Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Kersak 4: Prabu Dira Pratakarsa Diwana


__ADS_3

*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*


Makan besar. Mungkin bisa disebut itu adalah pesta kemenangan bagi Kerajaan Sanggana Kecil yang kerajaan itu baru sekedar wacana, karena memang belum ada pembentukan dan pengukuhan.


Dalam acara makan besar di malam itu, Joko Tenang, para istri dan calon istri, serta para pengikutnya terlihat gembira sekali. Mereka menyatu dan berbaur dalam satu kelompok.


Surya Kasyara, Gowo Tungga, Gembulayu, Kurna Sagepa, Swara Sesat, Garis Merak, Senandung Senja, dan Nyai Kisut, begitu bersemangat menyantap hidangannya. Makanan yang disajikan itu bukan lagi level santapan restoran ibu kota, tetapi makanan yang dibuat di dapur istana. Sementara Reksa Dipa hanya diam dan makan dengan wajar di antara kebisingan rekan-rekannya.


“Hihihi…! Gembulayu makannya becek!” kata Senandung Senja sambil tertawa nyaring. Tawanyalah yang begitu kencang dan sering meledak.


Jika membandingkan dengan kondisi ketakutannya yang luar biasa ketika bertemu prajurit Kerajaan Baturaharja, Joko Tenang dan para istrinya hanya tersenyum melihat kebahagiaan gadis belia itu.


“Justru yang becek-becek itu yang lebih asik, hmm! Hahaha!” sahut Gembulayu lalu menjilati sisa kuah di sekitar bibirnya, kemudian ia tertawa lepas, melupakan ketakutannya ketika perang terjadi.


“Jorok jorok jorok! Beraninya kau memperlihatkan tingkah buruk seperti itu di depan wajah Putri!” bentak Nyai Kisut sambil memukul wajah Gembulayu dengan daun lalapan. “Kau pikir dirimu siapa, hah?!”


“Kami yang melindungi Putri Cantik saat kalian berperang!” sahut Gowo Tungga dengan mulut penuh makanan.


“Heh! Aku yang salah dengar atau kau yang salah otak? Beruntung kalian bisa selamat dalam perang dahsyat di bukit itu, dan sekarang bisa makan enak. Di sana kau menangis, di sini kau tertawa! Kalau kalian tidak punya kependekaran dan mau diajarkan, katakan kepadaku, aku berjanji akan membuat kalian latihan keras sampai kepala kalian jadi kaki dan kaki jadi muka!” cerocos Nyai Kisut.


“Hei! Apa yang kalian lakukan?” hardik Kurna Sagepa. “Kelezatan makanan ini akan berangsur hilang jika kalian ribut di sini. Pergilah ke danau jika mau beradu mulut, Nyai Kisut!”


“Sembarangan! Kenapa aku yang kau salahkan jadi biang ribut?” hardik Nyai Kisut kepada Kurna Sagepa.


“Hihihi! Nyai Kisut dan Kakang Kurna jadi adu mulut!” ucap Senandung Senja sambil tertawa terkekek, baginya kondisi itu begitu lucu.


“Cuih! Mana sudi aku beradu mulut dengan nenek peot seperti itu!” bantah Kurna Sagepa yang sebelumnya berlagak meludah ke lantai. Ia lalu mengoyak daging ayam besar di tangannya.


“Jika bibirku semuda umurku, aku yakin kau akan memohon kepadaku untuk adu mulut denganku!” debat Nyai Kisut tidak mau kalah.

__ADS_1


“Apa enaknya adu mulut, lebih baik kita adu jangkrik!” celetuk Surya Kasyara.


“Hahaha…!” tertawa Joko Tenang mendengar perkataan Surya Kasyara.


“Hihihi…!” Para wanita Joko Tenang turut tertawa, kecuali Nara yang sikapnya lebih dingin sebagai seorang tetua.


Tawa para junjungan itu justru membuat Surya Kasyara bingung dan menelan makanannya yang belum terkunyah halus. Ia bingung, apanya yang lucu dari perkataannya barusan.


Berbeda dengan para pengikut itu, Joko Tenang, para istri dan calon istri, serta Putri Sagiya, Turung Gali dan Batik Mida, mereka makan dengan santun dan biasa saja. Namun, mereka bisa memaklumi kegembiraan yang para pengikut itu rasakan.


Sebenarnya ada yang berbeda pada acara makan malam itu. Semuanya telah tampil dengan pakaian yang baru dan bagus-bagus. Khususnya bagi para wanita, mereka tampil dengan kecantikan paras dan pakaiannya masing-masing. Mereka tampil bak taburan mutiara-mutiara indah.


Tirana tampil dengan pakaian warna merah hati. Rambutnya dihias dengan satu untaian Mutiara, mempermanis kejelitaannya. Getara Cinta tampil dengan pakaian hijau terang, lengkap dengan berbagai perhiasannya. Wibawanya sebagai mantan seorang ratu tetap terjaga dengan kecantikan jelita yang matang.


