
*Desa Wongawet (Dewo)*
Kemuning membawa Tirana ke daerah wanita Desa Wongawet. Mereka melalui jalan-jalan kecil di antara kebun-kebun kecil dan bangunan-bangunan rumah berlantai tanah, ada juga yang bermodel panggung pendek.
Tirana bisa melihat bahwa semua wanita yang beraktivitas di daerah itu adalah muda fisik dan wajahnya. Masing-masing melakukan kegiatan, tidak terlihat ada yang menganggur atau sekedar merumpi.
Sejumlah wanita melakukan penyucian, penjemuran, pemilihan, hingga pengolahan bahan-bahan seperti dedaunan, rempah, tanaman jenis akar dan tetumbuhan lainnya. Ada pula yang beraktivitas menjemur pakaian yang jumlahnya banyak, pakaian pria dan wanita. Wanita-wanita yang bekerja di bagian dapur memiliki kawasan sendiri di area itu. Ada pula wanita-wanita yang sedang berlatih olah kanuragan hingga menenun dan menyulam.
Tingkat budaya dan peradaban yang dimiliki oleh warga Desa Wongawet jelas jauh lebih maju dibandingkan dengan desa-desa pada umumnya di negeri itu. Teritorialnya bahkan lebih luas dari sebuah desa besar.
Meski Kemuning adalah sosok gadis bertubuh kecil dan mungil, tetapi statusnya sebagai kekasih Kepala Desa membuatnya dihormati oleh para wanita muda lainnya. Warga wanita akan sedikit membungkuk dan menunduk seraya tersenyum jika berpapasan dengan Kemuning.
“Aku heran, bagaimana bisa desa ini memiliki banyak warga sedangkan hubungan suami istri dilarang?” tanya Tirana dalam perjalanannya.
“Tidak ada satu pun penduduk desa ini yang lahir di sini,” jawab Kemuning seraya tersenyum.
Jawaban itu membuat Tirana bisa langsung menyimpulkan.
“Karena itu, kami bersenang hati jika kedatangan tamu, karena cerita tentang keistimewaan Desa Wongawet akan tersebar luas. Banyak orang yang mendambakan terus awet muda, mendorong mereka datang ke sini dan bersedia dengan sukarela menjadi warga di desa ini,” tutur Kemuning.
“Jika demikian, berarti usiamu lebih tua dari penampilanmu sekarang ini?” terka Tirana.
“Benar,” jawab Kemuning seraya tertawa kecil. “Usiaku lima puluh tahun. Kau pun bisa menjadi warga ini jika menginginkan selalu muda. Terlebih kau memiliki kecantikan yang luar biasa, sangat disayangkan jika memudar oleh waktu.”
Tirana tertawa kecil mendengar tawaran dan pujian Kemuning.
“Terima kasih, hidupku sudah ditakdirkan sebagai penjaga Kakang Joko,” kata Tirana. “Lalu kenapa kau dan Karani bisa tidak terkena aturan percampuran lelaki dan wanita?”
“Sebagai pemimpin, sewajarnya jika Kepala Desa memiliki pendamping. Jadi larangan itu tidak berlaku bagi Kepala Desa. Ki Daraki berhak memiliki empat kekasih. Dua Kekasih Utama yang berfungsi sebagai istri dan dua Kekasih Sementara yang bertugas mewakili Kepala Desa untuk mengatur urusan warga perempuan. Aku dan Karani adalah Kekasih Sementara yang bisa diganti jika tidak memuaskan keinginan Kepala Desa.”
“Apakah Kekasih Utama juga melakukan kewajiban seperti hubungan badan?” tanya Tirana lagi.
“Kau pasti penasaran tentang keturunan. Ya, Kekasih Utama melayani Kepala Desa layaknya istri biasa melayani suaminya. Namun, wanita yang menjadi Kekasih Utama wajib dimandulkan,” jawab Kemuning.
“Kenapa kalian membuang kebutuhan nafsu dan menolak adanya keturunan?” tanya Tirana heran.
“Aku tidak bisa menjawabnya. Aturan itu sudah lama ada sebelum aku masuk ke desa ini. Pada akhirnya, kami semua harus rela terikat oleh seluruh aturan desa, tidak menjadi manusia yang bebas,” kata Kemuning.
Kemuning membawa Tirana berdiri di dekat sebuah pagar bambu setinggi perut. Pagar itu merupakan batas tanah karena di depan adalah jurang dangkal, tetapi masih bagian dari desa yang menyatu dengan tebing batu yang tegak tinggi.
“Lihat itu!” tunjuk Kemuning ke arah daerah bawah.
Kemuning menunjuk sebuah batu berwarna putih yang berbentuk kubah sebesar rumah.
__ADS_1
“Itu kami sebut Batu Siluman. Aku pun tidak tahu apa yang ada di dalamnya. Ini salah satu daerah terlarang yang tidak boleh tamu desa ini masuki. Pagar ini adalah batasannya. Siapa pun yang melewati pagar ini, maka kami tidak menjamin nyawanya. Sudah banyak tamu dan warga kami sendiri yang mati karena penasaran ingin mengetahui apa itu Batu Siluman,” jelas Kemuning.
“Aku bisa merasakan hawa tenaga sakti yang begitu tinggi dari batu itu,” kata Tirana.
“Bahkan Kepala Desa tidak berani memasuki daerah terlarang ini,” kata Kemuning. Ia lalu mengajak Tirana kembali pergi meninggalkan pinggiran daerah terlarang itu.
“Apa yang mereka jemur?” tanya Tirana sambil memandangi para wanita muda yang sedang meratakan jemuran bahan-bahan rempah dan dedaunan.
