
*Cincin Darah Suci*
“Siapkan kuda!” perintah Kaisar Tsaw lalu berjalan tergesa meninggalkan para pejabatnya begitu saja, padahal diskusi mereka membahas serangan di Ibu Kota terhadap Putri Yuo Kai belum selesai.
Para pejabat segera menjura hormat. Kasim Yo Gou dan Jenderal Bo Yung bergegas pula mengiringi langkah Kaisar.
Ketika Kaisar Tsaw sudah berada di luar, seekor kuda berpelana bagus sudah disiapkan oleh prajurit. Sigap Kaisar naik ke kuda dan langsung menggebahnya. Jenderal Bo Yung selaku pengawal pribadi Kaisar menggunakan kuda milik prajurit sandi untuk mengawal Kaisar. Sementara Kasim Yo Gou harus menerima nasib untuk berlari sendiri mengejar dan tertinggal.
Para pejabat dan menteri segera berjalan kaki menyusul menuju Istana Haram.
Jarak antara ruang baca itu dengan Istana Haram tidak begitu jauh, masih wajar ditempuh dengan berjalan kaki. Penggunaan kuda di dalam istana hanya berlaku untuk urusan yang mendesak.
Sementara itu di dalam Istana Haram yang atap dan sebagian bangunannya hancur parah, Putri Yuo Kai bersama pengawal dan dua pelayannya mencoba memastikan apa sebenarnya yang jatuh menimpa istana kecil itu. Putri Yuo Kai yang berhasil lolos dari hantaman di kolam pemandian hanya mengenakan selapis pakaian yang menutupi tubuhnya.
“Manusia?” kejut Putri Kai berucap lirih.
Putri Kai semakin mendekat, demikian pula dengan Bo Fei. Pelayan Mai Cui dan Yi Liun lebih memilih menunggu agak jauh dari kolam yang sudah kering dari air.
Ketika Putri Kai dan Bo Fei berdiri tepat di bibir kolam, mereka melihat dengan jelas bahwa benda yang membuat dasar kolam sampai amblas agak dalam adalah sesosok manusia berambut panjang. Terlihat jelas bibirnya yang merah karena posisi tubuh Joko berbaring dengan punggung di bawah.
“Wanita,” ucap Putri Kai.
“Lelaki, Yang Mulia,” ralat Bo Fei. “Bibirnya memang merah, tetapi bentuk tubuhnya jelas lelaki.”
“Apakah dia mati?” tanya Putri Kai.
“Aku akan periksa,” kata Bo Fei lalu melompat turun ke dasar kolam yang basah dan licin.
Bo Fei berjongkok untuk memastikan kondisi tubuh Joko yang terpendam agak ke dalam. Bo Fei melihat masih ada gerakan dada naik turun yang lemah, menunjukkan masih ada sistem pernafasan yang bekerja. Bo Fei meraih pergelangan tangan kanan Joko. Masih ada denyut nadi, tetapi lemah.
“Masih hidup, Yang Mulia. Tapi kondisinya sangat kritis,” kata Bo Fei.
Putri Yuo Kai terdiam sejenak, berpikir.
“Bagaimana bisa ada orang jatuh dari atas menimpa istanaku?” ucap Putri Kai lirih. Pertanyaan yang tidak bisa dijawab juga oleh Bo Fei. “Apakah dia dewa yang dibuang oleh Kaisar Langit?”
Seorang prajurit wanita berpakaian model pria datang masuk ke kamar. Ia menjura hormat agak jauh di belakang Putri Kai.
__ADS_1
“Lapor, Yang Mulia. Yang Mulia Kaisar tiba di gerbang depan!” lapor prajurit itu.
Putri Kai sudah menduga akan ada banyak orang yang datang ke istana keputrian itu.
“Bo Fei, temui Ayahanda. Katakan bahwa aku sedang berpakaian karena benda langit itu jatuh di saat aku sedang mandi. Izinkan Ayahanda dan Permaisuri masuk menunggu. Selain keduanya, jangan ada yang masuk!” perintah Putri Kai.
“Baik, Yang Mulia,” ucap Bo Fei lalu bergegas pergi.
“Kalian bertiga, angkat tubuh lelaki itu dan masukkan ke ruang latihanku. Rantai kaki dan tangannya. Dan kau Mai Cui, harus tetap berjaga di sisinya, jangan pernah meninggalkannya!” perintah Putri Kai kepada kedua pelayan dan satu prajuritnya itu.
“Baik, Yang Mulia Putri!” jawab mereka serentak.
Putri Kai beranjak untuk berpakaian dengan normal. Sementara ketiga abdinya berjuang mengangkat tubuh Joko Tenang keluar dari lubang. Tubuh Joko diangkat oleh Mai Cui dan Yi Liun. Sementara prajurit wanita satunya membuka sebuah pintu rahasia di satu sudut lantai kamar.
Pintu lantai itu membuka sebuah lubang besar yang memiliki tangga menuju ke sebuah ruangan besar di bawah tanah. Cahaya puluhan lilin di tembok-tembok menjadi penerang di dalam ruangan.
Sementara itu di depan gerbang Istana Haram. Kaisar menahan kesal karena harus menunggu. Sebagai seorang kaisar penguasa negeri dan Istana Kekaisaran itu, ia tidak bisa langsung masuk ke istana putrinya.
