Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
PGM 17: Bangkitnya Kesaktian Darah Suci


__ADS_3

*Pendekar Gila Mabuk (PGM)*


 


Ada dua orang yang dihadapi oleh Joko Tenang dan Getara Cinta.


Orang pertama adalah seorang pemuda seusia Joko Tenang. Juga tampan, hanya dia berkulit lebih gelap karena keseringan main di pinggir laut. Ia mengenakan pakaian biru gelap berlapis jubah hitam tanpa lengan. Jubahnya masuk dalam balutan sabuk warna biru gelap pula. Pemuda berambut gondrong tanpa ikat kepala itu berwajah es, tanpa senyum dan tanpa emosi, dingin. Ia tidak berbekal senjata apa pun. Ia bernama Reksa Dipa. Ia menatap tajam kepada Joko Tenang, seolah tidak tertarik menatap bidadari cantik di sisi Joko.


Orang kedua adalah seorang lelaki berusia empat puluhan tahun. Ia mengenakan baju cokelat, celana hitam. Kedua lengannya dibalut dengan lilitan tali warna hitam. Lelaki berkumis dan berjenggot itu berikat kepala merah. Ia bernama Tangkar Lewa. Ia lebih murah senyum dibandingkan temannya yang berwajah kaku.


“Kisanak berdua, kita tidak memiliki masalah, izinkan kami lewat menuju Padepokan Hati Putih,” ujar Joko Tenang ramah. Pertarungan sebelumnya seolah tidak membuat emosinya meledak-ledak.


“Kalian telah membunuh teman-teman kami. Jelas itu artinya kita memiliki masalah yang harus diselesaikan,” kata Tangkar Lewa. “Kami mengabdi di Gerombolan Kuda Biru, itu artinya kami siap mati membela Gerombolan Kuda Biru.”


“Aku bukan orang Gerombolan Kuda Biru. Aku hanya ingin mencari lawan tarung yang kuat,” ucap Reksa Dipa.


“Aku rasa kau sudah melihatku bertarung. Apakah kau menilai aku adalah lawan yang kuat?” tanya Joko Tenang kepada Reksa Dipa.


“Aku tahu, kau tidak memiliki kesaktian, Kisanak berbibir merah. Kau hanya mengandalkan macan dan wanita yang bersamamu. Bisa mengalahkan mereka berempat, itu menunjukkan kau lawan yang hebat,” ujat Reksa Dipa.


“Jadi, intinya kalian tidak mau membiarkan kami?” tanya Joko Tenang ingin memastikan.


“Tidak!” tandas Tangkar Lewa. “Jika kami kalah, kalian masih harus menghadapi Setan Empat Penjuru di belakang kami.”


“Setan Empat Penjuru,” sebut ulang Joko Tenang. Ia segera mengingat bahwa nama itu pernah disebut oleh Helai Sejengkal. “Bukankah Setan Empat Penjuru pengikut Nenek Haus Jantung?”


“Benar. Nenek Haus Jantung bergabung dengan Gerombolan Kuda Biru,” jawab Tangkar Lewa.


“Ayo kita bertarung, untuk apa berdiskusi?” kata Reksa Dipa. Ia langsung melakukan gerakan kedua tangan bertenaga dalam tinggi. Ia tahu, akan percuma jika melakukan pertarungan tangan kosong, terlebih Joko Tenang memiliki macan buas.


Wus! Wus!


Tiba-tiba dari dalam tubuh Reksa Dipa melesat naik ke udara dua sosok bayangan serupa dirinya. Hebatnya, pada kedua tangan dua bayang itu masing-masing membawa sinar merah yang siap diserangkan.


Melihat lawan sudah beraksi, Joko Tenang langsung berlari ke arah Reksa Dipa yang asli sambil memanggil, “Macan Penakluk!”


Aaurrgk!


Zerss!


Pada saat yang sama, Getara Cinta melesat melayang di atas pergerakan suaminya sambil mengibaskan tangan kanannya ke atas. Sinar hijau melengkung langsung berkiblat menebas dua bayangan tubuh Reksa Dipa di udara sekaligus. Dua bayangan itu buyar lalu lenyap termakan angin.


Sementara itu, Macan Penakluk hanya menerkam bayangan semu Reksa Dipa, ketika raga aslinya melesat mundur.


“Macan Penakluk!” seru Joko Tenang saat melihat macannya menerkam bayangan semata.


Macan Penakluk langsung memecah diri dan tersedot masuk ke dalam cincin.

