
*Desa Wongawet (Dewo)*
“Meski Wiro Keling tidak ditemukan mayatnya, tetapi Ki Daraki sangat yakin bahwa Wiro Keling telah tewas oleh racun ilmu Hantu Murka. Sepuluh tahun kemudian, Wiro Keling tiba-tiba muncul, menyusup masuk ke desa ini. Tujuan utamanya adalah menemui Riri Liwet,” kata Bangirayu setelah bercerita panjang kepada Tirana di balai teras rumah.
Di antara mereka juga duduk Asih Marang. Sahabat Bangirayu itu sebenarnya tahu tentang pergerakan rahasia para warga yang merencanakan pemberontakan, tetapi dia memilih bersikap netral.
Saat itu mereka berani berbincang bebas tentang kelompok pemberontak karena Tirana telah menjamin. Jika ada orang yang mendekat atau mencoba mencuri dengar perbincangan mereka, Tirana akan mengetahui.
“Apakah Si Kucing Merah itu adalah Wiro Keling?” terka Tirana.
“Benar. Jadi pembangun pemberontakan ini sebenarnya adalah Wiro Keling. Dendam Wiro Keling hanyalah salah satu alasan. Setiap anggota kami masing-masing memiliki alasan yang kuat untuk melakukan pemberontakan. Hampir semuanya memiliki dendam kepada Ki Daraki. Namun, Si Kucing Merah dan kami sadar, kami belum bisa mengalahkan Ki Daraki, terutama Tetua yang memiliki kesaktian mandraguna. Karenanya, selama setahun Wiro Keling hanya menyusup untuk bertemu dengan Riri Liwet dan membuat resah Ki Daraki dan orang-orangnya,” kata Bangirayu.
“Jadi kalian memutuskan untuk menunggu pendekar sakti datang ke desa ini dan memanfaatkannya untuk memimpin pemberontakan?” terka Tirana lagi, mengulang hal-hal yang telah didengarnya dari Bangirayu sendiri.
“Bukan memanfaatkan, tapi lebih tepatnya bekerja sama dengan sebuah kesepakatan. Malam ini, pemimpin kami akan menemui Joko untuk membuat kesepakatan saling menguntungkan,” kata Bangirayu.
“Apakah pemimpinmu Si Kucing Merah?” tanya Tirana.
“Bukan, nanti kau akan tahu, Tirana.”
“Bagaimana dengan Kemuning?”
“Dia salah satu pemimpin kami. Dia yang mengizinkan aku untuk terbuka kepadamu. Karenanya dia sengaja menjadikan aku sebagai pendampingmu selama di sini, untuk memastikan bahwa kau dan Joko bisa membantu kami. Kami tidak menyangka Ki Daraki bisa menerka keterlibatannya. Ia akan disiksa malam ini. Sangat sulit untuk membebaskannya jika dia disiksa di gua terlarang. Jika kita menyusup, pasti akan langsung ketahuan oleh Tetua….”
“Aku bisa masuk tanpa melewati pagar gaib yang dipasang oleh Tetua,” kata Tirana memotong.
“Bagaimana jika kau menyusup sekarang juga?” usul Bangirayu. Usulannya berdasarkan kekhawatiran terhadap kondisi Kemuning.
“Tidak, aku harus mengikuti perintah suamiku,” kata Tirana. “Apakah Sedap Malu juga akan disiksa?”
“Tidak,” kali ini yang menjawab adalah Asih Marang. “Ki Daraki sudah lama berniat menyingkirkan Sudarka, karena Ki Daraki bernafsu ingin memiliki Sedap Malu. Jadi dia tidak akan apa-apa selama dia menurut kepada Ki Daraki. Kejadian tadi membuat Ki Daraki mendapat peluang untuk menyingkirkan Sudarka. Dugaanku, satu Kekasih Utama akan Ki Daraki korbankan agar Sedap Malu mendapat tempat.”
“Sejahat itukah nafsu birahi Ki Daraki?” ucap Tirana.
Di saat itu pula, di dalam rumah Kepala Desa, Ki Daraki sedang berdiri tanpa baju dan hanya bercawat merah saja. Ia terkekeh menyeringai menatap gadis tercantik di desa itu, yaitu Sedap Malu.
__ADS_1
Saat ini, di atas ranjang kayu yang bertilam tebal lagi empuk, terbaring Sedap Malu yang tinggal berbekal selimut menutupi tubuhnya sebatas atas ada. Keindahan yang terpampang begitu manantang kelelakian Ki Daraki.
Senyuman yang dilepas oleh Sedap Malu seolah menjadi pintu terbuka bagi Ki Daraki.
“Aku akan pastikan, kau tidak akan menyesal, Sedap,” ucap Ki Daraki.
“Aku juga seharusnya berterima kasih kepadamu, Ki. Aku akhirnya bisa lepas dari bajingan Sudarka,” kata Sedap Malu.
“Apakah sudah bisa kita mulai, Sedap?” tanya Ki Daraki seraya tersenyum mesum.
