Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Assesa 2: Putri Serigala


__ADS_3

*Asmara Segel Sakti (Assesa)*


 


Selain lima serigala besar yang menghadang dan membubarkan keramaian pasar desa, yang menarik adalah keberadaan seorang wanita cantik bertubuh mungil yang duduk tenang di punggung serigala yang bernama Satria. Tubuhnya yang mungil membuat kecantikan parasnya yang jelita dan seputih susu pun serba mungil. Hidungnya mancung tapi mungil. Bibirnya mungil menggemaskan. Sepasang alisnya tipis tapi berambut tebal, membuat warna alisnya begitu hitam pada wajah yang seputih susu. Rambutnya lebat keriting mekar seolah menjadi jubah bagi tubuhnya yang mungil. Meski bertubuh mungil, tetapi ia memiliki bentuk dada yang besar, tetap proporsional jika dibandingkan dengan ukuran tubuhnya.


Namun, wanita mungil berpakaian kuning seperti mantel tebal itu memiliki sepasang mata yang tertutup layaknya orang yang sedang tertidur. Ia memiliki bulu mata yang lentik dan agak panjang. Di tangan kanannya terpegang sebuah tongkat kecil berwarna biru terang, yang pada bagian ujung atasnya ada selingkar tali merah yang melingkar menyatu pada pergelangan tangan.


“Turun, Satria!” perintah gadis mungil itu kepada tunggangan besarnya. Terdengar jenis suaranya yang serak-serak basah.


Maka Satria bergerak menekuk semua kakinya, membuatnya turun tengkurap di tanah jalanan.


“Hewan apa itu?” tanya Jaga Manta.


“Bukankan itu anjing, tapi hanya lebih besar?” terka Kerling Sukma.


“Aku baru kali ini melihat jenis anjing besar seperti ini. Jika melihat jenis bulunya yang tebal, hewan ini berasal dari daerah yang dingin,” kata Getara Cinta.


“Gadis mungil itu datang kepada kita,” kata Helai Sejengkal.


Gadis mungil berambut mekar mengembang itu memang sedang berjalan. Ia letakkan posisi ujung tongkat birunya yang runcing beberapa jengkal di depan langkah kakinya, tetapi tidak sampai menyentuh tanah.


“Ternyata dia buta,” kata Jaga Manta.


Mendengar hal itu, Getara Cinta jadi tergerak. Ia segera turun dari pedati dan melangkah cepat menghampiri langkah kedatangan si gadis mungil.


Tindakan Getara Cinta membuat Kerling Sukma cepat ikut turun. Ia pernah mendapat pelajaran moral dari gurunya jika bertemu dengan seorang buta. Terlebih ia memiliki guru yang juga buta.


Mendengar ada suara dua pasang langkah kaki yang mendekat, gadis mungil buta itu berhenti melangkah. Ia kembangkan senyum manisnya dengan wajah tetap lurus ke arah sang kuda.


“Nisanak!” tegur Getara Cinta lembut.


“Maafkan aku, Kakak. Aku tidak bermaksud membuat kekacauan di tempat ini,” ucap si gadis mungil santun. “Namaku Sandaria, julukanku Putri Serigala. Bisakah aku bertanya kepada kalian? Aku sedang mencari seorang pemuda sakti.”


“Tidak mengapa. Mereka hanya panik karena tidak pernah melihat binatang besar seperti yang bersamamu,” kata Getara Cinta.


“Hihihi!” Gadis bernama Sandaria itu tertawa kecil. Lalu katanya, “Maklumlah, aku seorang gadis yang lemah dan buta, jadi serigala-serigalaku wajib selalu mengawalku jika aku pergi. Maaf, apakah aku berbicara dengan seorang putri?”

__ADS_1


“Kenapa kau menerka seperti itu, Sandaria?” tanya Kerling Sukma, lembut pula.


“Harum tubuh Kakak seperti harum wanita-wanita kerajaan,” jawab Sandaria seraya tersenyum senang. Ia senang karena bertemu dengan dua wanita yang sepertinya baik.


“Aku hanya pernah tinggal sebentar di kerajaan, jadi aku memiliki wewangian racikan dari keluarga istana,” kata Getara Cinta.


“Apakah kau pernah tinggal di kerajaan?” tanya Kerling Sukma.


“Sama sepeti Kakak….”


“Getara Cinta,” kata Getara Cinta cepat memperkenalkan dirinya.


“Aku Kerling Sukma,” kata Kerling Sukma pula.


“Senang bisa berkenalan dengan kakak berdua yang baik hati. Ya, aku pernah tinggal di kerajaan, tapi hanya sebentar pula,” kata Sandaria.


“Apa yang bisa kami bantu?” tanya Getara Cinta.


“Aku mencari seorang pemuda sakti, tetapi aku tidak tahu siapa namanya. Sebab, pemuda itu akan menjadi suamiku kelak,” jawab Sandaria.


