
*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*
Melihat suaminya dan Getara Cinta sudah menyelesaikan lawan-lawannya, Tirana pun tidak mau mengulur-ngulur waktu lagi maupun bermain-main seperti sebelumnya. Lawannya yang semula lima orang, kini tinggal empat orang, karena satu anggota Lima Guguk Rembulan tewas diterkam oleh Bintang, serigala berbulu abu-abu peliharaan Sandaria.
“Hiaat!” pekik Guguk Satu sambil berlari dengan senjata garukan tangan disambitkan ke arah kepala Tirana.
Tirana telah kembali kepada ciri khasnya dalam bertarung. Maka, ketika senjata itu sampai pada dua jengkal dari kepala Tirana, senjata itu langsung musnah seperti meleleh membentur perisai yang tidak terlihat.
Setiap dalam pertarungan, tubuh Tirana selalu dilindungi oleh ilmu perisai Kulit Dewi Gaib. Jangankan senjata selevel alat garuk punggung itu, ilmu kesaktian tinggi pun tidak mampu menembusnya.
Guguk Satu hanya terkejut melihat senjatanya seperti terbuat dari lumpur. Ia lebih terkejut ketika di tangan kanan Tirana telah bercokol bola sinar biru.
Sess! Blar!
Buru-buru Guguk Satu berkelebat mundur, tetapi sinar biru dari ilmu Bola Kulit Langit lebih cepat mengejarnya dan menghantam perutnya. Hasilnya, tubuh Guguk Satu meledak menjadi serpihan daging dan cat darah yang terpental ke mana-mana.
“Ajian Tombak Rembulan!” teriak Guguk Dua berkomando.
Guguk Tiga dan Guguk Empat segera berdiri memasang kuda-kuda di belakang Guguk Dua.
Baks! Baks!
Guguk Empat menapak punggung Guguk Tiga dengan telapak tangan bersinar putih. Satu gelombang tenaga sakti dari tangan Guguk Empat masuk ke tubuh Guguk Tiga.
Selanjutnya Guguk Tiga menapak punggung Guguk Dua dengan telapak tangan bersinar putih pula. Guguk Dua merasakan ada tenaga dalam tinggi merasuki tubuhnya.
Selanjutnya, Guguk Dua melakukan gerakan dua tangan dengan pernapasan yang teratur. Kini kedua lengan Guguk Dua diselimuti sinar hijau dan sesekali muncul kilatan listrik berwarna putih.
“Heaaat!” teriak ketiga Lima Guguk Rembulan yang tersisa bersamaan. Seiring itu, Guguk Dua menghentakkan kedua lengannya.
Wurzz!
Dari kedua lengan itu melesat dua sinar hijau berwujud seperti silinder berputar. Tirana membiarkan serangan itu mengenai tubuhnya. Ketiga Lima Guguk Rembulan pun terkejut bukan main, ilmu andalan mereka musnah tanpa berkesan saat menabrak dinding Kulit Dewi Gaib.
Kemudian mereka bertiga tersadar bahwa maut sudah ada di atas kepala mereka. Tirana telah melayang di atas kepala mereka bertiga dengan dua bola sinar biru.
Sess! Sess! Blar! Blar!
Dua ilmu Bola Kulit Langit, Tirana hantamkan ke bawah. Hancur sudah ketiga anggota Lima Guguk Rembulan tanpa sisa.
Di sisi lain, Kerling Sukma tidak mau kalah telat. Kedua pendekar wanita yang mengeroyoknya dibuat terkejut dalam menghadapi kematian.
Ziss! Ctar!
Saat datang serangan caping hitam yang melesat, Kerling Sukma melesatkan ilmu Cinta Penjemput Nyawa, berupa sinar putih berwujud piringan tipis. Caping itu hancur saat dihantam sinar putih yang terus melesat kepada pemilik caping.
Wanita pemilik caping cepat melompat menghindar. Namun tiba-tiba Kerling Sukma sudah berpindah tempat. Tahu-tahu ia sudah ada di udara di atas wanita itu, dengan tangan menghantamkan sinar ilmu Api Putih.
Blar!
Wanita pemilik caping hitam pun hancur tidak bisa menghindar.
Blet!
Dua selendang merah datang cepat dan berhasil membelit satu tangan dan pinggang Kerling Sukma. Bukannya melawan tarikan selendang, Kerling Sukma justru melesat ke pemilik selendang seolah mengikuti tarikan.
Blar!
Lesatan Kerling Sukma begitu cepat. Tahu-tahu gadis bermata hijau itu sudah meledakkan tubuh pemilik selendang dengan ilmu Api Putih.
Di sisi lain, Turung Gali baru saja membunuh pendekar bersenjata tongkat bambu. Tersisa tiga orang pendekar.
“Heaah!” teriak Turung Gali sambil berlari maju. Beberapa langkah ke depan, Turung Gali menghentakkan kedua tangannya seperti memercikkan air ke depan.
Set! Teb teb teb!
