Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
87. Biro Naga Besi


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Bu Ruong harus memendam keterkejutannya, sebab di dalam ruangan jamuan makan itu ada sejumlah pejabat yang ia kenal, beberapa di antaranya adalah menteri, terutama Menteri Kehakiman Tu Hua selaku tuan rumah. Ia berhenti dan membuat para prajurit di belakangnya juga berhenti.


Suara langkah kaki yang ramai di lantai papan membuat orang ramai yang sedang makan dan minum di ruang jamuan itu jadi menengok ke arah kedatangan Bu Ruong dan para prajuritnya.


Menteri Tu Hua, seorang lelaki kurus tinggi berjenggot agak panjang yang mengenakan pakaian bagus berwarna biru, segera berdiri.


“Ada apa Komandan Ruong datang membawa pasukan ke acara pesta peresmian biro putriku?” tanya Tu Hua dengan pandangan serius.


“Hormatku, Tuan Menteri Tu!” ucap Komandan Naga Merah Tengah itu seraya menghormat. Ia pun lalu menghormat kepada para menteri dan pejabat lain yang masing-masing menghadapi mejanya menikmati jamuan sambil menonton tarian yang diiringi musik.


Para pejabat itu hanya mengangguk.


"Kami harus memeriksa secara teliti semua tempat di blok ini untuk mencari orang yang menyerang Yang Mulia Putri Kai, Tuanku," ujar Bu Ruong kepada Menteri Tu Hua.


"Bagus, lakukan tugasmu dengan benar!" puji Tu Hua. "Aku harap kau dan anak buahmu tidak berlaku buruk terhadap tamu-tamuku ini. Tentunya  kau mengenal siapa tamu-tamu agungku ini."


"Baik, Tuan Menteri," ucap Bu Ruong seraya menghormat lagi dengan kedua tangannya yang bertemu mengepal di depan dada.


Tu Hua manggut-manggut lalu dia berbalik dan berkata kepada tamu-tamunya sambil tertawa kecil, "Silakan para tamuku yang mulia, prajurit itu hanya menjalankan tugasnya. Abaikan saja, jangan sampai merasa terganggu. Mari, mari, lanjutkan pesta kita. Hahaha!"


Para tamu pejabat dan bangsawan yang jumlahnya belasan orang itu turut tertawa.


“Apakah kau akan memeriksa para menteri itu, Komandan?” tanya Xie Yua setengah berbisik kepada Bu Ruong


"Biarkan kami memeriksa semua pekerja dan pelayan saja yang bekerja di biro ini. Aku yakin, tentunya Nona Tu akan tahu jika ada orang asing masuk menyelinap ke sini," kata Bu Ruong.


"Baiklah," kata Xie Yua tersenyum. Ia lalu berkata kepada pengawalnya yang berdiri tidak jauh darinya, "Wulyong, perintahkan semua pelayan dan pengawal di biro ini berbaris di luar. Ambilkan pula daftar pekerja di mejaku!"


"Baik, Nona!" ucap pengawal itu patuh lalu segera bergerak.


Sambil menunggu, Bu Ruong mencoba mengenali semua tamu yang hadir dalam pesta jamuan peresmian Biro Naga Besi itu.


“Nona Tu, jika tidak keberatan, aku tidak mengenal pemuda berpakaian kuning itu,” kata Bu Ruong sambil memandang kepada salah satu tamu di biro itu.


Sejenak Xie Yua memandang kepada arah pandangan Bu Ruong. Tamu yang dimaksud Bu Ruong adalah seorang pemuda tampan berkumis tipis berpakaian kuning bagus. Ikat kepalanya yang berwarna kuning juga memiliki hiasan emas pada titik dahinya. Ia begitu konsen memperhatikan para penari sambil memegangi cangkir kecil di atas meja yang berisi arak.


“Namanya, Bangsawan Sushan. Pengusaha muda dari Negeri Lor We. Biro Naga Besi beraliansi dengan Bangsawan Sushan untuk mempermudah pengiriman ke Negeri Lor We dan Moh. Dia memiliki jaringan luas di beberapa negeri. Dia sekutu penting Biro Naga Besi,” jawab Xie Yua cukup lengkap.


Tidak berapa lama, pengawal biro bernama Wulyong yang mendapat tugas dari Xie Yua kembali datang membawa sebuah buku.


