Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
158. Kesaktian Permata Darah Suci


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Pangeran Baijin bangkit dengan gagah. Tatapannya tajam memandang ke titik-titik tempat ketiga lawannya tergeletak.


Puspa masih bisa menggerakkan jarinya, tapi tangan dan tubuhnya yang lain tidak bisa bergerak. Kondisinya sangat kritis.


Tirana pun tergeletak dengan wajah dan pakaian atasnya berlumur darah. Matanya terpejam. Ia tidak bergerak, tetapi masih ada gerakan halus pada dadanya yang menunjukkan bahwa gadis itu masih bernapas.


Sementara Joko Tenang tidak bergerak sedikit pun.


“Aaarrrkk!”


Melihat musuh-musuhnya tidak ada yang bangkit kembali, Pangeran Baijin meraung merasa digdaya dan menang. Terlihat bahwa mulutnya juga merah oleh darah.


“Aku tidak terkalahkan! Pangeran Baijin tidak terkalahkaaan! Hahaha...!” teriak Pangeran Baijin membahana ke mana-mana.


Suara keras Pangeran Baijin yang mengandung tenaga dalam juga masuk ke dalam gendang telinga Joko Tenang hingga ke dalam syaraf otaknya.


Tiga detik berikutnya, jari telunjuk kanan Joko bergerak.


Zret!


Di ujung telunjuk itu tiba-tiba muncul aliran listrik hijau yang wujudnya halus. Detik demi detik kemudian, aliran listrik itu semakin banyak dan menjalar ke seluruh tangan kanan Joko. Listrik itu semakin banyak dan membesar, lalu merambat dan menyengat seluruh tubuh Joko, hingga ke wajahnya.


Namun anehnya, tubuh Joko tidak kejang seperti orang tersengat listrik atau petir.


Kini siku kanan Joko tiba-tiba terangkat dan telapak tangannya menapak ke tanah. Selanjutnya siku kirinya juga terangkat.


“Apa itu?” tanya Pangeran Baijin terkejut kepada dirinya sendiri saat melihat ada pergerakan kecil dari tubuh Joko Tenang yang jauh di sana.


Lelaki berzirah serba hitam itu mendadak merasakan ada perasaan gentar.


“Kenapa orang asing itu belum mati?” tanya Pangeran Baijin dalam hati.


Jauh di sana, kepala dan pundak Joko Tenang sudah terangkat. Selanjutnya dia bergerak perlahan dan bangkit berdiri. Tubuhnya diselimuti oleh aliran listrik hijau yang terus bergerak tanpa henti. Ketika Joko berbalik, maka terlihat sepasang mata Joko Tenang bersinar hijau seperti mata Pangeran Baijin.


Bress!


Tidak sampai di situ. Tiba-tiba Rompi Api Emas Joko mengeluarkan sinar emas, yang kemudian sinar itu menjalar menyelimuti seluruh tubuh Joko, membuat sinar-sinar hijau seperti listrik itu lenyap.


Joko Tenang kini merasakan kondisi tubuhnya kembali prima seperti tidak mengalami luka lagi. Namun demikian, Joko Tenang tidak begitu mengerti kenapa ia bisa kembali sehat tanpa luka. Jika sinar kuning emas, Joko masih tahu bahwa itu berasal dari rompi pusaka warisan ayahnya. Namun, ia tidak tahu dari ilmu apa aliran-aliran listrik hijau pada tubuhnya.


Selama memakai Rompi Api Emas, Joko tidak pernah tahu bahwa rompi itu selalu bereaksi jika pemiliknya berada di ambang maut. Sama ketika Joko jatuh dari langit dalam kondisi tidak sadarkan diri. Sejauh ini, Joko hanya tahu bahwa rompinya mampu meredam tenaga ilmu apa pun.

__ADS_1


Akhirnya, sinar kuning emas itu padam. Sepasang mata Joko pun kembali normal.


Joko Tenang lalu membuka rompinya. Ia berkelebat ke posisi Tirana. Cepat ia meletakkan rompi pusakanya menutupi sebagian tubuh Tirana, selanjutnya langsung berkelebat ke pinggir kawah besar, berseberangan dengan Pangeran Baijin.


Terkait tindakan Joko Tenang terhadap Tirana, ia hanya berharap bahwa pusakanya memiliki pengaruh terhadap calon istrinya.


“Tenaga sakti apa yang muncul di dalam tubuhku ini?” tanya batin Joko Tenang, karena ia benar-benar merasakan hal yang sangat berbeda dalam tubuhnya. Seolah ada energi besar yang bercokol dan minta dikeluarkan.


Joko Tenang dan Pangeran Baijin saling tatap tajam.


“Aaarrggk!” teriak Pangeran Baijin keras. Seiring itu, tubuh Pangeran Baijin kembali diselimuti kobaran sinar hijau.


Press! Press!


Kondisi tubuh yang sangat sehat membuat Joko Tenang kembali mengandalkan ilmu Surya Langit Jagad. Namun, Joko Tenang terkejut. Sinar ilmu itu warnanya berubah, bukan putih menyilaukan mata, tetapi hijau menyilaukan.


“Apa yang terjadi?” tanya Joko dalam hati.


Zess! Blar!


Namun, tubuh Pangeran Baijin sudah melesat cepat di udara. Di tengah lesatannya, dia melepaskan sinar hijau berpijar yang bercokol di tinju kanannya. Joko Tenang melesat ke samping, menghindar seperti menghilang, meninggalkan tempatnya yang kemudian hancur besar oleh sinar hijau Pangeran Baijin.