__ADS_1
Ketiga lawan Turung Gali yang bersiap menghadapi serangan, tidak melakukan elakan apa-apa, sebab serangan yang dilepaskan oleh Turung Gali tidak menyerang mereka.
Tiga sinar merah berbentuk pasak milik Turung Gali dilesatkan ke tanah, bukan ke arah ketiga lawannya. Namun kemudian, barulah ketiga lawannya itu terkejut setelah merasakan tidak bisa mengangkat kedua kakinya lepas dari tanah.
Dengan keterkejutannya, mereka melihat ke tanah. Ternyata ketiga sinar merah berbentuk pasak milik Turung Gali menancapi bayangan mereka di tanah. Itu adalah ilmu Pasak Paku Bayangan. Ketika bayangan seseorang sudah dipaku oleh ilmu itu, maka orang tersebut tidak bisa lepas dari ujung bayangannya.
Bak bik buk…!
Satu pendekar dihajar habis oleh Turung Gali dengan kecepatan tinggi, seperti petarung kickboxer yang sedang marah mengamuki samsak tinju.
Pendekar itu tidak bisa melawan atau menangkis. Ia menjadi bulan-bulanan seperti boneka kayu wingchun. Pendekar itu akhirnya tumbang dengan nyawa melayang. Tulang dada, leher hingga wajah remuk dihajari oleh pukulan bertenaga dalam tinggi Turung Gali.
Turung Gali lalu pindah ke pendekar lainnya. Ia kembali menghajari lawannya seperti pendekar sebelumnya.
Bak bik buk…!
Sess! Zrup!
Pendekar yang lain yang belum dapat giliran, memilih menyerang Turung Gali dengan menyentilkan sebutir sinar hijau sebesar buah duku. Namun, Turung Gali dengan begitu saja menangkap sinar itu menggunakan tangannya yang bersinar biru gelap.
“Haaah!” pekik pendekar bertubuh besar itu syok. Ilmunya tidak berefek apa pun saat masuk dalam genggaman Turung Gali.
Brock!
Ketika Turung Gali menonjok dada korbannya dengan tinju bersinar biru gelap itu, maka jebollah dada itu, seperti jebolnya sebuah cangkang. Pendekar itupun tewas.
Turung Gali kemudian beralih kepada lawan terakhirnya yang sudah ketakutan.
Pendekar berbadan besar itu kembali mencoba menyerang Turung Gali dengan sentilan sinar hijau. Lagi-lagi sinar itu tinggal ditangkap oleh tangan Turung Gali. Ujung-ujungnya, pendekar itu jadi korban kematian.
Sementara itu, Rara Sutri kini menghadapi dua lawan yang tersisa, yaitu Alang Mukso yang berjuluk Juru Kandang dan Wiri Miring. Ia baru saja membunuh satu lawannya.
Bagi si botak Alang Mukso, Rara Sutri adalah lawan yang berat, tetapi dia tetap optimis bisa mengandangi perempuan cantik itu dengan ilmu kandangnya.
Wiri Miring sedang mencoba menyudutkan Rara Sutri dengan pertarungan jarak dekat, karena ia mengandalkan cakaran kuku-kukunya yang panjang.
Pada satu kesempatan, kuku beracun Wiri Miring berhasil mencakar lengan kiri Rara Sutri. Namun, pada saat yang bersamaan, Rara Sutri berhasil pula menghantamkan pangkal cemetinya ke jidat Wiri Miring.
Blet!
“Aakk!”
Di saat Wiri Miring terdorong nyaris jatuh ke belakang, Rara Sutri cepat lesatkan cemeti bersinar kuningnya. Cemeti itu membelit leher Wiri Miring.
Wiri Miring pun menjerit kesakitan. Ia berusaha menahan tarikan cemeti dengan memegang talinya, tetapi telapak tangannya justru terbakar seperti memegang bara api. Namun, itu harus ia lakukan, jika tidak lehernya akan putus.
Tas!
Tangan kiri Wiri Miring cepat menebas tali cemeti itu dengan cakaran tangan yang lain, tetapi hasilnya tidak ada. Cemeti itu bukan sekedar cemeti biasa.
Namun, tarikan Rara Sutri perlahan mulai melemah. Hasil cakaran di lengannya mempengaruhinya. Racun pada luka itu telah bekerja.
Di sisi lain, si botak Alang Mukso melompat naik ke udara.
Set set set set!
Teb teb teb teb!
Dari atas udara, Alang Mukso melesatkan empat senjata pasak kayunya. Keempat pasak itu menancap di empat titik mengurung posisi pertarungan Rara Sutri dan Wiri Miring. Dengan demikian, Rara Sutri dan Wiri Miring telah terkurung oleh kurungan yang tidak terlihat.
Rara Sutri terlihat jatuh berlutut dengan wajah mengerenyit dan berkeringat banyak, sementara tangannya tetap berusaha bertahan pada tarikannya.
