
*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*
Surya Kasyara yang mabuk dipapah oleh Gowo Tungga dan Gembulayu di kanan-kiri. Ia masih bisa berjalan, tetapi masih sangat sempoyongan. Meski mabuk parah, Surya Kasyara tetap tahu jalan untuk pulang. Kedua sahabatnya itu hanya mengikuti langkah Surya Kasyara.
“Sontoloyo, ke mana kita akan pergi?” tanya Gowo Tungga.
“Eh! Siapa yang masih memanggilku Sontoloyo, akan aku sodok pantitnya!” teriak Surya sambil menengok memandang kepada Gembulayu dengan tatapan tajam yang merah dan mulut dimonyongkan. Lalu katanya lagi, “Panggil aku Surya Rekayasa, Pendekar Gila Mabuk!”
“Iya, iya iya iya, Rekayasa” ucap Gembulayu seraya mengerenyit ngeri.
Sementara Gowo Tungga hanya tertawa tanpa suara.
“Hahahak! Anak pintar!” ucap Surya Kasyara sambil menepuk-nepuk pipi tembem Gembulayu. “Ayo gendong!”
Surya Kasyara lalu melepaskan diri dari papahan kedua sahabatnya. Ia lalu melompat ke punggung Gembulayu, sampai-sampai pemuda gemuk itu nyaris jatuh tersungkur.
“Ayo, lari!” gebah Surya Kasyara sambil menggenjot-genjot di punggung Gembulayu.
Blugk!
“Aduuuh!” rintih Gembulayu saat ia akhirnya jatuh tersungkur juga. Sementara Surya Kasyara asik menelungkup di atas punggungnya.
“Hahaha!” tawa Gowo Tungga.
Singkat cerita. Akhirnya mereka bertiga tiba di sebuah lingkungan berpohon kelapa yang ada tepat di bibir jurang. Ada sepuluh pohon kelapa berjejer. Sementara di bawahnya ada tiga gubuk kecil. Di halaman ada sebuah meja kayu panjang. Di atas meja berderet guci-guci berbahan tanah liat.
“Rekayasa, ini tempat siapa?” tanya Gowo Tungga yang menggendong Surya Kasyara.
Namun, Surya Kasyara tidak menjawab, ia sudah tertidur. Kepalanya terkulai di bahu Gowo Tungga.
Seorang lelaki tua ganteng karena kerapiannya, muncul dari dalam salah satu gubuk. Kakek itu berambut putih gondrong, tetapi rambutnya yang terlihat selalu berminyak itu disisir rapi ke belakang. Ia berpakaian hitam rapi dan tampak bagus, seperti pakaian seorang bangsawan. Di pinggang kanannya tergantung sebuah guci perunggu. Dialah yang beberapa kali namanya disebut dan ditulis, yaitu Pangeran Mabuk, yang punya nama asli Linglung Pitura.
“Siapa kalian berdua?” tanya Linglung Pitura kepada Gowo Tungga dan Gembulayu. Tangannya ia pertemukan di belakang pinggang seperti seorang tuan tanah.
“Kami teman Surya Kasyara, Kek,” jawab Gowo Tungga santun, karena ia sadar sedang berhadapan dengan seorang sakti.
“Aku tanya nama kalian,” tandas Linglung Pitura.
“Aku Gowo Tungga, Kek,” jawab Gowo Tungga seraya tersenyum cengengesan.
“Aku Gembulayu, Kek.”
“Ah, kau, Gembulayu. Ambilkan air di sumur belakang!” perintah Linglung Pitura.
“Ba… baik, Kek,” ucap Gembulayu. Pikirnya, mungkin dengan patuh bisa dapat hadiah ilmu Kerbau Terbang atau Sapi Mabuk.
Buru-buru Gembulayu berlari kecil menuju ke belakang tiga gubuk. Di sana memang ada sebuah sumur.
“Kenapa muridku itu?” tanya Linglung Pitura kepada Gowo Tungga.
__ADS_1
“Mabuk, Kek,” jawab Gowo Tungga singkat.
“Aku juga tahu kalau dia mabuk!” bentak Linglung Pitura kesal.
Tersentak jantung Gowo Tungga dibentak demikian. Nyalinya langsung menciut, bahkan bibirnya agak bergetar.
“Susu… Surya bersama teman-temannya…” ucap Gowo Tungga gagap dan suaranya bergetar, membuatnya berhenti berkata-kata.
“Lanjutkan!” perintah Linglung Pitura.
Gowo Tungga lalu memegang bibir bawahnya dan berbicara. Pikirnya, itu bisa menghilangkan getaran suaranya.
“Surya bersama teman-temannya berperang melawan Gerombolan Kuda Biru. Mereka menang, Kek,” jawab Gowo Tungga lebih lancar, meski suaranya masih agak bergetar.
“Jika dia menang, lalu kenapa mabuk-mabukan?” tanya Linglung Pitura lagi.
“Tadi menyebut-nyebut nama Kayuni putri Adipati Tambak Ruso, Kek.”
Gembulayu datang tergopoh-gopoh membawa seember kayu air sumur.
“Ini, Kek,” kata Gembulayu sambil menyodorkan embernya.
Byuur!
Linglung Pitura mengambil ember itu dan langsung melemparkan air di dalamnya menyiram wajah Surya Kasyara dan Gowo Tungga bersamaan.
Kedua pemuda itu jatuh terjengkang. Mereka gelagapan seperti orang tenggelam. Bahkan ketika sudah di tanah pun mereka masih gelagapan, hingga benar-benar tersadar.
Surya Kasyara buru-buru bangun. Ia lebih dulu bangun daripada Gowo Tungga.
