Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
PAC33: Duel Dimulai


__ADS_3

*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*


Lembah Cekung adalah lembah yang bentuk permukaannya seperti kawah raksasa yang ditumbuhi oleh rerumputan dan semak belukar. Ada pula bagian tanah terbukanya yang memiliki bebatuan. Separuh dari pinggiran Lembah Cekung dipagari oleh bebukitan kecil. Namun, jika dilihat dari atas awan, maka lembah itu benar-benar seperti cekungan mangkok.


Satu jam sebelum matahari mentahtakan diri di puncak tertingginya, sejumlah orang berpenampilan pendekar terlihat sudah hadir dalam posisi yang menyebar.


Kelompok pertama yang hadir menunggu di badan sebuah bukit di utara lembah adalah para gadis dan pemuda. Orang-orang itu tidak lain adalah Kepala Desa Wongawet Mak Gandur, Kemuning, Sedap Malu, Bangirayu, Wiro Keling, Palang Segi, Tudurya, dan Rawing.


Rupanya kabar tentang duelnya Joko Tenang sampai juga ke Desa Wongawet. Ketika mereka tiba di Lembah Cekung, mereka belum mendapati tanda-tanda keberadaan Joko Tenang dan Tirana, dua pendekar yang mereka anggap sebagai pahlawan karena telah membebaskan Desa Wongawet dari aturan yang tidak manusiawi.


Di sudut yang lain telah terlihat pula sejumlah tokoh dunia persilatan yang tidak saling kenal.


Di salah satu sisi, telah hadir Raja Kera bersama Satria Gagah dan putri tertuanya, yaitu Sintri Lewo.


Di sisi yang lain, ternyata Putri Sri Rahayu yang bergelar Bidadari Asap Racun telah hadir dengan kereta kudanya. Ia masih bersama Siluman Gagap dan Siluman Kuping Buntu.


Pangeran Zulkar Nain bersama Dewa Yuda dan adiknya, Sariya, sudah tiba dengan menunggang kuda.


Ternyata kelompok Rampok Ki Banderek juga hadir berkelompok. Pemimpin rampok yang pernah dihajar oleh Joko tanpa tedeng aling-aling itu, datang dengan ditandu oleh anak buahnya. Kondisinya masih parah, tapi ia memaksa untuk hadir di Lembah Cekung. Ia sangat ingin melihat langsung Joko Tenang mati.


Cukup banyak yang hadir, baik datang berkelompok, berpasangan, atau datang sendiri tanpa teman.


Tidak membutuhkan waktu lama menunggu calon petarung siang itu. Seiring munculnya pasukan kecil berseragam cokelat putih, muncul pula Arjuna Tandang yang berkuda di dampingi oleh Ginari. Hari ini Arjuna Tandang mengenakan pakaian serba hitam. Sementara Ginari mengenakan pakaian putih-putih.


Seiring kedatangan Ketua Raja Pedang dari arah barat, rombongan ramai dari Kerajaan Tarumasaga juga muncul dari arah utara.


Melihat kedatangan kedua rombongan itu, terbangunlah keseriusan para toko dunia persilatan memperhatikan keadaan di daerah bawah. Hampir semua penonton memilih tempat yang tinggi agar lebih muda menyaksikan pertarungan itu.


Rombongan Joko Tenang akhirnya berhenti pada satu titik. Demikian pula dengan rombongan Arjuna Tandang.


“Wahai, para pendekar dunia persilatan!” teriak Arjuna Tanda yang mengandung tenaga dalam kepada seluruh orang yang hadir di lembah itu dan sekitarnya. Ia tampaknya sudah tidak sabar untuk menang, yang artinya secara resmi akan memiliki Ginari seutuhnya.


Ia melanjutkan perkataannya yang menggema luas di tempat itu.


“Saksikanlah! Pertarungan aku Ketua Raja Pedang dengan Joko Tenang, murid Ki Ageng Kunsa Pari, akan berlangsung secara pendekar. Pertarungan ini akan memperebutkan seorang wanita secantik bidadari. Kalianlah yang menjadi saksi!”


“Apa sebenarnya yang ada di dalam otak Joko Tenang? Bagaimana bisa ia memiliki calon istri tiga wanita cantik sekaligus?” membatin Putri Sri Rahayu yang berdiri anggun di atas atap bilik kereta kudanya.


“Hei, lihat!” kata Bangirayu sambil menatap jauh ke arah posisi Putri Sri Rahayu. “Bukankah itu Bidadari Asap Racun?”


Mak Gandur dan yang lainnya memandang ke arah posisi Putri Sri Rahayu.

__ADS_1


“Benar, itu Bidadari Asap Racun,” kata Mak Gandur membenarkan.


Kemudian kembali terdengar teriakan Arjuna Tandang.


“Saksikanlah! Jika di antara kami ada yang bertarung dengan curang, kalian semua berhak menghukum kami saat ini juga!”


“Hahaha...!”


Tiba-tiba terdengar suara tawa ramai tiga suara manusia. Suara tawa itu terdengar membahana luas karena mengandung tenaga dalam.


