
*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*
“Uhhuk uhhukr!” Kerling Sukma kembali batuk darah. Darah yang keluar dari tenggorokannya cukup banyak. Lukanya semakin parah. Karenanya ia meminta tuak lagi kepada Surya Kasyara untuk memperingan luka dalamnya. Sebab ia butuh kondisi yang cukup baik untuk menjalankan rencananya bersama Tirana.
Kasyara memberikan tuak terakhirnya yang tersisa.
Setelah meminum tuak obat dari bumbung bambu, Kerling Sukma segera pergi menghampiri Tirana yang dalam proses pengobatan diri pula.
“Bagaimana, Tirana?” tanya Kerling Sukma kepada madunya.
“Apakah kau bisa melakukannya?” Tirana justru balik bertanya.
“Aku bisa, tetapi kita harus menunggu Ginari dalam posisi tidak berkutik dan tidak bisa menyerang balik,” jawab Kerling Sukma.
“Kita harus menunggu saat yang tepat,” kata Tirana.
Sementara itu, jauh di atas angkasa.
Zerzzrr!
Secara bersamaan, Joko Tenang dan Getara Cinta yang tubuhnya bersinar hijau, masing-masing melepaskan tenaga sakti listriknya yang menyengat tubuh Ratu Ginari. Joko Tenang berdiri di punggung naga sinar hitam milik Kusuma Dewi, sementara Getara Cinta berdiri di atas punggung macan sinar hijaunya.
Ratu Ginari yang juga tubuhnya bersinar ungu, membiarkan aliran listrik sinar hijau yang menyengat tanpa putus di tubuhnya.
Listrik sinar hijau dari tangan Getara Cinta mampu menghancurkan tubuh lawan. Listrik sinar hijau dari tangan Joko Tenang mampu menghanguskan tubuh lawan. Namun, hasil seperti itu jauh dari harapan.
Perlahan, sinar ungu mulai menjalari listrik milik Joko Tenang dan Getara Cinta. Ketika sinar ungu mulai mendekati posisi tangan Joko Tenang dan Getara Cinta melalui aliran listrik itu sendiri, mendeliklah keduanya. Itu menunjukkan bahwa ilmu kekuatan Permata Darah Suci yang ini tidak mampu menandingi kesaktian Roh Langit Tujuh.
Zerzz!
“Akkh!” pekik Getara Cinta dengan tubuh tersengat listrik warna ungu.
Sebelum rambatan sinar ungu sampai kepada tangannya, Getara Cinta memutuskan menghentikan pengerahan tenaga saktinya. Namun, hal itu justru membuat ujung aliran listrik ungu yang terputus langsung melesat menjerat tubuh Getara Cinta.
Tubuh Getara Cinta kejang-kejang di atas makhluk sinar hijaunya. Terkejut Joko Tenang melihat situasi itu.
“Ratu!” sebut Joko Tenang cemas.
Ctas! Zerzz!
Pada akhirnya, tubuh Getara Cinta terpental dari atas punggung macan sinarnya. Ia jatuh ke bawah.
Pada saat yang sama, jalaran sinar ungu sampai ke tangan Joko Tenang. Tubuh Joko Tenang tidak disengat lebih dulu seperti Getara Cinta, tetapi langsung dimentalkan dari atas ular naga hitam.
“Akk!” pekik Joko Tenang dengan tubuh meluncur jatuh.
“Kakang!” sebut Kusuma Dewi.
Secara bersamaan, macan sinar hijau dan naga hitam cepat menukik turun lalu terbang rendah menyambar tubuh Joko Tenang dan Getara Cinta.
Joko Tenang dan Getara Cinta memang selamat dari menghantam bumi, tetapi tubuh mereka tetap mengalami luka dalam.
Zeeeng…!
Tiba-tiba terdengar suara desing nyaring di sisi kanan Ratu Ginari.
“Sandaria cantik dataaang!” teriak Sandaria yang melayang di belakang lingkaran diagram sinar kuning bersama dengan kuda birunya.
Zeng zeng zeng…! Blar blar blar…!
Selanjutnya, putaran diagram ilmu Putaran Dewa Perang menembakkan bola-bola sinar kuning. Tembakan beruntun itu menghujani tubuh Ratu Ginari dan menciptakan ledakan-ledakan yang rapat.
Bruss! Bluam!
“Akk!”
__ADS_1
Dari dalam ramainya ledakan pada tubuh Ratu Ginari, tiba-tiba satu lapisan sinar ungu melesat sangat cepat, menghantam diagram sinar kuning dan Sandaria sekaligus.
Diagram Putaran Dewa Perang hancur berantakan. Sementara tubuh kuda ungu hancur buyar dan Sandaria terpental jauh dan jatuh deras. Setelah ledakan sinar berhenti pada tubuh Ratu Ginari, terlihat gadis bercadar biru itu tidak mengalami kerusakan fisik sedikit pun.
“Sesakti itu?” ucap Sandaria lirih dalam jatuhnya.
