
*Cincin Darah Suci*
Terkejut para prajurit melihat komandan mereka tampak kalah.
“Aaak...!” Kali ini Komandan Hei Xiong menjerit berusaha melawan ilmu Naga Lapar milik Zo Ro.
Tubuh Komandan Hei Xiong mengeluarkan sinar kuning, berusaha melawan lilitan sinar berbentuk ular naga merah itu. Namun, tampak kepala sinar naga sudah berdiri di atas kepala Komandan Hei Xiong.
Kross!
Ketika Zo Ro membuka tinjunya, kepala sinar naga itu menerkam kepala Komandan Hei Xiong.
Hasilnya mengerikan. Kepala dan wajah Komandan Hei Xiong meleleh seperti terkena api panas yang dahsyat.
Selanjutnya, Zo Ro menarik ilmunya. Sinar naga itu tertarik masuk kembali ke dalam tubuh Zo Ro. Sementara Komandan Hei Xiong tumbang tanpa nyawa lagi. Gugur sudah Komandan Pasukan Naga Merah Utara.
“Komandan Hei Xiong!” teriak para prajurit terkejut.
“Panah!” seorang pemimpin prajurit panah berteriak.
Sebarisan prajurit panah segera melepaskan anak panahnya dari busur, menargetkan Pendekar Seribu Naga.
“Hiah!” teriak Zo Ro sambil menghentakkan kedua lengannya di sisi paha.
Semua anak panah yang melesat menghujani tubuhnya, harus berpentalan saat tinggal sehasta dari kulitnya.
West!
Zo Ro mengibaskan kedua tangannya ke dua arah yang berlawanan. Maka dua angin tajam melesat ke dua arah. Memotong tubuh sejumlah prajurit di dua tempat.
Setelah itu, Zo Ro berkelebat naik ke atas atap rumah lalu melesat pergi meninggal para prajurit yang tersisa.
Cuss! Ctar!
Seorang pemimpin prajurit yang masih hidup segera melesatkan suar merah ke angkasa, ke arah kepergian Zo Ro.
Dum dum dum, drum dum...!
Penjaga menara pengawas di utara Ibu Kota segera menabuh genderang yang hanya bisa dimengerti oleh para komandan, jenderal, dan pejabat Negeri Jang.
Pesan yang disampaikan oleh menara pengawas adalah “pembunuh menuju ke Ibu Kota bagian tengah”.
Pasukan Naga Merah Tengah yang dikomandoi Komandan Bu Ruong bergerak secara besar-besaran untuk menemukan orang yang sudah mengacaukan utara Ibu Kota.
Beberapa saat sebelumnya.
Putri Yuo Kai dan Joko Tenang berjalan berdampingan dengan tetap jaga jarak. Di belakang mereka berjalan Su Mai dan Bo Fei.
Mereka baru saja berpamitan kepada Kaisar dan Permaisuri.
“Apakah Yang Mulia yakin tidak ingin menurunkan Pengawal Angsa Merah?” tanya Bo Fei dari belakang.
“Tidak. Kali ini pun kau tidak perlu ikut. Cukup Joko yang melindungiku,” jawab Putri Yuo Kai.
__ADS_1
Su Mai menerjemahkan untuk Joko percakapan putri dan pengawalnya.
“Kau pun tidak usah ikut, Su Mai,” kata Joko kepada Su Mai.
“Aku akan menyusulmu, Pendekar,” kata Su Mai.
“Baiklah,” kata Joko.
“Jangan menunda waktu lagi, Yang Mulia!” tandas Joko, yang kemudian diterjemahkan oleh Su Mai.
“Ayo!” kata Putri Yuo Kai lalu melesat terbang.
Joko Tenang pun segera melesat pergi.
Seperti sepasang burung yang sedang ingin terbang jauh, Putri Yuo Kai dan Joko Tenang melesat berdampingan, dari satu bangungan ke bangunan yang lain. Hingga akhirnya mereka keluar dari tembok Istana.
Mereka langsung menuju ke utara Ibu Kota.
Ketika Zo Ro baru saja pergi meninggalkan para prajurit yang dibunuhinya, baru tibalah Joko Tenang bersama Putri Yuo Kai.
“Sudah tiga komandan yang gugur,” gumam Putri Yuo Kai.
Cuss! Ctar!
Kembali satu suar berwarna merah meledak di udara, tepatnya di atas Jalan Liong Sue, jalan utama Ibu Kota yang langsung terhubung ke gerbang Istana.
Dum dum dum, drum dum...!
Prajurit menara pengawas di pusat Ibu Kota segera menabuh genderang dan memberi pesan sandi kepada menara pengawas di Istana.
Pedang Komandan Bu Ruong sudah terhunus. Tatapannya juga tajam. Ia sadar, pendekar yang di hadapannya itu bukan level biasa. Terbukti dia dengan mudah lolos dari Komandan Hei Xiong dan Pasukan Naga Merah Utara.
“Komandan Bu Ruong!” panggil satu suara perempuan yang mengejutkan sang komandan dan Zo Ro.
Keduanya dan para prajurit seketika alihkan pandangan ke kiri atas. Di atas atap sebuah toko kain berdiri sosok Putri Yuo Kai dengan anggun dibelai hembusan angin Ibu Kota.
