Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
71. Putri Negeri Jang


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Melihat kedatangan kasim, dua prajurit wanita yang berjaga di pintu Istana Haram menjura hormat dengan sedikit membungkukkan badan atasnya.


Belum lagi kasim berhenti di depan pintu, ia sudah berteriak lantang, “Kasim Ho membawa pesan Yang Mulia Kaisar!”


Mendengar nama “Yang Mulia Kaisar” disebut, kedua prajurit wanita itu buru-buru turun bersujud sebagai wujud hormat.


Namun, kasim yang bernama Ho itu tetap harus berdiri menunggu, sebab pintu masih tertutup.


“Kasim Ho membawa pesan Yang Mulia Kaisar!” teriak satu suara perempuan di dalam istana meneruskan kata-kata Kasim Ho.


Tidak berapa lama, dua daun pintu terbuka bergeser saling menjauh, dibuka dari dalam. Di sisi dalam ada dua prajurit wanita yang telah bersujud menghormat.


Tampak di dalam adalah sebuah ruangan yang luas. Di tengah-tengah ruangan berdiri rapi dua belas wanita dalam dua baris. Mereka mengenakan pakaian wanita yang anggun berwarna serba merah terang. Paras mereka cantik-cantik dan putih bersih. Formasi mereka berdiri seperti membentuk jalan berpagar di tengah ruangan. Mereka terlihat tidak berbekal senjata seperti prajurit wanita sebelumnya.


Dari sisi dalam berjalan keluar seorang wanita berpakaian kuning indah bercampur warna putih bersih. Ia berjalan anggun dengan kecantikannya yang menawan. Bibirnya merah dengan bentuk sedikit belahan pada bibir bawah, membuat kecantikannya sulit dicari duanya. Sanggulnya cantik dengan hiasan tusuk rambut emas bertahta permata, memiliki pernak-pernik yang indah. Dilihat dari kematangan wajahnya, usia wanita muda itu tidak lagi belia, tetapi tingkat kecantikannya sangat terjaga. Ia adalah putri tertua Kaisar Negeri Jang, namanya Putri Tutsi Yuo Kai.


Di belakang sang putri berjalan tiga wanita lain. Wanita yang berjalan paling dekat dengan Putri berpakaian seperti pria berwarna biru gelap berhias corak batik berwarna perak. Ia memegang pedang bagus berwarna merah di tangan kirinya. Dia adalah orang kepercayaan Putri Kai, namanya Bo Fei. Usianya sedikit lebih tua dari sang putri.


Di belakang adalah dua pelayan yang selalu melayani keperluan pribadi Putri Kai. Keduanya berpakaian hijau muda dan selalu ada di sisi belakang Putri Kai dan Bo Fei.


Putri Yuo Kai dan ketiga wanita yang mengikutinya berjalan lewat di antara dua baris wanita berpakaian merah. Hingga Putri Kai berhenti sebelum garis pintu.


“Pesan Yang Mulia Kaisar!” seru Kasim Ho setelah Putri Kai berhenti berjalan.


Serentak seluruh prajurit dan pelayan di kediaman itu turun bersujud. Sementara Putri Yuo Kai sendiri turun berlutut dengan tangan menjura hormat.


“Yuo Kai siap mendengar pesan Yang Mulia Kaisar,” ucap Putri Kai lembut.


“Kaisar berpesan, Putra Mahkota Negeri Ci Cin telah tiba untuk melihat dan bertemu dengan Putri Kai demi tujuan masa depan. Putri Kai diminta segera datang ke Istana Terikat. Demikian pesan Yang Mulia Kaisar!” seru Kasim Ho dengan lantang.


“Yuo Kai mengerti jelas dan menerima penuh pesan Yang Mulia Kaisar,” kata Putri Kai menjawab maklumat tersebut.

__ADS_1


Putri Yuo Kai lalu bangkit berdiri, diikuti oleh bangunnya semua prajurit dan pelayan di Istana Haram itu. Setelah itu, giliran Kasim Ho yang turun bersujud menghormat kepada Putri Kai.


“Hormat hamba, Yang Mulia!” ucapnya.


“Kasim Ho, jika kau berani memakai nama Yang Mulia Kaisar untuk menundukkanku, bermimpilah untuk melihat matahari besok pagi!” kata Putri Kai setengah berbisik.


“Ampuni hamba, Yang Mulia!” pekik Kasim Ho cepat dengan suara gemetar takut, sedikit pun tidak berani mengangkat kepalanya dari lantai. “Hamba hanya melaksanakan titah Yang Mulia Kaisar.”


“Bangunlah!” perintah Putri Kai.


Kasim Ho segera bangkit berdiri.


“Sebelum kau kembali kepada Yang Mulia, ceritakan kepadaku tentang Putra Mahkota Kerajaan Ci Cin itu!” perintah Putri Kai.


