Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Padi Ragi 41: Kakek Suginowo


__ADS_3

*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*  


 


Zresss!


Tubuh Kerling Sukma yang terlempar jauh disambar oleh Kerling Emas. Ular sinar kuning itu lalu juga menyambar tubuh Manyo Pute alias Si Monyet Putih.


“Kau harus berhenti, Monyet Putih,” kata Kerling Sukma.


“Benar, aku sudah tidak sanggup,” ucap Manyo Pute lemah.


Kerling Sukma yang sebenarnya juga menderita luka dalam, lalu membawa Si Monyet Putih turun.


Sementara di puncak bukit sana, Sandaria telah melompat menyerang Suginowo. Sementara kelima serigalanya ikut bertarung dengan tubuh dilapisi perisai sinar biru, membuat mereka aman dari serangan ilmu kesaktian para murid Suginowo yang jumlahnya lebih banyak.


Kali ini si buta jelita itu tampil berbeda. Ia menyerang sosok Suginowo dengan permainan tendangan yang cepat dan bertenaga dalam tinggi. Namun, dengan mudah dan tenangnya kakek Suginowo menangkis semua tendangan kaki mungil Sandaria. Suginowo tidak berpindah pijak sedikit pun dari tempatnya. Kakek itu justru tersenyum sinis mengejek upaya Sandaria.


Setelah lebih dua puluh tendangan, pada puncaknya Sandaria melakukan tendangan kapak, dari atas ke bawah. Tendangan kapak itu jatuh di bahu kiri Suginowo yang ditahan dengan telapak tangan kiri si kakek.


Tuk! Bruk!


Pada saat yang sama, terlalu cepat ujung tongkat biru Sandaria mementung kepala Suginowo. Pentungan itu membuat kakek itu jatuh berlutut ke tanah hingga lututnya melesak masuk. Hantaman tongkat itu begitu kuat dan tidak disangka.


Marahlah Suginowo. Cepat ia kibaskan tongkat gagang payungnya.


“Hihihi…!” tawa Sandaria sambil cepat melompat mundur jauh.


“Berakhirlah kau, Bocah!” teriak Suginowo sambil menghentakkan lengan kirinya dengan jari-jari mengepal.


Wuzz! Wuszz! Bluar!


Selarik sinar ungu besar melesat menyerang Sandaria yang juga langsung melepaskan ilmu Payung Kegelapan.


Biasanya ilmu sinar merah berwujud payung milik Sandaria bisa mementahkan ilmu lawan dan terus maju menghancurkan. Namun kali ini tidak, kedua tenaga sakti harus berledakan di tengah. Baik Sandaria dan Suginowo sama-sama terjengkang keras.


Tuss! Ctar!


Ketika bangkit, Sandaria langsung menusukkan tongkat biru melepaskan ilmu Tusuk Nyawa. Segaris sinar kuning melesat menyerang Suginowo yang bangkit dengan tubuh telah terlindungi oleh lapisan sinar ungu. Sinar kuning yang seperti garis itu hanya meledak di luar tubuh Suginowo tanpa melukai atau membuatnya terdorong.


Suginowo lalu naik ke udara, kemudian melesat dengan sepasang kaki bersinar ungu. Dalam lesatannya ke arah Sandaria, si kakek dapat dengan lihai menendang-nendangkan kedua kakinya bergantian.

__ADS_1


Wez wez wez!


Wuszz! Blar! Daks!


Dari setiap tendangan melesat kiblatan sinar ungu. Ilmu perisai Payung Kegelapan Sandaria hancur setelah dihantam dua sinar ungu. Sinar ungu berikutnya menyerang Sandaria secara beruntun.


Namun, Sandaria hanya bisa menangkis dua sinar ungu menggunakan tongkatnya. Sinar ungu berikutnya mengenainya. Gadis bertubuh kecil itu terpental lalu terguling-guling sampai ke bibir tebing bukit.


Wez! Blar!


Belum lagi Sandaria bangkit, satu kiblatan sinar ungu serupa kembali datang. Sandaria hanya bisa berguling, sehingga tanah di dekatnya meledak, mementalkan tubuhnya jatuh ke jurang.


Zress!


Saat tubuh Sandaria terlempar ke jurang bukit, dari dalam tubuh Sandaria melesat keluar sinar ungu berwujud kuda terbang. Kuda sinar itu segera terbang menukik lalu menyambar tubuh tuannya.


Melihat Sandaria masih selamat, Suginowo bermaksud melanjutkan serangannya dengan ilmu pamungkasnya dari ilmu Roh Langit Lima. Namun, dilihatnya dari arah lain melesat cepat Kerling Sukma bersama Kerling Emas.


Suginowo yang melayang di udara, lalu beralih melepaskan ajian pamungkasnya ke arah kedatangan Kerling Sukma.


Zrezz!


Dari tusukan tongkatnya, Suginowo melesatkan sebola sinar ungu. Namun, dalam perjalanannya, sinar kecil itu membesar berpuluh-puluh kali lipat, sehingga mencapai sebesar gajah.


Dengan tetap berada di punggung ular sinar kuningnya, Kerling Sukma melesatkan tiga sinar putih kecil menyilaukan. Sinar putih dari ilmu Jari Surga itu melesat menembus sinar ungu besar di tengah-tengah. Sinar ungu tetap melesat kepada Kerling Sukma, demikian pula ketiga sinar Jari Surga.