“Aaak!” pekik Rara Sutri nyaring sambil menarik sekuat tenaga dengan tenaganya yang tersisa.
Cemeti Rara Sutri tertarik lepas dari tangan dan leher Wiri Miring. Pemuda berpakaian biru itu sampai terpelintir lalu jatuh dalam kondisi leher luka parah. Tidak hanya tersayat dalam, tetapi juga hangus.
__ADS_1
“Rara!” teriak Lanang Jagad terkejut saat sekilas melihat keadaan Rara Sutri.
Wuss!
Lanang Jagad melepaskan segulung angin pukulan panas kepada ketiga lawannya yang tersisa. Dua orang mampu menghindar, tetapi satu orang pendekar harus terhempas dan jatuh ke bumi dalam kondisi kulit melepuh-lepuh.
Lanang Jagad cepat berkelebat pergi ke posisi Rara Sutri. Gadis cantik itu sudah terkapar tidak sadarkan diri.
Bang!
“Ughk!” keluh Lanang Jagad, ketika tubuhnya menabrak tembok tidak terlihat dari ilmu kandang Alang Mukso.
Melihat Surya Kasyara sudah berhasil membunuh lawannya, Lanang Jagad cepat berteriak.
“Surya! Bunuh orang itu! Kakakmu dalam bahaya!” teriak Lanang Jagad sambil menunjuk Alang Mukso yang jadi berdiri agak ketar-ketir.
Alang Mukso baru sadar bahwa teman-temannya sudah bertewasan. Tiga lawan Lanang Jagad yang masih tersisa, memilih melarikan diri.
Set set set!
“Aak! Ak! Akh!” Ketiga pendekar yang melarikan diri itu tiba-tiba berjeritan dan jatuh bertewasan setelah tiga sinar biru kecil berekor melesat menembusi tubuh mereka.
Penyerang dengan sinar biru itu adalah seorang nenek berjubah merah. Ia berjalan pelan dengan tubuh sedikit bungkuk. Sinar biru dilesatkan dari ujung tongkat kayu merahnya. Nenek itu tidak lain adalah Nenek Haus Jantung.
Surya Kasyara melesat terbang terbawa oleh bumbung tuaknya, menyerang Alang Mukso.
Alang Mukso dengan mudah menghindar. Ketika Surya Kasyara mendarat, Alang Mukso cepat menyerang balik dari belakang.
Wuut!
“Fruut!”
Surya Kasyara menyambut serangan tangan kosong Alang Mukso dengan mengayunkan bumbungnya ke belakang. Alang Mukso sigap menghindar, tetapi seiring serangan bumbung tuak itu, ada semburan tuak yang mengikuti.
“Aakk!” jerit Alam Mukso sambil memegangi wajahnya yang terbakar melepuh oleh ilmu Semburan Ular Mabuk Surya Kasyara.
Crass!
Dalam kondisi Alang Mukso seperti itu, tiba-tiba muncul Kayuni Larasati yang menyayat perut Alang Mukso dengan pedangnya.
Boom!
Satu ledakan keras terjadi ketika Lanang Jagad menghantam kurungan gaib milik Alang Mukso dengan ilmu Bintang Terbakar. Satu sinar merah berbentuk bintang empat mata dilesatkan oleh Lanang Jagad. Ilmu itu menghantam dinding kurungan gaib yang mengurung tubuh Rara Sutri dan mayat Wiri Miring.
Hasilnya, Lanang Jagad bisa merasakang bahwa kurungan itu telah hancur.
“Rara!” sebut Lanang Jagad panik sambil berlari mendapati tubuh Rara Sutri.
Setelah Alang Mukso tumbang, Kayuni Larasati yang baru saja membunuh lelaki botak itu, tersenyum kepada Surya Kasyara.
Bcrak!
“Hekk!”
Tiba-tiba tubuh Kayuni Larasati tersentak mengejang dalam berdirinya. Sepasang matanya mendelik memerah dan mulut terbuka. Hal itu seiring meledaknya dada Kayuni Larasati di hadapan Surya Kasyara.
“Kayuniii!” teriak Surya Kasyara histeris, terkejut bukan main. Buru-buru ia menangkap tubuh gadis yang dicintainya itu sebelum tumbang ke tanah.
Teriakan tinggi Surya Kasyara menarik perhatian semua orang, terkhusus Arya Permana.
“Kayuni!” teriak Arya Permana panik sambil berlari kencang ke posisi adiknya.
Surya Kasyara dan Arya Permana mendapati Kayuni Larasati telah tewas dengan dada yang jebol, tepat pada posisi jantung.
“Nenek kepiriiit!” teriak Surya Kasyara murka sambil memandang penuh dendam kepada Nenek Haus Jantung yang berjalan pelan memasuki arena pertarungan.
__ADS_1
Nenek Haus Jantung adalah orang yang membunuh Kayuni Larasati dengan ilmu Renggut Jantung-nya, yang bisa dilakukan dari jarak jauh. (RH)