Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Assesa 33: Penolakan Dewi Mata Hati


__ADS_3

*Asmara Segel Sakti (Assesa)*


“Empat saluran tenaga itu adalah antara mulut dengan mulut, lubang-lubang kulit dengan lubang-lubang kulit, pusat dengan pusat, dan anggota inti dengan anggota inti. Itu harus saling menempel selama tiga atau tujuh hari pengobatan. Lalu, apakah kalian pikir aku akan melakukan itu?”


Kerling Sukma terdiam syok, tetapi menangis tanpa ratapan. Namun, Tirana dan Getara Cinta berkata memohon kepada Dewi Mata Hati.


“Aku mohon, Guru. Kami tidak peduli mau menggunakan cara seperti apa pun, tapi tolong selamatkan Kakang Joko, demi kami, demi dunia persilatan, demi kejayaan aliran putih!” ucap Tirana.


“Kami tidak akan mempermasalahkan cara pengobatan itu. Kami pun tidak akan keberatan jika kau menuntut Joko untuk menikahimu kemudiannya. Kami mohon, bermurah hatilah, Guru!” ucap Getara Cinta.


“Kami sangat memohon kepadamu, Guru Dewi Mata Hati. Tolong selamatkan Yang Mulia Pangeran!” ucap Turung Gali pula.


Keempat orang itu benar-benar sudah berlutut dan memohon.


“Heh!” dengus Dewi Mata Hati dengan satu sudut bibirnya ia tarik. “Kalian memang tidak masalah, tetapi aku yang bermasalah. Apakah kalian tidak mempermasalahkan perasaanku jika melakukan itu? Akan jadi aib busuk bagiku jika semua orang dunia persilatan tahu bahwa Dewi Mata Hati bersetubuh dengan suami muridnya sendiri! Dewi Mata Hati bersetubuh dengan murid mantan kekasihnya! Kalian pikir aku bisa menahan cemoohan dunia seperti itu, hah?!”


“Guruuu!” teriak Kerling Sukma histeris sambil menangis sejadi-jadinya. “Sejak aku diselamatkan oleh Kakang Joko di jurang dahulu, Joko Tenang adalah nyawaku, nyawaku aku persembahkan untuk suamiku. Jika hidup suamiku memang telah berakhir oleh waktu, maka nyawanya yang lain tidak guna lagi untuk  berlaku. Jika aku kehilangan Kakang Joko, maka Guru akan kehilangan aku!”


Jika Dewi Mata Hati memiliki mata yang normal, mungkin sepasang matanya akan mendelik mendengar perkataan murid kesayangannya.


“Aku sudah kehilangan Mayilayi, Sobenta kini tanpa kesaktian. Apakah aku harus kehilangan Dewi Mata Hijau juga?” membatin Dewi Mata Hati.


“Guru! Tujuh tahun kau mengasuhku, tujuh tahun kau mendidikku, dan aku menjadi murid kesayanganmu. Namun, semua usaha kedua tangan dan hati Guru, pada akhirnya akan menjadi abu. Pada waktu ketika nyawa Kakang Joko terenggut, maka aku pun akan pergi menyapa maut!” ucap Kerling Sukma penuh emosional. “Lalu apa guna Guru merajutku dengan tulus, jika akhirnya semua benang Guru putus? Apa guna tujuh tahun kita menjalin ikatan, jika harus dirusak dengan ketegaan?”


Bergolak hati dan pikiran Dewi Mata Hati mendengar syair murid kesayangannya.


“Guru, beri tahu kami. Apa yang harus kami lakukan agar Guru mau menolong Kakang Joko?” tanya Tirana, nadanya masih melembut, berbeda dengan Kerling Sukma yang mulai hilang kendali dalam kesedihannya.


“Tidak ada yang perlu kalian lakukan karena aku tidak akan melakukan pengobatan itu!” tegas Dewi Mata Hati.

__ADS_1


“Guru, biarkan aku datang kepadamu! Aku akan menciumi kakimu agar kau mau mengobati Kakang Joko!” teriak Kerling Sukma.


Dewi Mata Hati bergeming. Ia tidak menggubris perkataan muridnya.


Bang!


“Hakh!”


“Sukma!” pekik Tirana dan Getara Cinta terkejut tiba-tiba.


“Dewi Mata Hijau!” sebut Dewi Mata Hati terkejut pula.


Kerling Sukma tiba-tiba melesat menabrakkan diri ke dinding sinar kuning bening. Selain tersengat oleh dinding itu, ia juga terpental balik.


“Sukma, jangan gila!” kata Getara Cinta sambil cepat menolong Kerling Sukma untuk bangun.


“Apa yang kau lakukan, Sukma?!” bentak Dewi Mata Hati.