Sementara jauh di bawah sana, kelima serigala berlari kencang memburu titik jatuh Sandaria.
Sementara itu, Joko Tenang dan Getara Cinta kembali mengudara. Naga hitam Kusuma Dewi dan macan hijau Getara Cinta terbang memutari posisi Ratu Ginari.
Joko Tenang hanya punya satu ilmu yang belum ia coba, tetapi berbeda dengan Getara Cinta. Namun, kondisi keduanya yang sudah terluka dalam membuat mereka berisiko. Itupun mereka tidak bisa mengetahui seperti apa hasilnya.
Ratu Ginari memandangi mereka yang terbang mengitarinya.
“Kalian bisa membunuh keenam roh pengikutku, tetapi jangan bermimpi kalian bisa mengalahkanku!” seru Ratu Ginari.
“Aku masih mencintaimu, Ginari. Namun, aku mencintai Ginari yang dulu. Jika kau bisa menjadi Ginari yang baik seperti dulu, kita bisa bersama tanpa harus saling bunuh!” seru Joko Tenang.
“Aku juga sangat mencintaimu, Joko. Tapi tidak dengan adanya para wanita itu!” teriak Ratu Ginari marah.
Wes! Boom!
Tiba-tiba Ratu Ginari melesat cepat kepada Getara Cinta, langsung menghantamkan tinju bersinar ungu. Mau tidak mau Getara cinta mengadu dengan tinju bersinar hijau menyilaukan.
Ledakan dua tenaga sakti terjadi dahsyat. Getara Cinta menyemburkan darah kental dari mulutnya seiring tubuhnya terlempar deras. Wujud macan sinar hijau pun hancur. Sementara Ratu Ginari hanya terdorong mundur dengan tubuh yang tetap melayang.
Wuss wuss! Baks baks!
Ratu Ginari menyusulkan dua serangan Tinju Menembus Gunung yang menghantam dua kali tubuh Getara Cinta yang sedang meluncur jatuh.
“Ratu!” pekik Joko Tenang cemas terhadap Getara Cinta.
“Ratu Getara!” sebut para pendekar pengikut Joko Tenang.
Bugk!
Para pendekar pengikut Joko Tenang segera berdatangan mendapati kondisi Getara Cinta. Tirana dan Kerling Sukma tiba lebih dulu dengan tunggangan penghuni Cincin Mata Langit-nya.
“Ratu!” sebut Tirana sambil melompat turun menghampiri tubuh Getara Cinta dengan sempoyongan.
“Ratu, bagaimana kondisimu?” tanya Kerling Sukma pula.
“Ekhr!” erang Getara Cinta meringis kesakitan. Perlindungan kesaktian Permata Dara Suci membuat tubuhnya tidak berpatahan tulang, tetapi hantaman ke tanah itu memperparah luka dalamnya. Lalu ucapnya lemah, “Aku masih bisa bertarung, tetapi harus rehat sejenak.”
Dengan cedera parahnya Getara Cinta, ilmu Selubung Alam yang menutupi dan mengurung Senandung Senja, Gowo Tungga dan Gembulayu, sirna. Ketiga orang itu kembali muncul terlihat dan mereka bisa melihat alam sekitar.
“Aakk!” jerit Gembulayu seperti perawan, sontak ia melompat memeluk Gowo Tungga yang juga refleks menimangnya, saat melihat gelimpangan mayat prajurit yang begitu banyak di sekitar mereka.
Ketiganya memerhatikan daerah sekitar yang benar-benar seperti bencana dengan ribuan mayat orang dan kuda berserakan dan bertumpukan.
Di saat Getara Cinta mencoba untuk mengumpulkan energinya, Sandaria muntah darah. Ia dikelilingi oleh kelima serigalanya yang cemas, kecemasan mereka tergambar dari suara dengkingan halus para serigala.
“Hanya luka kecil, hanya luka kecil!” ucap Sandaria sambil bangkit tegak dan tersenyum seceria mungkin, guna menunjukkan kepada para serigalanya bahwa ia baik-baik saja. “Kita lanjutkan pertarungan!”
Untuk sejenak, pertarungan di angkasa terhenti. Ratu Ginari dan Joko Tenang saling berhadapan. Joko Tenang berdiri di punggung naga hitam yang juga melayang di dalam kendali Kusuma Dewi.
“Apakah kau ingin membunuhku, Joko?” tanya Ratu Ginari.
Sang ratu kemudian membuka cadarnya. Maka tampaklah wajah jelitanya. Wajah cantik itu seketika mengingatkan Joko Tenang pada masa-masa awal mereka bertemu dan berselisih paham.
“Seranglah orang yang kau cintai ini dengan kesaktianmu. Aku tidak akan membalasmu!” kata Ratu Ginari.
“Buanglah seluruh kesaktianmu, Ginari. Kita bisa hidup bersama dalam kebahagiaan,” kata Joko Tenang.
“Hihihi…!” Ratu Ginari tertawa kencang. “Permintaanmu sangat lucu, Joko!”
“Sandaria cantik dataaang!”
