
*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*
Burung sinar merah melesat terbang membawa tubuh Tirana dan Turung Gali ke angkasa, terbang mengitari posisi Raja Galang Madra yang terpaku tidak bisa ke mana-mana, sebab bayangannya dipaku oleh ilmu Pasak Paku Bayangan.
Zuz zuz zuz…!
Raja Galang Madra menonjok udara berulang-ulang dengan ritme yang cepat. Bola-bola sinar ungu berlesatan dari tinju-tinju Raja Galang Madra menembak ke udara. Sang raja ibarat seorang tentara yang memegang senapan antipesawat dan sedang berusaha menjatuhkan Tirana bersama burung sinar merahnya.
Namun, kelihaian terbang si burung sinar merah membuat bola-bola sinar ungu tidak mengenai sasaran, kecuali terus melesat terbang ke angkasa lalu lenyap dengan sendirinya.
Setelah si burung sinar merah bermanuver mengitari posisi Raja Galang Madra, pada satu kesempatan yang dianggap waktu yang tepat, Turung Gali melompat turun.
Zruzzz!
Turung Gali yang melompat tepat ke atas kepala Raja Galang Madra, melepaskan ilmu Lengan Merah-nya. Maka dua sinar merah berwujud spiral tanpa putus melesat dari kedua lengannya.
Namun, Raja Galang Madra sigap menyambut dengan kedua kepal tangan yang bersinar ungu. Tinju ungu Raja Galang Madra menahan kedua ujung sinar merah itu. Adu tenaga kembali terjadi. Posisi Turung Gali dengan kepala di bawah harus tertahan di udara.
Werzz! Buom!
Sinar ungu kembali menjalari sinar merah lalu ujung-ujungnya mengenai kedua tangan Turung Gali. Mertua Joko Tenang itu harus terpental keras ke udara.
“Ayah!” sebut Tirana cemas saat melihat kegagalan ayahnya.
Burung sinar merah melesat terbang pergi menyambar tubuh Turung Gali agar tidak jatuh menghantam tanah.
“Fukr!” Turung Gali menyemburkan darah kental dari dalam mulutnya.
“Ayah!” sebut Tirana cemas. “Ayah harus istirahat memulihkan diri!”
Turung Gali lalu diturunkan di dekat Reksa Dipa.
Pada saat yang sama, Raja Galang Madra berhasil lepas dari pakuan ilmu Pasak Paku Bayangan. Kini ia bisa bergerak berpindah tempat.
Melihat itu, Tirana cepat melesat bersama burung sinarnya.
“Tirana, jangan!” teriak Turung Gali. Jelas ia sangat cemas, sebab Tirana kondisinya sedang terluka parah, tidak mungkin ia bisa mengeluarkan ilmu pamungkasnya.
Tirana bermaksud menyambar tubuh Raja Galang Madra dengan burung apinya.
Zuz! Bluar!
Raja Galang Madra menyambut kedatangan Tirana dengan lesatan bola sinar ungu. Tidak bisa dihindari. Burung sinar merah hancur buyar seiring ledakan tenaga yang mementalkan tubuh wanita jelita itu.
__ADS_1
Bruk!
Tubuh Tirana menghantam tanah dengan keras.
Fukr!
Tirana muntah darah kental nan segar. Butiran halus sinar merah meresap masuk ke dalam tubuhnya.
“Tirana!” teriak Turung Gali dari kejauhan.
“Putri!” sebut Kurna Sagepa lalu cepat berlari ke arah posisi Tirana yang cukup jauh.
Rupanya Reksa Dipa juga berlari menuju ke posisi Tirana.
Tirana mengangkat satu tangannya dengan telapak terbuka, memberi tanda kepada ayah dan para pendekarnya. Tanda itu membuat Reksa Dipa dan Kurna Sagepa menghentikan larinya.
Tirana pernah memberi tanda seperti itu sebelum ia mengalahkan Biru Segara, Roh Langit Dua. Sepertinya Tirana ingin mengulang taktik yang serupa kepada Raja Galang Madra.
Tirana mengerenyit menahan sakit yang teramat. Ia berusaha bangun berdiri, tetapi ia kembali jatuh sendiri. Sama seperti waktu sebelumnya, Tirana akhirnya duduk bersimpuh dengan wajah menatap kepada Raja Galang Madra.
Melihat lawannya sudah tidak berdaya, Raja Galang Madra merasa mendapatkan mangsa empuk.
“Hahaha…!” tawa Raja Galang Madra sambil tubuhnya melesat cepat di udara. Dalam lesatannya yang mendekati posisi Tirana, ia melesatkan dua bola sinar ungu dari tinjunya.
