
*Pendekar Gila Mabuk (PGM)*
“Sungguh aku tidak menyangka jika Tiga Malaikat Kipas masih mau mengambil murid, dan itupun semuda dirimu, Pangeran,” kata Resi Tambak Boyo, setelah Joko Tenang menyampaikan pesan undangan gurunya kepada Resi Tambak Boyo. “Aku sebenarnya tidak mau berurusan dengan permasalahan dunia persilatan lagi, tetapi aku akan usahakan untuk hadir di Jurang Lolongan.”
“Pesan Guru sudah aku sampaikan kepada Resi. Sekarang aku ingin bertanya tentang Kadipaten Surosoh dan Gerombolan Kuda Biru. Awalnya kami berencana langsung pulang ke Kerajaan Sanggana Kecil, tetapi di perjalanan kami sempat menyelamatkan Arya Permana….”
“Ada apa dengan cucuku itu?” tanya Resi Tambak Boyo memotong perkataan Joko Tenang.
“Dia berurusan dengan orang-orang Gerombolan Kuda Biru dan terluka. Ketika kami membawanya pulang ke kediaman Adipati, kami diceritakan tentang ancaman Gerombolan Kuda Biru terhadap kadipaten. Namun, kami melihat ada kondisi yang aneh. Dan kami bertemu dengan tabib bernama Rakitanjamu yang membisikkan agar kami tidak mempercayai Adipati Tambak Ruso. Apakah Resi mempunyai penjelasan yang bisa kami lebih percaya? Sebab, kami menduga bahwa warga Kadipaten Surosoh dalam ancaman,” ujar Joko Tenang.
“Sebenarnya aku tidak tahu banyak tentang konflik yang terjadi di Kadipaten Surosoh. Aku hanya mendapat kabar dan pengetahuan bahwa Gerombolan Kuda Biru ingin menguasai Kadipaten Surosoh sehingga mereka memiliki sebuah wilayah. Namun, jika Kadipaten Surosoh dikuasai oleh mereka, tiga kadipaten lainnya akan terputus hubungan dengan pusat pemerintahan Kerajaan Baturaharja,” kata Resi Tambak Boyo.
“Adipati mengatakan, Gerombolan Kuda Biru sudah memberi peringatan bahwa mereka akan menyerang. Namun, aku melihat Adipati tidak melakukan apa-apa untuk mengamankan keberadaan warganya. Adipati hanya beralasan yang tidak masuk akal. Apakah Resi memiliki pengetahuan lebih tentang anak Resi sendiri?” kata Joko Tenang lagi.
Resi Tambak Boyo menarik napas dalam, lalu ia hembuskan dengan jelas.
“Sebenarnya seperti membuka aib sendiri kepada orang lain. Hal ini pun tidak pernah aku ceritakan kepada cucuku. Tambak Ruso memang berbeda. Dia tidak tidak sayang untuk mengorbankan orang lain demi kepentingannya. Aku memang tidak tahu, apakah dia memiliki rencana licik atau tidak dalam permasalahan Gerombolan Kuda Biru ini. Namun, jika kondisinya seperti yang kalian katakan, aku sebagai ayahnya rasanya memang patut curiga pula. Sebab beberapa kali di masa lalu, ia menunjukkan karakter yang jahat, bahkan nasihatku tidak ia gubris,” tutur Resi Tambak Boyo sedih.
“Maaf, Resi,” sela Getara Cinta. “Gerombolan Kuda Biru beranggotakan para pendekar berkesaktian. Jika mereka menyerang kadipaten, akan banyak korban tidak bersalah yang jatuh. Resi sebagai orang yang disaktikan dan dijunjung tinggi, apakah tidak melakukan sesuatu?”
