
*Pendekar Gila Mabuk (PGM)*
“Kita sudah sampai di pusat Kadipaten, kenapa kau masih mengikutiku?” tanya Kayuni Larasati kepada Surya Kasyara.
“Oh iya, aku lupa. Maklum, aku terhanyut dalam kebersamaan dengan wanita cantik,” kilah Surya Kasyara sambil cengengesan.
Kayuni Larasati hanya tersenyum tipis sambil memandang lirik kepada Surya Kasyara yang selalu menyanjungnya dalam kata-katanya.
“Langit senja berkeluh kesah, saat awan hitam menghalangi mentari, senja ini kita memang berpisah, tapi bayang cantikmu akan terbawa dalam mimpi. Hahaha!” pantun Surya Kasyara lalu berlari-lari mundur sambil tertawa. Ia melambaikan tangan tanda berpisah.
Kayuni hanya tertawa dengan suara yang lirih. Pemuda yang baru dikenalnya itu benar-benar menghibur hatinya. Ia terdiam sejenak memandang kepergian Surya Kasyara. Setelah itu ia pergi menuju kediamannya.
Surya Kasyara mulai berlakon mabuk. Langkahnya mulai tidak tenang, agak sempoyongan. Tujuannya adalah rumah judi yang sudah lebih tiga tahun tidak ia datangi.
Dari jauh ia sudah bisa melihat rumah judi yang dulu menjadi cerita kelamnya. Tampak bahwa tempat itu kini lebih besar dan bahan bangunannya pun terlihat masih menyisakan warna baru.
Mendadak Surya Kasyara berhenti. Pandangannya menangkap sesosok orang yang mengingatkannya pada seseorang yang sangat dikenalnya. Jaraknya agak jauh.
“Rawaiti…” sebut Surya Kasyara lirih kepada dirinya sendiri.
Ia memandang serius kepada seorang wanita yang menggunakan tongkat orang buta. Namun, Surya Kasyara hanya memandang dari samping. Gadis buta berpakaian cokelat seperti gadis desa biasa itu bersama seorang lelaki bertangan satu. Lelaki yang menuntunnya terlihat jelas tidak memiliki tangan kiri.
“Ayo jalan!”
Tiba-tiba perhatian Surya Kasyara dikejutkan oleh suara teriakan marah seseorang dari sisi yang berlawanan. Surya Kasyara cepat menengok ke sumber keributan.
“Akk!” jerit lelaki gemuk yang baru saja ditendang bokongnya oleh lelaki sangar berpakaian hitam-hitam. Lelaki gemuk itu jatuh tersungkur di tanah keras.
“Gembulayu!” sebut pemuda temannya sambil segera menghampiri pemuda bernama Gembulayu. Pemuda berpakaian lurik hitam abu-abu itu segera membantu Gembulayu bangun. Ia juga sudah menderita luka berdarah di wajah akibat kekerasan kedelapan orang berseragam hitam dan bersenjata golok. Pemuda itu tidak lain adalah Gowo Tungga.
“Gowo Tungga!” sebut Surya Kasyara terkejut saat mengenali dua pemuda yang sedang dianiaya oleh kedelapan lelaki berseragam hitam.
Salah satu dari kedelapan orang itu adalah Tulanggoyo, orang yang pernah membunuh adik Surya Kasyara, yaitu Rawaiti.
Melihat keberadaan pembunuh adiknya, ditambah dua sahabat masa lalunya sedang dianiaya oleh orang yang sama, mendidihlah amarah dan dendam Surya Kasyara.
“Ayo buruan jalan!” teriak Tulanggoyo sambil mendorong bokong Gowo Tungga dengan tendangannya.
“Iya iya iya!” teriak Gowo Tungga kesal bukan main, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Sambil berjalan sempoyongan, Surya Kasyara meminum seteguk tuaknya. Rambut gondrongnya sengaja ia urai ke depan wajahnya.
“Hei, minggir! Minggir! Pendekar Mabuk mau lewat!” teriak Surya Kasyara bernada menceracau kepada Tulanggoyo dan ketujuh anak buahnya.
“Eh, orang mabuk cari mati!” rutuk anak buah Tulanggoyo sambil cabut goloknya, ia ingin menikam orang mabuk yang datang salah arah itu.
“Minggiiir! Hehehe!” teriak Surya Kasyara sambil cengengesan. Ia berjalan sempoyongan menerabas keberadaan Gowo Tungga dan Gembulayu.
“Rasakan kau, Orang Gila!” teriak salah satu anak buah Tulanggoyo sambil menusukkan goloknya.
“Fukrrr!” Sambil membungkuk karena ditusuk oleh golok, Surya Kasyara menyemburkan air yang ada di dalam mulutnya ke wajah lelaki yang menusuknya.
