
Pemuda bercaping besar berbibir merah itu duduk bersila menghadap gadis berpakaian serba hitam dalam jarak empat langkah. Joko Tenang memandangi wajah yang begitu cantik di depannya, meski wajah itu terlihat pucat.
Gadis berpakaian hitam yang adalah Ginari duduk bersandar di bawah pohon tanpa berdaya, karena memang kondisinya sedang terluka begitu parah. Gawatnya lagi, racun yang ada di dalam tubuh gadis berjuluk Pendekar Tikus Langit itu tidak memiliki penawar.
Joko Tenang diam memandangi paras jelita itu bukan karena menikmati kecantikannya, tapi karena sedang berpikir mencari cara untuk bisa membawa Ginari tanpa harus bersentuhan dengannya atau dekat dengannya kurang dari tiga langkah.
Joko Tenang memiliki penyakit aneh yang tidak boleh berdekatan dengan wanita kurang dari tiga langkah, terlebih sampai menyentuh kulit wanita. Jika itu terjadi, Joko akan langsung menjadi lemas dan kehilangan tenaga, bahkan bisa membuatnya jatuh pingsan. Sedangkan saat itu, ia bertanggung jawab untuk membawa dan menolong Ginari.
“Sampai kapan kau akan memandangiku seperti itu?” tanya Ginari dengan suara lemah, ia merasa tidak suka dipandangi terus oleh pemuda bercaping di depannya itu.
“Jagur!” teriak Joko memanggil, tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Ginari.
“Iya, Pendekar!” sahut pria 35 tahun bernama Jagur sambil berlari kecil mendatangi Joko. Mantan centeng Ki Demang Rubagaya itu masih memiliki sejumlah pisau terbang di sekeliling pinggangnya.
“Kau bisa memanggulnya untukku dalam waktu berhari-hari?” tanya Joko kepada Jagur, tetap tanpa mengalihkan pandangannya kepada wajah Ginari.
“Aku tidak sudi!” seru Ginari cepat.
“Ginari tidak mau, mungkin kau kurang gagah. Pergilah!” kata Joko kepada Jagur.
“Baik, Pendekar!” kata Jagur patuh, lalu berlari kecil meninggalkan Joko dan Ginari.
“Hanya Jagur yang ada di dalam ideku untuk bisa membawamu pergi. Jika kau tidak mau, apakah kau punya cara lain?” tanya Joko kepada Ginari.
“Tinggalkan aku, biarkan aku mati membusuk di sini,” kata Ginari.
“Jika aku meninggalkanmu, berarti aku tidak melaksanakan janjiku kepada kakekmu. Kakekmu bisa-bisa menghantui hidupku. Aku telah mengiyakan kepada kakekmu untuk menikahimu. Namun, jika kau tidak mau, tentunya aku tidak bijak jika harus mendesakmu.”
“Tinggalkan aku! Biarkan aku mati membusuk bersama kakekku di sini! Aku membencimu, ingin sekali membunuhmu! Kau lelaki keterlaluan! Kau perusak kehormatan!” teriak Ginari tiba-tiba meluapkan kemarahannya, tapi ia tidak bisa bergerak sedikit pun kecuali kepalanya yang bergerak lemah.
Joko jadi terdiam mendapat caci maki itu. Perasaannya memang ada yang terasa sakit. Selama ini ia merasa tidak berbuat salah sedikit pun kepada gadis cantik itu, tapi hingga kini Ginari masih menganggap bahwa dirinya telah diperkosa oleh Joko.
__ADS_1
“Makianmu membuatku sedih dan sakit hati. Kau begitu tega,” ucap Joko lemah. Ia menarik napas dalam lalu bergerak berdiri.
Saat itu, Joko beralih memandang kepada kedatangan seseorang. Ginari pun melihat kedatangan sosok wanita berpakaian merah gelap yang berjalan di antara gelimpangan mayat centeng-centeng Ki Demang Rubagaya.
Wanita itu adalah seorang muda. Wajah putih cantiknya dari jauh sudah terlihat indah dan sejuk dipandang. Pakaian merah gelapnya dihiasi sulaman kuning terang bermotif daun-daun. Leher bajunya berwarna hitam mencekik leher putihnya yang berhias kalung perak. Rambut hitam panjangnya ditata rapi dan cantik dengan balutan pita kuning kecil-kecil.