“Ini daftar pekerjanya, Nona,” kata Wulyong seraya menyodorkan buku di tangannya kepada Xie Yua. “Semua pekerja dan pengawal sudah berkumpul di luar, Nona.”


“Silakan diperiksa,” kata Xie Yua sambil menyerahkan buku di tangannya kepada Bu Ruong.

__ADS_1


Setelah menerima buku itu, Bu Ruong berbalik untuk mengecek para pekerja dan pengawal yang bekerja di Biro Naga Besi.


“Jadi yang Komandan Ruong tidak periksa adalah para pejabat serta penari dan pemain guzheng,” kata Xie Yua.


“Kami akan periksa setelah tarian mereka berhenti,” kata Bu Ruong yang sebenarnya merasa tidak puas karena tidak bisa bebas memeriksa seluruh orang yang ada di dalam biro itu.


“Jika prajurit Ruong masih belum yakin, perintahkan beberapa prajurit untuk memeriksa setiap ruangan di biro ini,” kata Xie Yua, seolah mengerti isi hati prajurit itu.


“Maaf harus membuat Nona Tu tidak nyaman di acara berbahagia ini,” ucap Bu Ruong sambil menghormat dengan dua tangan yang menyatu di depan dada dan kepala sedikit membungkuk.


Bu Ruong lalu menunjuk sejumlah anak buahnya.


“Kalian berenam, periksa semua ruangan di biro ini dengan sopan!” perintahnya.


“Siap, Komandan!” jawab para prajurit itu.


“Wulyong, pandu mereka!” perintah Xie Yua kepada pelayannya.


“Baik, Nona.”


Wulyong pun segera menunjukkan jalan keenam prajurit yang ditugaskan untuk memeriksa setiap ruangan di tempat itu, terkecuali ruang jamuan.


Di luar, Bu Ruong memastikan identitas semua pengawal dan pekerja di Biro Naga Besi yang mencapai lima puluh orang. Semuanya memiliki identitas yang jelas dan diakui keberadaannya oleh Kementerian Ibu Kota.


Setiap orang yang ada atau masuk ke Ibu Kota He pasti memiliki tanda pengenal berupa papan kecil yang memiliki cap Ibu Kota He dan di papan itu ada nama pemilik tanda. Cap papan antara warga asli Ibu Kota dengan pendatang atau bukan pemukim berbeda, tetapi sama-sama diakui sah keberadaannya.


Hasil dari pemeriksaan pasukan yang dibawa oleh Komandan Bu Ruong adalah bersih. Enam prajurit yang memeriksa ruangan di dalam pun tanpa ada hasil. Bersih. Para penari dan pemain musik juga diperiksa identitasnya, mereka pun seniman yang terdaftar di Kementerian Ibu Kota.


Akhirnya Bu Ruong menyerah. Ia menyimpulkan bahwa Biro Naga Besi bersih dari penyusup.


“Maafkan kami telah mengganggu acara besar, Nona Tu,” ucap Bu Ruong sambil menghatur hormat tanda permintaan maaf.


“Tidak perlu dipikirkan, Komandan Ruong,” kata Xie Yua seraya tersenyum.


Komandan Bu Ruong lalu mengajak seluruh pasukannya untuk pergi dan melepas Biro Naga Besi.


Akhirnya dia memutuskan melepas penjahat yang mereka kejar itu. Kuncian terhadap blok itu dicabut, terlebih ternyata di dalam kuncian itu ada para pejabat tinggi sedang berkumpul. Bisa saja kondisi semakin rumit jika para pejabat yang berkumpul di Biro mempermasalahkan kuncian yang Bu Ruong terapkan.


Bu Ruong lebih memilih mengorek keterangan dari penjahat yang berhasil mereka tangkap dan kini dalam perjalanan ke ruang penyiksaan untuk diinterogasi.


Seperginya Bu Ruong dan pasukannya, seorang pemuda tampan berpakaian kuning menghampiri Xie Yua. Pemuda itu tidak lain adalah Bangsawan Sushan yang sempat ditanyakan Bu Ruong.


“Apa yang didapat prajurit itu?” tanya Sushan.


“Tidak ada,” jawab Xie Yua dingin. Lalu dengan nada ditekan mengandung kemarahan ia berkata, “Orangmu membahayakan kita!”

__ADS_1


Mereka lalu berjalan beriringan masuk ke dalam biro.