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara teriakan si gadis buta.
Cuss! Ctar!
Sandaria yang datang dengan menunggangi kuda sinar ungunya, melesatkan ilmu Tusuk Nyawa dari ujung tongkat birunya. Sinar kuning segaris itu dengan mudahnya ditahan oleh telapak tangan Ratu Ginari yang bersinar ungu.
Ledakan nyaring terjadi, tetapi tidak melukai Ratu Ginari sedikit pun.
Wez! Tap!
Ratu Ginari melesatkan kiblatan sinar ungu dari satu tendangan mengibas, mengenai kuda sinar ungu Sandaria yang melesat hendak menabraknya. Kuda sinar ungu itu hancur buyar. Sandaria tidak terpental atau jatuh ke bawah, tetapi ia tersedot cepat oleh tenaga sakti Ratu Ginari.
“Hekr!” keluh Sandaria saat lehernya telah dicekik kuat oleh tangan kanan Ratu Ginari yang bersinar ungu.
“Ginari, jangan lakukan!” teriak Joko Tenang cepat.
“Aku akan tunduk kepadamu, Joko, tapi para wanita ini harus mati terlebih dahulu di depan matamu!” desis Ratu Ginari.
Dengan entengnya Ratu Ginari membanting tubuh kecil Sandaria yang kehilangan tenaga saat dicekik itu. Tubuh itu dilempar meluncur deras ke bawah.
Wus wus! Buks buks!
Lemparan tubuh Sandaria itu disusul dengan hantaman dua ilmu Tinju Menembus Gunung. Dua hantaman jarak jauh membuat Sandaria dua kali memuntahkan darah kental.
“Sandariaaa!” teriak Joko Tenang gusar. Ia kehilangan kesabaran sehingga memutuskan melompat dengan ilmu Tinju Dewa Hijau dihantamkan kepada Ratu Ginari.
Buomm!
Ratu Ginari mengadu tinju Joko Tenang dengan tinju ungunya. Ledakan tenaga sakti terjadi dahsyat. Joko Tenang langsung memuntahkan darah kental seiring tubuhnya yang melesat jatuh.
Wez! Teng!
Ratu Ginari pun mengibaskan satu tendangan, melesatkan kiblatan sinar ungu yang menyerang Kusuma Dewi dan naga hitamnya. Kusuma Dewi hanya bisa menangkis dengan pedang samurainya. Namun itu jauh dari memadai, Kusuma Dewi terpental muntah darah bersama naga hitam yang hancur buyar.
Melihat jatuhnya tubuh Sandaria, Joko Tenang dan Kusuma Dewi, Tirana dan Kerling Sukma cepat bertindak. Keduanya menggerakkan burung sinar merah dan ular sinar kuningnya untuk menangkap ketiga tubuh yang jatuh.
Meski Joko Tenang, Sandaria dan Kusuma Dewi bisa ditangkap, tetapi mereka mengalami luka parah. Ketiganya diturunkan berkumpul dengan yang lain.
“Jemputlah kematian kalian bersama-sama!” teriak Ratu Ginari dari ketinggian angkasa.
Joko Tenang, para wanitanya dan para pengikutnya melihat ke atas sana. Tampak tubuh Ratu Ginari telah bersinar ungu menyilaukan. Semakin lama sinar tubuhnya semakin membesar dan menunjukkan kengerian yang tinggi.
Serzzz!
Selanjutnya, sinar ungu besar dan menyilaukan pada tubuh Ratu Ginari melesat cepat ke bawah. Sinar ungu itu akan melahap mereka yang berkumpul di bawah. Hawa kematiannya begitu terasa.
Bzuang!
Di saat Joko Tenang bersama para istri dan abdinya tinggal menunggu nasib dan hasil, tiba-tiba di atas mereka muncul membentang lapisan sinar kuning bening yang luas dan rata. Lapisan sinar kuning itu menghadang sinar ungu menyilaukan dari langit.
Dahsyat, lapisan sinar kuning bergeming begitu kokoh. Sinar ungu besar Ratu Ginari tidak bisa menjebol ataupun menggerakkannya.
Alangkah terkejutnya Ratu Ginari melihat ilmu pamungkasnya yang mustahil terbantah, ternyata masih ada ilmu perisai yang mampu menghadangnya.
Melihat adanya pertolongan itu, terkejut dan sumringahlah para istri Joko Tenang.
“Guru!” pekik Kerling Sukma gembira.
“Dewi Mata Hati!” sebut Tirana pula.
“Benteng Seribu Baja!” Getara Cinta cepat mengenali ilmu perisai itu.
“Maafkan aku jika datang terlambat, daripada tidak sama sekali!” ucap seseorang wanita dengan santai. Ia tahu-tahu berdiri di antara mereka. Ia seorang wanita cantik jelita berambut pendek seperti lelaki dan berpakaian jubah kuning. (RH)
***********
AYO DUKUNG NOVEL INI! Jangan lupa ekspresikan emosimu dengan komentar setelah membaca chapter ini!
__ADS_1