__ADS_1


Suiits!


Giliran Tangkar Lewa yang menyerang. Ia melesatkan sebuah sinar biru berekor dan melesat melengkung, seolah memilih jalan memutar dari pada jalan yang lurus.


Bress!


Bress! Zreb!


Getara Cinta cepat mengaktifkan Permata Darah Suci dalam dirinya. Maka seketika itu juga tubuhnya diselimuti sinar hijau, termasuk sepasang matanya.


Namun yang mengejutkan, ketika Getara Cinta membuat tubuhnya bersinar hijau, tubuh Joko Tenang turut bersinar hijau pula. Kedua matanya juga bersinar hijau. Kejadian itu mengejutkan Tirana dan Kerling Sukma, terkhusus bagi Getara Cinta dan Joko Tenang sendiri.


Getara Cinta membiarkan tubuhnya dihantam oleh sinar biru Tangkar Lewa. Namun, Tangkar Lewa harus terkejut dan kecewa ketika melihat ilmu Bintang Biru-nya tidak berdampak sedikit pun pada diri Getara Cinta.


Suits! Suits! Suits!


Tangkar Lewa tidak terpaku. Ia menyusulkan serangannya dengan serangan serupa tapi tidak sama. Kali ini tiga sinar biru berekor yang dia lesatkan menyerang sepasang kekasih itu.


Wus wus wus…!


Zess zess zess…!


Pada saat yang sama Reksa Dipa melesatkan lima bayangan dirinya. Kedua tangan setiap bayangan berbekal sinar merah yang langsung dilemparkan ke arah Joko Tenang dan istrinya. Maka sepuluh sinar merah menyerang mengerikan ke arah Joko Tenang dan Getara Cinta.


Tik! Swiit!


Saat Getara Cinta menjentikkan jarinya di atas kepala, keberadaannya dan Joko Tenang tiba-tiba hilang di mata kedua lawannya, termasuk hilang di pandangan Tirana dan Kerling Sukma.


Dengan hilangnya Joko Tenang dan Getara Cinta, tiga sinar biru dan sepuluh sinar merah berledakan menghantam dinding perisai yang tidak terlihat.


Yang terjadi adalah Getara Cinta mengerahkan ilmu Selubung Alam. Bagi Getara Cinta dan Joko Tenang, mereka dikurung oleh kubah sinar berwarna hitam pekat. Keduanya tidak bisa melihat apa yang terjadi di luar kubah. Ketika tiga belas sinar ilmu kesaktian lawan menghantam kubah itu, mereka berdua tidak mendengar suara ledakannya atau merasa terguncang di dalam kubah.


Getara Cinta melakukan itu karena dia penasaran, bagaimana mungkin suaminya ikut bersinar hijau dalam kondisi tanpa kesaktian.


Kini di dalam kubah Selubung Alam berdiri sepasang makhluk bersinar hijau yang saling berhadapan.


“Apa yang terjadi, Kakang?” tanya Getara Cinta lembut dan tersenyum, sambil kedua tangannya memegang kedua tangan suaminya. Ia tahu itu perkembangan mengejutkan yang menggembirakan, tetapi ia ingin cari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Aku tidak tahu, Sayang. Kau bisa rasakan? Tenaga yang mengalir di tangan kita seolah menyatu. Di dalam tubuhku muncul tenaga sakti, tetapi bukan tenaga yang biasa aku miliki. Aku pernah merasakan tenaga ini ketika di Kerajaan Tarumasaga, saat kau menelan Permata Darah Suci lalu aku ikut bersinar hijau,” jawab Joko Tenang.


Zerzzzr!


Tiba-tiba dari dalam mata keduanya melesat aliran listrik yang saling bertemu dan menyambung. Tanpa mereka kehendaki, tiba-tiba pada pikiran keduanya punya niat untuk saling mendekat. Hingga kemudian Joko Tenang dan Getara Cinta saling berpelukan. Tubuh mereka saling menempel, termasuk kedua bibir mereka saling bertemu.


Zuarss! Zuarss!


Secara bersamaan, tubuh keduanya yang sudah bersinar hijau biasa, tiba-tiba bersinar hijau menyilaukan. Jika Getara Cinta bisa mengenali dan mengendalikan kekuatan dahsyat yang muncul pada tubuhnya, berbeda dengan Joko Tenang, ia tidak bisa mengendalikan tenaga sakti nan dahsyat yang muncul di dalam tubuhnya.

