Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
77. Meraba Musuh


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Sosok lelaki berperawakan besar berpakaian militer itu berjalan cepat memasuki ruang baca pribadi Kaisar. Seragam militernya yang berwarna perak tampak tebal dan berat, seakan menyekik tubuhnya yang cukup gempal oleh lemak. Di wajah tegasnya yang berkumis tebal ada bekas luka memanjang di pelipis kiri. Kepalanya dibungkus dengan kain hitam yang di depannya ada logam bergambar yang menunjukkan pangkatnya. Di belakang pinggangnya menyilang sepasang pedang pendek yang sarungnya menyatu dengan pakaiannya.


“Jenderal Mok Jueng tiba!” seru prajurit penjaga pintu.


Lelaki 55 tahun bernama Jenderal Mok Jueng itu terus berjalan masuk menuju ke depan meja besar yang di belakangnya duduk Kaisar Tutsi Long Tsaw.


Tidak jauh di depan meja besar itu berdiri Putri Yuo Kai dan Perdana Menteri La Gonho.


Sebenarnya, Jenderal Mok Jueng yang berpangkat Kepala Pasukan Naga Merah, sudah bisa menebak apa yang akan terjadi padanya sebentar lagi. Sekilas ia melihat Kaisar menatap kedatangannya dengan tatapan tajam, seakan ingin membunuhnya.


“Mok Jueng memberi hormat kepada Yang Mulia!” ucap Jenderal Jueng seraya menjatuhkan diri berlutut sepuluh langkah di depan meja besar itu.


“Kerja apa yang kau lakukan, Mok Jueng?!” teriak Kaisar Tsaw keras dan panjang. Wajahnya memerah dan gemetar menahan amarah. Tangannya kemudian meraup tumpukan buku laporan di atas meja dan melemparkannya kepada Jenderal Jueng. Meski kemudian buku-buku itu hanya jatuh berserak di depannya.


“Hamba pantas mati, Yang Mulia!” seru sang jenderal cepat sambil turun bersujud ke lantai. Ia tidak menyangka bahwa Kaisar akan semarah itu kepadanya.


“Kau memang pantas mati!” teriak Kaisar. “Apa saja yang kau kerjakan sampai ada puluhan penjahat dengan bebas dan terbuka menyerang Putri Kai di Jalan Liong Sue?!”

__ADS_1


“Ampuni hamba, Yang Mulia. Hamba benar-benar telah lalai sampai bisa tidak tahu ada kelompok penyusup di dalam kota,” kata Jenderal Jueng.


“Ini adalah kerja terburuk Pasukan Naga Merah. Aku ampuni kau kali ini dari hukuman pancung!” kata Kaisar Tsaw, nadanya masih keras, tapi mulai melunak.


“Terima kasih, Yang Mulia. Semoga Langit selalu melindungi Yang Mulia,” ucap Jenderal Jueng, tetapi belum berani mengangkat kepalanya dari lantai.


“Pergilah. Jika sampai besok pagi tidak ada petunjuk, maka bersiaplah pergi ke tiang gantungan!” perintah Kaisar Tsaw, sekaligus memaksa Jenderal Jueng untuk bekerja menyelamatkan nyawanya sendiri.


“Baik, Yang Mulia. Hamba mohon diri!” ucap lelaki besar itu dengan wajah berkeringat tidak berdaya. Ia pun bangkit membungkuk lalu berjalan mundur menjauh hingga pantas untuk berbalik pergi.


“Bagaimana menurut Perdana Menteri?” tanya Kaisar Tsaw. Suaranya sudah melemah.


“Tapi...” ucap Putri Kai memotong analisa Perdana Menteri. “Para penyerang tahu kapan aku keluar dari istana. Serangan itu disiapkan secara matang, sebab mereka bisa bersembunyi dalam jumlah besar dan bisa menaikkan drum minyak ke atas atap. Itu artinya mereka tahu tentang acara peresmian Biro Naga Besi Xie Yuan, putri Menteri Kehakiman. Dari sisi itu bisa diduga kuat bahwa musuh itu masih orang dalam Ibu Kota. Atau orang luar Ibu Kota yang punya kaki tangan yang kuat di dalam Ibu Kota. Ada pengkhianat.”


“Apakah ada kemungkinan selain orang-orang yang pernah melamar putriku?” tanya Kaisar Tsaw.


“Bangkitnya kelompok pemberontak yang sudah kita tumpas habis. Bisa juga upaya negeri-negeri lain untuk mengguncang kedamaian negeri kita agar kita menjadi lemah. Aku tidak berpikir bahwa ada pejabat kita yang mencoba memantik api di hujan lebat. Namun Yang Mulia, semua kemungkinan bisa saja terjadi. Akan lebih terarah perkiraan kita jika data dan bukti dari hasil penyelidikan Jenderal Jueng sudah kita dapat,” ujar Perdana Menteri.


“Serangan ini benar-benar membuatku marah. Beraninya orang-orang itu menyerang terbuka tidak jauh dari tembok istana!” desis Kaisar Tsaw. Lalu katanya lagi kepada Perdana Menteri, “Aku perintahkan Perdana Menteri mengawasi dengan ketat kasus ini!”

__ADS_1


“Baik, Yang Mulia,” ucap Perdana Menteri La Gonho seraya menghormat patuh.


“Aku tidak mau memikirkan bagaimana semua itu bisa terjadi. Namun, ketika Perdana Menteri atau Jenderal Jueng sudah memegang nama orang itu, beri tahu aku,” kata Putri Kai.


“Baik, Tuan Putri.”


“Aku mohon diri, Ayahanda Kaisar,” kata Putri Kai lalu menjura hormat.


Kaisar hanya mengangguk. Kepergian Putri Kai dilepas dengan hormat Perdana Menteri pula. Perdana Menteri masih berdiri di tempatnya untuk membahas permasalahan itu lebih lanjut.


Sekeluarnya dari ruang baca pribadi Kaisar, Putri Kai segera diikuti oleh Bo Fei dan kedua pelayannya yang sejak awal menunggu di luar.


“Ramalan Nenek Rong Ro benar. Ramalannya tidak menjelaskan, tetapi mengingatkan. Siapa sebenarnya nenek itu?” kata Putri Kai kepada Bo Fei.


“Berarti Yang Mulia juga meyakini ramalan tentang bilangan lima puluh enam dari langit dan cincin lebih besar dari mahkota?” tanya Bo Fei.


“Aku jadi meyakininya, tetapi harus memecahkan sendiri tafsirnya,” kata Putri Kai. “Tapi sepertinya, ada kejadian besar yang akan terjadi dan tidak bisa dihindari. Orang-orang Biro Mata Putih pasti sudah dikerahkan semua oleh Jenderal Jueng untuk mencari informasi di bawah tanah. Meski demikian, aku minta kau pergi menemui Ular Buta di Teratai Nirwana. Kau harus membawa Lencana Ular agar dia mengenalimu sebagai orangku.”


“Baik, Yang Mulia,” ucap Bo Fei. (RH)

__ADS_1


 


__ADS_2