“Dia bukan lawanmu. Aku tidak mau kehilangan satu komandan lagi!” seru Putri Yuo Kai.
West!
Melihat siapa yang muncul, Zo Ro langsung mengirimkan lengkungan angin tajam kepada Putri Yuo Kai.
Clap!
Putri Yuo Kai bergeming.
Tiba-tiba saja sosok Joko Tenang muncul seperti setan, berdiri sejangkauan di depan sang putri. Joko yang berdiri menghadap Putri Yuo Kai membiarkan punggungnya terkena angin tajam kiriman Zo Ro.
Sebelum tenaganya melemah, Joko Tenang tersenyum kepada calon istrinya lalu berkelebat mundur. Putri Yuo Kai hanya tersenyum melihat gaya Joko.
Zo Ro terbelalak bukan main. Ilmu Pedang Angin-nya tidak berefek sedikit pun pada punggung Joko yang dilapisi Rompi Api Emas.
Kini Joko Tenang berdiri menghadap kepada Zo Ro. Sementara Komandan Bu Ruong telah mundur ke depan pasukannya.
__ADS_1
Kehebatan Joko Tenang dalam menerima Pedang Angin membuat Zo Ro harus lebih waspada.
“Mulai!” seru Joko Tenang pelan lalu melesat ke depan.
Pukulan dan tendangan bertenaga dalam ringan Joko lancarkan terhadap Zo Ro. Dengan mudah Pendekar Seribu Naga mementahkan semua serangan Joko.
Babak!
Namun tiba-tiba, Joko Tenang menaikkan ritme serangannya beberapa kali lipat. Tahu-tahu dua pukulan telapak tangannya mendarat beruntun seper sekian detik di dada Zo Ro.
Zo Ro terdorong beberapa langkah ke belakang. Ia terkejut mengetahui lawannya punya gerakan secepat setan.
Zo Ro memilih mundur. Ia tidak mau main-main atau setengah-setengah menghadapi lelaki bertampang asing di depannya.
Tindakan mundur untuk terus melanjutkan pertarungan, biasanya adalah gelagat akan mengeluarkan ilmu andalan. Dan dugaan Joko itu benar.
“Heaaat!” teriak Zo Ro sambil menghentakkan kedua lengannya ke kanan dan ke kiri.
Aaoorr!
Tiba-tiba dari kedua lengan Zo Ro keluar dua sinar merah berwujud ular naga. Dari kepalanya juga keluar satu sinar berwujud naga merah. Ia siap mengerahkan ilmu Tiga Naga Api yang sulit dihindari oleh lawan.
Joko Tenang diam berdiri menunggu.
“Haaa!” teriak Zo Ro seiring hentakan tenaganya.
Zoarrrsss!
Ketiga sinar berwujud naga merah itu lalu melesat bersamaan dengan cepat dan liar. Hanya satu sasarannya, yaitu Joko Tenang.
Wuss!
Liukan ketiga sinar naga yang liar itu akan sulit untuk diterka. Karenanya, Joko Tenang menghajar ilmu Tiga Naga Api dengan angin panas Langit Membakar Bumi.
Tidak seperti kala menghadapi Putri Yuo Kai di Lapangan Kaisar tadi pagi, kali ini Joko Tenang melepaskan angin Langit Membakar Bumi dengan kekuatan penuh.
Hasilnya, serangkum angin dahsyat panas menderu mengerikan, melahap musnah ketiga sinar berwujud ular naga di udara. Tanah dan sisi bangunan yang dibelai angin tersebut seketika terbakar api seiring mengalami kerusakan parah.
“Aaa!” jerit Zo Ro yang tidak bisa menghindari angin panas Joko Tenang. Tubuhnya diselimuti kobaran api. Ia bingung cara memadamkan api itu.
Selain merusak dan membakar, ilmu Langit Membakar Bumi memiliki kelebihan melahap hancur ilmu yang dilepaskan lawan. Suhu panasnya yang sangat tinggi membuat orang sakti pun sulit mengatasi apinya.
Bak!
Sebagai eksekusi akhir, Joko Tenang melepaskan Pukulan Tapak Kucing. Inipun dilepaskan dengan tenaga penuh, sehingga dada Zo Ro langsung jebol.
Zo Ro terloncat ke belakang dengan nyawa langsung melayang. Kondisi fisiknya masih terus dilalap api hingga hangus tidak bisa dikenali lagi wajahnya
Putri Yuo Kai hanya bisa terperangah melihat efek kerusakan yang ditimbulkan angin pukulan milik Joko. Ia jadi tersadar bahwa ketika Joko melepaskan angin yang sama kepadanya tadi pagi, angin itu hanya berkekuatan rendah.
Setelah pertarungan benar-benar sudah berhenti, Komandan Bu Ruong segera berteriak kepada pasukannya, “Padamkan api!”
Para prajurit segera bertindak untuk memadamkan api agar tidak tambah merugikan pemilik usaha dan bangunan.
__ADS_1
Lautan api di jalanan sudah padam.
Joko Tenang berkelebat naik ke atas atap dan berdiri empat langkah dari sang putri. Di bawah sana, Bo Fei dan Su Mai baru tiba. (RH)