“Bahan-bahan untuk membuat ramuan dan salep awet muda. Hanya satu dua orang yang benar-benar mengetahui secara utuh resep dan cara membuatnya. Jadi itu warisan desa ini yang sangat terjaga.”
“Sungguh luar biasa,” puji Tirana.
Kemuning lalu berhenti di antara palang-palang bambu tempat banyak tampi diletakkan di atasnya untuk menjemur bahan-bahan dasar ramuan awet muda.
“Bangirayu!” panggil Kemuning kepada seorang gadis cantik berbaju merah.
Gadis yang tidak lain adalah wanita yang sempat memperhatikan Joko Tenang itu, segera datang mendekat seraya tersenyum ramah dan agak membungkuk kepada Kemuning.
“Iya, Kemuning?” tanya gadis bernama Bangirayu.
“Dampingin Tirana selama berada di desa ini!” perintah Kemuning.
“Baik,” jawab Bangirayu seraya tersenyum.
“Baik, terima kasih, Kemuning,” ucap Tirana.
“Baik, aku tinggal,” kata Kemuning lalu berbalik pergi meninggalkan keduanya.
Namun, kejelian Tirana membuat ia bisa menangkap ada gerakan isyarat mata Kemuning kepada Bangirayu. Meski Bangirayu tidak membalas isyarat itu, tetapi Bangirayu sempat terdiam mematung menatap Kemuning dalam durasi yang sangat singkat.
“Mari aku antar ke tempat peristirahatan, Tirana!” ajak Bangirayu.
Sementara itu di area sebelah, Joko Tenang pun bertanya kepada Tudurya tentang daerah larangan.
“Aku tidak mau tanpa sengaja melanggar daerah larangan,” kilah Joko.
“Kau bisa melihat kumpulan pohon bambu di atas sana!” tunjuk Tudurya.
Joko memandang ke arah tunjukan Tudurnya. Di kaki tebing batu ada tumbuhan pohon bambu yang lebat, tumbuh di tanah yang membukit. Di bawah bukit mini itu mengalir melingkar sungai kecil, yang juga bagian dari sungai yang membelah melintang, sehingga alirannya melewati kedua daerah yang dipisahkan itu.
“Di balik pohon-pohon bambu itu ada sebuah gua yang seorang pun tidak boleh memasukinya, kecuali Tetua Desa dan Kepala Desa, atau orang yang diperintah khusus. Aliran sungai kecil itu adalah batasan dari daerah terlarang,” jelas Tudurya.
“Siapa Tetua Desa?” tanya Joko.
__ADS_1
“Pemimpin tertinggi di desa ini,” jawab Tudurya. “Tetapi kami pun sangat jarang melihatnya. Aku hanya sekali melihatnya, dia seorang tua, tidak seperti kami.”
Tudurya melanjutkan langkahnya meninggalkan area kebun singkong itu.
“Apakah kau tahu banyak tentang pasukan Kelompok Pedang Angin yang datang tiga hari lalu?” tanya Joko.
“Tanyakan saja jika ada yang ingin kau tanyakan,” kata Tudurya. “Desa ini hanya membuka jalan, bukan melindungi pihak asing. Aku akan menjawab apa adanya.”
“Siapa pemimpin Kelompok Pedang Angin?” tanya Joko.
“Aku melihat ada tiga orang yang memimpin pasukan itu. Satu di antaranya seperti seorang perwira kerajaan. Dua orang pemimpin yang masih muda aku rasa pemimpin Kelompok Pedang Angin. Orang muda tampan itu bernama Ketua Raja Pedang, adapun wakilnya aku tidak tahu namanya. Lelaki berpenampilan perwira pun aku tidak tahu namanya. Aku rasa Kepala Desa dan Sudarka tahu,” jawab Tudurya.
“Mereka membawa tawanan?” tanya Joko lagi.
“Iya, seorang pemuda tampan.”
“Kau bisa menggambarkan ciri-cirinya?” tanya Joko lagi.
“Seingatku pemuda yang ditawan itu berambut gondrong. Ada satu yang sangat aku ingat, sabuknya tembus pandang. Aku tidak tahu terbuat dari bahan apa,” jelas Tudurya.
“Itu temanku,” kata Joko yang segera mengenali ciri khas dari Hujabayat.
“Apakah tidak ada tawanan lain?” tanya Joko lagi.
“Tidak ada. Hanya saja mereka membawa tiga tandu tertutup yang mungkin berisi mayat. Namun ada yang aku curigai. Ketika datang, tandu itu terlihat memiliki berat bahwa ada orang di dalamnya. Tetapi, ketika mereka berangkat pergi melalui Jalan Lubang Cahaya, aku curiga bahwa satu tandu sudah kosong. Terlihat dari beratnya ketika diangkat oleh para prajurit itu.”
“Apakah sebelumnya mereka sudah pernah datang ke desa ini untuk lewat?” tanya Joko lagi.
“Baru kali ini mereka melewati desa ini,” jawab Tudurya.
“Itu artinya, ketika mereka datang ke Rimba Berbatu melalui jalan yang memutar jauh,” ucap Joko menyimpulkan.
“Desa ini hanya bisa dilewati untuk satu arah, yaitu untuk masuk ke Jalan Lubang Cahaya, bukan keluar dari jalan itu.”
“Di mana Jalan Lubang Cahaya itu?”
“Ujung dari jalan utama desa ini adalah gerbang Jalan Lubang Cahaya. Gerbang itu hanya bisa dibuka oleh Kepala Desa,” jawab Tudurya.
Blaar!
Tiba-tiba mereka berdua dan seisi desa dikejutkan oleh suara ledakan peraduan dua tenaga sakti.
“Apa lagi ini?” keluh Tudurya lalu cepat berlari ke arah sumber suara ledakan. (RH)
__ADS_1