“Aaakk…!” jerit lelaki penusuk itu keras sambil termundur dan melepaskan goloknya dari pegangan. Ia menjerit dengan tubuh menegang keras karena menahan rasa panas dan perih pada wajahnya yang rusak meleleh, seperti tersiram air keras saja.
Anehnya, padahal tadi Surya Kasyara berteriak yang jelas menunjukkan tidak ada air di dalam mulutnya. Namun, ketika ditusuk ia malah menyemburkan air yang banyak.
__ADS_1
Surya Kasyara telah menggunakan ilmu Semburan Ular Mabuk.
Terkejutlah Tulanggoyo dan keenam anak buanya yang lain, termasuk Gembulayu dan Gowo Tungga. Tulanggoyo dan anak buahnya segera menjauhi Surya Kasyara sambil masing-masing hunus golok, sebab mereka benar-benar melihat jelas wajah teman mereka rusak seperti disiram air panas mendidih.
Surya Kasyara yang terbungkuk karena ditikam golok, pelan-pelan bergerak tegak. Ternyata perutnya tidak terluka apa-apa. Golok itu dia tahan dengan dua jepitan jarinya.
“Tra ta taaa! Hahaha!” sorak Surya Kasyara seperti tukang sulap yang menunjukkan hasil tipuannya kepada para penonton. Ia tertawa kencang sambil pegangi perutnya dan menjatuhkan golok di jinjingan jarinya.
“Buerengsek!” maki Tulanggoyo sambil maju mengayunkan goloknya.
Namun, dengan gerakan sempoyongan, Surya Kasyara justru maju kepada Tulanggoyo, tetapi kepalanya menunduk dalam hingga berhenti masuk ke sela kedua paha Tulanggoyo. Hal itu membuat serangan golok membacok ruang kosong.
Namun, ketika Surya Kasyara bangun kembali tegak, otomatis tubuh besar Tulanggoyo terangkat dan terlempar jatuh ke belakang.
Bduk!
Buru-buru Surya Kasyara berbalik seperti orang linglung yang mencari sumber suara benda jatuh. Setelah itu dia menyempatkan diri meneguk tuaknya. Para anak buahTulanggoyo kompak menjauh menjaga jarak, takut disembur.
Glek!
Terdengar merdu suara Surya Kasyara menelan air tuaknya di tenggorokan.
Tak! Set! Tseb!
“Aaakk!” jerit satu lagi anak buah Tulanggoyo saat Surya Kasyara menyepak golok yang ada di tanah. Golok itu melesat menancap di paha kiri anak buah Tulanggoyo.
Para anak buah Tulanggoyo jadi semakin ngeri. Mereka sadar bahwa orang mabuk itu bukan orang mabuk benaran, tetapi berkesaktian.
Bdak!
“Huaaa!” pekik Tulanggoyo kesakitan luar biasa. Ia sampai guling-guling mengusap-usap kepalanya dengan ritme yang cepat.
Agak lama Tulanggoyo menggeliat-geliat kesakitan.
“Hehehe!” kekeh Surya Kasyara sambil melongok memandang Gowo Tungga dan Gembulayu. Ia sedikit menyingkap rambut gondrongnya dari wajah.
“Hah!” pekik Gowo Tungga dan Gembulayu terkejut. Lalu sontak mereka ketakutan dan menjerit kencang bersamaan, “Setan Sontoloyooo!”
Meski menderita sakit-sakit akibat peganiayaan Tulanggoyo dan anak buahnya, Gowo Tungga dan Gembulayu berlari kencang terbirit-birit meninggalkan Surya Kasyara.
Mendengar nama “Sontoloyo” disebut pakai kata “setan”, Tulanggowo seketika terkejut pula dan diam, berhenti menggeliat kesakitan. Otaknya mencoba mencerna teriakan Gowo Tungga dan Gembulayu. Dengan posisi masih terbaring di tanah, ia mencoba melihat kepada orang mabuk itu.
“Weeek!” lewek Surya Kasyara sambil menurunkan wajahnya ke atas wajah Tulanggoyo.
Tulanggoyo seketika pucat pasi melihat wajah yang memang dikenalnya, tetapi kedua mata orang itu putih semua dan lidahnya menjulur.
“Sesese… setan Sontoloyooo!” teriak Tulanggoyo pula sambil buru-buru bangun dan berlari.
“Mau lari ke mana, Tulang Cacing!” teriak Surya Kasyara sambil melompat ke depan seperti melompat ke dalam air kolam. Sementara tangannya menjangkau jauh.
Bduk!
Tangan Surya Kasyara berhasil menangkap betis Tulanggoyo, memaksanya jatuh berdebam ke depan.
“Tolong tarik aku! Tarik tarik tarik!” teriak Tulanggoyo panik luar biasa kepada anak buahnya yang menjauh, sambil berusaha melepaskan kakinya dari cengkeraman “setan Sontoloyo”.
__ADS_1
Dua anak buah Tulanggoyo buru-buru datang dan meraih kedua tangan pimpinannya lalu menariknya.
