
*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*
“Apa yang kau tangiskan, Ginari?” tanya Joko lemah dalam pelukan Ginari.
“Aku ingin segera bersamamu, Kakang. Namun, saat ini tidak bisa,” ucap Ginari terisak halus. Ia menyeka air matanya dengan lengan bajunya.
“Kenapa?” tanya Joko.
“Manusia licik itu mengikatku dengan racun. Jika aku berpisah dengannya lebih dari seratus langkah, maka aku akan mati. Dan jika kita membunuhnya, aku pun akan mati,” ujar Ginari.
“Apa?!” kejut Joko Tenang dalam lemahnya.
“Aku sudah membuat kesepakatan dengannya. Jika dia bisa menang dari Kakang dengan cara bertarung jujur di depan orang-orang dunia persilatan, aku menjanjikan akan menjadi miliknya. Aku sangat yakin Kakang bisa mengalahkannya,” kata Ginari.
“Baiklah. Menjauhlah dariku!” perintah Joko.
Ginari kemudian menjauh dari Joko. Pemuda itu segera memulihkan diri.
Sementara itu, Arjuna Tandang masih dalam posisi tegang, siap menyerang dengan kesepuluh pedang sinar birunya. Namun, ia mewaspadai wanita yang juga begitu cantik, yang membuat semua anak buahnya mematung di tempat.
“Sehebat inikah kekasihnya? Wanita-wanita yang dimiliki lelaki itu begitu cantik-cantik,” kata Arjuna Tandang, tapi di dalam hati. “Padahal aku tidak kalah tampan dengannya.”
Akhirnya Joko Tenang bangkit berdiri. Ia melangkah mendekati Arjuna Tandang dengan tatapan penuh kebencian.
Tanpa diketahui oleh siapa pun, ada sepasang mata dan telinga yang menyimak kejadian di tempat itu sejak tadi.
“Ginari adalah calon istriku, kenapa kau ingin memilikinya?” tanya Joko Tenang, masih bisa mengontrol emosinya.
“Oh, namanya Ginari,” ucap Arya Tandang sambil tersenyum senang tapi sangat menyebalkan.
Ingin rasanya Joko menghilangkan secara paksa senyuman Arjuna Tandang saat itu juga. Namun, ia pun tidak mau kehilangan Ginari.
“Ginari adalah tawanan perangku. Aku bebas membuatnya seperti apa, termasuk menjadi milikku!” tandas Arjuna Tandang.
“Raja Pedang!” panggil Ginari, menengahi debat kedua pemuda tampan itu.
Arjuna Tandang beralih memandang kepada Ginari. Tentunya ia lebih suka memandang Ginari daripada Joko Tenang yang sedang bernafsu ingin membunuhnya saat itu juga.
__ADS_1
“Sesuai kesepakatan kita!” Ginari mengingatkan.
“Baik!” teriak Arjuna Tandang lantang. Ia mengerti maksud Ginari. Ia lalu kembali beralih kepada Joko, “Tiga hari lagi di Lembah Cekung, tepat di tengah hari, kita bertarung memperebutkan Ginari. Sesuai kesepakatanku dengan Ginari, dia akan menjadi milikku sepenuhnya jika aku menang darimu, Pemuda Berbibir Merah!”
Mendidih hati Joko mendengar tantangan itu. Namun, itu telah menjadi kesepakatan dan rasanya tidak ada cara lain untuk bisa mendapatkan Ginari dengan cara aman, selain mengalahkan Arjuna Tandang dalam duel yang jujur dan terbuka.
Joko Tenang tidak langsung menjawab. Ia masih memandangi Arjuna Tandang tanpa berkedip.
“Jika kau tidak menjawab tantangan ini, itu artinya kau kalah,” kata Arjuna Tandang seenaknya, ia tersenyum sinis melihat kemarahan di wajah Joko Tenang.
“Kakang, biarkan dia menikmati tiga hari umurnya yang tersisa,” kata Tirana yang datang mendekati Joko dari belakang. Ia berhenti empat langkah di belakang Joko.
“Benar, Kakang. Aku tidak akan apa-apa di sini. Aku bisa menjaga diri,” kata Ginari pula, membujuk Joko agar mau menerima tantangan yang diprakarsai olehnya.
“Mengingat kematian orang-orang Tabir Angin, sehari saja kau diberi bernapas lagi, itu terlalu enak bagimu!” desis Joko.
“Ciaaat!” pekik Joko Tenang tiba-tiba sambil berbalik menghentakkan lengan kanannya.
Wusss!
Sebagai pelampiasan dari kemarahannya, Joko Tenang melepaskan separuh kekuatan angin Badai Malam Dari Selatan.
Arjuna Tandang hanya mendelik melihat kengerian angin pukulan Joko Tenang yang daya rusaknya hebat dan luas.
Joko lalu berbalik kembali menghadap kepada Arjuna Tandang. Ia mengancam, “Ingat, jika kau berani berbuat curang, selain nyawamu, nyawa seluruh orang Pedang Angin akan aku buru tanpa tersisa, demikian pula adik perempuanmu!”
