Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
113. Bidadari Puspa


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Rombongan Putra Mahkota Negeri Lor We, Pangeran Young Tua, harus beristirahat dahulu di kota Muchiyang sebelum melanjutkan perjalanannya ke ibu kota We. Muchiyang adalah ibu kota salah satu provinsi yang dimiliki oleh Negeri Lor We.


Meski di kota Muchiyang tinggal seorang gubernur, tetapi sang pangeran lebih memilih beristirahat di sebuah penginapan dengan maksud menghindari protokoler yang berbelit. Bahkan ia menolak tawaran pelayanan dari pihak pejabat. Pangeran Young Tua hanya berpesan agar tidak membuat masalah jika nanti ada pasukan dari Negeri Ci Cin melalui wilayah itu.


Pada kesempatan itu, Tirana berulang kali membujuk Puspa agar mau mandi membersihkan diri. Setelah ditunjukkan kolam mandi yang besar, indah dan harum, barulah Puspa berkenan mandi.


Tirana yang menunggu di balik dinding shoji ala budaya Jepang, dapat mendengar kegembiraan Puspa saat mandi. Suara tawanya yang cekikikan selalu terdengar, membuat Tirana terkadang tersenyum sendiri.


Di dalam ruang pembersihan, Puspa masuk ke dalam air kolam bersama seluruh pakaiannya. Tidak ayal, air kolam pun berubah keruh. Namun, Puspa tidak ambil peduli. Ia begitu menikmati mandinya.


Secara perlahan kotoran tanah dan debu yang melekat di tubuhnya luntur. Semua bahan pembersih, pengharum, hingga penggosok daki, ia guna dengan kesenangan tersendiri baginya. Tidak hanya sebagai alat mandi, berbagai benda yang ada ia jadikan bahan mainan.


Jreg!


Setelah sekian lama, dalam durasi tiga kali dari waktu normal orang biasa mandi, akhirnya shoji dibuka dari dalam. Keluarlah Puspa.


“Wow!” desah Tirana ketika melihat paras Puspa yang sudah tampak aslinya.


Tirana melihat kecantikan paras alami yang memesona. Wajah indah dengan sepasang bola mata yang berbinar, hidung bangir tapi mungil, dan bibir tipis yang menggemaskan, 360 derajat sangat bertolak belakang dengan paras sebelumnya yang kotor menyeramkan. Rambutnya terurai lurus dan basah masih banyak meneteskan air.


Tirana segera terkejut saat sadar dari keterpukauannya. Saat itu, Puspa masih dalam kondisi berpakaian lengkap yang basah kuyup, sehingga air bertetesan ke lantai.


“Aih, kok bajunya tidak diganti!” pekik Tirana lalu buru-buru mendorong kedua bahu Puspa kembali ke dalam seiring ia pun masuk.


Pintu geser kembali ia tutup.


“Puspa tidak mau buka, nanti badan Puspa kelihatan!” pekik Puspa di dalam.


“Habis dibuka, kita tutup lagi dengan pakaian yang cantik,” kata Tirana lembut, mencoba membujuk Puspa, seperti membujuk bocah besar.


“Kalau pakai baju baru, nanti badan Puspa gatal-gatal,” kilah Puspa.


“Tidak. Ini kan bahannya lembut dan harum. Coba cium.”


“Hmm, iya ya, wangi.”


“Sini, biar aku bantu Puspa buka baju.”


“Hihihi! Tirana seperti anak kecil saja.”


Terdengar Tirana pun tertawa.


“Ternyata Puspa cantik seperti bidadari, ya.”


“Hihihi! Kau saja yang dari dulu tidak sadar bahwa Puspa itu selalu cantik. Kemarin-kemarin Puspa juga sudah cantik.”


“Kalau seperti ini, Puspa bisa nikah cepat.”


“Jangan coba-coba menuduhku suka dengan Kucing Hutan yang mata perempuan itu! Kucing Hutan itu sahabatku, bukan calon suamiku!”


“Kalau mau calon suami juga tidak apa-apa.”

__ADS_1


“Cuih! Puspa sedikit pun tidak tertarik. Kucing Hutan itu kelihatan tampan hanya karena tidak lelaki lain di dekatnya. Apalagi sekarang dia pasti sudah mati. Hah, Puspa ingin menangisi kematiannya, tetapi Puspa tidak bisa menangis.”


“Aku yakin, Kakang Joko masih hidup.”


“Itu karena kau cinta mati kepada Kucing Hutan itu, jadi kau tidak seperti Puspa. Eh, jangan lihat-lihat badanku! Lihat ke atas, ke atas!”


“Tidak, aku tidak lihat. Aku menutup mata.”


“Eh, jangan sentuh-sentuh!”


“Tidak, sedikit saja, biar bisa masuk. Masukkan tanganmu!”


“Sudah masuk.”


“Nah, kalau begitu kan enak rasanya. Jadi pakai bajunya nyaman. Puspa bisa tambah cantik.”


“Hihihi! Puspa memang cantik.”


“Sini, biar aku keringkan rambutmu.”


“Hati-hati, nanti penghuninya terganggu.”


“Di rambutmu banyak penghuninya?”


“Iya. Rambut Puspa itu hutan bagi mereka.”


“Baik, sudah selesai!”


“Kalau sudah mandi seperti ini, Puspa merasa segar. Kenapa tidak dari dulu kau menyuruh Puspa mandi?”


Jreg!


Pintu ruangan mandi itu akhirnya dibuka. Melangkah keluarlah kedua wanita itu.