Surya Kasyara yang dalam posisi tengkurap di tanah juga terus menarik celana Tulanggoyo. Akibat dari tarik-tarikan itu, celana Tulanggoyo terlucuti. Namun, Tulanggoyo tidak peduli, yang penting dia selamat dari “setan Sontoloyo”.
“Ampun, Setan Sontoloyo! Aku tidak pernah membunuh adikmu! Jangan bunuh aku, Setaaan!” teriak Tulanggoyo dalam paniknya.
Mendengar pengakuan itu, Surya Kasyara berhenti menarik, tetapi celana Tulanggoyo sudah mutlak ada di tangannya. Tulanggoyo sendiri berhasil berdiri tanpa celana, kini hanya bercawat warna kuning ceria.
Tulanggoyo buru-buru ambil kesempatan untuk kabur.
Bak! Dak!
Sebelum Tulanggoyo dan kedua anak buahnya kabur menjauh, Surya Kasyara lebih dulu berkelebat seperti orang terbang mundur. Kedua kakinya mendarat serentak ke dada kedua anak buah Tulanggoyo, pada saat yang sama dia menghantamkan bumbungnya ke kepala Tulanggoyo.
Tulanggoyo langsung terbanting keras ke tanah.
“Tulang kucing dikubur di pinggir kali, kalinya bening di pinggir rawa-rawa, Tulang Cacing sudah membunuh Rawaiti, kini waktunya nyawa dibayar nyawa!” teriak Surya Kasyara berpantun.
Dengan seenaknya Surya Kasyara duduk di atas dada Tulanggoyo. Sementara anak buah Tulanggoyo tidak ada yang berani mendekat.
Agak jauh di sana, Gowo Tungga dan Gembulayu mengintip dari balik pagar rumah warga. Warga sekitar pun menonton dari jarak jauh.
Tulanggoyo yang sempat hilang penglihatan dan merasakan sakit dan pening yang luar biasa, kini bisa melihat sosok Surya Kasyara duduk di atas dadanya. Ia sudah tidak berdaya. Hantaman di kepalanya seolah melemahkan semua otot tubuhnya.
Plak!
Surya Kasyara menampar wajah Tulanggoyo, tapi tidak terlalu keras.
“Tulang Cacing, lihat aku baik-baik!” kata Surya Kasyara. “Tiga tahun setelah kau buang aku ke jurang, aku sudah menjadi pendekar. Lihat dirimu, tiga tahun lamanya, kau masih jadi tukang pukul tidak berguna!”
“Ampuni aku, Sontoloyo….”
“Jangan sebut Pendekar Gila Mabuk dengan nama Sontoloyo, itu masa lalu!” hardik Surya Kasyara. “Aku adalah Surya Kasyara, orang yang datang untuk mencabut nyawa.”
“Ampuni aku, Surya. Aku benar-benar tidak membunuh adikmu!” ucap Tulanggoyo memelas.
“Kau pikir aku akan percaya, Tulang Cacing!” teriak Surya Kasyara sambil mencubiti paha berbulu milik Tulanggoyo.
“Ak ak aww! Sumpah, aku bersumpah! Berani kejatuhan bintang kalau aku bohong!” teriak Tulanggoyo memelas seraya menangis ala jagoan cengeng.
“Jika kau tidak membunuh adikku, coba tunjukkan di mana sekarang adikku!” bentak Surya Kasyara.
“Aku tidak tahu! Aku tidak tahu di mana adikmu! Dulu, waktu aku membawa adikmu, tiba-tiba aku diserang seseorang, lalu membawa pergi adikmu!” kata Tulanggoyo.
“Siapa yang membawa adikku, hah?!” tanya Surya Kasyara membentak, ia masih marah.
“Ti… tidak tahu. Orang itu, orang itu seorang pemuda bertangan satu. Satu tangannya buntung!” jawab Tulanggoyo dengan wajah masih ketakutan.
Deg!
Terhentak jantung Surya Kasyara mendengar pemuda bertangan satu. Ingatannya langsung terkoneksi dengan memori penglihatannya yang terjadi beberapa saat lalu, saat ia melihat seorang wanita buta yang mirip adiknya bersama dengan seorang lelaki bertangan satu.
“Fruurt!” Entah dari mana datangnya air, tiba-tiba Surya Kasyara memiliki banyak air di mulutnya. Ia semburkan air itu ke wajah Tulanggoyo.
“Aaak!” jerit Tulanggoyo ketika ia merasakan rasa panas dan perih yang sangat pada wajahnya yang memang melepuh rusak.
__ADS_1
“Itu bayaran atas perbuatanmu kepadaku, adikku dan sahabat-sahabatku!” desis Surya Kasyara.
Setelah itu, Surya Kasyara cepat berlari kencang ke arah di mana ia tadi melihat keberadaan perempuan buta dan lelaki bertangan satu. (RH)