Ketika dua bola sinar ungu mendatanginya, Tirana segera mengeluarkan jaring sinar merah dari ilmu Lorong Laba-Laba di depan tubuhnya. Dua sinar ungu itu hilang masuk ke dalam jaring, membuat Raja Galang Madra terkejut.
Tidak sampai sedetik, sinar jaring laba-laba itu muncul di belakang tubuh Raja Galang Madra yang masih berada di udara. Dari dalam jaring sinar itu keluar melesat dua sinar ungu tadi dan langsung menghantam punggung sang raja.
Namun, siasat Tirana ternyata gagal. Tidak hanya mengejutkan Tirana, tetapi juga mengejutkan Turung Gali dan yang lainnya. Itu artinya Tirana berada di ujung tanduk. Hantaman dua sinar ungu pada Raja Galang Madra tidak berefek apa-apa.
Zuz!
Raja Galang Madra yang baru saja menginjak tanah, kembali melesatkan dua sinar ungu dari ilmu Roh Langit Tiga kepada Tirana.
“Fukr!”
Tirana kembali hendak mengeluarkan ilmu Lorong Laba-Laba untuk menghindarkan diri dari maut, tetapi ia justru menyemburkan darah dari mulutnya dan tidak ada sinar merah jaring laba-laba yang keluar.
Tum tum! Blalar!
Di saat kritis itu, tiba-tiba dua butir sinar putih menyilaukan mata melesat cepat dari arah lain, menghantam kedua sinar ungu yang lebih besar. Dua ledakan tenaga sakti terjadi rapat.
Raja Galang Madra terjengkang keras. Tirana yang terkena gelombang ledakan juga terjengkang.
__ADS_1
Sementara pemilik dua sinar putih dari ilmu Jari Surga datang dengan ular sinar kuning raksasanya. Kerling Sukma yang menunggangi Kerling Emas segera turun di dekat Tirana. Kerling Emas diam mengambang rendah.
Kerling Sukma mengangkat tubuh Tirana yang tidak berdaya ke punggung Kerling Emas. Atas perintah pikirannya, Kerling Sukma memerintahkan Kerling Emas membawa tubuh Tirana kepada Turung Gali.
Setelah Tirana diturunkan, Kerling Emas tiba-tiba buyar dalam bentuk butiran halus sinar kuning yang kemudian melesat cepat mendatangi Kerling Sukma dan masuk ke dalam tubuh.
Kini, Kerling Sukma berdiri berhadapan dengan Raja Galang Madra yang tampak telah terluka akibat peraduan dua kesaktian tadi.
“Hebat juga!” puji Raja Galang Madra.
“Mari kita adu, kesaktian ilmu roh siapa yang lebih kuat!” seru Kerling Sukma.
“Hahaha! Berani mati!” tawa Raja Galang Madra sambil membuat kedua tinjunya bersinar ungu.
Kerling Sukma kemudian membuat kedua telapak tangan bersinar ungu menyilaukan.
“Apa?!” kejut Raja Galang Madra. “Bagaimana bisa kau menguasai ilmu Roh Langit Empat?”
“Tidak ada waktu menjelaskannya! Hiaaat!” pekik Kerling Sukma lalu melesat cepat maju ke depan.
Buomm!
Begitu cepat Kerling Sukma maju menyerang dengan sinar ungunya. Mau tidak mau Raja Galang Madra melawan dengan tinju sinar ungunya. Ledakan dari peraduan dua tenaga sakti ilmu Roh Langit terdengar dahsyat.
Hasilnya, kedua pendekar terpental keras ke belakang. Tubuh Raja Galang Madra terguling-guling seperti sebuah drum jatuh dari bukit. Ketika gulingan tubuhnya terhenti, ia buru-buru bangkit kembali.
“Hoekh!” Raja Galang Madra muntah darah panas.
Tum tum!
Namun, ketika ia mengalihkan pandangannya kepada lawannya. Tahu-tahu tubuh Kerling Sukma sudah melintas cepat sangat dekat kepadanya.
Setelah terpental tadi, Kerling Sukma langsung melesat dengan ilmu Lompatan Ratu Belalang, sementara jari tangannya berbekal ilmu Jari Surga.
Dua sinar putih menyilaukan mata menembus dada dan perut Raja Galang Madra yang tidak merasakan apa-apa. Tahu-tahu dada dan perutnya bolong besar mengerikan. Meski sinar yang membolongi kecil sebesar kuku, tetapi bolongannya sebesar lingkaran bola sepak.
Raja Galang Madra tumbang tanpa jeritan, tanpa rasa dan tanpa nyawa. Tewas sudah Roh Langit Tiga.
Kerling Sukma cepat pergi melihat keadaan madunya, Tirana. (RH)
***********
AYO DUKUNG NOVEL INI! Jangan lupa ekspresikan emosimu dengan komentar setelah membaca chapter ini!
__ADS_1