Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
157. Joko, Tirana, dan Puspa Tumbang


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Pangeran Baijin mendadak stres melihat empat jenderalnya mati dalam waktu singkat. Korban tewas dari pasukannya telah melampaui jumlah yang tewas saat perang di kota Taele.


Jika kondisinya seperti ini, ia jelas akan kebingungan untuk menyerang Negeri Jang. Belum lagi pasukan Negeri Lor We menunggu di balik bukit. Kondisi itu benar-benar membuatnya syok. Tiga orang asing itu tidak pernah datang dalam mimpinya. Tiba-tiba saja muncul tidak jelas datang dari mana dan menghancurkan sebagian pasukannya.


“Aku tidak ingin kalah!” teriak Pangeran Baijin dengan ekspresi kemarahan yang tinggi. Teriakannya membahana luas. “Argggr!”


Tiba-tiba tubuh Pangeran Baijin diselimuti oleh kobaran sinar hijau seperti lidah-lidah api. Sepasang matanya pun menyala hijau tanpa memiliki pupil.


“Kakang! Apakah semua harus kita bunuh?” teriak Tirana kepada Joko.


“Langsung potong kepalanya!” sahut Joko.


Namun....


Brezzrr!


“Akk!” pekik Puspa.


Pangeran Baijin yang sudah seperti monster, menghentakkan kedua lengannya. Maka, dari jari-jarinya berlesatan aliran listrik hijau yang begitu cepat menyergap tubuh Puspa dan Tirana.


Aliran listrik itu menyengat dan mencekik tubuh Puspa yang seketika itu juga mencoba melawan dengan kekuatan tenaga saktinya.


Sementara satu aliran listrik lain merayapi sebuah dinding tidak terlihat yang melindungi tubuh Tirana selama pertarungan itu. Aliran listrik yang mengalir tanpa putus dari kedua lengan Pangeran Baijin itu terlihat lama-lama menutupi bidang pertahanan Tirana, bahkan berusaha mendesak masuk menembus benteng ilmu Kulit Dewi Gaib yang lebih keras daripada baja itu.


Melihat hal itu, Joko Tenang segera bertindak sebelum terjadi sesuatu terhadap kedua gadisnya. Ilmu Bulan Pecah Karang ia lesatkan.


Sess!


Bduar!


Sinar ungu berbentuk bulan sabit melesat menghantam tubuh Pangeran Baijin. Satu ledakan sinar ungu terjadi, mengejutkan pangeran Baijin. Bahkan Sala A Jin yang duduk di kudanya dan kusir kereta yang dekat dengan sang pangeran, terpental dan muntah darah akibatnya.


Meski serangan listrik hijau terhadap Tirana dan Puspa terhenti, tetapi Joko Tenang harus terkejut melihat hasil serangannya. Pangeran Baijin tidak mengalami luka sedikit pun atau terdorong oleh ledakan ilmu pemecah Joko.


Ledakan sinar Bulan Pecah Karang tadi membuat dua kuda penarik kereta perang jadi panik ketakutan. Keduanya sontak berlari liar ke depan.


Sementara Tirana dan Puspa telah bebas dari ancaman maut. Kondisi Puspa terlihat melemah karena usai melawan sengatan listrik hijau yang bisa menghancurkan tubuh tadi.


“Matilah kau!” teriak Pangeran Baijin sambil melompat jauh dari atas kereta ke arah Joko dan siap mengirimkan satu pukulan maut jarak jauh.


Baks baks bak...!


Melihat kesaktian Pangeran Baijin barusan, Joko Tenang tidak mau bertindak ayal atau menganggap enteng. Sepuluh Pukulan Tapak Kucing berkekuatan penuh ia lepaskan beruntun dalam satu detik kepada tubuh Pangeran Baijin yang melambung di udara.


Tubuh Pangeran Baijin tertahan melaju di udara ketika sepuluh pukulan maut menghajar dadanya. Tubuh bersinar hijau itu terdorong balik dan jatuh berdebam di tanah berpasir.


Lagi-lagi Joko Harus terkejut.


Tirana pun terkejut. Sebab ia tahu seperti apa kehebatan Pukulan Tapak Kucing milik Joko yang sudah banyak memakan korban pendekar sakti.


“Hahaha!” Tertawa Pangeran Baijin sambil bangkit berdiri dalam kondisi tetap sama, tubuhnya masih diliputi sinar hijau sperti kobaran api.


Slap!


Press! Boamr!


Tiba-tiba sosok Pangeran Baijin melesat ke depan dengan kecepatan yang nyaris tidak terlihat. Joko Tenang yang juga memiliki ilmu Bayang-Bayang Malaikat, dapat melihat jelas pergerakan tubuh Pangeran Baijin yang datang kepadanya dengan membawa bola hijau berpijar pada tinju kanannya.


Joko Tenang langsung melawan dengan ilmu tertingginya, Surya Langit Jagad. Sinar putih menyilaukan mata, Joko adu dengan tinju sinar hijau Pangeran Baijin.


