
*Asmara Segel Sakti (Assesa)*
Setelah kepergian Putri Sri Rahayu dan Putri Aninda Serunai, Joko Tenang melakukan pertemuan khusus dan rahasia dengan Dewi Mata Hati, Malaikat Serba Tahu, Pendekar Seribu Tapak, dan Serigala Perak. Pertemuan khusus itu hanya untuk menyampaikan pesan dan undangan dari Tiga Malaikat Kipas, guru baru Joko Tenang. Meski hanya undangan, tetapi hal itu tidak boleh sembarangan tersebar.
Dalam pertemuan itu, Malaikat Serba Tahu menyampaikan satu pesan serius kepada Joko Tenang.
“Aku sangat anjurkan, kau juga harus datang ke Jurang Lolongan, Joko. Penerawanganku menunjukkan bahwa kau akan menemukan satu calon istrimu di sana. Aku tidak tahu siapa wanita itu, tetapi di sanalah kau akan menemukannya,” kata Malaikat Serba Tahu.
“Baik, Kek,” ucap Joko Tenang patuh.
Hari pun terus merambati waktu. Dewi Mata Hati memutuskan bermalam di perguruan itu hingga muridnya selesai menikah dan resmi menjadi madu. Malaikat Serba Tahu memilih pergi terburu-buru, tetapi ia berjanji akan datang kembali ketika pengantin resmi bersatu. Serigala Perak dan cucunya memilih pulang bersama pasukan serigalanya ke Lembah Lelembut. Namun, ia berjanji akan datang lagi besok, ketika acara seserahan berlaku.
Keesokannya, acara seserahan ala-ala pendekar dilaksanakan. Acara dilaksanakan di balairung yang sudah tampak lebih indah dan ramai dengan berbagai hiasan. Pada acara itu, calon pengantin lelaki akan memberikan seserahan kepada ketiga calon istri sekalian. Seserahan yang Joko Tenang miliki hanyalah sebuah cincin berkesaktian. Ketiga calon istri sudah mengiyakan akan menerima apa pun yang diberikan.
Maka pagi menjelang siang, ramailah orang memenuhi balairung. Warga perguruan dan tamu undangan sangat antusias untuk menyaksikan calon pengantin. Keempatnya telah dirias hingga secantik mungkin, termasuk Joko Tenang dirias setampan mungkin. Semua orang tentu penasaran dan ingin tahu, barang apa yang akan diberikan Joko kepada calon-calon istrinya.
Pendekar Seribu Tapak menjadi tetua acara.
Joko Tenang telah siap berdiri di tengah balairung yang sudah berhias penuh kerajinan janur dan hiasan kain warna-warni.
“Bawa masuk ketiga calon pengantin perempuan!” perintah Pendekar Seribu Tapak.
Dengan dituntun oleh Lili Angkir, Gatri Yandana dan Obang Kenari, ketiga calon pengantin perempuan dibawa masuk ke balairung. Ketiga calon pengantin tampil dengan pakaian sama, serba putih, disanggul berhias rangkaian bunga melati. Wajah yang sudah jelita kian dipercantik oleh riasan yang apik.
Semua tersenyum melihat kecantikan para calon pengantin yang hanya bisa tertunduk malu, kompak. Ketiganya diberdirikan berjejer lima langkah di depan Joko Tenang. Sang calon suami tersenyum lebar melihat keanggunan ketiga calon istrinya.
Joko Tenang tidak pernah membayangkan sejak lahir bahwa ia akan mengalami hari seperti saat ini. Setelah berhasil menikah dengan satu orang pengantin perempuan, kini Joko Tenang naik level dengan menikahi tiga pengantin perempuan sekaligus, meski nanti akad sucinya satu per satu.
Tampak Helai Sejengkal berdiri di sisi Jaga Manta sambil tersenyum-senyum melihat prosesi tersebut. Di sudut yang lain, Serigala Perak menyaksikan sambil menceritakan rangkaian peristiwa acara kepada cucunya. Sandaria mendengar cerita detail neneknya sambil tersenyum-senyum senang. Hatinya gembira menggambarkan kebahagian calon pengantin di dalam pikirannya.
Sementara Kumala Rimbayu berdiri di sisi Dewi Mata Hati menyaksikan prosesi itu. Ia terdiam tanpa senyum. Ada kesedihan yang tercokol di dalam hatinya. Ia jelas memimpikan kondisi bahagia seperti itu dan pernah berharap bahwa Joko Tenang yang menjadi pengantin lelakinya. Namun, ia harus terbentur oleh beban moral terhadap bibi gurunya, yaitu Kerling Sukma.
__ADS_1
“Penyerahan Cincin Mata Langit kepada calon pengantin perempuan pertama, yaitu Tirana!” seru Pendekar Seribu Tapak.
Set!
Joko Tenang lalu melesatkan sebuah cincin dari Cincin Mata Langit bermata permata warna merah. Cincin itu kemudian berhenti di udara dan diam mengambang. Tirana mengangkat wajahnya. Ditatapnya cincin emas yang diam di udara itu. Tiba-tiba jantungnya berdebar-debar agak kencang. Ia merasakan jelas degup jantungnya.