“Iya, Ki,” jawab Sedap Malu seraya tersenyum malu-malu.
Dengan senyum yang semakin lebar, Ki Daraki maju mendekati Sedap Malu yang sudah tanpa busana di balik selimutnya. Ia ulurkan tangannya untuk menyingkap selimut itu. Sementara senyum Sedap Malu semakin menggodanya.
“Ak!” pekik tertahan Sedap Malu tiba-tiba. Senyumnya seketika berubah keterkejutan.
Hal itu juga mengejutkan Ki Daraki, membuatnya menahan gerakan.
“Ada apa?” tanya Ki Daraki cepat.
Hal itu membuat Ki Daraki menelan ludahnya dengan ekspresi gusar dan kecewa. Ki Daraki merasa ada yang tidak beres.
Sedap Malu kemudian mengeluarkan tangan kanannya dari balik selimut. Dengan wajah merengut, Sedap Malu menunjukkan jari tangannya yang basah oleh cairan kental berwarna merah.
“Ma… maaf, Ki. Aku sedang berdarah,” ucap Sedap Malu lirih, seolah khawatir membuat Ki Daraki marah.
“Ah, brengsek!” maki Ki Daraki. Pemuda tampan itu mengepalkan kedua tinjunya kencang-kencang, marah atas situasi itu.
Namun, Ki Daraki segera mengendalikan emosinya. Ia berpikir, ia harus memberikan suasana yang nyaman kepada Sedap Malu, jangan sampai Sedap Malu ketakutan jika berada di dekatnya.
“Tidak apa-apa, Sedap. Maafkan aku jika sedikit kesal. Tentunya kau tidak akan ke mana-mana. Kita bisa melakukannya sepekan ke depan,” kata Ki Daraki.
“Benar, Ki. Aku sangat menunggu hari itu,” kata Sedap Malu seraya tersenyum, memberi siraman sejuk kepada perasaan Ki Daraki.
Ki Daraki pun tersenyum. Tangan kanannya memegang lembut pipi kiri Sedap Malu.
__ADS_1
Tok tok tok!
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar.
“Siapa?” tanya Ki Daraki, bernada agak kesal.
“Aku, Titin, Ki!” jawab satu suara perempuan.
“Ada apa?” tanya Ki Daraki lagi, sambil mengambil celana panjangnya.
“Kemuning mau mengatakan sesuatu, tetapi hanya kepadamu, Ki,” ujar Titin Susina di balik pintu.
“Baik, aku akan ke sana!” sahut Ki Daraki.
Setelah memakai celana hitamnya, Ki Daraki meraih bajunya. Sebelum baju itu ia kenakan, ia menghampiri Sedap Malu dan langsung mencium pipi kanan gadis jelita itu. Sedap Malu hanya tersenyum malu ketika dicium oleh Ki Daraki.
Senyum Sedap Malu membuat Ki Daraki pun tersenyum senang. Ia bergegas berjalan ke pintu kamar sambil mengenakan bajunya. Setelah baju kuning emasnya terpakai sempurna di badan, Ki Daraki membuka pintu.
Terlihat Titin Susina berdiri di depan pintu, menunggu. Titin sempat memandang jauh ke dalam kamar, melihat keberadaan Sedap Malu di atas ranjang. Satu pandangan yang tidak bersahabat. Ki Daraki menutup kembali pintu kamar dan menguncinya. Di dekat situ ada seorang pemuda yang berdiri berjaga.
Seperginya Ki Daraki, wajah Sedap Malu tiba-tiba berubah memancarkan warna dan sorot mata kebencian. Ia menggunakan kain selimut menggosok pipi kanannya berulang kali, seolah-olah begitu jijik terhadap bekas ciuman Ki Daraki di pipi mulusnya itu.
“Sebentar lagi kau akan merasakan sakitnya kematian, Daraki busuk!” desis Sedap Malu begitu mengandung nada kebencian.
Sedap Malu lalu bangkit. Ia lilitkan selimut guna menutupi tubuhnya. Ternyata satu tangannya memegang pisau kecil. Telapak tangan kirinya tampak berlumuran darah. Jadi, darah yang ia tunjukkan kepada Ki Daraki bukanlah darah menstruasi, tetapi darah tangan yang ia lukai sendiri.
Sedap Malu merobek sehelai kain guna membalut telapak tangan kirinya.
Setelah itu ia berpakaian, ternyata Sedap Malu memang tidak berpakaian di balik selimut. Hal itu ia lakukan untuk benar-benar meyakinkan Ki Daraki. Awalnya, jikapun nanti tubuhnya sampai dinikmati oleh Ki Daraki, ia akan pasrah sebagai bentuk pengorbanan, demi tujuannya tercapai.
Setelah berpakaian, Sedap Malu pelan-pelan membuka dan membongkar jendela kamar untuk keluar. (RH)
************
Yuk dukung karya Om Rudi ini dengan memberi rate, like, komen dan gift terbaikmu. Semoga berkah. Terima kasih, para Readers.
__ADS_1