Dua kali kekalahan Surya Langit Jagad oleh pukulan Pangeran Baijin membuat Joko ragu untuk beradu langsung lagi. Karenanya, dia memilih menghindar, tapi setelah itu dia menyerang lawannya dengan memainkan ilmu Bayang-Bayang Malaikat. Sementara ilmu Surya Langit Jagad dalam wujud baru masih siap di kedua tangan.


Pertarungan jarak dekat yang sangat berbahaya terjadi antara Joko Tenang dan Pangeran Baijin. Pertarungan yang tidak bisa dibaca oleh mata biasa.


Dak!


Pada satu waktu, ketika tendangan mengibas menyasar kepalanya, Pangeran Baijin dengan percaya diri membiarkan kepalanya terkena tendangan. Sementara pada saat yang sama tinjunya menargetkan dada Joko.


Namun, Pangeran Baijin terkejut. Kekuatannya kalah oleh kekuatan tendangan Joko, membuat tubuhnya terbanting keras ke tanah sekaligus membuat sinar hijaunya meleset dari target.


Terbantingnya Pangeran Baijin cepat dimanfaatkan oleh Joko dengan menghantamkan satu sinar hijau Surya Langit Jagad ke tubuh sang pangeran.


Boamr!


Prediksi Joko tidak terwujud. Pangeran Baijin memasang satu sinar hijaunya lagi guna menahan sinar hijau menyilaukan milik Joko.


Ledakan dahsyat kembali terjadi. Dua ilmu yang sama kembali beradu. Kali ini agak berbeda, karena posisi Pangeran Baijin tersudut di tanah. Akibatnya, tubuh berbaju zirah itu melesak ke dalam tanah seiring kembali hancurnya bumi dalam radius yang lebar. Selain itu, seluruh zirah hitam Pangeran Baijin hancur.


Sementara tubuh Joko Tenang terlempar jauh ke atas. Meski demikian, Joko Tenang mampu mendarat di tanah dengan sempurna.


Melihat dan merasakan hasil itu, Joko Tenang tidak mau buang-buang kesempatan. Dia kembali melompat ke udara.

__ADS_1


Press! Press!


Bluarr!


Dua sinar hijau menyilaukan mata dari ilmu Surya Langit Jagad kembali Joko Tenang lesatkan langsung ke tubuh Pangeran Baijin yang masih menyala hijau tapi sudah tanpa zirah hitam.


Dua sinar hijau itu meledakkan bumi sehingga menciptakan sumur kering yang dalam. Namun ternyata, Pangeran Baijin sudah berada tinggi di angkasa melepaskan dua sinar.


Tidak ada kesempatan bagi Joko untuk mengadu, kecuali menghindar. Joko Tenang memilih mundur jauh meninggalkan tempatnya yang kemudian hancur dengan tanah berhamburan ke udara.


Selagi tubuh Pangeran Baijin meluncur turun, Joko teringat gaya serangan istrinya, Putri Yuo Kai. Tapi gaya serang saat bertarung di Lapangan Kaisar, bukan gaya serangan di atas ranjang.


Joko Tenang menolakkan kakinya dengan kekuatan penuh, sehingga tubuh Joko Tenang melesat secepat kilat menjemput tubuh Pangeran Baijin.


Jika Putri Yuo Kai melesatkan ilmu Bidikan Mata Langit di tengah lesatannya, Joko Tenang melepaskan sepuluh Pukulan Tapak Kucing di tengah lesatannya.


Baks baks baks...!


Sehebat apa pun kesaktian seorang pendekar, dia tidak akan bisa menghindari Pukulan Tapak kucing. Sepuluh tenaga pukulan yang tidak terlihat itu menghujani tubuh depan Pangeran Baijin, membuat tubuhnya terhentak-hentak keras di udara. Darah kental terlompat-lompat keluar dari mulutnya, seolah sebagai tanda kekalahan sang pangeran.


Tubuh Pangeran Baijin meluncur turun dalam posisi tidak bagus dan sudah tidak bersinar hijau lagi. Punggungnya lebih dulu mendarat ke bumi.


Namun, saat itu juga, Joko Tenang sudah melayang tinggi, tepat di atas posisi tubuh Pangeran Baijin yang kondisi tubuhnya sudah hangus dan tidak berbentuk, karena ada banyak lubang berbentuk tapak kucing yang hangus.


Sess!


Tanpa ampun lagi, Joko Tenang melesatkan ilmu Bulan Pecah Karang. Joko mendelik saat melihat sinar bulan sabit yang melesat bukan berwarna ungu, tetapi berwarna hijau.


Blarr!


Tamatlah sudah riwayat hidup Pangeran Baijin, saat sinar hijau berbentuk bulan sabit meluncur deras dari atas meledakkan tubuhnya.


Serpihan daging berlesatan ke segala arah. Di antara itu, Joko Tenang masih bisa melihat benda hijau kecil berwarna hijau bening yang juga ikut melesat dan jatuh di satu titik.


Yakin bahwa benda hijau itu adalah Permata Darah Suci, Joko Tenang cepat berkelebat mengejarnya, sesaat setelah kakinya menyentuh bumi.


Joko Tenang segera memungut benda yang memang adalah cincin bermata Permata Darah Suci. (RH)


*******


TERIMA KASIH kepada seluruh READERS yang sudah setia dan AUTHORS sahabat yang sudah mendukung karya OM RUDI.


Sebentar lagi season "Cincin Darah Suci" akan berakhir dan masuk ke season "DESA WONGAWET" yang akan disingkat "Dewo".

__ADS_1


__ADS_2