Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Dewo8: Penyusup


__ADS_3

*Desa Wongawet (Dewo)*


 


“Kau hanya perlu menunggu kami di rumah Kepala Desa,” kata Tirana kepada Gulung Lidah.


“Ini tetete... terlalu mudah,” kata Gulung Lidah seraya tersenyum enteng.


“Buktikan jika mudah,” kata Tirana mendesak.


Gulung Lidah yang terbawa oleh penggiringan Tirana, akhirnya berkelebat masuk.


“Hei!” teriak pemuda penjaga gerbang. Ia terkejut saat melihat Gulung Lidah berkelebat masuk melewati gerbang. Lalu teriaknya kencang, “Ada penyusup!”


Tiba-tiba dari daerah kanan kiri jalan besar yang membelah desa berkelebatan sejumlah orang, laki-laki dan perempuan.


Dak dak!


Beberapa lelaki langsung menyerang Gulung Lidah dengan terjangan di udara. Gulung Lidah menangkis dengan kedua tangannya. Gulung Lidah terdorong mundur, tapi bisa mendarat baik di tanah.


Sebanyak sebelas orang, tujuh lelaki muda dan empat wanita muda langsung mengatur formasi mengurung.


“Apa maksudmu masuk ke desa ini tanpa izin, Kisanak?!” tanya pemuda berbaju hitam yang bajunya tidak dikancing, dibiarkan terbuka sehingga memperlihatkan otot badannya yang sudah berkeringat oleh aktivitas sebelumnya. Dia bernama Rawing, salah seorang pemuda yang disegani di Desa Wongawet itu.


Sementara Joko Tenang dan Tirana hanya menyaksikan dari luar gerbang atas apa yang dihadapi oleh Lidah Gulung.


“Mememe... memangnya kekeke... kanapa kalau aku masuk ke dedede... desa ini? Di dedede... desa lain tidak mamama... masalah!”


Para pemuda itu saling pandang dengan tersenyum saat mendengar cara bicara Gulung Lidah.


“Kekeke... kenapa? Tititi... tidak pernah lihat orang bibibi... bicara gagap?!” bentak Gulung Lidah.


“Ada apa, Rawing?” tanya seorang pemuda berpakaian biru mengilap. Ia datang bersama si penjaga gerbang yang tadi pergi melapor ke Kepala Desa.


Pemuda tampan itu memiliki pembawaan gagah dan berwibawa di bawah blankon hitamnya. Ia bernama Sudarka, pemuda yang ditokohkan dan adalah orang kepercayaan Kepala Desa.


“Orang ini menyusup, masuk sebelum ada izin,” jawab Rawing.


Sudarka lalu beralih kepada pemuda penjaga gerbang, “Apakah tamu ini yang kau maksud?”


“Bukan. Tamu yang aku maksud menunggu di gerbang,” jawab pemuda penjaga gerbang.


Sudarka melempar pandangannya agak jauh ke arah gerbang. Ia melihat keberadaan Joko dan Tirana yang berdiri menunggu.


“Meski orang gendut ini datang belakangan, tetapi sepertinya ia teman kedua tamu itu,” tambah pemuda penjaga gerbang.


“Hmm,” gumam Sudarka seraya terdiam sejenak, seolah sedang berpikir singkat. Lalu katanya kepada Rawing, “Usir orang gendut itu!”


“Baik!” ucap Rawing patuh.


Sudarka lalu melangkah pergi menuju gerbang membiarkan Sudarka dan teman-temannya mengurus Gulung Lidah. Pemuda penjaga gerbang mengikuti Sudarka.

__ADS_1


Gulung Lidah hanya memandangi kepergian Sudarka dengan membulatkan matanya. Sikap Sudarka dinilai tergolong tenang.


“Kisanak, kami beri pilihan. Kau pergi dengan sukarela atau kami paksa pergi?” kata Rawing kepada Gulung Lidah.


“Aku mamama... mau bertemu dengan kekeke... kepala desamu. Aku tititi... tidak akan pergi!” tandas Gulung Lidah.


