
*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*
Seorang pemuda berkumis yang berusia tiga puluh dua tahun dan mengenakan pakaian warna cokelat melangkah masuk ke dalam gubuk. Di sisi lain, duduk seorang lelaki tua bertubuh sedang, berpakaian hitam yang dilapisi jubah hijau. Rambut putihnya kali ini digelung di atas kepala dan diikat dengan pita ungu. Sepasang matanya yang cekung tampak berwibawa. Jenggot putih yang dirawat rapi sudah hampir mencapai perut.
Penampilan kakek yang sedikit berbeda dari biasanya, membuat si pemuda berkumis jadi heran.
“Hahaha! Guru, mau pergi ke pesta ronggengan siapa?” tanya si pemuda yang diselingi tawa kecilnya.
“Jangan tertawa kau, Goceng!” hardik si kakek yang tidak lain adalah Ki Ageng Kunsa Pari.
Pemuda yang disebut namanya Goceng itu langsung diam.
“Memangnya Guru jatuh cinta dengan siapa?” tanya Goceng lagi dengan menyebut lelaki itu “Guru”.
“Duduklah, aku akan membicarakan satu hal yang lebih penting dari gugurnya kandunganmu, Anak Kucing!” kata si guru kesal.
Jika gurunya sudah berbicara seperti itu, Goceng tidak akan berani lagi melanjutkan candaannya. Goceng lalu duduk di tepi balai-balai bambu tempat gurunya duduk bersila menghadapi segelas kopi pahit.
“Masalah serius apa, Guru?” tanya Goceng, kali ini pertanyaan dan ekspresi wajahnya serius.
“Kita akan pindah ke dalam kehidupan yang sangat bertentangan dengan kehidupanmu sehari-hari. Kita akan pindah ke sebuah kerajaan....”
“Kerajaan? Hahaha!” potong Goceng lalu tawanya meledak, membuat Ki Ageng Kunsa Pari hanya mendelik melihat reaksi muridnya. “Guru jangan bercanda. Selama ini kita tidak pernah berhubungan kekasih dengan anak seorang raja, bagaimana bisa hidup di kerajaan?”
“Memang dasar murid kurang diam!” rutuk sang guru sambil memukul kepala Goceng. “Kebiasaan! Guru belum selesai buang hajat langsung main potong jalan. Untung aku tidak pernah malam pertama, bisa-bisa ketika sedang naik gunung kau malah main tarik kaki. Kau harus diam sampai aku perintahkan untuk bicara!”
Goceng hanya mengangguk. Goceng dia merengut, menjadi seimut semut.
“Jangan merengut!” bentak sang guru sambil memukul lagi kepala Goceng.
Goceng terpaksa mensenyumkan diri lalu diam tanpa merengut lagi.
“Ayah Joko Tenang adalah seorang raja besar dari sebuah kerajaan besar yang bernama Kerajaan Sanggana. Kehidupan kerajaan ini sangat tertutup, tidak pernah melakukan hubungan dengan pihak kekuasaan luar mana pun. Meskipun terpencil dan tertutup jauh di dalam hutan, tetapi kehidupannya sangat makmur. Raja Sanggana, ayahnya Joko, memanggilku untuk melanjutkan pengabdian sebagai pejabat tinggi di Kerajaan Sanggana. Jadi kita akan pergi ke sana dan meninggalkan Bukit Gluguk ini. Di sana, kehidupan kita akan lebih ramai, dan kau tidak akan aku suruh-suruh lagi. Kerajaan Sanggana adalah kerajaan yang memiliki pasukan sangat kuat,” tutur Ki Ageng Kunsa Pari. “ Kau mau ikut aku ke Sanggana atau kau mau berpetualang seperti Joko?”
Goceng tidak menjawab. Ia terdiam tanpa berusaha untuk berbicara.
__ADS_1
“Jawab!” sentak si kakek sambil memukul kembali kepala muridnya.
“Iya iya iya!” teriak Goceng kesal karena selalu dipukul. “Lebih baik aku ikut Guru ke sana. Mungkin nasib baik bisa dapat istri dayang kerajaan.”
“Bersiaplah. Ganti pakaianmu dengan yang lebih layak!” perintah sang guru.
“Iya. Tapi... apakah di sana ada jodoh untukku, Guru?” tanya Goceng lagi sebelum ia masuk ke dalam kamarnya.
“Hehehe! Kau mau istri berapa? Aku bisa mintakan kau kepada ayahnya Joko,” kata Ki Ageng Kunsa Pari.
“Jadi empat juga boleh, Guru?” tanya Goceng sumringah. Lalu kekehnya kemudian, “Hehehe! Satu saja cukup. Lagi pula tidak aku makan, jadi tidak akan habis-habis.”