Tampilan Tirana masih sama ketika ia masuk. Namun, tampilan Puspa sudah bertransformasi menjadi seorang bidadari.


Puspa kini adalah seorang wanita cantik dengan kulit putih terang. Berpakaian hanfu warna merah terang berpadu dengan sedikit warna kuning. Rambutnya lurus lembab dengan kecantikan wajah yang natural tanpa sedikit pun polesan pupur atau gincu. Kuku-kuku jari panjangnya sudah bersih, tidak berwarna hitam lagi.


Meski secara visual sulit dikatakan lebih cantik dari Tirana, tetapi Puspa memiliki kecantikan yang bisa disandingkan dengan kecantikan calon istri Joko Tenang itu.


“Ayo, kita lanjutkan perjalanan mencari Kucing Hutan!” kata Puspa sambil berjalan menuju keluar kamar.


“Bukankah kita ikut rombongan prajurit itu?” tanya Tirana bermaksud mengingatkan.


“Untuk apa ikut orang yang Puspa tidak kenal? Kita harus cepat menemukan Kucing Hutan lalu kembali lagi ke timur untuk mencari Permata Darah Suci!” tandas Puspa.


Sekeluarnya dari kamar mereka, dari koridor muncul Zhao Lii, putri Jenderal Zhao Jiliang.


“Tirana!” panggil Zhao Lii.


Tirana berhenti. Ia memandangi kedatangan gadis cantik putri jenderal itu. Sementara Puspa sejenak memandang tajam kepada Zhao Lii, lalu terus berjalan menuruni tangga menuju pintu keluar penginapan yang ada di lantai bawah.


“Siapa wanita itu?” tanya Zhao Lii sambil menunjuk Puspa.

__ADS_1


Meski tidak paham arti dari pertanyaan Zhao Lii, tetapi Tirana bisa menangkap maksud perkataan itu.


“Puspa,” jawab Tirana singkat.


“Hah! Secantik itu?”


“Kami mau melanjutkan perjalanan ke barat,” jawab Tirana tanpa menerjemahkan kalimatnya dengan bahasa isyarat.


“Mau ke mana dia?”


“Puspa tidak mau ikut rombongan. Aku permisi, Nona,” kata Tirana lalu mengjura hormat. Ia buru-buru berbalik meninggalkan Zhao Lii yang masih ingin bicara.


“Eh, Tirana!” seru Zhao Lii.


Namun, Tirana sudah berkelebat turun tanpa menggunakan tangga, sebab dilihatnya Puspa sedang berseteru dengan prajurit yang berjaga di pintu utama penginapan. Zhao Lii segera berlari kecil untuk mengejar.


“Minggir!” bentak Jalang kepada empat prajurit yang berdiri memagar di pintu masuk.


“Nona tidak boleh keluar!” tegas satu prajurit. Mereka tidak perlu menggubris perkataan Puspa yang tidak mereka mengerti.


Puspa pun tidak mengerti maksud perkataan prajurit itu. Ia hanya menggeram lalu menghentakkan sepasang bahunya.


Wess!


Maka satu gelombang kekuatan tenaga dalam yang tidak terlihat menghempas tubuh keempat prajurit itu.


“Cecunguk-cecunguk tidak tahu diri!” maki Puspa sambil melangkah pergi melewati para prajurit yang terkapar kesakitan.


Di belakang, Tirana segera menyusul ke luar.


Agak jauh di belakang, Zhao Lii berlari kecil mencoba mengejar kedua teman asingnya itu. Ia punya hal penting yang harus ia sampaikan kepada Tirana.


“Berhenti!” teriak seorang pemimpin prajurit yang berjaga di depan penginapan.


Puspa yang diteriaki bersikap abai. Ia melihat ke arah matahari siang dan beralih melihat bayangan. Setelah itu, ia menyimpulkan di mana arah barat. Namun, ketika Puspa ingin pergi, belasan prajurit berseragam hitam-hitam, berhelm hitam dan menutupi wajahnya dengan kain hitam, bergerak mengepung Puspa.


“Argk!” Puspa menggeram keras seperti seekor binatang buas, membuat para prajurit itu terhentak nyalinya sehingga tanpa sadar mereka mundur setindak, meski pedang terhunus di tangan mereka.


“Tahan!” seru Tirana. Ia dalam sedetik sudah tiba di sisi Puspa. Sambil memberi isyarat dengan tangannya, Tirana berkata kepada para prajurit itu, “Beri jalan, kami ingin pergi!”


Pemimpin prajurit dan para anak buahnya hanya saling berpandangan. Seolah bertanya kepada rekannya arti dari perkataan Tirana.


“Aaa! Terlalu lama!” teriak Puspa lalu berlari cepat menerobos hadangan para prajurit.


Tirana hanya bisa tersenyum geli ketika melihat sebagian dari prajurit itu berpentalan ke udara saat tubuh Puspa menerabas mereka.


Zhao Lii yang masih berlari di dalam penginapan hanya bisa mendelik terperangah.


Tirana segera berkelebat menyusul Puspa yang pergi ke arah barat. Ia tidak mau kehilangan Puspa karena ia tidak mau pula kesulitan untuk pulang kembali ke negeri mereka.


“Nona Zhao!” seru seorang prajurit mencoba mencegah kepergian Zhao Lii.


“Minggir, Prajurit! Aku mendapat tugas dari Yang Mulia Pangeran untuk disampaikan kepada mereka!” tandas Zhao Lii.

__ADS_1


Akhirnya prajurit itu memberi jalan kepada Zhao Lii yang buru-buru berlari ke arah kepergian Puspa dan Tirana. (RH)


__ADS_2