
*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*
Akhirnya Ginari bisa merasakan tenaganya kembali, setelah ia memakan cukup banyak jambu air muda.
Ia lalu memutuskan melesat terbang ke arah pintu belakang kediaman adipati. Dua orang Kelompok Pedang Angin yang berjaga terkejut.
Buks! Buks!
Namun, sebelum keduanya mencabut pedangnya, dua tenaga jarak jauh dari Tinju Menembus Gunung sudah menghancurkan kerangka dada mereka.
Ginari mendarat di depan pintu yang tertutup.
Klek!
Brakr!
Tiba-tiba terdengar ada suara di pintu yang tertutup.
Namun, belum lagi pintu kayu itu dibuka dari dalam, Ginari kembali melepaskan Tinju Menembus Gunung. Pintu itu hancur berantakan bersama beberapa orang berseragam cokelat putih terpentalan.
Dua orang tewas seketika terkena langsung tenaga tinju yang tinggi. Sementara dua yang lainnya berusaha bangun dalam keadaan terluka terkena pecahan kayu pintu. Namun, cepat Ginari bergerak menghajar mati keduanya.
“Ginari!” panggil satu suara tiba-tiba.
Ginari cepat menengok. Di dalam sebuah kamar kecil berjeruji yang ada di belakang rumah itu, seorang lelaki terlihat sedang dalam belenggu rantai. Pemuda tampan itu tidak lain adalah Hujabayat.
Jika Hujabayat tidak berdaya dalam belengguan, berarti membukanya harus pakai kunci. Sejenak Ginari mencari dengan mata, apakah ada kunci pada tubuh keempat lelaki berpedang yang sudah dibunuhnya barusan.
Ketemu. Di salah satu pinggang lelaki berbaju cokelat ada sekumpulan kunci menggantung.
Belum lagi Ginari bergerak untuk mengambilnya, dari samping bangunan tiba-tiba muncul sekelompok lelaki berpedang berseragam serupa.
“Serang!”teriak seorang di antaranya memberi komando.
Dua orang berkelebat dengan tubuh berputar seperti gangsing. Ginari sudah pernah melihat tekhnik serang pedang seperti itu. Tekhnik itulah yang banyak memotong-motong tubuh para prajurit Kerajaan Tabir Angin.
Ginari tidak mau menganggap enteng jurus pedang yang bernama Putaran Pedang Angin itu. Ia melejit naik ke udara. Sementara dua putaran tubuh lawannya menciptakan beberapa goresan dalam pada dinding belakang rumah adipati. Meski ujung pedang mereka tidak menyentuh dinding rumah, tetapi anginnya hingga sejauh satu depa berubah setajam pedang.
Wuss! Buks buks!
Ginari melepaskan angin pukulan kepada sejumlah lelaki berpedang lainnya hingga mereka terhempas semua menghantam tembok pagar.
Tubuh Ginari mengambang di udara, tidak turun lagi. Dua lelaki yang tadi menyerang hanya terkejut melihat Ginari bisa mengambang di udara. Namun, tahu-tahu kepala mereka telah dihantam oleh pukulan Tinju Menembus Gunung. Keduanya tewas mengerikan.
__ADS_1
Ginari sudah mendengar suara kaki-kaki yang berlari ke arah tempat itu. Ia buru-buru turun dan mengambil kunci di pinggang mayat.
Set! Tek!
Ginari melesatkan kunci itu yang langsung masuk ke kamar penjara melalui sela-sela jeruji besi. Hujabayat bergerak cepat meliukkan badan atasnya, mencoba menangkap kunci itu dengan giginya.
Berhasil. Hujabayat berhasil menangkap kunci itu dengan mulutnya. Namun apes, ketika kunci itu Hujabayat lepehkan ke tangannya, ternyata mulutnya berdarah. Ia bisa merasakan satu gigi depannya tanggal.
Di luar sana, Ginari si Pendekar Tikus Langit telah terbang naik ke atas lalu berlari di atap.
Dari samping rumah muncul satu pasukan berpedang yang dipimpin langsung oleh Rajimin, Wakil Ketua Pedang Angin. Melihat kepergian Ginari ke atap, ia cepat berkelebat mengejar ke atap. Sementara pasukannya kembali berbalik untuk menghadang ke sisi depan.
Mendengar ada yang mengejar di belakang, Ginari berhenti. Ia berbalik sambil melepaskan Tinju Menembus Gunung.
Beng! Sruuukr!
Rajimin langsung memasang pedangnya yang masih bersarung di depan tubuhnya. Ginari mendelik melihat pukulan jarak jauh andalannya bisa ditangkis oleh Rajimin, biasanya ilmu perisai hebat pun bisa tembus. Namun, tetap saja pemuda itu harus terdorong ke belakang sehingga kakinya merusak susunan genteng atap.
Wuss!
Setelah itu, Rajimin meloloskan pedang bagusnya lalu melompat melesat ke depan dengan tubuh berputar seperti bor. Ginari cepat jatuh berlutut di atap dan merebahkan tubuh atasnya ke belakang serendah mungkin, membiarkan tubuh Rajimin lewat di atasnya seperti anak panah.
Ginari bangkit, lalu berbalik dan berkelebat dengan tendangan beruntun kepada Rajimin yang kembali siap dengan kuda-kudanya. Dengan gesit, Rajimin menangkis dan mengelaki tendangan beruntun Ginari. Ia pun harus hati-hati dalam melangkah, jangan sampai terpeleset di atap.