__ADS_1


Buru-buru Joko Tenang melepaskan bibirnya dari bibir istrinya. Tenaga sakti yang muncul di dalam tubuhnya seolah minta dikeluarkan, sedangkan Joko Tenang tidak mengerti cara mengeluarkannya.


“Ikuti aku, Kakang!” kata Getara Cinta yang mengerti apa yang sedang dialami oleh Joko Tenang. Ia lalu turun duduk bersila.


Joko Tenang segera ikut turun dan duduk bersila menghadap istrinya. Ia kemudian mengikuti gerakan kedua tangan istrinya. Di saat itu, Joko Tenang bisa menggunakan tenaga dalam, tetapi itu tenaga yang berbeda dari miliknya yang sedang tersegel.


“Sedang apa Kakang Joko dengan Ratu di dalam sana? Kok lama?” tanya Tirana yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban karena Kerling Sukma pasti juga tidak tahu.


“Wah, jangan-jangan Ratu mencuri kesempatan!” terka Kerling Sukma dengan ekspresi cukup terkejut.


“Kau ini, kau pikir Ratu akan membuang rasa malunya dengan melakukan hal itu di saat pertarungan?” kata Tirana seraya tersenyum tipis kepada Kerling Sukma.


“Keluar kalian!” teriak Tangkar Lewa, karena Joko Tenang dan Getara Cinta tidak juga muncul untuk melanjutkan pertarungannya.


Tangkar Lewa lalu mempertemukan kedua tinjunya di depan dada. Tenaga dalam tinggi ia kerahkan. Maka dari pertemuan dua tinjunya itu muncul sebola besar sinar biru yang berpijar cukup menyilaukan.


Zwurrs!


Zerzz!


Ketika Tangkar Lewa melesatkan ilmu tertingginya guna menghancurkan perisai yang tidak terlihat tetapi ada itu, tiba-tiba sosok hijau Joko Tenang dan Getara Cinta muncul begitu saja, yang artinya ilmu Selubung Alam sudah dicabut.


Joko Tenang yang sudah berhasil mengendalikan kekuatan liar di dalam tubuhnya, langsung menghentakkan kelima jari tangan kanannya kepada kedatangan sinar biru besar itu.


Lima garis aliran listrik berwarna hijau langsung menjerat sinar biru besar itu dan menghentikannya di pertengahan jarak. Sinar biru itu tidak meledak atau sirna, tetapi diubah menjadi hijau oleh aliran listrik tanpa putus milik Joko Tenang.


Tangkar Lewa jadi bingung harus berbuat apa. Ia pun tidak tahu apa yang akan terjadi.


Zwung!


Yang terjadi kemudian begitu mengerikan. Tiba-tiba bola biru besar yang sudah berubah warna menjadi hijau, melesat balik kepada Tangkar Lewa. Masalahnya, kecepatan lesatannya jadi dua kali lipat. Efek rusaknya pun menjadi berlipat.


Tubuh Tangkar Lewa dari kepala hingga kedua lutut musnah hancur. Yang tersisa dari Tangkar Lewa tinggal sepasang kaki yang jatuh berserak tanpa tubuh lagi.


Tirana, Kerling Sukma dan Reksa Dipa terkejut bukan main melihat keganasan ilmu baru Joko Tenang.


Joko Tenang dan Getara Cinta lalu beralih menghadap ke arah Reksa Dipa. Joko Tenang bahkan melangkah pasti mendatangi Reksa Dipa yang dilanda kegalauan. Tampak kilatan-kilatan listrik hijau masih terlihat di tangan kanan Joko Tenang.


“Bagaimana mungkin? Orang yang awalnya tidak berkesaktian, tetapi tiba-tiba memiliki kesaktian yang sangat mengerikan…” batin Reksa Dipa.


“Aku beri satu kesempatan untuk menjalani masa depan sebagai seorang pendekar yang lurus hati, Kisanak!” kata Joko Tenang, mencoba bernegosiasi.


“Baik, aku mengaku kalah!” ucap Reksa Dipa sambil turun berlutut. Ia tidak mau mengambil langkah sembrono. Ia mengakui bahwa kesaktian dan tenaga saktinya jauh di bawah Joko Tenang. Ia tidak mau bernasib sama seperti Tangkar Lewa.


“Pergilah!” perintah Joko Tenang.


“Baik,” ucap Reksa Dipa patuh.

__ADS_1


Pemuda berwajah dingin itu lalu bangkit. Dengan wajah menunduk ia melangkah pergi. (RH)


__ADS_2