Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
90. Puspa Bebas


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Jenderal Jailing pun menuruti saran putrinya, tetapi pandangannya selalu kepada Tirana. Ia tidak mau lengah. Sementara Zhao Lii berbalik dan langsung tersenyum, membuat Tirana juga tersenyum kecil.


“Ayahku akan membebaskan temanmu, Tirana,” ujar Zhao Lii sambil kedua tangannya membuat gerakan-gerakan mencoba mengilustrasikan dan menerjemahkan kata-katanya dalam bentuk bahasa isyarat.


“Temanku Puspa akan dibebaskan?” tanya Tirana lagi sambil menunjuk ke arah posisi kerangkeng besi di luar.


“Iya. Kita bersepakat,” kata Zhao Lii, mengangguk dan kedua tangannya saling menjabat sendiri menerjemahkan kata “sepakat”.


“Baik, baik,” kata Tirana seraya tersenyum.


“Tapi kau jangan membahayakan ayahku atau orang-orangnya,” kata Zhao Lii sambil menunjuk ayahnya dan para prajurit yang terdiam.


“Hem?” dehem Tirana dengan mimik bertanya, tidak mengerti.


“Jangan melukai mereka,” kata Zhao Lii dengan kata dilambatkan agar jelas sambil tangannya memberi isyarat “jangan” dan “sembelih”.


“Tidak, aku tidak akan memotong ayahmu, tapi Puspa harus bebas,” kata Tirana seraya tertawa kecil lalu membuat gerakan seperti kepakan sayap ayam sebagai simbol kata “bebas”.


“Ya! Temanmu akan dibebaskan!” seru Jenderal Jailing menyerobot dalam negosiasi, sambil kedua tangannya mengepak seperti bebek.


“Hahaha!” tertawa Tirana dan Zhao Lii melihat gerakan sang jenderal yang terlihat lucu.


Jenderal Jailing pun akhirnya tertawa.


“Baik,” kata Tirana.


Setelah satu kata itu, Ho Mo dan semua prajurit lainnya yang ada di dalam tenda itu bisa bergerak kembali.


Lega bagi Jenderal dan Zhao Lii. Terutama bagi mereka yang baru saja tidak bisa bergerak sedikit pun, hanya bisa mendengar dan berkata.


“Kalian semua keluar!” perintah Jenderal Jiliang kepada para tentaranya.


Kesepuluh prajurit berpedang segera membubarkan diri dengan pergi ke luar.


“Ho Mo, bebaskan wanita kotor itu dan bawa ke mari!” perintah Jiliang kepada pengawalnya.


“Baik, Jenderal.” Ho Mo patuh bergegas keluar setelah menghormat kepada atasannya.


“Putriku, kenapa kau datang ke sini bersama dia?” tanya Jiliang.


“Ayah, aku berangkat dari Ibu Kota bersama para pengawal. Setibanya di pinggiran kota Taiming, kami disergap gerombolan penjahat. Semua pengawalku mati, tetapi aku berhasil melarikan diri dengan kuda. Aku dikejar sampai bertemu dengan Tirana di gurun. Tirana telah menyelamatkan nyawaku, Ayah. Jadi, Ayah jangan memusuhinya,” ujar Zhao Lii.

__ADS_1


“Baik, baik. Meskipun aku seorang jenderal yang tangguh, tetapi aku tidak pernah menghadapi orang yang seperti ini. Mungkinkah dia dewa, sebab dia datang dari langit?”


“Benarkah Tirana datang dari langit?” tanya Zhao Lii.


“Aku dan pasukanku dikejutkan oleh suara ledakan di langit. Kami langsung bersiaga. Kami melihat dia dan temannya jatuh dari atas. Tidak masuk akalnya, dia masuk ke dalam tanah dan temannya bisa mendarat tanpa terluka. Mungkin mereka dewa atau iblis,” kata Jiliang.


Percakapan bapak dan anak itu tidak sedikit pun dimengerti oleh Tirana yang hanya diam menunggu.


Zhao Lii lalu beralih kepada Tirana.


“Tirana, apakah kau dari langit?” tanya Zhao Lii sambil menunjuk Tirana, lalu menunjuk ke atas kemudian menjatuhkan jari telunjuknya ke bawah.


“Ya, aku dari negeri jauh di selatan, dari seberang lautan, tetapi kami lewat langit lalu jatuh di sini,” kata Tirana mengangguk lalu menunjuk jauh ke selatan agak ke atas lalu juga menunjuk langit dan kemudan menunjuk tempat mereka berdiri.


“Oh, jadi kau dari langit selatan,” ucap Zhao Lii seraya manggut-manggut tanda mengerti.


“Berarti benar, mereka bukan manusia,” kata Jenderal Jiliang.


“Sepertinya kita tidak boleh berurusan dengan Langit, Ayah,” kata Zhao Lii kepada ayahnya.


“Lalu, kenapa kau datang ke mari, putriku?”


“Aku hanya ingin menyambut kepulangan Pangeran De,” jawab Zhao Lii agak pelan seraya tersenyum malu kepada ayahnya.


“Ah, kau ini,” dengus Jailing sedikit mengerenyit tanda tidak menyetujui tindakan putrinya. “Perjalanan dari ibu kota We jauh dan berbahaya. Akhirnya kau mengorbankan para pengawal itu.”


