Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
155. Empat Penghadang Asing


__ADS_3

 *Cincin Darah Suci*


Pasukan Negeri Ci Cin yang dipimpin oleh orang sakti baru, Pangeran Baijin, menjadi pasukan penakluk.


Awalnya pasukan Ci Cin berniat melalui wilayah Negeri Lor We dengan damai. Namun, karena di perbatasan kota Taele mereka tidak diberi jalan dan dipaksa perang, maka pasukan Ci Cin berubah rencana. Semua wilayah Negeri Lor We mereka taklukkan dengan mudah dan menjadi kekuasaan mereka.


Kota demi kota milik Negeri Lor We ditaklukkan tanpa ada perlawanan berarti. Perlawanan terberat hanya terjadi di perbatasan kota Taele saja, dan itupun menjadi kota pertama yang takluk dengan menewaskan Jenderal Zhao Jiliang.


Menjadi orang sakti tidak terkalahkan membuat Pangeran Baijin semakin angkuh. Namun, dia tidak mau menjadi orang yang terlalu kejam. Setiap desa atau kota yang ditaklukkan, asal memilih menyerah, maka warganya tidak akan dibunuh.


Target utama Pangeran Baijin adalah menjebol benteng perbatasan timur Negeri Jang di kota Wuyung.


Amarah dan dendam berkobar tinggi di dalam dada Pangeran Baijin, terlebih mendengar kabar bahwa adiknya, Pangeran Bairin yang menyamar sebagai Bangsawan Sushan, telah dibunuh.


Pangeran Baijin tidak berniat membawa pasukannya untuk pergi ke We, ibu kota Negeri Lor We. Jika itu dilakukan, perjalanan mereka akan memutar bertambah jauh dan akan memakan waktu lagi.


Meski demikian, perang dengan pasukan Negeri Lor We tampaknya tidak bisa dihindari. Pasalnya, Kaisar Young Yeng mengirim pasukan besar ke perbatasan kota Mago untuk menghadang laju pasukan Negeri Ci Cin menuju perbatasan Negeri Jang. Kaisar Long Tsaw dan Kaisar Young Yeng adalah sekutu erat.


Pagi itu, seorang prajurit pengintai melesat cepat bersama kudanya, mendatangi kamp peristirahatan yang sedang berbenah untuk melanjutkan perjalanan.


“Lapor, Yang Mulia Pangeran! Pasukan Lor We sudah membangun pertahanan di balik bukit!” lapor prajurit pengintai itu kepada Pangeran Baijin.


“Terus intai pasukan Lor We!” perintah Pangeran Baijin.


“Baik, Yang Mulia Pangeran!” ucap prajurit itu patuh.


“Percepat persiapan pasukan! Kita akan luluh lantakkan pasukan Lor We!” perintah Pangeran Baijin kepada empat jenderalnya.


“Baik, Yang Mulia!” jawab keempat jenderal.


Tidak berapa lama, seluruh pasukan telah siap berangkat. Mereka harus memutari kaki bukit yang ada cukup jauh di depan sana. Setelah itu, mereka akan berhadapan langsung dengan pasukan Lor We di medan perang terbuka tanpa benteng kota.


Meski jumlah pasukannya berkurang sekitar dua ribu orang, tetapi pasukan ini juga bertambah lima ribu prajurit baru yang berasal dari prajurit Lor We yang dipaksa bergabung. Jadi, kekuatan pasukan Ci Cin kini sebanyak 43.000 orang.


Ketika pasukan besar itu mulai mendekati kaki bukit, jenderal yang berkuda di barisan paling depan memberi tanda agar pasukan berhenti. Ada yang aneh.


Seorang prajurit diperintahkan untuk melapor kepada Pangeran Baijin.

__ADS_1


“Kenapa berhenti?” tanya Pangeran Baijin lebih dulu.


“Ada empat orang yang menghadang di depan, Yang Mulia!” lapor prajurit itu, setelah turun dari kudanya dan menghormat.


“Hanya empat orang? Di mana pasukan mereka?” tanya Pangeran Baijin heran.


“Tidak ada, Yang Mulia. Tapi mereka tidak berpakaian perang, Yang Mulia!”


“Empat orang berani menghadang rombongan pasukan yang tidak terkalahkan. Mereka pasti ingin menjebak kita. Kirim satu pasukan dan tangkap mereka. Jika mereka kabur, jangan dikejar!”


“Baik, Yang Mulia Pangeran,” jawab prajurit itu patuh.


Si prajurit segera kembali ke depan bersama kudanya. Ia melapor apa yang diperintahkan oleh Pangeran Baijin kepada sang jenderal.


“Komandan Se Deng, tangkap keempat orang itu!” perintah Jenderal Qo Liong.


“Baik, Jenderal!” sahut Komandan Se Deng.


Komandan Se Deng segera membawa pasukan pejalan kaki satu pleton sejumlah lima puluh orang. Sementara ia berkuda.


Pangeran Baijin dan pasukannya hanya menyaksikan dari jauh. Mereka melihat akhirnya Komandan Se Deng dan pasukannya tiba ke posisi keempat penghadang yang adalah Joko Tenang, Tirana, Puspa, dan Su Ntai.


