Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Assesa 10: Calon Pengantin Datang


__ADS_3

*Asmara Segel Sakti (Assesa)* 


“Apa?!” pekik Gatri Yandana dan Lili Angkir bersamaan. Mereka terkejut saat mendengar Kerling Sukma akan menikah dengan Joko Tenang, tetapi pada hari ketiga setelah Joko Tenang menikahi Tirana dan Getara Cinta.


Di balairung perguruan itu telah duduk serius dalam musyawarah Pendekar Seribu Tapak yang masih dalam kondisi terluka, Ketua Perguruan Tiga Tapak Jaga Manta, Kerling Sukma, Lili Angkir sebagai Ibu Pertama atau ibu kandung Jaga Manta, Gatri Yandana sebagai Ibu Kedua atau ibu kandung Kerling Sukma, Pangeran Arya Duduwani sebagai ayah tiri Jaga Manta, Obang Kenari, Nyi Lampingiwa, Getara Cinta, Helai Sejengkal, dan Tembas Rawa.


“Aku sangat setuju Sukma menikah dengan Joko Tenang, tetapi harus Sukma saja, tidak ada yang lain!” tandas Gatri Yandana.


“Bukankah Ibu dan Ibu Pertama juga berbagi suami?” kata Kerling Sukma lembut, berusaha membujuk.


“Bukan masalah berbagi suami yang ibumu permasalahkan, Sukma, tetapi masalah hakmu karena menikah di sini. Jadi harus kau yang pertama menikah dan hanya ada satu, tidak ada kedua dan ketiga,” jelas Lili Angkir mendukung mantan madunya.


“Maafkan aku, Kakak berdua,” ucap Getara Cinta santun. “Sebenarnya masalah menikah ini adalah perkara yang rumit untuk dilaksanakan, terlebih calon pengantin wanitanya ada tiga orang sekalian. Namun, karena ini menyangkut kebaikan dunia persilatan dan hal yang sangat penting bagi kelompok aliran putih, jadi kami mempermudahnya dengan kesepakatan bersama. Awalnya, kami berencana menikah di kediaman Setan Genggam Jiwa yang gubuk apa adanya. Namun, karena Sukma dan Jaga Manta setuju jika ketiga pernikahan dilaksanakan di perguruan ini, maka kami pun sepakat.”


“Ibu, Ibu Kedua, Kakek Guru, ini kita sepakati demi kebaikan bersama golongan putih. Jangan lupa, kita pernah menjadi korban dari bersatunya orang-orang jahat sehingga kita kehilangan Ayah,” kata Jaga Manta, mengenang peristiwa ketika beberapa orang sakti golongan hitam menyerang perguruan karena menginginkan mata hijau milik Kerling Sukma. Pada peristiwa itu, Ketua Perguruan Sangar Hentak harus tewas dikeroyok.


Terdiamlah Lili Angkir dan Gatri Yandana mengenang masa buruk itu.


“Pertimbanganmu sangat bagus, Ketua, uhuk uhuk uhuk!” kata Pendekar Seribu Tapak lalu terbatuk-batuk.


“Jujur, aku sebenarnya berat jika harus berbagi suami. Namun, demi cintaku dan demi kepentingan yang jauh lebih besar, aku harus mengikhlaskan diri, Ibu,” kata Sukma. “Kita tidak bisa melupakan pertolongan Kakang Joko. Sejak pertolongannya itu, aku adalah milik Kakang Joko. Entah mau seperti apa Kakang Joko memperlakukanku, aku adalah milik Kakang Joko, meski dia tidak pernah merasa bahwa aku adalah miliknya. Dan Kakang Joko adalah milikku, milikku yang nyatanya harus aku bagi dengan kakak-kakakku.”


Mendengar penuturan putrinya itu, perasaan Gatri Yandana bergolak terharu. Hingga berkaca-kaca sepasang matanya. Ia ingat betul bagaimana rasanya ketika ia kehilangan Kerling Sukma yang jatuh ke jurang. Namun, Joko Tenang yang tidak mereka kenal dan tidak mengenal mereka, mau mengorbankan nyawa demi menyelamatkan Kerling Sukma.


“Memang sudah sepantasnya kau menjadi milik Joko. Baiklah, turuti apa yang diinginkan dan diperintahkan oleh calon suamimu itu. Aku sangat percaya dengan murid Ki Ageng Kunsa Pari itu,” kata Gatri Yandana.


Tersenyum lebarlah Kerling Sukma, Getara Cinta, Helai Sejengkal dan Jaga Manta.


“Impian dan harapan yang selama ini hanya berwujud penantian dan dugaan belaka, akhirnya dalam beberapa hari lagi akan berwujud dalam ikatan janji setia yang nyata. Terima kasih Ibu!” ucap Kerling Sukma dengan kalimat-kalimat bersyairnya. Ia lalu meransek maju dan memeluk erat tubuh ibunya.