Turung Gali juga tampak tegang melihat detik-detik putrinya akan menerima cincin sakti itu. Ketegangan juga melanda perasaan semua orang yang ramai berkerumun di sekeliling balairung.
Dengan gerakan perlahan, Tirana maju. Ia ulurkan jari manis tangan kanannya untuk dimasukkan ke lubang Cincin Mata Langit merah itu. Semua orang meyakini bahwa akan ada hal ajaib yang terjadi saat Tirana mengenakan cincin itu. Karena itu, suasana hening yang tercipta justru mempertinggi tingkat ketegangannya.
Zersss!
Kiiik!
Semua terkejut. Terlebih Joko Tenang dan Pendekar Seribu Tapak yang posisinya paling dekat dengan cincin selain ketiga calon mempelai perempuan. Mereka sampai terjajar ke belakang, kecuali Tirana yang sudah jadi pemilik cincin.
Tepat ketika jari manis Tirana masuk, cincin itu langsung mencekik sendiri si jari dan tiba-tiba dari dalam mata cincin keluar sinar merah besar. Sinar merah yang berbentuk bayangan burung raksasa berekor panjang. Anehnya, sayap burung yang membentang lebar itu berbentuk seperti sayap capung raksasa.
Sejumlah murid perguruan cepat berlarian ke halaman untuk melihat ke langit. Mereka melihat sinar merah itu terbang tinggi ke langit. Namun, tidak berapa lama, burung merah itu turun menukik secepat kilat kembali ke dalam balairung.
Tersentak Tirana saat sinar burung raksasa itu masuk ke dalam tubuhnya, bukan kembali ke cincin.
Kejadian itu jelas membuat semua orang yang menyaksikan menjadi tegang dan cukup panik, mereka khawatir terjadi sesuatu yang buruk kepada calon pengantin.
Tirana terdiam sejenak setelah sinar merah masuk ke dalam tubuhnya. Namun kemudian, Tirana tersenyum kepada Joko Tenang. Ia lalu mundur kembali ke posisinya.
Melihat tidak terjadi apa-apa lagi, Pendekar Seribu Tapak lalu melanjutkan acaranya.
“Penyerahan Cincin Mata Langit kepada calon pengantin perempuan kedua, yaitu Yang Mulia Getara Cinta!” seru Pendekar Seribu Tapak.
Joko Tenang kembali melemparkan satu cincin emas, kali ini cincin itu bermata warna hijau.
__ADS_1
Hal yang dialami oleh Tirana jelang memasukkan jari tangannya ke lubang cincin, ternyata juga dirasakan oleh Getara Cinta.
Zersss!
Grraurr!
Saat jari manis tangan kanan Getara Cinta masuk ke cincin, satu sinar hijau besar melesat terbang ke langit. Sinar besar itu berbentuk macan, tetapi anehnya wujudnya memiliki sayap burung dan pada keempat kakinya seolah ada lapisan api warna hijau.
Wujud yang lebih mengejutkan itu juga sama, ia melesat terbang ke langit, lalu menukik turun dan masuk ke dalam tubuh Getara Cinta. Kemudian tidak terjadi apa-apa selain keterkejutan belaka.
“Penyerahan Cincin Mata Langit kepada calon pengantin perempuan ketiga, yaitu Kerling Sukma!” seru Pendekar Seribu Tapak lagi.
Joko Tenang melepaskan cincin emas bermata kuning yang kemudian diam mengambang di udara. Kerling Sukma maju untuk menerima cincin.
Seluruh keluarga Kerling Sukma tegang, khususnya Gatri Yandana. Kali ini, Dewi Mata Hati merasakan ketegangan, tidak seperti dua cincin sebelumnya.
Zersss!
Sinar besar berwarna kuning berwujud ular raksasa bersayap seperti sayap kalelawar, melesat keluar dari dalam cincin lalu terbang lurus ke langit tinggi. Kemudian sama, kembali turun secepat kilat dan masuk ke dalam tubuh Kerling Sukma.
“Ritual seserahan selesai!” seru Pendekar Seribu Tapak.
Maka bubarlah para hadirin dengan keramaian bisik-bisik. Jelas sebagian besar bertanya-tanya, sehebat apakah kesaktian cincin-cincin itu. Apa nama makhluk-makhluk terbang penghuni cincin itu? Dari mana cincin sakti sebanyak itu?
Jika Joko Tenang akan memiliki sedikitnya delapan istri, berarti ada delapan cincin yang disiapkan oleh Joko Tenang. Tiga sudah diberikan, berarti masih ada lima cincin lagi. Jika Joko Tenang bukan orang sakti, mungkin sudah banyak orang yang berniat merampoknya.
Hari itu akhirnya dilalui dengan berbagai ritual kecil tanpa ada halangan. Semuanya berjalan lancar tanpa ada pengganggu dari pihak luar.
Serigala Perak dan Sandaria memutuskan bermalam di perguruan itu. Saat itu mereka hanya membawa dua serigalanya, yaitu Samudera dan Satria.
Ketika tidak ada ritual, keempat calon pengantin harus menjalani pemingitan di kamarnya masing. Namun, Helai Sejengkal, Sandaria dan Kumala Rimbayu masih diizinkan bertamu ke kamar-kamar calon pengantin perempuan. (RH)
__ADS_1