Namun tidak berapa lama, mereka hanya bisa terkejut saat melihat Komandan Se Deng dan pasukannya berterbangan ke udara, seiring mengabutnya debu dan pasir ke udara. Selanjutnya, pasukan itu tidak bisa bangun lagi selain hanya menggeliat di tanah pasir.


“Apa-apaan ini?” tanya Jenderal Qong Liong kepada dirinya sendiri. Lalu teriaknya, “Pasukan berkuda, serang!”


Sebanyak dua puluh pasukan berkuda segera bergerak dari tempatnya. Pasukan itu berlari kencang dengan senjata pedang di tangan. Pasukan berkuda itu dengan cepat tiba di posisi keempat menghadang. Kuda-kuda itu tidak berhenti, tetapi terus berlari kencang bermaksud menabrak para penghadangnya.


Lagi-lagi Pangeran Baiji dan pasukannya harus terkejut. Pasukan kuda itu kembali berpentalan tidak karuan. Mereka melihat kuda-kuda yang terpental kembali bangun lalu berlari tanpa mengerti arah tujuan. Sementara semua prajurit berkuda itu terkapar tidak berdaya karena mereka dilempar ke udara lalu jatuh terbanting keras ke tanah.


Debu tebal membumbung kembali menciptakan tabir bagi pandangan pasukan Ci Cin.


Tiba-tiba dari balik tabir debu yang mengangkasa keluar berlari empat kuda menuju ke arah pasukan besar Ci Cin berada.


“Pasukan panah!” teriak Jenderal Qong Liong.


Pasukan panah segera bergerak mengambil posisi dan siap melepas anak panahnya.

__ADS_1


“Biarkan mereka datang!” seru Pangeran Baijin.


“Tahan!” seru Jenderal Qong Liong.


Pasukan panah pun menahan senjata mereka.


Maka keempat kuda yang ditunggangi oleh Joko dan kawan-kawan itu dibiarkan datang mendekat.


Joko Tenang, Tirana, Puspa dan Su Ntai menarik tali kekang kudanya tepat beberapa tombak di depan kuda Jenderal Qong Liong. Kini mereka berhenti memandang Jenderal Qong Liong.


Kemunculan keempatnya di daerah itu berdasarkan tuntunan ilmu Gerbang Tanpa Batas milik Puspa. Ilmu itu bisa membawa seseorang ke lokasi orang atau benda yang pemilik ilmu cari. Karenanya, Tirana dan Puspa dengan mudah sampai ke lokasi Joko Tenang berada saat bertarung di pelataran Istana Naga Langit. Kali ini pun, mereka dengan mudah sampai ke tempat Permata Darah Suci yang mereka cari, meski mereka tidak tahu wujud dan di mana benda sakti itu berada.


Karena mereka kemudian muncul di jalan yang akan dilalui oleh sebuah pasukan besar dengan jumlah yang sangat banyak, Joko dan Tirana kemudian berkeyakinan bahwa Permata Dara Suci pasti dimiliki oleh salah satu perwira dari pasukan itu.


Pangeran Baijin memerintah kusir kereta perangnya untuk bergerak lebih ke depan lagi. Ia ingin melihat lebih jelas orang-orang yang nekat membuat urusan dengannya. Sala A Jin berkuda mendampingi junjungannya.


Pangeran Baijin tersenyum senang saat melihat kejelitaan yang dimiliki dua dari tiga wajah asing penunggang berkuda itu. Sementara wajah Su Ntai masih wajah serumpun dengan mata yang sipit.


“Begitu cantik,” ucapnya lirih kepada dirinya sendiri, mengagumi kecantikan Tirana dan Puspa.


Sementara itu, Jenderal Qong Liong memberi tanda dengan angkatan tangan kanannya.


Breg breg breg!


Ribuan pasukan yang ada di barisan depan segera bergerak cepat melakukan formasi. Joko Tenang, Tirana, Puspa, dan Su Ntai hanya memerhatikan pergerakan pasukan yang tersusun rapi tapi mengerikan.


Pasukan itu bergerak dua arah seperti dua garis yang kemudian saling bertemu, menciptakan pola lingkaran kosong yang luas yang dipagari oleh pagar betis para prajurit.


Kini Joko Tenang, Tirana, Puspa, dan Su Ntai dikurung oleh lautan prajurit bersenjata. Tampak hanya Su Ntai yang memperlihatkan wajah panik dan berkeringat. Ia tetap takut, meski Joko dan Tirana telah meyakinkannya bahwa mereka akan baik-baik saja.


Sementara puluhan ribu pasukan lainnya masih berbaris agak jauh di belakang. Mereka tidak ikut membuat kepungan. (RH)


*******


TERIMA KASIH kepada seluruh READERS yang sudah setia dan AUTHORS sahabat yang sudah mendukung karya OM RUDI.


Sebentar lagi season "Cincin Darah Suci" akan berakhir dan masuk ke season "DESA WONGAWET" yang akan disinkat "Dewo".

__ADS_1


__ADS_2