“Hentikan, Sukma! Jangan bertindak buta!” bentak Getara Cinta sambil berusaha menahan gerakan Kerling Sukma.


“Mati pun aku rela. Tujuh tahun yang lalu seharusnya aku sudah tanpa nyawa. Anggap saja dulu tidak ada Bibi Nara, yang menyelamatkanku dari terkaman si raja rimba. Anggap saja tujuh tahun ini adalah mimpi, yang pada hari ini mimpi indah itu telah pergi. Anggap saja Dewi Mata Hijau itu hanya sebuah cerita, yang ketika mentari terbit cerita itu akan sirna!” kata Kerling Sukma dengan kata-kata syairnya, yang ilmu sastra itu ia pelajari dari gurunya sendiri.


Bang!


“Hekr!” keluh Kerling Sukma saat ia meloloskan diri dari Getara Cinta dan melesat menabrak keras dinding sinar kuning.


Tabrakan itu lebih keras, hingga Kerling Sukma jatuh dalah kondisi mulut telah mengeluarkan darah.


“Sukma hentikan!” bentak Tirana histeris, ia sampai menangis.

__ADS_1


Getara Cinta kembali mendapati tubuh Kerling Sukma. Ia pun meneteskan air mata. Ia peluk Kerling Sukma.


Sementara Dewi Mata Hati terdiam. Namun, di dalam batinnya ia menangis melihat tindakan murid kesayangannya itu.


“Jangan lakukan ini, Sukma!” bisik Getara Cinta. “Jangan korbankan nyawamu hanya untuk membujuk gurumu!”


“Penolakan Guru sudah membunuh suami kita, penolakan Guru sudah membunuhku, Ratu. Jika rasa sudah sirna, maka raga pun harus binasa. Biarkan aku mati di depan Dewi Mata Hati, karena Dewi Mata Hijau-nya telah mati!” kata Kerling Sukma.


Gadis berjuluk Dewi Mata Hijau itu kembali bergerak bangkit. Ia ingin menabrak dinding itu lebih keras lagi.


Sebenarnya bisa saja kerling Sukma menggunakan berbagai ilmunya untuk menghancurkan dinding sinar itu, tetapi ia memilih mengorbankan diri untuk mengubah pendirian gurunya.


“Jangan lakukan, Sukma. Aku mohon. Kita masih bisa membujuk Guru!” bujuk Getara Cinta sambil memeluk kuat tubuh Kerling Sukma yang lebih mungil.


“Lepaskan, Ratu!” teriak Kerling Sukma meronta sambil hentakkan tenaga dalamnya, membuat Getara Cinta terlepas lalu terjajar nyaris jatuh terjengkang.


Pada detik berikutnya, Kerling Sukma bergerak. Namun, satu gelombang tenaga dalam yang halus menerpanya, membuat Kerling Sukma mematung. Tirana telah memberi Kerling Sukma ilmu Pemutus Waktu.


“Guru Dewi Mata Hati!” sebut Tirana. “Kami sangat menghormati Guru, kami sangat mengerti posisi Guru. Mungkin bagi Guru adalah aib sangat memalukan jika harus bersetubuh dengan suami murid sendiri, terlebih Kakang Joko adalah murid Ki Ageng Kunsa Pari kekasih Guru, ditambah selisih usia yang sangat jauh. Namun, kami semua siap mengorbankan nyawa demi melindungi Kakang Joko yang mengemban tugas besar dan mulia ke depannya. Sebagai tokoh aliran putih yang sudah melalui kehidupan lebih seratus tahun, pastinya Guru lebih mengerti tentang ini. Jika Kakang Joko sampai mati, mungkin bisa diibaratkan kita merobohkan istana sendiri atau kita mematahkan pedang sendiri. Jika Guru tidak tahan menanggung cemoohan dunia luas bila menolong Kakang Joko, apakah Guru kuat menahan aib karena sebagai legenda aliran putih justru membiarkan Kakang Joko dan murid sendiri mati?”


Deg!


Tersentak hati Dewi Mata Hati mendengar kalimat terakhir penuturan Tirana. Ia terdiam.


“Guru, pertimbangkanlah kembali dengan mata hatimu. Jika kehormatan hilang, kehormatan lain masih bisa kita bangun. Namun, jika nyawa telah hilang, tidak mungkin akan bisa kembali lagi,” kata Getara Cinta pula.


“Aku akan melakukan pengobatan itu!” kata Dewi Mata Hati tiba-tiba.


Terkejutlah Tirana, Getara Cinta, Kerling Sukma, dan Turung Gali dengan rasa gembira di dalam dada dan ekspresi di wajah.

__ADS_1


“Jika kalian bisa menghancurkan Dinding Seribu Baja itu!” kata Dewi Mata Hati lagi. (RH)


__ADS_2