“Orang yang sudah menyusup tidak akan diterima oleh Kepala Desa!” tandas Rawing pula. Lalu katanya kepada rekan-rekannya, “Beri dia Kenikmatan Ratu Bulu!”


“Baik!” seru kesepuluh pemuda lainnya serentak.


“Kekeke... kenikmatan?” ucap Gulung Lidah tersenyum, seperti kucing yang mendengar decit anak tikus.


Saat itu juga, kesepuluh pemuda yang mengepung Gulung Lidah maju serentak sejauh dua langkah, lalu tiba-tiba melompat mundur cukup jauh.


Wess!


Gerakan maju dua langkah serentak itu sempat membuat Gulung Lidah pasang siaga tinggi. Namun, lebih terkejut ketika mereka kembali melompat mundur. Pasalnya, sebelum kesepuluh pemuda itu melompat mundur, mereka menaburkan bubuk hitam ke udara.


Saat bubuk hitam itu melayang di udara di sekeliling Gulung Lidah, Rawing melepaskan segelombang angin pukulan bertenaga kecil, tetapi membuat bubuk hitam terhempas cepat menerpa tubuh Gulung Lidah yang sempat bingung harus berbuat apa-apa.


Bubuk hitam kemudian lenyap di udara, masa terbangnya di lokasi bersifat singkat karena gampang buyar oleh hembusan angin.


Gulung Lidah yang terkena bubuk hitam pada seluruh tubuhnya, berdiri diam, seolah menunggu sesuatu terjadi pada dirinya. Rawing dan kesepuluh temannya juga berdiri diam dengan tetap memasang kuda-kuda tarung.


Gulung Lidah menggaruk tangan kirinya yang gatal. Lalu pindah menggaruk lehernya yang gatal juga. Mendadak sepasang mata Gulung Lidah mendelik, ketika ia merasakan banyak rasa gatal yang muncul di seluruh tubuhnya.


“Bububu... bubuk gatal!” ucapnya menyimpulkan.


“Yaaak!” jerit Gulung Lidah saat tiba-tiba titik gatal di tubuhnya muncul semakin banyak. Kedua tangannya pun sibuk bekerja menggaruk sana dan sini. Dari wajah sampai ujung kaki ia garuki bergantian.


“Kukuku... kurang ajar! Kakaka... kalian pasti punya pepepe... penawarnya!” teriak Gulung Lidah.


“Punya, tapi bukan untuk penyusup lancang sepertimu!” sahut Rawing. “Pergilah! Sembuhkan gatalmu di sungai!”


“Awas kakaka... kalian!” ancam Gulung Lidah.


“Kami masih berbaik hati karena hanya memberi Kenikmatan Ratu Bulu!” kata Rawing.


“Nanana... nanti aku akan dadada... datang lagi!” ancam Gulung Lidah lalu berkelebat pergi menerabas pengepungnya.


Gulung Lidah melesat melewati gerbang tanpa singgah dulu kepada Joko dan Tirana. Mereka hanya memandangi kepergian Gulung Lidah sebentar, lalu kembali beralih kepada Sudarka yang sudah berdiri di hadapan mereka.


“Apakah orang gemuk itu teman kalian, Joko?” tanya Sudarka yang baru saja menerima perkenalan Joko dan Tirana.


“Kami hanya mengenalnya bernama Gulung Lidah. Kami bertemu dengannya tadi malam dan mengikuti kami. Alasannya sama-sama ingin ke desa ini,” jelas Tirana.


Sudarka memandang paras Tirana lekat dan tanpa kedip saat gadis itu berbicara.


“Wanita ini terlalu cantik,” kata Sudarka, tetapi hanya di dalam hati. Ia lalu beralih kepada Joko agar pandangannya yang terpukau tidak menimbulkan kecurigaan, “Lalu apa tujuan kalian?”


“Kami berdua mengejar Kelompok Pedang Angin,” jawab Joko.