“Aku kira orang yang kau miliki punya kemampuan bagus sehingga berani menyergap Putri Kai terang-terangan,” kata Xie Yua.


“Perkiraanku ternyata masih kurang jauh. Aku tidak menyangka dia lebih hebat dari yang aku bayangkan,” kata Sushan.


Mereka tidak pergi ke ruang jamuan yang masih ramai di saat Ibu Kota sedang gempar oleh serangan terbuka puluhan orang berpakaian hitam terhadap orang nomor dua di Negeri Jang. Mereka terus masuk ke dalam.


“Lebih baik kau jangan perhitungan dan berpikir pelit, sebab Putri Kai lebih berbahaya daripada Kaisar Tsaw. Aku sahabat Putri Kai, sangat tahu sehebat apa kekuatannya meski dia seorang perempuan. Jika kau hanya mengincar Putri Kai, maka penggunaan kekerasan akan sia-sia belaka dan merugikan. Dia hanya bisa dikalahkan dengan cara halus dan licik. Namun, jika kau ingin menghancurkan Kerajaan Jang, aku sarankan kau hancurkan wilayah kekuasaannya dari pinggir dan dengan cara kekuatan politik,” ujar Xie Yua.


“Akan aku pertimbangkan dengan baik-baik,” kata Sushan seraya tersenyum kecil.


Akhirnya mereka masuk ke sebuah ruangan yang berisi deretan rak. Di rak itu ada buku-buku kertas dan gulungan bilah bambu yang dirakit sebagai buku. buku-buku itu tersusun rapi dan memiliki label keterangan.


Di ruangan itu tidak ada orang. Ruangan arsip itu tadi tidak luput pula dari pemeriksaan para prajurit. Mereka terus berjalan masuk seolah sudah sama-sama tahu tujuan mereka. Hingga mereka tiba di sisi dalam dekat dinding kayu yang kokoh. Pada sisi itu kurang cahaya sehingga kondisi cukup gelap.


Jreg!


Xie Yua mendorong sebuah tempat lilin yang melekat di dinding. Lilinnya tidak dinyalakan, meski malam telah datang. Seiring dorongan itu, ada sisi dinding selebar pintu yang bergerak melesak masuk ke dalam sejauh satu jengkal.


Xie Yua kemudian mendorong dinding yang menjorok masuk. Dengan ringannya dinding berbentuk pintu itu terdorong lebih ke dalam sehingga menimbulkan celah yang bisa dimasuki oleh tubuh wanita itu. Bangsawan Sushan menyusul Xie Yua masuk dan menutup kembali dinding itu dari dalam sehingga rapat seperti tidak ada pintu.


Di balik dinding, ada sebuah ruangan yang tidak begitu luas, diterangi oleh sinar lilin di beberapa sisi.


Tampak seorang lelaki bermata sipit berpakaian biru hitam segera berlutut kepada kedatangan Sushan.


Bak!


Tiba-tiba saja Sushan menendang dada lelaki itu hingga terjengkang ke belakang.


“Ampuni aku, Tuan!” seru lelaki itu sambil cepat bangun dan bersujud.


“Betapa cerobohnya kau datang kabur ke tempat ini!” bentak Sushan marah. “Mati lebih baik daripada kau datang ke mari. Bagaimana kalau prajurit itu menemukanmu, hah?!”


“Maafkan aku, Tuan, Nona!” ucap lelaki itu sambil mengantuk-antukkan jidatnya ke lantai papan yang kokoh.


“Apa yang ingin kau sampaikan sebelum aku membunuhmu?!” bentak Sushan.


“Sepertinya yang tersisa tinggal aku, Tuan,” lapor lelaki itu.


“Kenapa kau tidak mati sekalian agar kelompok kalian selesai?!” bentak Sushan.


“Tidak, semua tidak mati,” kata Xie Yua. “Aku menduga kuat ada yang tertangkap dari kalian yang tersisa. Komandan Bu Ruong tidak memilih berlama-lama, tetapi ia memilih segera pulang bersama pasukannya.”


“Orang-orang tidak becus!” rutuk Sushan. Lalu katanya kepada lelaki itu, “Daripada kau aku bunuh, lebih baik kau bawa pesanku. Ingat, lebih baik mati jika tertangkap.”

__ADS_1


“Baik, Tuan.” (RH)


__ADS_2