Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Padi Ragi 17: Keturunan Pemberontak


__ADS_3

*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*


“Hei! Serahkan kedua wanita itu!” teriak salah satu dari dua lelaki berperawakan pendekar yang memimpin dua puluh prajurit itu. Ia lelaki berpakaian serba biru gelap dengan pedang warna putih sebagai senjatanya. Lelaki berusia empat puluhan itu bernama Sepak Bilas.


“Atau kalian mau berurusan dengan Kerajaan Baturaharja!” ancam lelaki satunya yang berpakaian merah gelap segelap masa depannya. Lelaki bercambang menggantung itu menyandang sebuah tombak di punggungnya. Usianya sepuluh tahun lebih muda dari rekannya. Terlihat ia memiliki bibir yang miring, sehingga seolah ia selalu tersenyum sepihak. Ia bernama Tepuk Geprak.


Baru saja Tirana dan Getara Cinta mau maju, Surya Kasyara lebih dulu melompat mendahului dan mendarat gagah di depan kedua pendekar dan pasukan tersebut.


“Hei! Apakah kalian tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?” koar Surya Kasyara. Ia sedikit mengangkat dagunya.


Tirana dan Getara Cinta membiarkan Surya Kasyara menghadapi kedua pendekar pemimpin pasukan itu.


“Kalian telah menyembunyikan gadis buruan Kerajaan. Serahkan dia!” kata Sepak Bilas.


“Tidak bisa!” tentang Surya Kasyara. “Kedua wanita itu berada di bawah perlindunganku…!”


“Ehhem!” dehem Getara Cinta agak keras.


Deheman itu membuat Surya Kasyara jadi menengok ke belakang. Kedua junjungannya hanya menatap kepadanya. Otak terbatas Surya Kasyara cepat bekerja keras berusaha menerjemahkan arti tatapan kedua wajah canti itu.


Surya Kasyara lalu cepat beralih kepada Sepak Bilas dan Tepuk Geprak. Lalu katanya meralat ucapannya, “Kedua wanita itu berada di bawah perlindungan kami. Jadi, kalian harus pulang dan katakan kepada raja kalian, burung elang burung yang centil, terbang genit di punggung sapi, kami pulang tanpa hasil, karena si gadis punya pendekar sakti.”


Mendengar pantun Surya Kasyara, Tirana dan Getara Cinta yang awalnya kesal atas tindakan Pendekar Gila Mabuk itu, jadi tertawa rendah.


“Balas, Kang! Balas!” seru Tepuk Geprak emosi sambil menepuk-nepuk lengan teman seniornya.


“Kambing bernyanyi diguyur hujan, perut melilit kambing pun meriang, kalau bicara jaga ukuran, ketinggian sedikit nyawamu bisa melayang!” balas Sepak Libas yang ternyata pandai berpantun juga.


“Hahaha!” tawa Tepuk Geprak semangat, ia merasa tarung pantun lebih seru daripada tarung fisik.


Joko Tenang dan para pengikutnya jadi tersenyum-senyum mendengar balasan pantun dari Sepak Bilas.


Elang raja hinggap di pepohonan, tertimpa kelapa kepalanya remuk, kalau ragu aku punya kemampuan, ayo tarung sampai kita mabuk!” tantang Surya Kasyara lalu pasang kuda-kuda. Surya Kasyara berdiri dengan kaki rapat, tetapi badan dan kepalanya miring ke kanan, seperti orang mau jatuh.


“Balas, Kang! Hajar lagi, Kang!” seru Tepuk Geprak sambil menepuk keras belakang bahu temannya.


Plak!


Sepak Bilas justru memukul kepala Tepuk Geprak, membuatnya terdiam dari berisiknya.


“Kau pikir ini panggung pertunjukan?!” Sepak Bilas membentak Tepuk Geprak.

__ADS_1


“Surya, mundur!” perintah Joko Tenang. Ia terhibur dengan adu pantun itu, tetapi urusan jadi bertele-tele tanpa kejelasan.


“Baik!” sahut Surya Kasyara patuh. Ia lalu mundur dengan hati agak kecewa, karena ia sudah siap tarung dengan jurus mabuknya. Jika ia diberi kesempatan bertarung sebentar, setidaknya ia bisa menunjukkan sedikit kehebatan jurus mabuknya.


Joko Tenang lalu melangkah maju, menggantikan posisi Surya Kasyara. Barulah Tirana dan Getara Cinta juga maju dan berdiri di belakang suami mereka.


“Kalian adalah prajurit Kerajaan Baturaharja. Kenapa kalian mengejar kedua wanita itu? Jika jawaban kalian kuat, mungkin akan aku pertimbangkan menyerahkan mereka,” ujar Joko Tenang.


“Dia adalah keturunan terakhir pemimpin pemberontak Arta Pandewa yang semua keturunannya harus dibunuh. Itu hukum Gusti Prabu Menak Ujung!” jelas Sepak Bilas.


“Jika demikian. Kami harus mendapat penjelasan dari gadis itu, apakah yang kau katakan benar atau hanya tuduhan bohong dengan maksud lain,” kata Joko Tenang.


“Wah! Belum tahu dia kehebatan Akang!” kata Tepuk Geprak sewot sambil menunjuk wajah Joko Tenang.


Das!


“Hukh!” keluh Tepuk Geprak saat satu kekuatan menghantam dadanya. Ia terpental ke belakang dan menubruk barisan depan pasukannya.


