
*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*
Zerss!
Melihat Ratu Ginari bisa melayang diam di udara, Nara mau tidak mau harus mengeluarkan penghuni Cincin Mata Langit-nya jika ingin bertarung melawan sang ratu dadakan. Dari dalam tubuh Nara melesat keluar sinar biru berwujud kalajengking raksasa bersayap kupu-kupu. Sosok sinar biru itu lalu melayang diam di sisi kanan Nara.
“Nara, jika kau bisa melawannya, aku memohon kepadamu, jangan bunuh dia,” kata Joko Tenang kepada istri tertuanya itu.
“Kalian punya rencana apa terhadap wanita itu?” tanya wanita berbola mata hitam kusam itu.
“Dia adalah calon istri pertamaku yang tersesatkan oleh kesaktian Kalung Tujuh Roh yang diceritakan oleh Malaikat Serba Tahu. Kami berencana memusnahkan kesaktiannya,” jelas Joko Tenang.
“Guru, Guru cukup membuatnya tidak berkutik, maka aku dan Tirana akan melakukannya,” ujar Kerling Sukma.
“Aku tidak bisa menjamin. Aku tidak mungkin menahan-nahan kekuatanku menghandapi orang sesakti itu. Jika Dinding Seribu Baja bisa menahan kesaktiannya, sementara Getara Cinta bisa menghancurkan Dinding Seribu Baja milikku, seharusnya wanita itu bisa dikalahkan,” kata Nara. Ia lalu melompat naik berdiri di atas punggung kalajengking birunya.
Terkesiap Getara Cinta mendengar penilaian Nara. Apa yang dikatakan oleh Dewi Mata Hati itu ada benarnya.
Nara kemudian melesat terbang. Wajahnya menatap lurus, tidak mendongak, karena ia melihat bukan dengan matanya yang buta, tetapi dengan ilmu indera perasanya yang sangat sakti. Jika Sandaria bisa bertarung seperti orang yang mempunyai mata, maka Dewi Mata Hati lebih tinggi tingkat indera perasanya.
Setelah sangat lama tidak pernah bertarung melawan musuh, Nara akhirnya kembali bertarung.
Dalam waktu singkat, Nara dan makhluk tunggangannya sudah mendekati posisi Ratu Ginari.
Wuss wuss wuss…!
Ratu Ginari menyambut kedatangan Nara dengan pukulan Tinju Menembus Gunung berturut-turut. Namun, Nara begitu gesit terbang zigzag menghindari tinju jarak jauh itu. Serangan itu memaksa Nara membelokkan arah terbangnya dan memutari posisi layang Ratu Ginari.
Wess!
Tiba-tiba Ratu Ginari yang tubuhnya dilapisi sinar ungu, melesat terbang seperti burung tanpa sayap. Ia mengejar Nara dan kalajengking bersayapnya. Sambil terbang mengejar, Ratu Ginari melesatkan sepuluh sinar ungu berekor secara berulang.
Nara tidak memerlukan kaca spion atau menengok ke belakang untuk melihat serangan dari belakang. Ia bisa merasakan. Karenanya, kalajengking terbangnya begitu gesit menghindari setiap serangan yang datang dari belakang.
Kejar-kejaran berkecepatan tinggi di udara itu benar-benar seperti dua jet tempur dengan tembakan sinar-sinar ungu yang berulang. Para pendekar dan para prajurit Kerajaan Balilitan yang menonton hanya bisa terperangah takjub.
__ADS_1
Ketika kalajengking terbang meninggi, Ratu Ginari turut memburu meninggi. Ketika kalajengking terbang menukik, Ratu Ginari pun menukik mengejar.
Kejar-kejaran itu terjadi agak lama. Hingga akhirnya….
Bang!
Tiba-tiba saja di belakang kalajengking terbang muncul dinding sinar kuning bening yang luas, seolah menjadi dinding alam. Dinding sinar yang muncul tiba-tiba itu jelas tertabrak oleh tubuh Ratu Ginari dengan kencang. Mirip burung gagak yang terbang menabrak kaca jendela rumah.
Ratu Ginari yang menabrak Dinding Seribu Baja itu sontak meluncur jatuh ke bawah. Sinar ungu pada tubuhnya padam. Namun, dalam luncurannya itu, Ratu Ginari mampu mengontrol kembali kesaktiannya, sehingga ia bisa kembali melayang di udara.
Hebatnya ilmu perisai Dinding Seribu Baja, bagian bawahnya sampai menyentuh tanah.
Kini Ratu Ginari dan Nara terpisah oleh dinding tembus pandang.
Di wilayah dalam dinding, kalajengking terbang berputar arah lalu melesat terbang cepat ke arah Ratu Ginari yang berada di balik dinding. Ketika mendekati dinding, kalajengking sinar biru itu tidak menunjukkan akan melambat, seolah ia akan menabrak dinding.