Kerling Sukma memilih berpakaian kuning indah berhias sulaman warna merah. Sandaria, meski ia berganti pakaian dengan warna kuning, tetapi pakaian luarnya yang berbahan bulu kuning tebal tetap menjadi ciri khasnya. Kusuma Dewi memilih berpakaian putih bersih. Sementara Nara tetap dengan jubah kuningnya. Ia hanya berganti pakaian dalam.


Tidak hanya pakaian yang berubah, kali ini para wanita itu berias, sehingga terlihat sedikit berbeda dari biasanya, kecuali Nara dan Getara Cinta. Nara memang tidak pernah berias wajah dengan bedak atau gincu. Adapun Getara Cinta, ia memang selalu berias.


Di belakang-belakang mereka berdiri para dayang yang melayani segala keperluan mereka.


Usai acara makan, Joko Tenang berkumpul di balairung bersama seluruh wanitanya, ditambah Putri Sagiya, Turung Gali, dan Batik Mida. Sementara para abdi serta Senandung Senja dan Nyai Kisut beristirahat.


Joko Tenang tidak duduk di kursi tahta, tetapi ia memilih duduk sejajar bersama yang lainnya. Di sisi kanannya duduk Dewi Mata Hati dan di sisi kirinya duduk Getara Cinta.


“Kita sudah punya istana, wilayah kecil, dua ratus prajurit, lima puluh dayang. Apa pendapat kalian?” tanya Joko Tenang kepada peserta musyawarah.


“Izinkan hamba, Yang Mulia,” ucap Turung Gali lebih dulu.


“Silakan, Ayah,” kata Joko Tenang.

__ADS_1


“Sejak dalam perjalanan menuju ke tempat ini, Yang Mulia Pangeran telah berulang kali menyebut rombongan kita berasal dari Kerajaan Sanggana Kecil, meski pada kenyataannya kerajaan itu belum terbentuk, baru berdasarkan cerita dari hamba. Jadi menurut hamba, jika memang ini mau diwujudkan menjadi sebuah kerajaan, lebih baik Yang Mulia Pangeran membentuk dulu kepemimpinan atau pemerintahan dari kerajaan ini,” ujar Turung Gali.


“Setelah aku mendapati kondisi ini, aku jadi bertanya, apakah ini sudah layak untuk bisa disebut kerajaan?” tanya Joko Tenang.


“Untuk membentuk sebuah kerajaan baru, harus dilakukan oleh seorang yang memiliki garis keturunan raja. Kakang telah memiliki syarat itu, tidak seperti Ginari yang memaksakan diri menjadi ratu hanya karena memiliki kesaktian tinggi. Kerajaan sebagai pusat pemerintahan sudah ada, pasukan keamanan sudah ada, meski hanya dua ratus prajurit. Namun, seiring berjalannya waktu, bisa diadakan perekrutan prajurit. Rakyat pun kita sudah punya, meski hanya Gembulayu dan Gowo Tungga….”


“Hihihi!” Mereka tertawa rendah mendengar nama Gembulayu dan Gowo Tungga disebut, membuat Getara Cinta memotong ucapannya sejenak.


Getara Cinta hanya tersenyum. Ia lalu melanjutkan uraiannya.


“Sanggana Kecil pun sudah memiliki wilayah, meski masih kecil. Syarat lainnya adalah kita belum memiliki sumber keuangan untuk menunjang berjalannya sebuah kerajaan. Kita pun belum diakui oleh kerajaan lain, setidaknya diakui oleh daerah-daerah yang mengelilingi wilayah kita. Dan yang utama, pemerintahan harus dibentuk terlebih dulu.”


“Tidak perlu banyak pertimbangan lagi!” kata Dewi Mata Hati lantang.


Nara lalu bangkit dari duduknya, kemudian justru berlutut di depan kaki suaminya.


“Aku Nara, Dewi Mata Hati, mengakui Pangeran Dira Pratakarsa Diwana sebagai Raja Kerajaan Sanggana Kecil!” ucap Dewi Mata Hati.


“Aku Getara Cinta, mengakui Pangeran Dira Pratakarsa Diwana sebagai Raja Kerajaan Sanggana Kecil!” ucap Getara Cinta pula sambil berlutut pula di sisi Nara.


Langkah Dewi Mata Hati dan Getara Cinta itu segera diikuti oleh yang lainnya secara bergantian, tanpa ada yang berat hati. Putri Sagiya pun menyatakan pengakuannya atas status raja bagi kakaknya tersebut.


“Jadi, apakah dengan demikian aku sekarang adalah raja?” tanya Joko Tenang kepada seluruh abdinya yang masih berlutut semua di lantai.


“Benar, Gusti Prabu Dira. Kami mohon Gusti Prabu bersedia duduk di singgasana!” kata Getara Cinta.


“Baiklah,” ucap Joko Tenang. Ia lalu berdiri dan berjalan menaiki beberapa anak tangga untuk duduk di kursi tahta yang besar.


Joko Tenang tersenyum saat merasakan sensasi duduk di empuknya kursi tahta. Melihat Joko Tenang tersenyum, para abdi itupun tersenyum.

__ADS_1


“Bangkitlah, kalian semua!” perintah Joko Tenang. (RH)


__ADS_2