Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Dewo21: Gua Terlarang


__ADS_3

*Desa Wongawet (Dewo)*


Dengan didampingi oleh Titin Susina, Ki Daraki pergi ke daerah terlarang. Titin membawa satu buah suluh sebagai penerang.


Mereka akhirnya tiba di tepi sungai kecil yang melingkari tanah berbukit. Tempat itu sangat gelap dan menyeramkan karena ada sekelompok tumbuhan bambu-bambu besar. Suara dedaunan bambu yang bergesekan tertiup angin malam memberi irama horor tersendiri.


Ki Daraki berhenti sejenak, ia menaburkan sesuatu yang tidak jelas ke udara. Selanjutnya mereka melompati sungai kecil yang mirip parit itu. Keduanya mendaki menuju ke balik pepohonan bambu.


“Aaa...!”


Tiba-tiba terdengar jeritan suara wanita yang bersumber dari dalam gua yang ada di belakang pepohonan bambu. Namun, suara jeritan itu tidak mengejutkan atau membuat Ki Daraki dan Kekasih Utama-nya heran. Mereka memang tahu suara jeritan siapa itu dan karena apa perempuan itu menjerit.


Ki Daraki dan Titin Susina memasuki gua. Bagian depan gua gelap gulita tanpa penerangan. Ketika keduanya masuk, cahaya suluh yang dibawa Titin bisa memperlihatkan bahwa dalam gua lebih luas dibandingkan mulutnya.


Mereka terus berjalan masuk lalu masuk ke kiri, ke sebuah lorong pendek. Mereka sampai di sebuah tempat yang lebih mirip sebuah ruangan batu yang diterangi oleh sejumlah obor batu.


Di ruangan itu ada sesosok tubuh wanita yang menggantung dalam kondisi mengenaskan. Kedua tangannya diikat menyatu dengan rantai yang satu ujungnya menancap kuat di langit-langit batu ruangan itu. Sepasang kakinya yang tidak menyentuh tanah juga diikat dengan rantai.


Tubuh wanita bertubuh mungil itu telah penuh luka bekas cambukan. Pakaian putihnya pun sudah robek-robek berlumur darah. Kondisinya tidak beda jauh dengan kondisi Riri Liwet yang digantung di alun-alun. Wanita bertubuh mungil itu tidak lain adalah salah satu Kekasih Sementara Ki Daraki, yaitu Kemuning.


Kedatangan Ki Daraki membuat Kemuning dengan lemah mencoba mengangkat wajahnya. Dengan tatapan tajam seperti binatang buas terluka, Kemuning memandangi Ki Daraki.


Selain Kemuning, di ruangan batu itu juga sudah ada Karani.


Di satu sudut ruangan ada sebuah kandang teralis besi berbentuk kotak. Di dalamnya ada sesosok tubuh yang meringkuk, seorang wanita lain. Kondisi wanita itu jauh lebih mengenaskan dan menyeramkan. Tubuhnya nyaris tidak tertutupi oleh pakaiannya yang sudah compang-camping robek lebar di sana-sini. Luka-luka di tubuhnya jauh lebih parah daripada Kemuning. Bahkan wajahnya sudah buruk oleh luka yang merusak, luka yang tidak dirawat atau diobati.


Tubuh wanita itu basah kuyup. Terlihat air menggenang di bawah kerangkeng yang seharusnya untuk binatang, sebab wanita itu tidak bisa berdiri di dalam kandang selain berbaring atau duduk meringkuk.


Byur!


Karani melemparkan air di dalam ember yang di bawanya, menyiram sosok wanita di dalam kandang besi.


“Aaa...!”


Ketika air itu menyiram tubuh wanita di dalam kandang, wanita itu menjerit tinggi karena kesakitan. Jika air biasa yang disiramkan kepadanya, mungkin tidak begitu menyakitkan, tetapi air yang disiram adalah air garam sehingga menyakiti luka-luka si wanita.


Suara jeritan wanita inilah yang pernah Joko Tenang dengar pada siang yang lalu.


“Apa yang ingin kau akui, Kemuning?” tanya Ki Daraki.


“Mendekatlah, Ki,” ucap Kemuning dengan suara yang lemah. “Aku akan bisikkan satu rahasia, tapi kau harus berjanji.”


“Baik, apa yang kau minta dari rahasiamu itu?” tanya Ki Daraki, tapi belum mendekat.


“Jangan kau bunuh nama-nama yang aku sebutkan,” ujar Kemuning.


“Baik, aku hanya akan mengusir mereka dari desa ini,” kata Ki Daraki, setuju.

__ADS_1


“Mendekatlah,” pinta Kemuning lagi, suaranya nyaris tidak terdengar.


Ki Daraki melangkah mendekati tubuh Kemuning yang menggantung. Ia dekatkan wajahnya ke bawah wajah Kemuning.


“Cuih!”


Tiba-tiba Kemuning meludahi wajah Ki Daraki dengan darah bercampur ludah di mulutnya.


Ki Daraki spontan terdiam memejamkan mata. Namun, giginya saling menekan keras dan wajahnya menegang.


Ses!


