
*Cincin Darah Suci*
Pasukan besar yang dipimpin oleh Putra Mahkota Negeri Ci Cin Pangeran Baijin harus bermalam di sebuah lembah yang memiliki aliran sungai berair jernih.
Pasukan harus diistirahatkan guna memulihkan kesegaran dan tenaga mereka. Ribuan tenda dibangun dalam area yang luas di sepanjang sisi sungai. Mereka masih membutuhkan satu hari perjalanan untuk sampai di perbatasan timur Negeri Lor We.
Namun, hingga menjelang tengah malam, masih ada yang belum memutuskan untuk istirahat. Orang itu adalah Pangeran Baijin bersama pengawal pribadinya Sala A Jin, empat orang jenderalnya dan sejumlah prajurit yang dilibatkan.
Ada empat tungku api besar yang diletakkan di atas tiang kayu sebagai penerangan di tanah terbuka pinggir sungai itu. Saat itu, Pangeran Baijin sedang berdiri sendiri di tengah-tengah arena. Ia tampil dengan berpakaian biasa tanpa mengenakan satu pun alat atau pakaian pelindung.
Di dua tempat, kelompok prajurit bersiap dalam formasi berseragam perang dan bersenjata tombak dan panah.
“Tombak!” teriak Sala A Jin memberi aba-aba.
Set set set!
Serentak, kelompok prajurit bertombak yang ada di dua tempat yang berlawanan melemparkan tombaknya yang menargetkan Pangeran Baijin.
Zes! Zes!
Pangeran Baijin mengibaskan kedua lengannya secara bersamaan pada dua arah yang berlawanan. Maka, masing-masing lengan itu melesatkan sinar hijau melengkung yang keduanya memangkas semua batang tombak yang melesat ke arahnya. Tombak-tombak itupun berguguran di tengah jalan.
Hasil itu membuat Pangeran Baijin tersenyum kecil, tapi sorot matanya tajam.
“Panah!” perintah Sala A Jin lagi.
Pasukan panah pun melesatkan anak panahnya dari dua tempat, sama seperti tadi. Dua puluh anak panah melesat cepat dari dua arah yang menargetkan sang putra mahkota.
Brezz!
Pangeran Baijin menghentakkan kedua tangannya dengan jari-jari menekuk keras. Dari kesepuluh jari tangan itu berkeluaran aliran listrik hijau yang melesat menyergap kedua puluh anak panah sehingga terhenti di udara, lalu kemudian hancur menjadi abu.
“Hahaha...!” Pangeran Baijin tertawa kencang mengetahui hasil yang didapatnya. Lalu teriaknya kepada pengawal pribadinya, “Sala A Jin, majulah dengan kemampuan terbaikmu!”
Sing!
Melihat perkembangan tidak terduga yang dialami oleh Pangeran Baijin, maka Sala A Jin merasa tidak perlu sungkan. Maka, ia meloloskan pedang bagusnya dari warangkanya. Selanjutnya, Sala A Jin berkelebat langsung menusukkan pedangnya tepat ke tubuh junjungannya.
Tak tak tak!
Hanya dengan bermodal tangan kosong, Pangeran Baijin menangkis semua tusukan dan tebasan pedang. Kedua tangan Pangeran Baijin tidak terluka sedikit pun. Sala A Jin hanya bisa terkejut dalam serangannya.
__ADS_1
“Benar-benar menakjubkan. Dari mana Pangeran memperoleh kesaktian baru dan hebat seperti ini dalam waktu singkat?” batin Sala A Jin.
“Keluarkan semua kehebatanmu, A Jin!” teriak Pangeran Baijin sambil tersenyum lebar.
Tek!
Setelah teriakan itu, Sala A Jin tiba-tiba bergerak lebih cepat dan tusukan pedangnya tidak tertangkis oleh Pangeran Baijin. Ujung pedang Sala A Jin menusuk ke perut Pangeran Baijin. Namun, ujung pedang itu tertahan, seolah ada kekuatan tidak terlihat yang melapisi tubuh Pangeran Baijin.
“Hahaha!” tawa Pangeran Baijin sambil membiarkan pedang pengawalnya itu menekan perutnya.
“Hiat!” pekik Sala A Jin sambil menekan satu telapak tangannya lagi ke hulu pedang, memberi tekanan tenaga dalam tambahan.
Buam!
Tekanan tambahan itu justru membuat ada satu dorongan tenaga yang mementalkan tubuh Sala A Jin hingga jatuh terjengkang.
“Jenderal-jenderal! Majulah!” teriak Pangeran Baijin lagi.
