
*Cincin Darah Suci*
Di bawah penerangan lampion-lampion berwarna merah, Putri Yuo Kai berdiri tersenyum di atas jembatan kecil di atas kolam. Ia memandangi keindahan bunga-bunga teratai di permukaan air kolam.
Indahnya pemandangan kolam malam itu tetap tidak lebih indah dari bunga-bunga cinta yang sedang bermekaran di dalam dada Putri Yuo Kai. Pada malam ini, pikiran sang putri tidak pernah lepas dari gambaran wajah dan sosok Joko Tenang.
Tersenyum sendiri, itu adalah ekspresi yang sering muncul di wajah Putri Yuo Kai. Itu adalah hal yang begitu kontras dengan diri sang putri sebelum kedatangan Joko Tenang dari langit.
Berbagai kondisi yang telah tercipta sebelumnya sering teringat kembali, yang memancing sang putri untuk tersenyum sendiri. Malam ini ia ingin tersenyum sepuasnya, karenanya ia memilih menyendiri di atas jembatan kolam taman.
Seolah ingin memutar film dokumenter kebersamaannya dengan Joko Tenang, Putri Yuo Kai mengingat secara rinci interaksinya dengan pemuda berbibir merah itu.
Putri Yuo Kai mengingat ketika pertama kali Joko Tenang jatuh ke dalam kolam kamar mandinya yang menghancurkan Istana Haram. Ia mengingat ketika ia duduk lama di sisi pembaringan memandangi wajah Joko yang masih pingsan. Ia mengingat ketika pertama kali bertemu pandang dengan Joko Tenang.
Putri Yuo Kai juga mengingat saat berdialog gambar yang lucu, saat ia sengaja mengguraui Joko dengan mencoba mendekatinya kurang dari empat langkah, cara makan Joko yang lucu, kebersamaan mereka saat bertarung di parit selatan, hingga kejadian unik dan aneh yang membuat Pengawal Angsa Merah takluk hanya oleh tawa.
“Yang Mulia Putri sudah jatuh cinta,” ucap Bo Fei yang memerhatikan dari kejauhan bersama dengan Mai Cui dan Yi Liun.
“Aku justru khawatir,” kata Yi Liun.
“Apa yang kau khawatirkan?” tanya Mai Ciu.
“Yang Mulia sering tersenyum sendiri,” jawab Yi Liun.
“Kau pikir Yang Mulia sedang terganggu jiwanya?” tanya Bo Fei dengan melotot kepada Yi Liun.
“Ti... tidak,” jawab Yi Liun tersenyum kecut kepada Bo Fei.
Di atas jembatan, Putri Yuo Kai kembali tersenyum, larut dalam suasana hati yang sedang kasmaran. Ia fokus memandang dua ikan koi beda warna yang sedang berenang berdua di bawah lapisan permukaan air, seolah memberi pesan bahwa hidup itu akan sangat bahagia bila bersama dengan seorang pasangan.
Ternyata pada waktu yang sama, Joko Tenang sedang dilanda kerinduan pula. Ia berbaring terlentang di atas kasur empuknya dengan sepasang mata yang terbuka lebar, tidak menunjukkan adanya tanda mengantuk di wajahnya.
__ADS_1
Orang yang dirindukan oleh Joko Tenang adalah Tirana dan Ginari, kedua calon istrinya. Padahal, mereka baru berpisah beberapa hari saja.
“Kenapa aku merasa ingin sekali melihat wajah keduanya lagi?” batin Joko Tenang.
Joko Tenang bangun duduk. Perasaannya gelisah. Wajah dan sosok kedua wanita jelita selalu terbayang jelas dalam ingatannya.
Tidak lama, Joko kembali menjatuhkan kepalanya ke belakang. Ia kembali menatap langit-langit paviliun itu. Namun, perasaannya tidak bisa tenang. Rasa ingin bertemu dengan Tirana dan Ginari begitu mengusik pikirannya.
“Apakah aku harus menemui Putri Yuo Kai dan memintanya memberitahukan kabar tentang Tirana?” pikir Joko.
Joko Tenang akhirnya bangun. Ia tetap dalam keadaan berpakaian utuh. Ia melangkah ke luar kamar. Dilihatnya Su Mai terbaring dengan cantik di sebuah dipan yang ada di ruang depan. Joko Tenang melangkah melewatinya. Ia menuju ke pintu untuk keluar.
Joko Tenang membuka pintu dengan perlahan agar tidak membangunkan Su Mai. Katika pintu ia buka, Joko Tenang harus terkejut. Seseorang telah berdiri di depan pintu seolah memang menunggu dirinya membuka pintu.
“Putri Yuo Kai!” sebut Joko Tenang pelan, tapi terkejut.
Wanita di depan pintu memang adalah sosok Putri Yuo Kai dan itu adalah sungguhan. Wanita cantik itu tersenyum kepada Joko Tenang. Pemuda itu hanya membalas dengan senyuman canggung. Ia sejenak menengok ke kanan dan ke kiri. Dua prajurit yang berjaga hanya berdiri diam melaksanakan tugasnya.