Semua mata segera memandang ke sumber suara yang berasal dari puncak sebuah bukit kecil di sisi selatan Lembah Cekung. Di sana berdiri tiga orang berjubah. Posisi yang jauh membuat mereka sulit dikenali.


Ketiga orang itu adalah dua orang lelaki dan satu perempuan. Mereka mengenakan jubah putih, hijau dan merah. Perempuan yang berjubah merah mengembangkan kipas merahnya sambil mengipasi lehernya. Padahal, angin alam telah membuat rasa panas sirna.


“Bukankah ketiga orang di sana adalah Tiga Malaikat Kipas?” ucap Satria Gagah kepada Raja Kera.


“Sepertinya. Aku dengar mereka sedang berada di daerah ini,” kata Raja Kera.


“Kakang, ketiga gurumu hadir juga,” kata Tirana kepada Joko.


Joko Tenang hanya mengangguk. Kemudian Joko Tenang berkelebat cepat di udara. Ia mendarat di semak belukar tidak jauh di depan kuda Arjuna Tandang dan Ginari.


“Kakang!” sebut Ginari seraya tersenyum.


Joko Tenang yang sedang memuncak amarahnya, turut tersenyum.


“Apakah dia berbuat kurang ajar terhadapmu?” tanya Joko Tenang.


“Tidak, Kakang,” jawab Ginari. “Aku aman.”


“Bagaimana dengan racun di tubuhmu?” tanya Joko.


“Dia berjanji akan memberikan penawarnya sebelum bertarung melawanmu,” kata Ginari. “Aku ingatkan kepadamu, Kakang. Dia memiliki ilmu yang bisa mengeluarkan banyak pedang gaib dari dalam tubuhnya. Aku khawatir dia akan menjebakmu dengan ilmu itu.”


“Percayalah kepadaku, Ginari. Aku akan membunuhnya,” tandas Joko.


Arjuna Tandang datang mendekat dengan tetap menunggang kudannya.


“Ginari!” panggil Arjuna Tandang.


Saat Ginari berpaling kepada Arjuna Tandang, lelaki itu melemparkan satu benda kecil kepada Ginari. Gadis jelita itu sigap menangkapnya. Benda itu adalah sebutir pil berwarna putih sebesar biji rambutan.

__ADS_1


“Itu adalah obat penawar Racun Ikatan Seratus Langkah. Dengan demikian, dalam pertarungan kita tidak ada yang tersandera sekarang!” tegas Arjuna Tandang.


“Baik,” kata Joko.


Ginari lalu memakan pil di tangannya.


“Menjaulah, Sayang!” perintah Joko Tenang dengan tatapan tetap memandang tajam kepada Arjuna Tandang.


Ginari lalu berkelebat mundur, jauh. Ia ingin menjauh lebih seratus langkah dari posisi Arjuna Tandang. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya telah terbebas dari jeratan racun. Namun, jika seandainya Arjuna Tandang berbohong, maka ia pasti akan mati.


“Kau sudah siap, Kisanak?” tanya Arjuna Tandang.


Sreeet!


Arjuna Tandang mengeluarkan ilmu Pasukan Pedang Haus Nyawa sebagai ilmu pembuka. Sepuluh sinar biru berwujud pedang kini mengambang di sisi kanan tubuh Arjuna.


“Mulai!” teriak satu suara kakek yang mengandung tenaga dalam tinggi dari tempat yang jauh. Itu adalah suara Iblis Timur alias Malaikat Kipas Hijau.


Tanpa ada kesepakatan terlebih dahulu, akhirnya teriakan dari atas bukit itu menjadi aba-aba bahwa pertarungan duel dimulai.


Seet!


Kesepuluh pedang sinar biru langsung melesat sangat cepat menyerang Joko. Joko Tenang sanggup mengelaki pedang bergerombol itu. Namun, dengan cepat kesepuluh pedang berbaris itu berbelok lalu menyerang Joko lagi.


Set set set...!


Di saat Joko Tenang meladengi kesepuluh pedang gaib itu, Arjuna Tandang berkelebat dari atas kudanya. Ia mendekati posisi Joko sambil mengayunkan kedua tangannya bergantian mengirimkan angin-angin setajam pedang dari ilmu Angin-Angin Mengiris.


Seeep!


Daripada harus menghadapi dua jenis serangan sekaligus, Joko Tenang akhirnya memberikan punggungnya untuk ditusuk oleh kesepuluh pedang sinar biru.


Terkejut Arjuna Tandang melihat kesepuluh pedang gaibnya masuk begitu saja kepunggung Joko tanpa ada efek apa pun terhadap Joko.


Namun, Arjuna Tandang terus melesatkan angin-angin tajamnya.


Dengan kecepatan yang tinggi, Joko Tenang mengelaki semua angin tajam itu.


Set!


Tiba-tiba sebilah pedang sungguhan melesat cepat di udara dan membokong Joko Tenang. Pedang sungguhan itu bukanlah milik Arjuna Tandang. (RH)

__ADS_1


__ADS_2