Kerling Sukma langsung memasang ilmu perisai Benteng Tiga Lapis. Di balik benteng tiga lapisan sinar kuning itu, Kerling Sukma juga menyiapkan sinar ungu di telapak tangan kirinya.


Sinar ungu besar Roh Langit Lima menghancurkan Benteng Tiga Lapis Kerling Sukma, lalu terus merangsek masuk kepada tubuh Dewi Mata Hijau. Telapak kiri Kerling Sukma pun maju menghantam sinar ungu besar tersebut.


Hasilnya, tubuh ular sinar kuning hancur buyar. Sementara tubuh Kerling Sukma terlempar jauh dan meluncur jatuh.


Sementara itu, ketiga sinar putih menyilaukan cepat dielaki oleh Suginowo dengan cara melesat menjauh di udara.


Blalar!


Akhirnya ketiga sinar Jari Surga itu meledakkan dinding bukit, mengguncang bukit dengan tiga guncangan rapat.


Zeeeng…!


Namun, alangkah terkejutnya Suginowo saat mendengar suara desingan yang bising di sisi belakangnya.

__ADS_1


“Hihihi!”


Ketika Suginowo menengok ke belakang, Sandaria sudah tertawa di belakang diagram sinar kuning yang sedang berputar kencang.


Zeng zeng zeng…!


Bola-bola sinar kuning berlesatan sangat cepat tanpa henti menembak sosok Suginowo dari jarak yang begitu dekat.


Sementara di sisi lain, tubuh Kerling Sukma yang meluncur jatuh tidak memiliki waktu untuk menggunakan jasa penghuni Cincin Mata Langit, sebab serbuk sinar kuning itu baru saja masuk ke dalam tubuh tuannya. Praktis, Kerling Sukma tidak memiliki cadangan bantuan untuk menyelamatkan tubuhnya ke tanah.


Namun, Garis Merak berinisiatif berkelebat secepat kemampuannya. Ia berlari sambil membuang mata kailnya ke belakang. Mata kail itu bersinar putih.


Seeet!


Garis Merak yang tahu ia tidak akan sampai kepada jatuh tubuh Kerling Sukma, melesatkan mata kailnya. Mata kail itu melesat cepat dan jauh. Ternyata mata kail yang bersinar putih itu berhasil mengait sabuk pakaian Kerling Sukma. Garis Merak cepat menarik pancingannya dengan kuat, membuat tubuh Kerling Sukma tertarik melambung kembali ke udara. Barulah pada saat itu, Garis Merak berkelebat menangkap tubuh Dewi Mata Hijau.


Nasib Suginowo saat terkena berondongan bola sinar kuning dari ilmu Putaran Dewa Perang, sama dengan nasib Satria Gagah. Meski Suginowo telah melindungi dirinya dengan perisai sinar ungu, tetap saja ia harus tumbang dan meluncur jatuh ke bawah.


Bugk!


Keras dan nyaring suara hantaman tubuh Suginowo ke tanah bukit, menimbulkan kebulan debu yang tinggi.


Tidak seperti sebelumnya, Sandaria yang sudah berhenti mengoperasikan ilmu Putaran Dewa Perang tidak langsung bergirang diri. Ia menghitung sambil mencoba merasakan hasil pertarungannya.


“Satu, dua, enam, tujuh, sepuluh! Yeee!”


Akhirnya Sandaria bersorak setelah menghitung satu sampai sepuluh, meski hitungannya hanya lima angka. Itu artinya Suginowo benar-benar telah mati. Untuk tahap ini, nasib Suginowo berbeda dengan nasib Satria Gagah.


Sambil tersenyum senang, ia terbang ke puncak bukit, tempat pertarungan kelima serigala melawan para murid Suginowo atau anggota Kelompok Kaki Awan.


Ada sepuluh orang anggota Kelompok Kaki Awan yang masih tersisa.


“Satria!” panggil Sandaria seraya tersenyum sendiri.


Panggilan itu membuat kelima serigala besar yang bertarung dengan tubuh berzirah sinar biru, berhenti. Mereka segera berlari berkelompok ke dekat Sandaria. Gadis bermata tertutup itu lalu melompat ke punggung Satria, setelah lapisan sinar pelindung mereka lenyap. Kuda sinar kemudian buyar lalu tersedot masuk ke dalam tubuh Sandaria.


“Pemimpin kalian telah tewas. Sesungguhnya pemimpin kalian telah dirasuki oleh kesaktian jahat Kalung Tujuh Roh yang membuatnya hidup kembali. Kalian mau tidak mau harus menerima kekalahan kalian. Maka kembalilah!” seru Sandaria kepada kesepuluh anggota Kelompok Kaki Awan yang masih bugar.


Selain itu, masih ada lima orang yang terluka oleh gigitan dan cakaran serigala.


Orang-orang berseragam putih-putih itu saling pandang. Beberapa di antara mereka mengangguk. Maka, mereka segera bergerak membantu rekan-rekannya yang terluka. Mereka kemudian memutuskan mundur dan pergi. (RH)

__ADS_1


***********


AYO DUKUNG NOVEL INI! Jangan lupa ekspresikan emosimu dengan komentar setelah membaca chapter ini!


__ADS_2