Ledakan yang begitu dahsyat dan kuat terjadi ketika dua ilmu itu beradu.

__ADS_1


Pasukan Ci Cin  yang berbaris dalam radius terdekat berpentalan ke belakang terhantam gelombang kejut ledakan itu. Puspa yang dalam kondisi kekurangan tenaga, ikut terlempar jauh. Sementara Tirana bertahan di tempat dalam perlindungan benteng Kulit Dewi Gaib-nya.


Kawah besar tercipta seiring menggunungnya kepulan debu dan pasir ke langit, menutupi lokasi titik ledakan.


Suara ledakan pun menggema ke ruang yang jauh, terdengar sampai ke basis pasukan Negeri Lor We di balik bukit. Para jenderal dan prajurit dalam pasukan berseragam cokelat gelap itu terkejut mendengar suara ledakan dari jauh itu.


Sementara di lokasi pertarungan.


Angin telah membuyarkan gunung debu dan pasir yang membumbung. Joko Tenang terbaring jauh dari titik ledakan. Punggungnya bahkan menggerus tanah cukup dalam akibat kerasnya dorongan terhadap tubuhnya. Bajunya rusak tidak karuan, memperlihat badan berototnya yang lebam menghitam. Bibir bawah dan dagunya penuh darah hitam, menunjukkan luka dalam Joko Tenang parah. Namun, Joko belum mati. Wajahnya yang masih tampan mengerenyit menahan sakit yang mendera seluruh tubuhnya.


Di titik lain, tepatnya di pinggir kawah kering yang besar, berdiri sosok bersinar hijau milik Pangeran Baijin. Seolah-olah dia tidak terpengaruh oleh adu dua kesaktian tinggi barusan.


“Kakang!” pekik Tirana terkejut. Dia cepat melesat laksana menghilang dari tempatnya.


Tirana tahu-tahu sudah berdiri empat langkah dari tubuh Joko. Ia tidak berani mendekat, khawatir justru mengancam nyawa calon suaminya.


“Kakang Joko, bagaimana bisa?” tanya Tirana panik.


“Surya Langit Jagad-ku tidak melukainya sedikit pun. Ini akan sulit, Tirana,” ucap Joko seraya mengerenyit.


“Orang itu terlalu sakti. Apakah kita harus menyerah?” tanya Tirana yang bisa langsung membaca kemungkinan ke depannya.


“Jangan. Saat meminum Arak Kahyangan, seharusnya aku sudah mati jika tidak ditolong oleh Ratu Getara Cinta. Jika pun harus mati di sini demi dia, aku tidak akan menyesal,” kata Joko, mengingat saat ia meminum racun Arak Kahyangan di Istana Tabir Angin (terkisah dalam episode 58, 59 dan 60).


“Jika Kakang harus mati di sini, maka aku pun akan menuntaskan tugasku sampai mati!” tandas Tirana.


“Jika begitu, kau ulur waktu orang itu. Aku akan sedikit mengobati lukaku!” perintah Joko Tenang.


“Baik, Yang Mulia Pangeran!” ucap Tirana patuh.


Tirana beralih menghadap kepada Pangeran Baijin yang jauh di sana.


“Kesaktiannya pasti karena pengaruh Permata Darah Suci,” ucap Tirana lirih. “Kita lihat, sehebat apa kesaktian permata itu.”


Sess! Sess!


Blarr! Blarr!


Tirana tiba-tiba melesat laksana kilat dengan kedua tangan berbekal bola sinar biru. Saat mendekati posisi Pangeran Baijin, Tirana melepas kedua sinar Bola Kulit Langit-nya. Pangeran Baijin kembali menamengi dirinya dengan kubah sinar hijau gelap.


Dua ledakan sinar biru terjadi di luar sinar hijau yang hanya menciptakan kerusakan pada tanah sekitar. Tubuh dan posisi Pangeran Baijin tidak berubah sedikit pun.


Brezzrrs!


Setelah itu, Pangeran Baijin melesatkan dua gelombang aliran listrik hijau seperti tadi. Dua aliran itu langsung menyergap tubuh Tirana, tapi hanya sebatas dua jengkal dari tubuhnya.


Tirana mendelik. Ia dapat merasakan bahwa kekuatan Kulit Dewi Gaib-nya digerogoti dan akan jebol. Aliran listrik hijau itu terlalu kuat.


Wess!


Dengan gerakan tangan yang berat, Tirana melepaskan gelombang tenaga halus dari ilmu Pemutus Waktu.


Saat gelombang tenaga itu menerpa sosok Pangeran Baijin, lelaki itu seketika mematung. Aliran listrik dari kedua tangannya berhenti, meski tubuhnya tetap diselimuti oleh kobaran sinar hijau.


Tirana terlepas dari jeratan listrik hijau. Ia segera memanfaatkan waktu mematungnya Pangeran Baijin. Sang pangeran sendiri agak panik, karena ia tidak bisa bergerak. Namun, ia merasakan ada tenaga yang bekerja di dalam tubuhnya.