“Aku tidak pernah bertemu dengannya, terlebih aku buta. Namun, kata Malaikat Serba Tahu, pemuda itu sangat mudah dikenali. Pemuda itu memiliki bibir berwarna merah seperti memakai gincu.”


Mendeliklah sepasang mata Getara Cinta dan Kerling Sukma. Keduanya saling pandang tanpa kata.


Merasa tidak ada respon yang segera, Sandaria jadi merubah arah wajahnya jadi mengarah kepada Getara Cinta. Lalu tanyanya, “Ada apa? Apakah Kakak berdua mengenal pemuda berbibir merah itu?”


“Ya.” Getara Cinta dan Kerling Sukma menjawab bersamaan.


“Ah, senang rasanya pencarianku membuahkan hasil,” ucap Sandaria seraya tersenyum lebar.


“Orang yang kau cari bernama Joko Tenang,” kata Getara Cinta.


“Oh, Joko Tenang ya,” ucap Sandaria, masih tersenyum senang. Kebahagiaan terlihat jelas di raut wajahnya. “Apakah dia seorang yang baik?”


“Ya, Kakang Joko adalah pendekar sakti aliran putih dan murid tokoh sakti ternama,” jawab Getara Cinta lagi.


“Joko Tenang adalah calon suami kami,” kata Kerling Sukma pula.

__ADS_1


“Ah? Calon… suami?” tanya Sandaria dengan raut wajah yang seketika berubah terkejut. Senyumnya langsung hilang. Pertanyaannya menunjukkan seakan dia tidak percaya.


“Benar, Sandaria. Kakang Joko adalah calon suami kami. Kami berdua dan satu lagi calon istrinya yang lain akan menikah dengannya dalam beberapa hari ke depan,” tandas Getara Cinta.


“Hihihi! Aku rasa bukan pemuda itu yang aku cari,” tolak Sandaria sambil tertawa kecil. “Tapi kalian tidak mencandaiku, kan?”


“Tidak, Sayang,” jawab Getara Cinta. “Kakang Joko kami memang ditakdirkan memiliki delapan istri. Mungkin kau adalah salah satunya karena jumlah delapan itu masih kurang beberapa calon istri lagi.”


“Tidak. Aku yakin bukan Joko pemuda yang aku cari. Aku rasa pemuda berbibir merah yang lain,” bantah Sandaria.


“Kami tidak mengenal pemuda lain yang berbibir merah selain calon suami kami,” kata Kerling Sukma mencoba meyakinkan Sandaria.


“Selama ini aku belajar kesetiaan pasangan dari kehidupan serigalaku, setia dengan satu pasangan. Tidak mungkin aku menganut cara berpasangan yang lain,” kata Sandaria, merujuk kepada karakter serigala yang menganut paham monogami dalam hidupnya.


“Pikirkanlah. Jika suatu saat kau berubah pikiran, datanglah ke Perguruan Tiga Tapak untuk menghadiri pernikahan kami. Anggap saja kami mengundangmu, Sandaria,” ujar Kerling Sukma seraya tersenyum.


“Terima kasih atas kebaikan kalian berdua. Semoga pernikahan kalian berjalan lancar dan penuh kebahagiaan,” ucap Sandaria. “Aku izin pergi. Aku harus menyampaikan hal ini kepada nenekku.”


“Baiklah, Sandaria. Sampaikan salam kami kepada nenekmu,” kata Getara Cinta.


“Baik,” jawab Sandaria sambil tersenyum.


Sandaria lalu berbalik dan mulai melangkah pelan tapi stabil menuju ke posisi serigala besarnya yang masih tengkurap di tengah jalan.


Getara Cinta dan Kerling Sukma masih berdiri di tempatnya memandangi kepergian Sandaria yang membawa beban pertanyaan.


Setelah Sandaria naik ke punggung Satria, binatang hitam itu bergerak berdiri.


Cring cring cring!


Sandaria lalu menggerakkan kalung lonceng di leher Satria. Setelah tiga kali suara lonceng itu, sosok Sandaria dan kelima serigala besarnya menghilang seperti tertelan angin yang bertiup.


“Kakak Getara, apakah mungkin Sandaria adalah calon istri Kakang Joko berikutnya?” tanya Kerling Sukma sambil mengiringi Getara Cinta berjalan kembali ke pedati.


“Sangat mungkin. Segala sesuatu bisa saja terjadi di dunia ini, Sukma. Siapa yang menyangka, aku seorang ratu di sebuah hutan nan sepi bisa berjodoh dengan Kakang Joko? Siapa yang menyangka, Putri You Kai yang ada jauh di negeri seberang samudera kini sudah menjadi istri Kakang Joko? Dan siapa yang menyangka, seorang gadis yang dipastikan mati jatuh ke jurang kini akan menikah dengan Kakang Joko?”


“Hihihi…!” tertawalah Kerling Sukma mendengar penuturan Getara Cinta karena berujung pada dirinya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2