Joko tidak mengenal gadis itu yang entah datang dari mana. Demikian pula Ginari. Jagur pun tidak mengenalnya. Namun, sangat jelas bahwa ia mendatangi Joko.
Ketika semakin dekat dengan Joko, semakin jelas bahwa kecantikannya tidak hanya indah dipandang dari jauh, tapi lebih indah jika dipandang dari dekat. Gadis jelita itu tersenyum begitu manis kepada Joko Tenang. Hingga jaraknya tinggal lima langkah lagi, Joko segera bertindak.
“Berhenti!” seru Joko pelan.
Namun, gadis itu tetap berjalan kian mendekati Joko. Pemuda bercaping itu cepat bergerak mundur.
Blugk!
Namun, Joko harus terkejut, kedua kakinya ternyata tidak bisa diangkat, seolah menyatu dengan bumi. Sehingga ketika ia mencoba melangkah mundur, ia justru terjatuh terduduk.
Akhirnya, gadis yang datang dengan senyuman itu sudah mendekati Joko dalam jarak dua langkah. Akibatnya, Joko pun berubah lemah tidak bertenaga. Keringat seketika mengucur di wajah dan tubuhnya. Joko yang awalnya terduduk, berubah jadi rebahkan diri. Napasnya tersengal-sengal.
Zersss!
Tiba-tiba kedua tangan gadis asing itu memegang sebulat sinar biru yang mengeluarkan asap-asap tipis. Seakan-akan ia akan menyerang Joko Tenang.
Kondisi itu membuat Ginari yang membenci Joko jadi panik. Sementara Joko Sendiri tidak berdaya dalam kelemahannya. Ia sepertinya hanya pasrah.
Seset!
Jagur yang mengawasi dari jauh, juga terkejut. Cepat ia melesatkan lima pisau terbang ke arah gadis itu. Namun, kelima pisau itu gugur ke tanah ketika tinggal beberapa jengkal lagi dari punggung si gadis asing.
Gadis itu mengangkat kedua tangannya hendak menghantamkan dua bola sinarnya kepada tubuh Joko yang tidak berdaya.
__ADS_1
“Hentikan!” teriak Ginari.
Teriakan Ginari itu membuat si gadis menahan gerakannya. Gadis asing itu hanya tersenyum kepada Ginari.
“Hentikan!” seru seorang lain' yang muncul dari sisi lain. Orang itu adalah pemuda berpedang pendek yang tidak lain adalah Hujabayat.
Gadis asing lalu melenyapkan satu bola sinar birunya di tangan kanan. Selanjutnya tangan itu bergerak kecil, seolah memercikkan air.
Wless!
Namun, yang muncul adalah gelombang halus yang luas kepada Hujabayat. Pemuda itu tidak bisa mengelak ketika gelombang halus yang tidak terlihat menerpa tubuhnya. Jadinya, Hujabayat berdiri mematung dengan ekspresi wajah terkejut.
Kini tidak ada yang bisa menolong Joko.
Gadis asing itu kembali memunculkan bola sinar biru di tangan kanannya.
“Hentikan!” teriak Ginari lagi.
“Kenapa aku tidak boleh membunuhnya?” tanya gadis asing itu dengan suara yang agak serak. Ia tetap tersenyum kecil kepada Ginari.
“Karena dia calon suamiku!” jawab Ginari.
Perkataan Ginari itu didengar oleh Joko.
“Jika kau adalah calon istri Pangeran Dira, berarti itu mempermudah tugasku,” kata gadis itu.
Gadis asing itu lalu melenyapkan kedua sinar birunya. Ia melangkah mundur tiga langkah menjauhi tubuh Joko. Selanjutnya ia hanya berdiri memandangi Joko yang masih terkapar tidak berdaya.
Tak berapa lama, Joko mulai bisa bergerak dan mulai bergerak duduk. Joko lalu memejamkan matanya dan mengatur pernapasannya agar pemulihannya lebih cepat terjadi. Sementara gadis asing hanya berdiri diam memandangi.
Ginari yang melihat proses tersebut merasa heran. Hanya ketika gadis asing itu menjauh beberapa langkah, Joko bisa bangun dan memulihkan diri.
__ADS_1
“Apakah Joko benar-benar tidak boleh didekati oleh wanita?” tanya batin Ginari. Sebelumnya, Ginari tidak percaya dengan kejujuran Joko bahwa ia tidak bisa mendekati wanita.
Akhirnya Joko bangkit berdiri dengan kebugaran yang kembali seperti sedia kala. (RH)