Gerbang itu ditutup rapat oleh penjagaan 12 Pengawal Angsa Merah. Bersama Kaisar berdiri Jenderal Bo Yung. Tak berapa lama, Kasim Yo Gou tiba dengan terengah-engah dan berdiri di sisi Jenderal Bo Yung.
Saat yang sama, muncul pula Permaisuri Fouwai yang datang bersama Selir Ni dan Selir Yim, termasuk Pangeran Tutsi Han Tsun dan Putri Tutsi Ling Mei. Mereka dikawal oleh para pelayan yang jumlahnya cukup banyak.
“Mohon ampuni kami, Yang Mulia!” seru Bo Fei dari belakang barisan Pengawal Angsa Merah sambil datang dan bersujud hormat di tanah.
Ucapan Bo Fei seperti itu membuat ke-12 Pengawal Angsa Merah dan prajurit Istana Haram lainnya turun jatuh bersujud.
“Benda langit jatuh saat Yang Mulia Putri sedang membersihkan diri. Harap Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri masuk dan menunggu, karena Yang Mulia Putri sedang berpakaian,” ujar Bo Fei, masih dalam posisi bersujud.
“Bagaiamana dengan putriku, Bo Fei?” tanya Permaisuri Fouwei penuh cemas.
“Yang Mulia Putri dalam kondisi baik-baik saja, Yang Mulia,” jawab Bo Fei.
“Oh, syukurlah. Dewa masih melindungi,” ucap Permaisuri Fouwei lega.
“Bangunlah!” perintah Kaisar Tsaw.
Bo Fe dan pengawal Putri Kai lainnya segera bangun. Pengawal Angsa Merah segera bergerak membuka jalan. Kaisar Tsaw dan Permaisuri Fouwei segera melangkah masuk. Setelah keduanya memasuki gerbang Istana Haram, Pengawal Angsa Merah kembali bergerak menutup menciptakan barikade manusia. Bo Fei segera mengiringi Kaisar dan Permaisuri di belakang.
__ADS_1
Kedua selir, pangeran dan putri serta para pejabat hanya bisa kecewa karena harus menunggu di luar untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana.
Dari halaman Istana Haram saja, Kaisar dan Permaisuri sudah bisa melihat kerusakan atap yang parah. Ketika tiba di pintu yang masih dijaga oleh dua prajurit wanita berpakaian pria, semakin banyak kerusakan yang bisa dilihat.
Dari arah dalam, berjalan Putri Kai dengan gaun putih yang anggun. Rambutnya terurai lurus panjang tanpa mengurangi kecantikannya yang tanpa perhiasan di kepala.
“Hormat ananda kepada Ayahanda Kaisar dan Ibunda Permaisuri,” ucap hormat Putri Kai sambil turun berlutut.
“Bangunlah, putriku,” perintah Kaisar Tsaw cepat sambil menyentuh kedua lengan putrinya.
Putri Kai bergerak bangun berdiri. Kaisar dan Permaisuri sejenak memperhatikan kondisi fisik putri mereka, khawatir jika ada cedera akibat peristiwa mengejutkan itu.
“Bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Kaisar Tsaw sambil berjalan masuk untuk melihat langsung kerusakan parah yang terjadi, terkhusus di kamar sang putri.
Putri Yuo Kai mendampingi ayahnya pergi melihat kerusakan di dalam kamar yang juga becek oleh sebaran air kolam.
“Lalu benda apa yang jatuh dari langit itu?” tanya Kaisar Tsaw.
“Apakah ada yang melihat benda itu datang dari langit, Ayah?” tanya Putri Kai, sebab ia tidak yakin jika Joko yang jatuh itu datang dari langit.
“Prajurit sandi di atas menara melihat langsung benda itu jatuh dari langit,” jawab Kaisar Tsaw.
“Tapi tidak ada benda atau batu yang jatuh. Aku melihat sinar kuning emas yang menghancurkan istanaku. Tidak ada batu,” kata Putri Kai, menutupi keberadaan tubuh seorang lelaki yang jatuh.
“Istana ini tidak bisa lagi ditinggali, Kai’er,” kata Permaisuri Fouwei.
“Untuk sementara aku akan tinggal di Istana Tua,” kata Putri Kai.
“Kenapa tidak tinggal bersama Ling Mei untuk sementara?” tanya Permaisuri.
“Aku tidak ingin membebani adikku. Aku khawatir dia akan tertekan jika hari-harinya bersamaku,” kilah Putri Kai.
“Syukurlah jika tidak terjadi apa-apa padamu, putriku. Istana yang hancur masih bisa dibangun kembali dengan cepat. Tapi, jika benda langit sampai jatuh ke Istana Kekaisaran Jang, apakah itu pertanda ada peristiwa besar yang akan melanda Negeri Jang?” pikir Kaisar Tsaw.
“Jikapun memang akan ada yang terjadi di kemudian hari, tentunya aku dan Ayah bisa melewatinya,” kata Putri Kai menyemangati ayahnya.
“Besok aku akan mengerahkan pekerja yang banyak agar Istana Haram ini kembali utuh,” kata Kaisar Tsaw kepada putrinya. Lalu katanya kepada Permaisuri, “Kita kembali. Aku harus melanjutkan urusanku dengan para menteri.”
__ADS_1
Putri Kai dan Bo Fei segera berlutut menghormat melepas kepergian Kaisar dan permaisurinya. (RH)