Di tangan kanan Ki Daraki muncul gumpalan sinar kuning.


“Hihihi! Aku sangat mendambakan meludahi wajah kejimu itu, Ki!” kata Kemuning sambil tertawa senang.


“Kau memilih mati cepat, Kemuning!” desis Ki Daraki murka.


Ki Daraki lalu mengangkat tangan kanannya hendak menghantamkan sinar kuningnya ke tubuh Kemuning.


“Ki!” panggil seorang wanita tiba-tiba, membuat Ki Daraki berhenti bergerak.


Ki Daraki cepat menengok dengan wajah yang begitu marah. Dilihatnya Sumirah berdiri memandangnya.


“Kenapa?!” tanya Ki Daraki membentak Kekasih Utama-nya itu.


Dengan napas yang memburu menahan kemarahan, Ki Daraki memadamkan sinar kuning di tangannya.


“Titin! Cambuk lagi Kemuning!” perintah Ki Daraki kepada Titin Susina.


“Baik, Ki,” ucap Titin Susina lalu bergerak mendekati sebuah meja kayu yang di atasnya terdapat sejumlah alat-alat untuk menyiksa.


Dengan kesal karena menunda membunuh Kemuning, Ki Daraki melangkah pergi masuk ke dalam gua lebih dalam.


Ctas! Ctas!


Titin Susina mulai mencambuk tubuh Kemuning. Setiap cambukan mendarat di tubuhnya, Kemuning hanya menjerit lirih, menahan sekuat tenaga rasa sakit dan perih. Ia tidak mau menjadi wanita yang lemah. Ia berkeyakinan bahwa itu adalah risiko dari perjuangan.


“Meski harus mati, aku tidak akan menyesal,” batin Kemuning.


Sumirah hanya berdiri memandangi Kemuning yang berusaha bertahan menahan siksaan.


“Titin!” panggil Sumirah, membuat Titin berhenti mencambuk.


“Ada apa, Sumirah?” tanya Titin dengan tatapan curiga.


“Biar aku yang mencambuknya, bukankah kau telah melakukannya sejak awal tadi,” kata Sumirah.

__ADS_1


“Nih!” ketus Titin langsung menyerahkan cambuk di tangannya ke tangan Sumirah. Ia memang kesal, karena sejak cambukan pertama terhadap Kemuning, memang dia yang melakukannya, membuat tangannya cukup pegal.


Sumirah segera mencambuk tubuh Kemuning. Titin memandangi sejenak kerja Sumirah, setelahnya ia memilih pergi keluar dari tempat itu dengan membawa sebuah suluh bambu.


Seperginya Titin, Sumirah memperlambat jarak cambuknya dan mengurangi tenaga lecutnya. Tindakan Sumirah itu membuat rasa sakit yang diderita Kemuning berkurang.


Bress!


Tiba-tiba di salah satu dinding gua muncul sinar merah berbentuk jaring laba-laba besar. Kejadian itu mengejutkan Sumirah dan Karani.


Tiba-tiba pula, sesosok wanita laksana bidadari keluar dari dalam sinar tersebut. Wanita itu adalah Tirana.


“Tirana!” sebut Karani terkejut.


Namun, Sumirah dan Karani berhenti mematung saat ada satu gelombang tenaga halus menerpa tubuh mereka. Tirana mengerahkan ilmu Pemutus Waktu-nya.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Sumirah dengan mata lebarnya yang mendelik.


Tirana hanyat tersenyum tanpa menjawab. Ia menghampiri Kemuning yang menggantung.


“Kemuning!” panggil Tirana lembut.


Kemuning yang tidak terkena dampak dari ilmu Pemutus Waktu, perlahan mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang datang.


“Tirana, akhirnya kau mau membantu kami,” ucap Kemuning lemah.


Tes! Bluk!


Tirana memutus rantai yang menggantung tubuh Kemuning dengan sentilan tenaga dalamnya. Tubuh mungil Kemuning jatuh terkulai ke bahu kanan Tirana.


Bress!


Tirana melemparkan sinar Lorong Laba-Laba ke dinding batu. Tubuh Kemuning ia lempar begitu saja ke jaring sinar. Tubuh Kemuning masuk hilang begitu saja ke dalam ilmu Lorong Laba-Laba yang kemudian cepat menghilang.


Tirana masih berdiri di situ. Sejenak ia memandang kepada Sumirah dan Karani. Ia juga memandang agak lama kepada kerangkeng yang mengurung seorang wanita yang tidak ia kenal.


“Tirana, kau akan menyesal membantu para pemberontak desa ini!” teriak Karani dalam kondisinya yang tidak bisa bergerak sedikit pun.


Tirana hanya tersenyum kepada Karani.


Bress!


Tirana kembali melemparkan jaring laba-labanya ke dinding. Selanjutnya ia bergerak masuk dan menghilang bersama ilmunya itu. Setelah itu, Sumirah dan Karani bisa bergerak normal kembali. (RH)


************


Yuk dukung karya Om Rudi ini dengan memberi rate, like, komen dan gift terbaikmu. Semoga berkah. Terima kasih, para Readers.

__ADS_1


__ADS_2