“Justru aku yang seharusnya minta maaf kepada kalian semua. Aku terlambat dan kurang mendapat kabar perkembangan yang terjadi di kadipaten. Aku sudah tidak memikirkan berbagai permasalahan di Kadipaten, aku sepenuhnya mengabdikan diri hanya untuk menjaga tunas-tunas kekuasaan Kerajaan Baturaharja yang berguru di sini. Pihak Kerajaan lebih memiliki wewenang dan kuasa untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Biasanya Arya Permana rutin datang ke mari dan menceritakan segala yang terjadi di Kadipaten. Sudah sepekan ini dia tidak datang, mungkin karena orang-orang Kuda Biru menduduki Gerbang Hati Putih dan jalan hutan. Jadi, jika kalian melihat warga Kadipaten memang memerlukan bantuan, maka tolonglah mereka, Pangeran. Kau dan ketiga istrimu ini memiliki kesaktian yang lebih dari cukup,” tutur Resi Tambak Boyo.
“Kenapa Resi tidak bertindak terhadap mereka yang menguasai Gerbang Hati Putih?” tanya Joko Tenang lagi.
“Kami tidak mau berurusan dengan mereka. Apa jadinya jika kami berurusan dengan mereka? Nyawa anak-anak ini akan terancam. Orang-orang Kuda Biru pun tidak berani membuat urusan dengan kami, karenanya mereka hanya sampai di Gerbang Hati Putih. Jika mereka berani masuk lebih jauh, barulah kami akan melawan. Keberadaan mereka di Gerbang Hati Putih bertujuan memutus hubungan antara Padepokan dengan Kadipaten. Sebenarnya di Kadipaten ada orang sakti, yaitu Tabib Teguk Getir….”
“Tabib Teguk Getir?” sebut ulang Joko Tenang. Nama Tabib Teguk Getir adalah salah satu yang tercantum dalam daftar undangan pertemuan Jurang Lolongan.
“Bukankah kau tadi menyebutkan nama Tabib Rakitanjamu? Dia adalah Tabib Teguk Getir. Hanya, sudah lama dia memilih menjadi tabib biasa. Jika hanya sekelompok kecil gerombolan, aku rasa dia pun bisa membasmi Kuda Biru,” kata Resi Tambak Boyo.
__ADS_1
“Bukan sekelompok kecil, Resi, tapi puluhan pendekar,” ralat Getara Cinta.
“Puluhan pendekar? Itu kekuatan yang menakutkan,” kata Resi Tambak Boyo.
“Pantas, ketika aku membantunya saat jatuh, aku merasakan kesaktiannya yang tersembunyi,” kata Tirana.
Dari luar pendapa datang seorang lelaki berpakaian putih. Setibanya di pertemuan, lelaki muda itu menjura hormat kepada Resi Tambak Boyo dengan berlutut.
“Lapor, Guru,” ucap pemuda itu lembut. “Di Gerbang Tiga Kain ada seorang pendekar yang ingin bertemu dengan pendekar berbibir merah. Nama orang itu adalah Reksa Dipa.”
Resi Tambak Boyo tidak langsung menanggapi laporan itu, tetapi ia memandang kepada Joko Tenang, meminta tanggapan.
“Aku tidak mengenal orang yang bernama Reksa Dipa,” ujar Joko Tenang.
“Apakah orang itu membuat kekasaran?” tanya Resi Tambak Boyo.
“Tidak, Guru,” jawab pemuda penjaga gerbang itu.
“Baik, Guru.”
Pemuda pelapor itu kembali menjura hormat, lalu bangkit pergi.
“Jadi apa rencana kalian setelah meninggalkan padepokan ini, Pangeran?” tanya Resi Tambak Boyo kepada Joko Tenang.
“Kami akan kembali ke Kadipaten dan menunggu gerombolan itu melaksanakan ancamannya, tanpa bekerja sama dengan Adipati. Adipati begitu mencurigakan,” jawab Joko Tenang.
