Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Padi Ragi 7: Pertemuan Kedua


__ADS_3

*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*


 


Joko Tenang dan Getara Cinta memandang sejenak keenam orang yang mengepungnya.


“Kita habisi mereka!” bisik Joko Tenang kepada Getara Cinta.


Getara Cinta mengangguk seraya tersenyum kecil kepada suaminya tercinta.


Melihat senyum keduanya, Renggong Walu menilai itu adalah alamat buruk bagi mereka. Namun, gentar bukan alasan untuk mundur.


“Berani ambil jalan salah, maka berani pula mati dalam pertarungan.”


Itulah prinsip yang tertanam di dalam kepala Renggong Walu.


“Tunjukkan kesaktian kalian!” teriak Renggong Walu.


“Baik!” sahut kelima pendekar lainnya.


Maka, mereka berenam kembali menunjukkan ilmu kesaktian mereka yang beraneka macam.


Joko Tenang dan Getara Cinta berdiri saling membelakangi dengan punggung merapat. Mesra sekali.


Dari utara dan selatan melompat dua seorang pendekar dengan tangan telah berbekal sinar ajian, siap dihantamkan kepada Joko Tenang dan Getara Cinta.


Zerzzz!


Namun, kesaktian keduanya harus hanya sebatas di tangan. Sebab, aliran-aliran listrik berwarna hijau dari tangan kanan Joko Tenang dan Getara Cinta kompak menyergap mereka lebih dulu di udara. Kedua pendekar itu tertahan di udara dengan tubuh kejang-kejang.


“Aaak…!” jerit keduanya tanpa bisa melawan.


Wurss! Zerzz!


Di saat proses penyetruman tegangan tinggi itu, satu pendekar memilih menyerang dari jauh. Lelaki berkepala botak melepaskan satu sinar merah berwujud bola berpijar. Namun, tangan kiri Joko Tenang cepat menghentak, melesatkan lima listrik hijau baru dari ilmu Lima Jerat Terakhir.


Sinar merah berpijar itu tertahan di tengah jarak. Ia digerogoti oleh listrik hijau dari jari-jari Joko Tenang.


Pada saat yang bersamaan, satu pendekar wanita melesatkan sinar biru berekor dari jarak jauh pula kepada Getara Cinta.


Switts! Buoom!


Dengan tinju kiri yang bersinar hijau, Getara Cinta menghantam datangnya sinar biru. Ledakan dari pertemuan dua tenaga sakti terjadi. Hasilnya, pendekar wanita itu terpental keras ke belakang. Tingkat tenaga saktinya terlalu jauh di bawah milik Getara Cinta. Setelah muntah darah, ia tewas di tempat.


Pada saat itu juga, Renggong Walu yang ragu akhirnya menyerang dengan lemparan kedua celurit kembarnya yang sudah menyala merah membara.

__ADS_1


Wess! Trang!


Tiba-tiba dari arah lain, berkelebat sosok wanita berpakaian merah kuning putih. Dengan pedang miliknya, wanita yang muncul tiba-tiba itu menebas kedua celurit Renggong Walu di udara. Kedua celurit terbang Renggong Walu terpental dan jatuh berserak ke tanah.


“Kusuma Dewi!” seru Joko Tenang sumringah ceria, secerah matahari pagi yang menjadi saksi utama pertempuran besar itu.


“Aku kembali untuk menjadi istrimu, Joko!” sahut Kusuma Dewi sambil menengok sekejap kepada Joko Tenang, lalu kembali waspada kepada Renggong Walu.


Blar!


Pendekar yang dijerat oleh aliran listrik jari-jemari tangan Getara Cinta meledak di udara. Cara mati yang pernah dialami oleh Prabu Cokro Ningrat, Raja Kerajaan Tarumasaga.


Sementara pendekar yang dijerat oleh listrik jari-jari Joko Tenang jatuh dengan kondisi tubuh menghijau gelap. Asap tipis mengebul dan bau sangit tercium tajam.


Zwung!


Sinar merah berpijar yang dijerat di udara oleh ilmu Lima Jerat Terakhir tiba-tiba melesat pulang dengan kecepatan dan kekuatan bertambah dua kali lipat. Pendekar botak pemilik sinar merah berpijar tidak bisa berbuat apa-apa dibunuh oleh kesaktiannya sendiri. Tubuhnya hancur musnah, kecuali dua pasang kakinya yang tersisa, tanpa paha dan lutut.


Melihat kesaktian Joko Tenang dan Getara Cinta yang begitu mengerikan, satu pendekar keriting rekan Renggong Walu jadi ciut. Ia buru-buru berbalik dan berkelebat kabur.


Wust! Dak!


Namun, tiba-tiba Surya Kasyara muncul terbang seperti orang yang terbawa roket. Ia terbawa oleh lesatan bumbung tuaknya. Bumbung itu kemudian menghantam lambung si pendekar berambut keriting, sehingga terdorong keras ke samping lalu jatuh ke tanah.