__ADS_1


“Sekarang giliranku, Kakek Guru,” ujar Jaga Manta sambil tersenyum pula. Ia juga memandang kepada Lili Angkir.


“Katakanlah!” kata Pendekar Seribu Tapak.


“Helai Sejengkal memiliki racun yang rumit di dalam tubuhnya. Racun itu akan bereaksi jika dia mengalami kelelahan. Jadi, aku mengajaknya ke sini untuk diobati oleh Kakek Guru,” kata Jaga Manta.


“Siapa Helai Sejengkal ini? Kenapa kau peduli dengannya? Padahal ia hanya keracunan jika kelelahan,” tanya Pendekar Seribu Tapak.


“Aku sudah lama kenal dengan Helai Sejengkal, sepertinya kami berdua cocok, seperti timba dan sumur….”


“Kakang, perumpamaan yang kau sebutkan itu adalah perumpamaan hubungan intim antara suami dan istri!” sergah Kerling Sukma.


“Hahaha!”


Koreksi Kerling Sukma itu membuat mereka tertawa rendah, sementara Jaga Manta jadi malu sendiri.


Terkejutlah Lili Angkir, Gatri Yandana, Obang Kenari, dan Tembas Rawa mendengar nama Nenek Haus Darah disebut. Pendekar Seribu Tapak sebenarnya juga terkejut, tetapi ia bisa lebih tenang mengendalikan raut wajahnya.


Tampak murunglah rona wajah cantik Helai Sejengkal ketika melihat mimik reaksi para orang tua itu. Ia pun segera dapat menduga apa yang terjadi.


“Kakek Guru, Ibu, Ibu Kedua, Helai sejengkal bukanlah gadis jahat meski ia murid Nenek Haus Darah!” kata Jaga Manta cepat.


“Tidak pantas sebagai seorang ketua perguruan aliran putih kau jatuh hati dengan murid tokoh jahat, apalagi sampai membawanya ke sini!” cela Lili Angkir.


Mendengar kata-kata Lili Angkir, memerah telinga Helai Sejengkal, mendidih emosinya, tetapi berusaha ia pendam dulu.


“Ibu Pertama, Helai Sejengkal tidaklah seburuk yang kita pikirkan,” kata Kerling Sukma.


“Helai Sejengkal berada di bawah perlindungan Kakang Joko dan para calon istrinya, jadi dia adalah bagian dari kami, Kakak,” kata Getara Cinta menguatkan.

__ADS_1


“Baiklah. Biarkanlah. Ini adalah hari-hari kebahagiaan kita karena kita akan melaksanakan hari pernikahan selama tujuh hari tujuh malam. Jangan sampai hari-hari bahagia itu terganggu,” kata Pendekar Seribu Tapak. Lalu katanya kepada Jaga Manta, “Jaga, kau lihat sendiri aku dalam keadaan terluka oleh adikmu, jadi Helai Sejengkal harus menunggu aku sembuh jika ingin aku obati.”


“Terima kasih, Kakek Guru!” ucap Jaga Manta sumringah.


Lili Angkir hanya menghempaskan napas kekesalan dengan keputusan Pendekar Seribu Tapak.


“Pesan daruraaat!” teriak seseorang tiba-tiba dari gerbang utama pertama.


Semua segera berpaling memandang jauh ke luar. Mereka melihat seorang murid perguruan yang berlari kencang seperti dikejar angsa baru putus cinta. Murid perguruan yang tidak lain adalah Sigangga tersebut, berlari terbirit-birit.


“Ketua! Pesan darurakhrr!” teriak Sigangga sambil berlari cepat menaiki tangga bambu pendek setinggi pinggang.


Namun, teriakannya terhenti dan berganti dengan erangan yang begitu dalam dan khidmat. Wajah Sigangga memerah dengan urat-urat wajah bertonjolan tegang. Matanya mendelik skpresif dan mulut terbuka lebar.


“Hahaha…!”


Tidak ayal lagi, semuanya tertawa terbahak-bahak melihat Sigangga yang kaki kirinya terperosok masuk ke lubang tangga, sehingga sudut pangkal pahanya terperosok dan menyangkut di anak tangga.


Gencetan yang luar biasa itu membuat Sigangga sulit bergerak dan bersuara.


“Ada apa, Sigangga?” tanya Jaga Manta yang berdiri untuk menerima laporan itu.


“Anu…” ucap Sigangga yang masih kesakitan.


“Tidak apa-apa, nanti anumu bisa sembuh sendiri,” kata Jaga Manta yang akhirnya menimbulkan tawa yang ramai lagi.


“Lapor, calon pengantin lelaki sudah tiba!” lapor Sigangga sambil menahan sakit pada anunya.


“Kakang Joko sudah datang!” sebut Kerling Sukma gembira. Ia segera meraih tangan Getara Cinta, “Ayo, Kak!” (RH)

__ADS_1


__ADS_2