“Aku sudah mendapat pesan bahwa Pangeran De sudah tiba di perbatasan, besok pagi akan tiba singgah di sini,” kata Jiliang.


“Aku sudah lama tidak bertemu dengan Pangeran,” kata Zhao Lii sambil tersenyum lebar sendiri.


“Kau masih yakin bahwa Pangeran akan memilihmu?” tanya sang ayah, cukup resah melihat harapan tinggi putrinya.


“Biar pun aku nanti hanya bestatus seorang selir, aku akan tetap bahagia, Ayah,” jawab Zhao Lii.


“Baiklah, aku akan membantumu dari perbatasan untuk menjaga pangeranmu, Putriku,” kata Jiliang.


“Terima kasih, Ayah,” ucap Zhao Lii.


Terdengar suara langkah yang ramai berjalan masuk dan menyibak tirai. Tampak enam prajurit bersama Ho Mo menggiring Puspa yang masih dalam keadaan serba diborgol. Pasung kayu di lehernya sudah dilepas, tetapi ujung-ujung pedang prajurit yang menggiringnya mengancam di belakang leher, sebagai tindak siaga jika Puspa mengamuk.


“Eh, Tirana!” seru Puspa terkejut dengan wajah dekil yang gembira. “Ayo kita hancurkan orang-orang yang berani menangkap Puspa!”


“Tenang, Puspa. Ini hanya salah paham. Mereka menangkap Puspa karena mereka takut kepada Puspa,” kata Tirana mencoba meredakan kemarahan wanita berpakaian kotor dan robek-robek itu.

__ADS_1


“Kenapa mereka takut kepada Puspa yang cantik?” tanyak Puspa dengan sorot mata yang tajam.


Tirana tertawa kecil mendengar perkataan Puspa itu. Lalu katanya, “Karena Puspa terlihat kotor dan pakaiannya seperti penjahat.”


“Hah? Apa benar Puspa kotor dan bajunya seperti penjahat?” tanya Puspa lalu melihat dirinya sendiri.


“Iya, Puspa harus mandi dan ganti pakaian cantik. Percuma jika Puspa cantik, tapi baju dan pupurnya menyeramkan,” kata Tirana mencoba membujuk.


“Oh begitu ya. Jadi Puspa terlihat seram ya?” kata Puspa seolah baru mengerti.


“Mereka akan melepaskan Puspa, tetapi Puspa harus berjanji tidak akan marah karena menangkap Puspa,” kata Tirana.


“Baik, tapi Puspa minta makanan enak,” kata Puspa.


“Baik,” kata Tirana seraya tersenyum.


Jenderal Jailing dan Zhao Lii serta para prajurit yang ada tidak mengerti sedikit pun apa yang dipercakapkan oleh kedua wanita itu.


Tirana lalu beralih kepada Jenderal Jiliang, “Lepaskan Puspa.”


“Lepaskan!” perintah Jenderal Jiliang kepada Ho Mo.


Dug! Bruakr!


“Hihihi...!”


Crek! Crek! Tak!


Belum lagi Ho Mo mendatangi Puspa dengan kuncinya, dan ketika para prajurit menarik ujung pedangnya dari dekat tengkuk Puspa, satu kaki Puspa menghentak ke lantai papan.


Maka, dari hentakan itu menyebar gelombang tenaga dalam yang mementalkan Ho Mo dan keenam prajurit. Serangan Puspa itu membuatnya tertawa sendiri berkepanjangan.


Jenderal Jailing dan putrinya hanya terkejut di tempat. Keduanya lebih terkejut lagi ketika melihat kedua telapak tangan Puspa dan kuku-kuku panjangnya menyala kuning membara. Dengan mudahnya Puspa memutus rantai-rantai besi besar yang berubah lunak terkena panas genggamannya. Demikian pula borgol yang terbuat dari besi yang tebal. Setelah digenggam sejenak, lalu dipatahkan dengan mudah. Demikian pula dengan borgol di kedua kakinya.


“Awas kalau berani menangkap Puspa lagi!” bentak Puspa kepada para prajurit yang berubah panik ketakutan melihat aksi Puspa yang menyeramkan.


Ho Mo dan para prajurit yang sudah berdiri jadi bergerak mundur ketakutan.


“Kurang ajar!” maki Puspa sambil menyepak rantai yang tercecer di lantai. Tangannya masih menyala kuning membara. Ilmu itu bernama Genggam Inti Bumi.


“Ak!” Jenderal Jiliang memekik tertahan.


“Ayah!” jerit Zhao Lii juga.

__ADS_1


Begitu cepat Puspa bergerak. Tahu-tahu ia sudah mencengkeram dada baju Jenderal Jiliang. Namun, cengkeraman itu gagal karena kain baju sang jenderal hangus seketika tanpa api. Satu kuku panjang Puspa yang menyala kuning berada dekat dengan leher Jenderal Jiliang. Rasa panasnya yang kuat begitu terasa menyengat kulit.


“Siapkan aku daging enak!” kata Puspa seraya menatap tajam Jenderal Jiliang yang dihinggapi rasa ngeri juga. (RH)


__ADS_2