Terkejut Arjuna Tandang mendengar Joko menyebut “adik perempuan”. Itu menunjukkan bahwa Joko pernah berurusan dengan Suci Sari, adiknya.
“Kita bertemu di Lembah Cekung tiga hari lagi. Jika kau melukai atau menodai calon istriku sedikit saja, aku tidak akan memberimu kesempatan bernapas lebih lama lagi!” ancam Joko Tenang yang telah kehilangan ketenangannya saat ini.
Sepanjang perjalanan karirnya sebagai seorang pendekar, mungkin baru kali Joko begitu marah dan banyak mengeluarkan ancaman terhadap lawannya. Meski itu hanya gertakan. Ia tidak ingin pula menjadi mesin pembunuh tanpa kenal ampun.
“Aku juga punya kehormatan sebagai seorang pendekar. Aku akan datang!” tegas Arjuna Tandang.
Joko Tenang lalu beralih menghampiri Ginari dan berhenti dalam jarak empat langkah.
“Ratu Getara sudah menguasai tahta Kerajaan Tarumasaga dan ia baik-baik saja, tidak usah mencemaskannya lagi,” ujar Joko.
__ADS_1
Terkejut Arjuna Tandang mendengar perkataan Joko. Namun, ia diam.
“Syukurlah, Kakang. Aku akan sabar menunggu hari pertarungan itu. Terima kasih atas segala kebaikanmu, Kakang,” ucap Ginari lembut. Di balik senyumnya yang begitu manis, sepasang matanya kembali berkaca-kaca. Ia sangat terharu jika mengingat segala pengorbanan Joko untuknya.
Joko Tenang tiba-tiba maju kepada Ginari dan langsung menyeka sebulir air mata yang jatuh di pipi mulus gadis jelita itu. Singkat ia lakukan, lalu cepat mundur mejauh lagi. Tindakan itu memberi rasa kebahagiaan kepada Ginari. Senyumnya semakin lebar.
“Aku akan membawamu pulang dan kita akan menikah bersama Tirana,” kata Joko Tenang seraya tersenyum.
“Iya,” sahut Ginari sambil tertawa singkat. Ia tidak bisa membayangkan jika prosesi pernikahan mereka sekaligus tiga orang.
“Aku pergi,” ucap Joko lagi.
Ginari hanya mengangguk tersenyum.
Selanjutnya, Joko Tenang telah menghilang dari tempatnya. Kejap berikutnya, Tirana pun menghilang.
Arjuna Tandang benar-benar dibakar api cemburu menyaksikan kemesraan yang jelas-jelas terjadi di depan matanya. Namun apa dikata, faktanya bahwa memang wanita yang ia taksir adalah calon istri orang.
“Beruntung kau menjadi orang licik. Jika tidak, malam ini juga kau sudah hancur tanpa nyawa!” kecam Ginari kepada Arjuna Tandang yang hanya diam.
Arjuna Tandang tidak menjawab. Ia hanya memandang lekat kecantikan Ginari. Ingin rasanya ia memeluk paksa gadis itu dan menciuminya. Namun, kesaktian Ginari tidak rendah.
“Arjuna Tandang!”
Tiba-tiba satu suara wanita menggelegar memanggil. Terkejut Arjuna Tandang, karena ia sangat kenal dengan suara itu.
Di tengah halaman telah berjalan sesosok wanita cantik berpakaian hijau muda. Jika memandang wanita ini, mata akan langsung terfokus pada area bawah leher. Kebesaran itu menjadi salah satu kelebihannya dibandingkan wanita pada umumnya.
“Dewi!” ucap Arjuna Tandang ketika mereka bertemu pandang.
Wanita yang tidak lain adalah Dewi Bayang Kematian itu, melangkah menghampiri Ginari. Ia sudah ada di sekitar tempat itu sejak tadi. Ia menyaksikan kedatangan Joko Tenang dan Tirana hingga pulangnya.
“Pantas saja kekasihku sampai tergila-gila, ternyata calon istri Joko Tenang sangat cantik,” ucap Dewi Bayang Kematian yang membuat Arjuna Tandang dan Ginari terkejut.
Arjuna Tandang terkejut karena kekasihnya tahu tentang Joko Tenang dan calon istrinya. Sementara Ginari terkejut karena Dewi mengaku sabagai kekasih Arjuna Tandang.
“Perbuatan hina macam apa yang sedang kau lakukan, Raja Pedang?!” tanya Ginari membentak kepda Arjuna Tandang. “Kau sudah memiliki kekasih, tetapi kau masih juga menginginkanku!”
__ADS_1
Arjuna Tandang mendelik dan menelan salivanya. Sejenak ia bingung harus berkata apa untuk membela diri.
“Arjuna, aku masih mencintaimu. Kau sangat menyakitiku!” teriak Dewi Bayang Kematian kepada Arjuna Tandang. “Sekarang juga kau pilih. Jika kau masih mau bersamaku, aku akan bunuh wanita ini. Jika kau memilihnya, aku akan membunuhmu!” (RH)