“Ayo ikut aku!” kata Putri Yuo Kai dengan isyarat tubuh yang mengajak pergi.
Joko Tenang sejenak terdiam mencoba mencerna maksud Putri Yuo Kai. Sementara sang putri sudah berkelebat pergi. Joko akhirnya pergi menyusul. Dalam kepalanya bertanya-tanya, apa sebenarnya yang diinginkan oleh sang putri di waktu tengah malam seperti itu.
Tidak berapa lama, Joko Tenang dan Putri Yuo Kai telah duduk bersama di atas atap Istana Tua, tapi dalam jarak yang tetap berjauhan. Mereka duduk menikmati suasana keindahan langit malam nan cerah. Langit terlihat indah dengan ramainya tebaran bintang yang berkelap-kelip.
Keduanya tersenyum. Sejenak keduanya saling menengok bertemu pandang. Putri Yuo Kai tersenyum karena saat itu ia benar-benar bahagia. Meski duduk bersebelahan dalam jarak yang agak berjauhan, tetapi ia merasa saat itu ia sedang bersama seorang lelaki yang ia cintai. Hanya berdua di malam itu.
Sementara Joko Tenang tersenyum karena menilai lucu kondisi malam itu. Putri Yuo Kai mengajaknya duduk berdua di atas genting Istana Tua. Rasa rindu kepada Tirana dan Ginari saat itu teralihkan oleh kehadiran Putri Yuo Kai.
Saat itu, Putri Yuo Kai memegang sebuah botol anggur. Diteguknya anggur itu sekali.
“Kenapa kau meminum arak, Yang Mulia?” tanya Joko Tenang memecah keheningan yang bermusik irama lirih desahan angin malam itu.
__ADS_1
“Aku hanya ingin mengajakmu melalui malam ini, berdua. Aku tidak bisa tidur,” kata Putri Yuo Kai, tidak menjawab pertanyaan Joko.
Mendengar jawaban Putri Yuo Kai, Joko Tenang tertawa kecil. Ia baru sadar bahwa percakapan mereka pasti tidak akan tersambung karena perbedaan bahasa.
“Kenapa kau tertawa, Joko?” tanya Putri Yuo Kai.
“Aku tidak bisa tidur, makanya aku berniat keluar,” kata Joko Tenang. “Apa kau ingin aku panggilkan Su Mai?”
Mendengar nama Su Mai disebut, Putri Yuo Kai memahami maksud Joko. Ia lalu menggeleng kepada Joko.
“Tidak usah, aku tidak ingin kehadirannya mengganggu suasana indah malam ini,” kata Putri Yuo Kai.
“Baiklah jika Yang Mulia tidak mau. Bisakah aku meminta sesuatu kepadamu? Aku malam ini merasa begitu memikirkan kedua calon istriku. Apakah kau bisa memberitahuku sekarang kabar tentang calon istriku tanpa menunggu hasil pertarungan besok?”
Bukannya menjawab, Putri Yuo Kai justru tertawa agak kencang. Tawa gadis cantik itu terdengar begitu menggoda di telinga. Ia tertawa karena menilai lucu suasana indah malam itu. Mereka seperti sepasang kekasih yang tidak saling mengerti.
Akhirnya Joko pun tersenyum melihat Putri Yuo Kai yang tampak begitu bahagia menikmati malam itu.
“Kau mau?” Putri Yuo Kai menunjukkan botol di tangannya kepada Joko, isyarat menawarkan anggurnya.
“Lemparkan,” kata Joko sambil mengulurkan tangannya.
Putri Yuo Kai melesatkan botol di tangannya. Mudah Joko menangkapnya. Diteguknya anggur itu. Wajah Joko agak mengerenyit merasakan nikmatnya anggur tersebut.
“Joko, apa kau tahu? Seorang peramal telah meramalkan bahwa kau adalah jodohku. Jadi kau harus menang besok agar kau memang adalah lelaki yang pantas untukku. Jika kita sampai gagal bersama, maka aku akan patah hati. Aku sudah jatuh cinta kepadamu. Jadi aku tidak mau aku harus merasakan kehancuran cinta setelah selama ini tidak pernah menemukan lelaki yang bisa membuatku bahagia,” tutur Putri Yuo Kai.
Setelah Putri Yuo Kai terdiam sejenak, giliran Joko Tenang yang bicara.
“Aku juga tidak tahu, kenapa malam ini aku begitu ingin bertemu Tirana dan Ginari. Namun, harus aku akui, keberadaanmu yang begitu bahagia di malam ini membuatku terhibur. Mungkin aku harus bersabar menunggu hari esok,” kata Joko.
Akhirnya, kedua muda mudi itu saling bercerita sendiri-sendiri tanpa saling memahami. Namun, bagi Putri Yuo Kai hal itu tidak masalah, yang terpenting adalah bahwa saat itu perasaannya sangat bahagia, bisa bersama dengan Joko Tenang, meski masih harus menjaga jarak.
__ADS_1
Bagi Joko, kondisi malam itu bersama Putri Yuo Kai lebih baik dibandingkan harus gelisah di kamar memikirkan Tirana dan Ginari. (RH)