__ADS_1


“Berarti kalian hanya ingin lewat karena mengejar Kelompok Pedang Angin?” terka Sudarka dengan pembawaan yang tenang dan berwibawa.


“Benar,” jawab Joko.


“Tapi ketahuilah, kalian harus menetap dulu di desa ini, paling singkat selama tiga hari. Itu aturan di Desa Wongawet ini,” ujar Sudarka.


“Jika itu aturannya, lalu kenapa Kelompok Pedang Angin bisa tidak melakukannya?” tanya Joko.


“Itu karena ada kesepakatan antara Kepala Desa dengan Ketua Kelompok Pedang Angin,” jawab Sudarka.


“Kesepakatan apa?” tanya Joko memburu.


“Maaf, aku tidak memiliki wewenang untuk mengungkapkannya,” jawab Sudarka seraya tersenyum ramah. “Namun, jika Pendekar Joko dan Tirana keberatan dengan aturan desa kami, tentunya bisa memilih jalan lain, tetapi jalan lain itu lebih jauh memutari pegunungan.”


“Kami ingin bertemu dengan kepala desa kalian!” tandas Joko.


“Tapi, kalian harus menunggu hingga malam. Kepala Desa sedang melakukan ritual semadi, jadi tidak bisa diganggu oleh siapa pun,” kata Sudarka.


“Apa boleh buat,” kata Joko yang kali ini lebih banyak berbicara. Ia tidak suka jika Sudarka lebih banyak memandang kepada Tirana.


“Mari, Pendekar!” kata Sudarka seraya tersenyum kepada keduanya, terkhusus kepada Tirana yang juga membalas tersenyum ramah. Ia lalu berbalik dan melangkah pergi memasuki desa.


Joko Tenang dan Tirana mengikuti di belakang.


Masuknya Joko Tenang dan Tirana ternyata menjadi pusat perhatian hampir semua penduduk desa yang melihat kedatangan mereka.


Sebenarnya, hal yang biasa jika ada orang persilatan datang ke desa itu. Namun, ketampanan Joko dengan keunikan bibir merahnya, kemudian Tirana yang berparas jelita level dewa, sangat merayu hati para warga untuk memandangi mereka. Ketika Joko dan Tirana balas memandang perhatian mereka, para warga itu tersenyum ramah dan manis, memberi kesan yang benar-benar bersahabat.


Gadis berbaju merah yang sempat lewat di gerbang, juga kembali memperhatikan kedatangan kedua tamu itu. Namun, pandangannya lebih kepada Joko Tenang. Gadis itu sedang menaburkan dedaunan hasil petikannya ke atas tampi.


Joko Tenang sempat menangkap tatapan gadis yang berdiri jauh di sisi kiri jalan itu.


“Cara memandangnya berbeda dari yang lainnya,” membatin Joko setelah ia bertemu pandang sekilas dengan gadis cantik berkulit putih itu.


Barulah Joko dan Tirana tahu, ternyata area sisi kanan jalan utama ditempati atau dihuni oleh kaum pria muda dan sisi kiri oleh kaum wanita muda. Semuanya terlihat muda, tidak ada yang tua.


“Tangkap Si Kucing Merah!” teriak seseorang keras dari dalam desa.


Tiba-tiba sesosok tubuh lelaki berpakaian serba hitam tapi bertopeng merah, muncul berlari cepat dari arah depan Sudarka, Joko dan Tirana. Dua orang lelaki lain mengejar jauh di belakangnya.


“Minggir!” teriak lelaki bertopeng kayu merah bertampang kucing, kepada Sudarka, Joko dan Tirana. Suaranya terdengar serak.


Tahu-tahu orang berrtopeng itu sudah melompat tinggi ke udara dengan tangan kanan diselubungi sinar merah gelap.


Zers!


Sudarka mendelik terkejut dan cepat melompat ke samping, menghindar ketika lelaki bertopeng melesatkan sinar merah gelapnya ke arah mereka.


Sess! Blaar!


Menghindarnya Sudarka membuat sinar itu mengarah kepada Joko Tenang. (RH)

__ADS_1


__ADS_2