Ratu Ginari yang melihat hal itu, terbelalak. Ia terlambat sadar dengan taktik Nara.
Pakk!
“Hukr!” keluh Ratu Ginari saat tenaga yang menghantamnya melebihi tenaga pertahanannya.
Gadis bermata bening itu mampu menahan dengan telapak bersinar ungu. Dua tenaga sakti bertemu di depan tubuh Ratu Ginari. Tenaga sakti dari pukulan Telapak Polos yang dimiliki Nara lebih tinggi dibandingkan milik Ratu Ginari.
Clap!
Tiba-tiba Ratu Ginari lenyap menghilang dalam keterpentalannya. Ginari memang memiliki ilmu yang bisa memasukkan dirinya ke dalam lapisan alam yang lain, sehingga ia tidak terlihat tetapi bisa melihat dan menyentuh.
Namun, Ratu Ginari tidak sadar bahwa orang yang dilawannya kali ini adalah orang buta. Mau terlihat atau tidak, sama saja bagi Nara. Meski Nara tahu bahwa Ratu Ginari menyembunyikan raganya dari pandangan mata biasa, tetap saja ia bisa merasakan dan tahu di mana posisi Ratu Ginari berada.
Akhirnya Nara memutuskan melayang diam di udara. Kalajengking mengepak-ngepakkan sayap kupu-kupu raksasanya agar bisa melayang stabil.
Nara tahu bahwa Ratu Ginari melesat ke sebelah belakangnya, sepertinya dia bermaksud membokong. Namun, Nara bertindak diam, berlagak pura-pura tidak tahu. Nara merasakan, posisi Ratu Ginari tidak hanya di belakang, tapi juga sedikit lebih tinggi. Posisi itu akan membuat Ratu Ginari lebih mudah untuk menyerang.
Sezz!
Tiba-tiba dari belakang atas Nara dan kalangjengking sinar muncul dua bola sinar ungu berpijar, melesat menargetkan punggung Nara.
__ADS_1
Clap! Bruss!
Namun, tiba-tiba Nara lenyap begitu saja dari punggung kalajengking birunya, membuat hewan sinar itu hancur buyar saat terkena dua bola sinar ungu.
Tum tum tum…!
Alangkah terkejutnya Ratu Ginari melihat menghilangnya Nara. Tahu-tahu justru muncul di belakang atasnya. Nara yang mengambang sejenak di udara yang tinggi itu, melesatkan lima sinar putih kecil menyilaukan. Itu ilmu Jari Surga versi Nara.
Ctar ctar…!
Lima ledakan terjadi rapat saat kelima sinar putih menyilaukan itu menghantam sesuatu yang tidak terlihat. Hanya kemudian, tahu-tahu tubuh wanita berpakaian biru terang mencul di udara sedang melesat jatuh menuju bumi.
Kali ini Ratu Ginari tidak bisa menahan laju tubuhnya untuk jatuh.
Melihat Ratu Ginari meluncur jatuh, Getara Cinta yang kondisinya sudah lebih baik, segera membangkitkan tenaga sakti Permata Darah Suci.
“Tirana! Sukma! Bersiaplah!” teriak Getara Cinta sambil melesat ke arah titik jatuhnya Ratu Ginari.
Bdumm!
Tubuh Ratu Ginari menghantam tanah bukit dengan keras, menimbulkan kebulan debut yang tinggi.
Wuss!
Sementara di udara, tubuh Nara meluncur jatuh karena ia tidak memiliki tunggangan. Serbuk sinar biru kalajengkingnya baru masuk ke dalam tubuhnya.
Jika Kerling Sukma memiliki ilmu Ombak Hati Lembut, tentunya Nara sebagai gurunya juga punya dan kwalitasnya lebih ori.
Dengan menggunakan gulungan angin yang dikendalikan, Nara bisa turun ke bawah dengan aman, laksana dewi turun dari atas kahyangan. Nara kembali ke kumpulan, menemui suaminya. Ia serahkan pertarungan kepada Getara Cinta.
Benar dugaan Getara Cinta. Ratu Ginari tidak akan mati setelah jatuh dari ketinggian itu. Ratu Ginari bangkit kembali dengan tubuh bersinar ungu. Ia cukup terkejut melihat Getara Cinta telah melesat ke arahnya dengan tubuh bersinar hijau.
Serzzz! Sreett!
Ratu Ginari cepat melesatkan sinar ungu besar yang menyilaukan mata menyambut kedatangan Getara Cinta, yang kemudian juga melesatkan sinar hijau bersuhu sangat dingin. Jangan ditanya berapa minus derajat suhu dinginnya.
Kedua sinar akhirnya bertemu di pertengahan jarak. (RH)
__ADS_1
***********
AYO DUKUNG NOVEL INI! Jangan lupa ekspresikan emosimu dengan komentar setelah membaca chapter ini!