Tubuh langsing Tirana telah datang melompat dengan tangan kanan berbekal bola sinar dua warna, hijau dan kuning, dari ilmu Bola Dua Maut. Ilmu inilah yang menghancurleburkan tubuh Biksu Hitam beberapa hari lalu.


Namun, pada seperkian detik, tiba-tiba Pangeran Baijin bisa bergerak, lepas dari pengaruh ilmu Pemutus Waktu Tirana. Tidak ada pilihan lain bagi Tirana selain beradu ilmu.


Broass! Bdluarr!


Pangeran Baijin menyambut bola sinar dua warna Tirana dengan tinju bersinar hijau berpijar, pukulan yang sebelumnya menaklukkan Surya Langit Jagad milik Joko.

__ADS_1


Ledakan dahsyat kembali terjadi luar biasa yang menimbulkan kerusakan parah di area sekitar.


Tubuh Tirana terlempar melambung tinggi lalu meluncur jatuh seperti tubuh yang tanpa nyawa ke bumi.


“Tiranaaa!” teriak Joko Tenang histeris. “Fukr!”


Mulut Joko Tenang menyemburkan darah karena proses pengobatan dirinya belum tuntas, sehingga kepanikannya membuat aliran darahnya kacau. Terpaksa ia harus merelakan Tirana. Dengan air mata yang mengalir di pipinya, Joko Tenang memilih untuk mengobati kembali lukanya.


Di saat itu, melesat sosok Puspa laksana anak panah menembus tabir debu yang membumbung. Kedua tangannya telah berbekal ilmu Genggam Inti Bumi.


Zerrssr!


Namun, lesatan tubuh wanita cantik itu tertahan di udara. Gelombang aliran listrik hijau menjeratnya di udara.


“Akkrr!” pekik Puspa menahan sengatan sambil berusaha mengerahkan ilmu kesaktiannya. “Hahr!”


Sess!


Dalam kondisi kritis seperti itu, satu ilmu pamungkas Puspa lepaskan dari dalam mulutnya. Satu sinar kuning bening sebesar lingkaran jari melesat menembak dada Pangeran Baijin.


Dumm!


Dentuman keras terdengar jelas, tetapi hanya membuat Pangeran Baijin terdorong tiga tindak. Namun, itu membuat gelombang listrik terhadap tubuh Puspa terhenti. Tubuh Puspa meluncur jatuh ke dalam dasar kawah dengan tubuh yang berasap.


Puspa terkapar. Sepasang matanya menatap kosong. Mulutnya terbuka seolah ingin bernapas sebanyak-banyaknya. Meski jari-jarinya bisa bergerak, tetapi Puspa tidak bisa bangkit lagi.


“Mati pun tidak menyesal! Hiaaat!” teriak Joko Tenang yang sudah pulih beberapa puluh persen. Ada yang berbeda, kali ini Joko Tenang memakai terbalik rompi merah pusakanya. Punggung Rompi Api Emas ia letakkan di badan depannya.


Babakbak...!


Joko Tenang berlari sambil kedua tangannya melepaskan sepuluh Pukulan Tapak Kucing beruntun. Sepuluh pukulan dahsyat menghujani tubuh Pangeran Baijin.


Pangeran Baijin termundur-mundur dengan tubuh terguncang-guncang hebat. Hasilnya sama seperti tadi, Pangeran Baijin tidak apa-apa.


Press! Press!


Tubuh Joko Tenang telah datang dari jauh dengan dua sinar putih menyilaukan mata siap dilepas. Pangeran Baijin yang sudah menjajal ilmu itu sebelumnya, melesat pula menyambut serangan dengan dua tinju bersinar hijau berpijar.


Boamr!


Dua lelaki sakti itu bertemu di angkasa mengadu kesaktian.


Dua ledakan dalam satu waktu terjadi dahsyat, lebih dahsyat dari sebelumnya. Gelombang kejutnya tidak kira-kira. Bahkan daerah itu dibuat terguncang halus.


Pasukan Ci Cin yang sudah menjauhkan posisi, masih terkena imbas. Barisan terdepan masih dibuat terjengkang.


Tubuh Joko Tenang terpental deras menghantam bumi lalu terseret jauh dan berguling-guling dalam kondisi sudah tidak berdaya.


Kali ini tubuh Pangeran Baijin juga terpental deras menghantam bumi. Bahkan sinar hijau yang menyelimuti tubuhnya padam.


Sejenak suasana hening dengan debu yang membumbung.


Pasukan Lor We di balik bukit yang mendengar suara ledakan itu kembali dibuat terkejut.


Tubuh Pangeran Baijin yang sempat diam, tiba-tiba bergerak dan bangun duduk.


Di titik yang lain, Joko Tenang tidak bergerak dalam posisi tengkurap. (RH)


*******


TERIMA KASIH kepada seluruh READERS yang sudah setia dan AUTHORS sahabat yang sudah mendukung karya OM RUDI.


Sebentar lagi season "Cincin Darah Suci" akan berakhir dan masuk ke season "DESA WONGAWET" yang akan disingkat "Dewo".

__ADS_1


__ADS_2