Clap!
Namun, tiba-tiba Ginari menghilang dari pandangan, mengejutkan Rajimin.
“Alamat buruk!” pikir Rajimin. Ia yakin, Ginari tidak pergi, tetapi ada di atap itu dan akan menyerang tiba-tiba.
Sess!
Untuk mengamankan dirinya, Rajimin melakukan serangan buta dengan jurus Putaran Pedang Angin. Ia melakukan lompatan di tempat sambil tubuhnya berputar seperti gangsing. Jurus itu memiliki jarak jangkau radius tiga depa.
Namun, Putaran Pedang Angin tidak terasa mengenai apa pun selain udara kosong.
Pak!
Tiba-tiba sosok Ginari muncul di udara dalam posisi terbalik, kepala di bawah dan kaki di atas. Posisinya tepat di atas kepala Rajimin. Satu telapak tangan Ginari bersinar kuning menapak ubun-ubun Rajimin.
Rajimin yang tidak bisa mengelak, hanya bisa mencoba bertahan dengan mengerahkan tenaga dalamnya habis-habisan.
“Aaarrg!” pekik Rajimin yang berusaha menahan ilmu Tapak Purnama Merah Ginari.
__ADS_1
Set! Brool!
Rajimin yang nyaris tidak kuat, cepat kelebatkan pedangnya untuk menebas tubuh Ginari yang berdiri terbalik di atas kepalanya.
Ginari menolakkan telapak tangan kanannya, yang artinya memberikan tekanan maksimal kepada kepada Rajimin. Atap yang dipijak Rajimin ambrol, sementara tubuh Ginari melenting cepat mengelaki tebasan pedang yang turut terbawa jatuh.
Di lantai bawah, Rajimin terkapar dengan darah memenuhi mulut, hidung, lubang telinga dan sepasang matanya. Beberapa saat kemudian, Rajimin menghembuskan napas terakhirnya.
Rajimin mati tepat di depan kaki Arjuna Tandang, yang sejak tadi hanya mendengarkan suara pertrungan di atas atap tanpa mengambil tindakan.
Melihat kematian orang terhebatnya, Arjuna Tandang dilanda amarah. Ia lalu melengkahi mayat Rajimin dan melangkah keluar.
Di halaman depan, ratusan orang Kelompok Pedang Angin telah membentuk formasi menunggu musuh siap bertarung. Dari bawah mereka menyaksikan pertarungan antara Ginari dan Rajimin.
Ketika Ginari berkelebat hendak turun ke halaman, beberapa lelaki berseragam cokelat segera berlompatan ke udara menyambut dengan jurus Putaran Pedang Angin. Jarak mereka terukur agar ketika jurus itu dilakukan tidak makan teman sendiri.
Wuss!
Namun, beberapa lelaki itu harus terkejut, Ginari yang berkelebat di udara bisa melesat mundur, padahal tidak ada tempat untuk pijakan bertolak. Saat melesat mundur itu, Ginari melepaskan serangkum angin pukulan maut. Keempat lelaki yang menyerang di udara tadi, seketika terhempas jauh dan jatuh berserakan di tanah halaman di antara kaki-kaki rekannya.
Setelah itu, Ginari melesat maju ke arah barisan Kelompok Pedang Angin. Namun, saat di tengah lesatannya, tiba-tiba tubuh Ginari menghilang dari pandangan semua orang.
Hal itu mengejutkan semua orang, membuat mereka jadi was-was. Mau menyerang pun percuma, mereka tidak bisa melihat lawan yang akan di serang.
Ilmu yang bernama Bermain di Alam Setan itu juga pernah membuat Joko Tenang kelabakan, saat Ginari menuding calon suaminya itu menodainya.
Sets sets sets....!
Tiba-tiba di udara bermunculan lesatan-lesatan sinar biru berbentuk jala, tetapi tidak terlihat sumber yang mengeluarkan sinar-sinar itu.
Sebanyak lima belas sinar biru berbentuk jala berlesatan, menjerat tubuh lima belas orang Kelompok Pedang Angin. Kelima belas orang itu bertumbangan dalam kondisi tubuh terikat kencang oleh sinar Jala Ringkus Penjahat. Jala itu hanya bisa dilepas oleh Ginari sendiri atau dengan tenaga dalam yang sangat tinggi.
Blar blar blar...!
Lagi-lagi ratusan orang Kelompok Pedang Angin itu dibuat kocar-kacir karena tiba-tiba sejumlah ledakan terjadi. Sejumlah pukulan jarak jauh bertenaga dalam tinggi berdatangan dari langit dan menghancurkan tanah-tanah di sekitar tempat mereka berdiri.
Lebih dua puluh orang berpedang harus berpentalan dalam kondisi nyawa sudah melayang.
Arjuna Tandang hanya bisa terperangah melihat sebagian pasukannya berantakan, menghadapi lawan yang tidak kasat mata.
“Kalian semua harus mati!”teriak seseorang tiba-tiba dari arah lain.
Pada saat itu pula, dari atas atap rumah berkelebatan sosok-sosok berbaju putih bercelana biru gelap. Orang-orang Kelompok Pedang Angin kembali dibuat terkejut melihat dua belas sosok yang memiliki wajah, perawakan dan pakaian yang sama persis, tetapi bergerak berbeda-beda.
__ADS_1
Itulah Hujabayat yang muncul dengan ilmu Lingkar Hantu-nya. (RH)