Bukan hanya Kusuma Dewi dan Surya Kasyara yang datang, Arya Permana dan Kayuni Larasati pun sudah tiba di tempat itu.


“Kusuma!” panggil Joko Tenang sambil menyentuh bahu kanan Kusuma Dewi dari belakang.


“Joko!” Kusuma Dewi yang sedang siap bertarung melawan Renggong Walu, tidak bisa menahan kerinduannya kepada Joko Tenang. Ia langsung berbalik dan memeluk erat tubuh Joko Tenang. Kembali, ada tangis yang terdengar dari Kusuma Dewi.


Getara Cinta tersenyum melihat kembalinya Kusuma Dewi dalam pelukan Joko Tenang. Ia lalu melangkah mendekati Renggong Walu.


Ingin rasanya Renggong Walu berlari mundur dari pertarungan, tetapi alangkah malunya dia jika itu dilakukan. Ia tahu, bahwa Gadis Kuda Biru dan Nenek Haus Jantung mengamati pertempuran itu dari penginapan yang ada di sisi utara arena pertarungan.


Seet!


Renggong Walu menghentakkan kedua tangannya ke arah kedua celuritnya yang tergeletak di tanah. Dua celurit kembar itu melesat seperti tersedot besi berani kepada genggaman Renggong Walu.


“Hiaat!” teriak Renggong Walu maju sambil mengibaskan kedua celurit kembarnya yang menyala merah, ingin merobek perut Getara Cinta.


Dengan mudah Getara Cinta mengelaki serangan senjata itu. Gerakan Getara Cinta jauh lebih cepat dibanding Renggong Walu.


Sementara itu, Joko Tenang mengecup kening Kusuma Dewi sebagai wujud syukurnya, gadis yang baru semalam ia tangisi kepergiannya akhirnya kembali.


“Terima kasih kau telah mau kembali, Kusuma,” ucap Joko Tenang.

__ADS_1


“Aku lebih baik menanggung sakit sebagai istrimu, daripada menanggung sakit sebagai wanita liar,” kata Kusuma Dewi.


“Asalkan kau mau menerima istri-istriku yang lain, aku berjanji akan berusaha membuatmu bahagia,” tandas Joko Tenang sambil menyeka air mata Kusuma Dewi dengan buku jari kekarnya.


“Aku akan berusaha,” kata Kusuma Dewi seraya mengangguk dan tersenyum manis menatap sepasang mata Joko Tenang.


Sesss! Sep!


Joko Tenang melihat sesosok wanita berpakaian biru berkelebat cepat datang ke arena pertarungan. Wanita itu melesatkan selarik sinar kuning panjang yang membokong punggung Kusuma Dewi.


Joko Tenang cepat memutar balik posisi tubuhnya dan tubuh Kusuma Dewi, sehingga sinar kuning itu masuk lenyap ke dalam punggung Joko Tenang yang dilapisi oleh Rompi Api Emas.


Hal itu membuat Kusuma Dewi terkejut. Ia cepat melihat kepada orang yang membokongnya.


Tampak di depan sana, telah berdiri wanita berpakaian biru yang tidak lain adalah Gadis Kuda Biru, pemimpin Gerombolan Kuda Biru.


Ketua Gerombolan Kuda Biru telah turun ke dalam pertempuran para pendekar itu.


Sementara itu, Renggong Walu tidak berdaya menghadapi kecepatan gerak Getara Cinta. Pada satu kesempatan, dia memilih melompat mundur menjauh. Dua celuritnya yang telah terjatuh di tanah, cepat ia sedot ke tangannya.


Kemudian, kedua celurit itu kembali dilesatkan dalam kondisi menyala merah.


Zerzz! Ctarr!


Namun, belum apa-apa, kedua celurit itu sudah ditangkap oleh jeratan listrik hijau dari tangan kanan Getara Cinta. Tidak lama, kedua celurit itu hancur berkeping.


Zurzzz! Bloom!


Renggong Walu menyusulkan serangannya dengan lesatan sinar putih redup sebesar kepala kerbau. Jelas itu serangan yang salah, sebab Getara Cinta akan mengadunya dengan tinju sinar hijaunya.


Hasilnya, sinar putih hancur ditinju oleh Getara Cinta, menimbulkan ledakan tenaga. Tubuh Renggong Walu terpental deras tersuruk di tanah dengan punggungnya. Saat itu juga, Renggong Walu menghembuskan napas terakhir.


Kini, Gadis Kuda Biru berdiri berhadapan dengan Kusuma Dewi, tetapi di sisi Kusuma Dewi ada Joko Tenang yang berdiri mendampingi.


Pemimpin kedua kubu telah berhadapan. (RH)


 


***************


PERETANYAAN?


Apakah pertarungan antara Joko Tenang dengan Gadis Kuda Biru akan terjadi? 


Ataukah Gadis Kuda Biru akan berhadapan dengan salah satu istri Joko Tenang?

__ADS_1


__ADS_2