Goceng lalu masuk ke biliknya untuk berganti pakaian.
“Orang di sana sakti-sakti tidak, Guru?” tanya Goceng berteriak.
“Untuk mencari orang yang berkesaktian sepertimu sangat sulit,” jawab Ki Ageng Kunsa Pari.
“Jadi orang-orang di sana kesaktiannya rendah-rendah ya, Guru?” tanya Goceng lagi.
“Kalau begitu aku tidak jadi ke sana, Guru!” kata Goceng langsung minder. “ Nanti aku justru dijadikan orang mainan oleh orang-orang kerajaan di sana.”
“Justru di sana kau akan mendapak banyak ilmu hebat. Sebab di kerajaan itu ada pejabat yang tugasnya khusus mengatur pemberiaan ilmu-ilmu khusus kepada prajurit. Walaupun kau nanti ditempatkan sebagai rakyat biasa, tetap kau akan mendapatkan jatah ilmu yang sulit dicari tandingannya. Rakya biasa termasuk bagian dari prajurit kerajaan, hanya cara hidupnya yang berbeda.”
“Oh begitu ya,” ucap Goceng yang masih sibuk di dalam biliknya.
Iya, Bodoh!” rutuk Ki Ageng Kunsa Pari kesal.
“Lalu bagaimana dengan permintaan sahabat Guru itu? Lalu bagaimana jika Joko memerlukan Guru?” tanya Goceng lagi, masih dari dalam biliknya.
“Kita tinggalkan pesan saja untuknya,” jawab Ki Ageng Kunsa Pari.
“Lalu bagaimana jika Joko lama baru kembali ke bukit ini?” tanya Goceng lagi.
“Itu urusanmu, Anak Kucing!” bentak Ki Ageng Kunsa Pari kesal.
__ADS_1
Meskipun dengan muridnya si kakek sering bersikap tidak tua, tetapi jika ingin benar-benar menjalankan kewibawaannya, maka Goceng sedikit pun tidak akan berani bersikap kurang ajar terhadapnya sebagaimana tadi.
Kaaak!
“Ei ei koak koak koak!” teriak Goceng terkejut latah.
Suara koakan yang sangat keras memekakkan gendang telinga itu juga mengejutkan Ki Ageng Kunsa Pari.
“Murid sialan itu rupanya datang dalam waktu sangat dekat,” gerutuh Ki Ageng Kunsa Pari. Lalu bentaknya kepada Goceng, “Sejak kapan kau menjadi latah, Goceng?!”
“Sejak tadi, Guru,” jawab Goceng seenaknya.
Bdruakr!
Tiba-tiba atap gubuk itu bergerak berpatahan, seolah-olah ditindih oleh beban yang sangat berat.
“Murid kurang ajar!” teriak Ki Ageng Kunsa Pari geram bukan main sambil buru-buru berkelebat ke luar gubuk.
“Joko Setan!” maki Goceng pula sambil melesat cepat menjebol dinding gubuk yang memang sudah rapuh.
Bredusrakr!
Jika terlambat sedikit saja, murid dan guru itu pastilah akan tertimpa oleh reruntuhan gubuk.
Kini gubuk tua itu telah rata dengan tanah. Di atas reruntuhannya berdiri seekor burung rajawali raksasa berbulu cokelat kuning keemasan. Sungguh mengagumkan. Kedua kaki besarnya yang bersisik tebal berdiri di atas reruntuhan gubuk dengan sempurna.
Di sisi kanan burung raksasa bernama Gimba itu telah berdiri pemuda tampan berkulit wajah halus, berbibir merah seperti wanita bergincu, dan mengenakan pakaian berlapis rompi merah. Ia tidak lain adalah Joko Tenang, murid utama Ki Ageng Kunsa Pari.
Di sisi kiri Gimba ada tiga orang wanita. Ketiga-tiganya adalah gadis jelita.
Gadis pertama adalah wanita yang berwajah matang, tetapi memiliki kecantikan yang masih muda. Ia adalah Getara Cinta. Orang kedua, usianya jauh lebih muda dari Getara Cinta. Kecantikannya sungguh memesona dengan kesempurnaan wajah dan fisiknya. Ia adalah Tirana. Gadis ketiga adalah Ginari. Gadis jelita itu kini terkulai tanpa nyawa dan daya di kedua tangan Getara Cinta.
“Getara Cinta?” sebut Ki Ageng Kunsa Pari mengenali Getara Cinta.
“Kunsa Pari,” sebut Getara Cinta pula, menerka. (RH)
__ADS_1