Keempat jenderal pasukan Negeri Ci Cin mematuhi perintah Pangeran. Keempatnya maju dengan berbekal senjata masing-masing. Dua jenderal bersejata pedang, satu bersenjata tombak besi dan satu bersenjata dua bola besi sebesar genggaman.
Keempat jenderal itu mengeroyok Putra Mahkota. Bahkan Sala A Jin kembali bangkit dan ikut serta dalam pengeroyokan.
Namun, pengeroyokan tingkat tinggi itu tidak membuat Pangeran Baijin terdesak, apalagi sampai terluka atau sampai jatuh ke tanah.
Baks! Daks! Buk buk!
Pada satu ketika, Pangeran Baijin menghentakkan kedua lengannya yang menghantam dada dua orang jenderal. Selanjutnya, sambil membungkuk menghindari sabetan pedang Sala A Jin, kaki kanan Pangeran Baijin naik menyodok dagu pengawalnya itu. Detik berikutnya, tinju keras Pangeran Baijin menusuk masuk ke perut dua jenderalnya yang tersisa.
“Hahaha! Cukup!” seru Pangeran Baijin yang puas dengan perkembangan kesaktiannya yang sungguh di luar perkiraannya.
Namun, pembuktian itu ternyata belum cukup bagi sang pangeran.
Pada waktu tengah malam. Pangeran Baijin berkelebat ke sungai lalu berlari enteng di atas permukaan air dan berhenti di seberang sungai yang cukup lebar itu.
Selanjutnya, sejumlah prajurit muncul mendorong dua buah manjanik, alat pelontar batu atau bola api. Sementara Pangeran Baijin menunggu di seberang sana.
“Pasang!” seru seorang jenderal memberi aba-aba.
Prajurit yang ditugaskan segera memasang batu besar ke alat pelontar yang masih terkunci.
“Bakar!” perintah jenderal itu lagi.
__ADS_1
Batu yang sudah dilumuri minyak khusus itu lalu dibakar.
“Tembak!” perintah sang jenderal lagi.
Prajurit yang bertugas langsung menarik lepas kunci penahan pada alat itu. Alat pelontar yang seperti sendok raksasa itu mengayun naik ke atas lalu melempar batu api jauh ke depan, ke seberang sungai.
Darr!
Pangeran Baijin melompat tinggi ke udara lalu meninju bola batu api itu hingga hancur lebur di udara.
“Tembak!” seru jenderal lagi.
Maka satu bola batu api kembali dilontarkan menyerang Pangeran Baijin.
Darr!
Kembali sang pangeran melompat tinggi dan menendang bola batu api itu hingga hancur lebur.
“Tembak!”
Kali ini bukan satu bola batu api yang terbang, tetapi dua sekaligus.
“Hiaaat!” pekik Pangeran Baijin.
Brezz!
Kali ini Pangeran Baijin tidak melompat, tetapi menghentakkan kedua lengannya dengan jari-jari menekuk keras. Aliran listrik berwarna hijau melesat ke udara dan menjerat kedua bola batu api di udara. Kedua bola batu api itu jadi tertahan lesatannya di udara.
Kedua bola batu api itu kemudian luluh menjadi abu yang padam dan sirna tertiup oleh angin malam.
Kembali dua bola batu api melesat, tapi kali ini bersusulan dengan titik target yang sama.
Pangeran Baijin tidak bertindak apa pun. Ia tetap berdiri dan menunggu bola batu api itu datang.
Darr! Darr!
Kedua bola batu api itu bersusulan menghantam telak tubuh Pangeran Baijin. Hal itu membuat Sala A Jin, sang jenderal dan prajurit yang terlibat mendelik tegang. Mereka diliputi kekhawatiran.
Namun, kedua bola batu api itu justru hancur lebur tanpa melukai kulit sang pangeran sedikit pun. Bahkan tidak membuatnya terdorong selangkah pun ke belakang.
“Hahaha...!” Kali ini Pangeran Baijin tertawa lebih panjang. Lalu teriaknya keras, “Akulah calon penguasa timur dan barat!”
__ADS_1
Pangeran Baijin sebenarnya tidak pernah berlatih atau belajar semua kesaktian baru yang ia miliki kini. Itu terjadi karena kesaktian dari Cincin Darah Suci yang kini melingkar di jari tangannya. Ada satu kekuatan yang menuntun pikiran Pangeran Baijin untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu yang kemudian melahirkan kesaktian baru pada dirinya. Kesaktian-kesaktian baru itu sangat terasa berkembang dengan sendirinya. Semakin lama kesaktian itu semakin tinggi meski tanpa dikehendaki oleh sang pangeran. (RH)