“Pangeran Baijin seorang pemuda yang gagah dan tampan. Dia membawa sekitar seratus pasukan datang ke Jang. Dia membawa banyak hadiah teruntuk Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Putri. Hanya itu yang hamba tahu, Yang Mulia,” ujar Kasim Ho dengan nada mengandung ketakutan. Hampir semua abdi istana lebih menyimpan ketakutan terhadap Putri Kai daripada kepada Kaisar. Berulang kali nyawanya dipertaruhkan jika bertemu dengan sang putri.


Putri Kai melangkah anggun lebih mendekat kepada Kasim Ho yang sudah berusia 60 tahun. Langkah Putri Kai sampai keluar melewati garis pintu. Tindakan Putri membuat lelaki tua itu semakin takut, tetapi ia hanya berdiri diam gemetar.


“Usianya di atas Yang Mulia Putri,” jawab Kasim Ho dengan suara agak bergetar.


“Beraninya dia!” desis Putri Kai.


Wess!


Seiring perkataan mengandung kemarahan itu, satu gelombang tenaga tak terlihat keluar dari tubuh Putri Kai dan menghempas tubuh Kasim Ho hingga pria tua itu terdorong jatuh terjengkang.


“Akh!” rintih Kasim Ho sambil memegangi pinggang belakangnya.


“Sampaikan kepada Ayahanda, aku baru selesai berlatih, tubuhku kotor. Jadi aku harus membersihkan diri terlebih dahulu untuk bertemu dengan tamu yang sudah jauh-jauh mau datang ke mari!” perintah Putri Kai.


“Tapi, Yang Mu...!” kata-kata Kasim Ho dan gerakan tubuhnya terhenti. Wajahnya terkesiap pucat. Sebab, tahu-tahu ada dua bilah mata pisau tanpa gagang melesat dan berhenti mengambang di udara, jaraknya tinggal satu jari dari kulit wajah keriputnya. Kasim Ho yang dalam posisi berlutut, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Lancip dan tajamnya pisau itu sungguh mengerikan.


“Aku tadi berlatih mengendalikan pisau ini. Kau beruntung, sebab kali ini aku berhasil mengendalikannya tepat waktu,” kata Putri Kai. Ia kemudian menggerakkan sedikit jemarinya seperti menarik sesuatu.

__ADS_1


Set!


Maka dua pisau berkilau itu melesat mundur dan masuk ke dalam lengan baju Putri Kai.


“Pergilah!” perintah Putri Kai.


“Baik, Yang Mulia,” ucap Kasim Ho menghormat sujud.


Putri Kai berbalik dan melangkah masuk meninggalkan Kasim Ho yang nyaris mati jantungan. Pintu kembali ditutup rapat.


Kejadian seperti itu yang sangat Kasim Ho takutkan jika harus bertemu dengan putri berusia 30 tahun itu. Namun, ia tidak mungkin pula menolak perintah Kaisar.


Sambil meringis merasakan sakit pada pinggangnya akibat jatuh tadi, Kasim Ho segera bangkit dan berjalan pergi menuju gerbang Istana Haram.


“Ilmu hitam apa yang dipelajari putri itu?” gerutuh Kasim Ho dengan suara yang lirih.


Sementara itu, di dalam istana, Putri Kai pergi menuju ke kamarnya. Bo Fei dan dua pelayan turut menyertai.


“Sepertinya Yang Mulia tidak berkenan dengan kedatangan Putra Mahkota Ci Cin?” tanya Bo Fei.


“Kau dengar sendiri, usianya lebih tua dariku. Kasim Ho berani menilai seperti itu, tentunya terlihat jelas perbedaan usia di wajah Pangeran Baijin. Jika usianya sedikit lebih tua dariku, Kasim Ho tidak mungkin berani ambil risiko salah menerka hanya dengan menilai dari raut wajah,” jelas Putri Kai.


“Yang Mulia yakin bahwa Pangeran Baijin sudah beristri?” tanya Bo Fei.


“Jika pun belum, aku tidak suka dengan pria yang lebih tua dariku, apa lagi usianya jauh lebih tua,” jawab Putri Kai. “Sama seperti pria-pria sebelumnya, dia harus bisa mengalahkan keganasanku.”


Di dalam kamarnya, Putri Kai berhenti di depan sebuah pintu. Ia berdiri sambil agak merenggangkan kedua tangannya dari pinggang. Pelayan bernama Mai Cui segera dengan perlahan membuka pakaian luar sang putri.


Adapun pelayan bernama Yi Liun membuka pintu. Maka terlihatlah sebuah ruangan pemandian dengan kolam berair jernih. Yi Liun segera bekerja menaburkan dua keranjang bunga ke air. Ia juga menuang segentong cairan yang berbau wangi menyengat ke dalam air.


Putri Kai melangkah masuk ke dalam ruang pemandian dengan hanya berpakaian dalam yang masih menutupi badan dan kakinya. Yi Liun segera keluar dan menutup pintu pemandian. Sendirilah Putri Kai di dalam sana.


Bo Fei berdiri berjaga tidak jauh di luar pintu pemandian. Mai Cui dan Yi Liun sibuk menyiapkan pakaian dan perhiasan yang akan dikenakan oleh tuan mereka untuk menemui tamu besar dari Negeri Ci Cin. (RH)

__ADS_1


__ADS_2