Tunjukan Tepuk Geprak ke wajah Joko Tenang telah menyinggung perasaan para istri sang pangeran. Karenanya Getara Cinta melepaskan satu sentilan bertenaga dalam kepada Tepuk Geprak.


Insiden itu mengejutkan Sepak Bilas. Ia segera mencabut pedangnya dan menghunuskannya ke depan tanpa menyerang.


“Kembalilah kepada junjunganmu. Katakan bahwa buruan kerajaan kalian untuk sementara di dalam perlindungan Pangeran Dira dan para istrinya. Jika jelas bagi kami bahwa dia membahayakan kerajaan kalian, maka kami akan melepaskan dia dari perlindungan kami!” ujar Joko Tenang.


Plak!


“Diam kau, Tepuk!” bentak Sepak Bilas sambil memukul kepala temannya itu. Ia lalu memarahi Tepuk Geprak, “Kau tidak lihat? Mereka semua pendekar sakti. Kau tidak lihat? Anjing-anjingnya seperti binatang siluman! Melawan mereka dengan hanya dua orang sama dengan bunuh diri. Mengerti?!”


“Iya,” ucap Tepuk Geprak pelan sambil menunduk mengerenyit, sakit di hati.


Sepak Bilas lalu kembali memandang kepada Joko Tenang. Pedangnya ia turunkan.


“Kami akan datang mencari kalian dengan kekuatan yang lebih besar!” tandas Sepak Bilas.


“Kalian bisa langsung mencari kami di Kerajaan Sanggana Kecil di utara Gunung Prabu!” kata Joko Tenang.


“Tunggu saja kehancuran kalian!” desis Sepak Bilas, lalu berbalik pergi.


Tepuk Geprak juga mendengus sambil mencibirkan bibirnya.


“Week!” lewek Tepuk Geprak lalu cepat-cepat berbalik pergi.

__ADS_1


Ledekan lidah Tepuk Geprak membuat Joko Tenang dan kedua istrinya itu mendelik. Namun kemudian, mereka tertawa rendah.


Sepak Bilas dan pasukannya sudah balik kanan. Sebagai seorang pendekar dan menjadi pemimpin dari pasukannya, ternyata dia pandai menghitung untung rugi. Ia sadar bahwa rombongan Joko Tenang adalah rombongan indah tapi mengandung maut yang besar. Indah dengan ketampanan dan kecantikan para wanitanya, tetapi mengandung maut karena mereka semua adalah orang sakti. Jika hanya melawan Surya Kasyara si Pendekar Gila Mabuk, mungkin itu bukan masalah berarti.


“Kita istirahat sejenak. Kedua wanita itu harus diobati,” kata Joko Tenang kepada kedua istrinya.


“Baik, Kakang,” ucap keduanya.


Tirana dan Getara Cinta lalu berbalik hendak melangkah ke barisan belakang.


Pok!


“Aww!” pekik tertahan Tirana dan Getara Cinta bersamaan. Mereka terkejut saat bokong mereka ditepuk oleh Joko Tenang bersamaan.


“Hahaha!” tawa Joko Tenang, gembira melihat keterkejutan kedua wanita cantik beda usia itu.


Memerah wajah kedua wanita berkulit putih bersih itu.


Tik! Swiiit!


Getara Cinta lalu menjentikkan jarinya. Maka sinar hitam berbentuk kuba tercipta mengurung mereka bertiga. Setelah itu, Getara Cinta dan Tirana kompak menyerang suami mereka.


“Hahaha…!”


Joko Tenang hanya tertawa tanpa henti tanpa bisa berbuat apa-apa selain menerima serangan kedua istrinya. Kedua istri itu tidak menghujani Joko Tenang dengan bibir-bibirnya, tetapi dengan kelitikan. Semuanya dikelitik.


Kerling Sukma, Kusuma Dewi, dan para pria lainnya, hanya kerutkan kening melihat Joko Tenang dan kedua istrinya menghilang begitu saja. Ketika ilmu Selubung Alam dikerahkan, orang di luar kurungan memang tidak melihat kemunculan kubah sinar hitam.


Namun akhirnya, ketiganya kembali muncul seiring tabir yang menutupi telah dicabut. Tirana dan Getara Cinta meninggalkan suaminya seraya tertawa kecil campur rasa-rasa malu, karena semuanya memandangi mereka dengan tatapan curiga. Semua pasti mencurigai bahwa keduanya telah mencuri start di tengah jalan.


Sementara Joko Tenang masih tertawa sambil memegangi perutnya. Ini pertama kali ia tertawa seperti itu. Ternyata, hanya dengan istri-istri tercinta Joko Tenang bisa tertawa seperti itu.


Singkat waktu, mereka beristirahat.


Kusuma Dewi bertindak sebagai pencari tempat yang nyaman untuk beristirahat. Ia menemukan sebuah telaga kecil yang sejuk dengan banyaknya pepohonan waru. Lokasinya tidak begitu jauh dari jalan yang mereka lalui.


Tirana dan Getara Cinta bertindak untuk mengobati wanita yang bernama Nyai Kisut.


Nyai Kisut ternyata seorang wanita tua. Usianya sekitar di atas enam puluh tahun.


Senandung Senja akhirnya tersadar dari pingsannya. Namun, ketika ia kembali melihat keberadaan para serigala, ia kembali pingsan.

__ADS_1


Sementara, Gowo Tungga dan Gembulayu bagian seksi sibuk. Sebagai anggota baru dalam rombongan, mereka bekerja dengan rajin, gesit dan wajib bahagia. (RH)


__ADS_2