“Siapa berani….!”
Dak!
“Adaw idaw idaw idaw!” pekik Surya Kasyara saat kepalanya dipentung dengan ember kayu oleh gurunya. Ia berjongkok sambil memegangi kepalanya.
“Siapa yang menyuruhmu mabuk?!” tanya Linglung Pitura membentak Surya Kasyara.
“Tidak ada, Guru,” jawab Surya Kasyara seraya bangun berdiri. Wajahnya mengerenyit menahan sakit.
“Lalu kenapa kau mabuk? Aku hanya mengajarimu pura-pura mabuk. Mabuk hanya untuk kondisi yang mengancam nyawamu!” omel Linglung Pitura.
“Aku sangat sedih, Guru. Wanita yang aku cintai mati,” jawab Surya Kasyara. Tampak gaya mabuknya telah hilang semua.
“Siapa? Anak Adipati kurang ajar itu?” terka Linglung Pitura.
“Iya, Guru,” jawab Surya Kasyara lemah.
“Dasar murid otak sempit!” maki Linglung Pitura sambil memukul kepala muridnya dengan tangan kirinya. “Dunia ini luas, terlalu banyak gadis-gadis cantik di dunia. Tapi kau, hanya melihat satu perempuan saja. Itupun anaknya Adipati Kecoa itu!”
__ADS_1
Surya Kasyara terdiam. Namun, dalam keterdiamannya itu ia memikirkan Joko Tenang yang seperti besi berani bagi para gadis cantik. Istri-istri dan calon istrinya semua cantik-cantik alami, tidak ada yang sekedar cantik saja atau cantik karena operasi plastik. Surya Kasyara menyimpulkan bahwa memang banyak wanita cantik di dunia ini.
“Guru, karena aku tidak bisa melupakan kekasihku tercinta, dan selama aku masih di sini pasti akan selalu mengingat Kayuni, jadi tolong izinkan aku pergi mengembara,” ujar Surya Kasyara.
Perkataan muridnya itu membuat Linglung Pitura agak terkejut. Namun kemudian, dia menanggapi.
“Mengembara tanpa tujuan tidak akan aku izinkan, itu sama saja seperti orang mabuk,” katanya.
“Aku ingin mengabdi kepada Pangeran Dira dari Kerajaan Sanggana Kecil, Guru,” kata Surya Kasyara, membuat Gowo Tungga dan Gembulayu mendelik.
“Di mana Kerajaan Sanggana Kecil itu?” tanya Linglung Pitura.
“Aku tidak tahu, Guru. Tapi Pangeran Dira adalah murid Ki Ageng Kunsa Pari dan Tiga Malaikat Kipas, Guru,” kata Surya Kasyara.
Kali ini, mendeliklah Pangeran Mabuk.
“Ki Ageng Kunsa Pari adalah orang yang pernah menyelamatkan nyawaku dua kali. Tiga Malaikat Kipas adalah guruku, karena aku memiliki satu ilmu dari mereka. Jadi, ….”
“Jadi Guru mengizinkanku pergi?” Surya Kasyara cepat memotong perkataan gurunya.
“Ya.”
“Terima kasih, Guru! Terima kasih, Guru!” ucap Surya Kasyara begitu senang sambil memeluk kedua kaki gurunya.
Tuut!
Tiba-tiba Linglung Pitura buang angin yang bersuara merdu. Sontak Surya Kasyara membuang tubuhnya terjengkang ke belakang.
“Hahahak…!” tawa Gowo Tungga dan Gembulayu. Namun, keduanya cepat berhenti tertawa saat Linglung Pitura mulai bicara lagi.
“Mengikuti pangeran itu sangat baik bagimu. Kau nantinya akan menjadi orang kerajaan daripada jadi tukang mabuk penipu. Setidaknya masalahku berkurang satu. Dan jangan lupa, sering-seringlah mengirim tuak bagus untukku, daripada aku buat sendiri,” ujar Linglung Pitura, seolah urusan buang angin tidak pernah terjadi.
“Rekayasa, apakah kami bisa ikut denganmu?” tanya Gembulayu.
“Siapa itu Rekayasa?” tanya Surya Kasyara.
“Kau. Kau sendiri yang minta disebut Rekayasa daripada Sontoloyo!” jelas Gembulayu.
“Sembarangan! Sebut aku Surya saja. Kapan aku menyuruh kalian mengganti namaku?” dumel Surya Kasyara.
“Surya, kami hidup di Kadipaten dari dulu hingga sekarang tidak ada perubahan. Kami juga sangat ingin menjadi orang kerajaan. Mungkin kami bisa dapat jabatan senopati,” timpal Gowo Tungga.
“Kalian berdua ikutlah denganku menemui Pangeran Dira. Mungkin kalian bisa diizinkan ikut,” kata Surya Kasyara.
“Tapi di mana Rara?” tanya Linglung Pitura.
“Rara juga ikut berperang melawan Gerombolan Kuda Biru. Dia terluka racun, tetapi sedang dirawat oleh murid Resi Tambak Boyo di Kadipaten,” jawab Surya Kasyara.
“Baiklah. Sebelum kau pergi, bawalah kitab Semburan Raja Mabuk. Ilmumu masih jauh dari cukup untuk langlang buana. Ilmu itu bisa kau pelajari sendiri nanti. Dengan kesaktianmu yang sekarang ini, bisa-bisa bukannya kau yang melindungi Pangeran, tetapi justru kaulah yang dilindungi,” kata Linglung Pitura.
__ADS_1
Surya Kasyara hanya tersenyum kecut.
Kakek perlente itu lalu berbalik dan pergi menuju gubuknya. (RH)