“Aku tidak meragukan Pangeran sebagai murid Ki Ageng Kunsa Pari dan Tiga Malaikat Kipas. Aku pun tidak meragukan penguasa Rimba Berbatu dan murid Dewi Mata Hati. Namun, aku belum pernah mendengar tentang Kerajaan Sanggana Kecil,” ujar Resi Tambak Boyo yang secara tidak langsung minta penjelasan.
“Izinkan aku yang menjawabnya, Resi,” kata Tirana.
__ADS_1
Resi Tambak Boyo mengangguk.
“Aku adalah seorang prajurit khusus yang diperintahkan oleh Gusti Mulia Raja Anjas Perjana Langit, Raja Kerajaan Sanggana dan cucu dari Dewa Kematian….”
Resi Tambak Boyo tampak terkesiap mendengar nama Dewa Kematian disebut oleh Tirana. Namun, Gadis Penjaga itu terus saja berbicara menjelaskan.
“Untuk menjadi istri dan penjaga Pangeran Dira. Kerajaan Sanggana yang dirajai oleh ayah Pangeran Dira berada di tengah Hutan Urat Dewa. Kerajaan Sanggana adalah kerajaan kecil tetapi memiliki bala tentara yang sangat kuat. Kerajaan kami sangat tersembunyi dari dunia luar. Kerajaan Sanggana Kecil adalah kerajaan kecil yang diberikan oleh Raja Sanggana untuk Pangeran Dira, letaknya ada di utara Gunung Prabu. Ada kemungkinan bahwa Pangeran Dira akan menjadi raja di sana,” jelas Tirana.
Joko Tenang jadi menengok memandang istrinya itu saat disebutkan tentang “menjadi raja”. Tirana hanya tersenyum manis kepada suaminya.
“Jika aku menjadi raja di sana, lalu siapa yang akan menjadi permaisuriku?” tanya Joko Tenang.
“Kita sudah punya ratu, Kakang,” jawab Tirana enteng. Lalu tersenyum kepada Getara Cinta di sisinya.
“Kau tidak bisa memutuskan sendiri seperti itu, Tirana!” protes Getara Cinta. “Kau lebih berhak karena kau adalah panglima para istri. Jangan kau lupakan Putri You Kai, istri pertama Kakang. Atau Sukma, cinta pertama Kakang. Atau Dewi Mata Hati yang lebih pantas.”
Kembali melebar lingkar mata Resi Tambak Boyo mendengar nama Dewi Mata Hati masuk dalam deretan nama istri Joko Tenang.
“Maafkan aku, Pangeran. Tadi barusan Ratu Rimba Berbatu menyebut nama Dewi Mata Hati. Apakah dia juga termasuk istri Pangeran?” tanya Resi Tambak Boyo bernada hati-hati.
“Benar, Resi. Aku dan guruku adalah sama-sama istri Kakang Joko. Kami semua memiliki alasan yang sangat penting sehingga Guru harus menjadi istri Kakang Joko.” Kali ini Kerling Sukma yang berbicara.
“Memang terkesan tidak pantas. Aku harap Resi bisa memakluminya, karena tidak mungkin aku menceritakan hal yang sifatnya sangat rahasia,” kata Joko Tenang pula.
“Baik, aku mengerti,” ucap Resi Tambak Boyo tersenyum seraya manggut-manggut.
Dari arah jalan gerbang yang tampak remang-remang oleh malam yang baru membelai, berjalan pemuda penjaga gerbang utama bersama seorang pemuda berpakaian gelap.
Melihat Resi Tambak Boyo memandang ke luar pendapa agak jauh, Joko Tenang dan para istri jadi menengok bersama.
__ADS_1
Joko Tenang dan ketiga istrinya menjadi heran melihat kedatangan pemuda berjubah hitam yang beberapa waktu lalu mereka kalahkan di Gerbang Hati Putih. Orang itu adalah Reksa Dipa, salah satu anggota Gerombolan Kuda Biru yang dibiarkan hidup oleh Joko Tenang. (RH)