
*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*
“Joko, bantu aku! Nenek tua ini telah melumpuhkan kesaktian guruku!” teriak Mega Kencani saat melihat keberadaan Joko Tenang.
Mega Kencani kelabakan untuk menghindari dan menangkis serangan-serangan nenek berbaju hitam.
“Siapa dia?” tanya Putri Sri Rahayu kepada Joko.
“Namanya Mega Kencani, murid durhaka Setan Genggam Jiwa, sahabat guruku,” jawab Joko. “Tapi, apakah benar yang dikatakannya?”
“Joko!” teriak Mega Kencani lagi. “Tolong aku! Aku tidak bisa bertahan terus menghindar seperti ini! Tinggalkan saja wanita jelek itu!”
Disebut “wanita jelek”, Putri Sri Rahayu jadi mendelik tersinggung.
Degk!
Putri Sri Rahayu menyentilkan jari telunjuk kanannya. Satu tenaga dalam menghantam rusuk kiri Mega Kencani, membuat wanita cantik itu terbungkuk kesakitan.
Bak! Babak!
Serangan ketersinggungan Putri Sri Rahayu merugikan bagi Mega Kencani. Sebab, satu tendangan dari bawah ke atas menghantam dagunya, membuatnya terhuyung ke belakang. Detik selanjutnya, dua hantaman telapak tangan si nenek menghajar dada Mega.
Gadis itu terjengkang keras dengan mulut memuntahkan darah kental, sebagai tanda bahwa Mega Kencani terluka dalam.
Ketika si nenek hendak melanjutkan menyerang Mega Kencani, Joko cepat berteriak.
“Nisanak Tua, hentikan seranganmu!” seru Joko.
Teriakan Joko itu membuat si nenek menahan gerakannya.
“Dia mati, apa rugimu? Aku mati, rugi cucuku. Tidak patut seperti perempuan itu diampuni dan dikasihani. Telah dia gurunya kesaktian lum….”
Blar!
“Akkh…!”
Kata-kata si nenek yang agak kusut tiba-tiba terputus oleh ledakan pada kaki kirinya.
Serangan sinar biru yang dilesatkan oleh Mega Kencani dari jarak dekat itu juga mengejutkan Joko Tenang dan Putri Sri Rahayu.
Si nenek tumbang menjerit kesakitan dengan kaki hilang satu sebatas paha.
Buru-buru Mega Kencani berlari pergi. Putri Sri Rahayu segera bergerak untuk mengejar. Namun baru dua langkah, ….
__ADS_1
Zersss!
Tiba-tiba Mega Kencani berbalik sambil menusukkan sebuah senjata yang bersinar hijau. Senjata itu melesatkan sinar hijau panjang yang meliuk-liuk tidak teratur. Orang yang diserang adalah Putri Sri Rahayu.
Joko Tenang terkejut. Sementara sang putri memilih melawan dengan sinar merah berpijar yang telah muncul di tangan kanannya.
“Jangan dilawan!” teriak Joko Tenang tegang sambil menerkam cepat tubuh Putri Sri Rahayu.
Terkaman cepat Joko Tenang membuat sinar hijau panjang hanya menghantam gundukan tanah berumput tanpa menimbulkan kerusakan apa pun.
Bdluk!
Insiden terkaman Joko Tenang terhadap sang putri berujung kecelakaan yang serius bagi si pemuda.
Kedua muda mudi itu jatuh bertindihan di tanah. Joko Tenang jatuh menindih tubuh Putri Sri Rahayu. Bibir Joko Tenang memang tidak menabrak bibir wanita buruk rupa itu, tetapi menabrak lebih ke bawah, yaitu leher Putri Sri Rahayu.
Celaka kuadrat bagi Joko Tenang. Celaka pertama karena ia memeluk seorang perempuan yang membuatnya lemah tidak berdaya. Celaka kedua karena kulit leher Putri Sri Rahayu beracun.
Putri Sri Rahayu juga terkejut kuadrat. Terkejut pertama karena Joko menerkam dan memeluknya plus jatuh menindihnya. Terkejut kedua karena Joko langsung keracunan, terlebih yang terkena langsung adalah bibirnya, posisi yang sangat dekat dengan otak.
“Joko bertahanlah!” kata Putri Sri Rahayu panik, apalagi Joko keracunan dalam kondisi lemah.
Buru-buru Putri Sri Rahayu mengambil pil penawar racunnya. Tanpa sungkan ia menyuapi Joko Tenang. Setelah itu, ia segera menjauhi Joko.
Putri Sri Rahayu tidak peduli lagi dengan Mega Kencani yang sudah kabur dalam kondisi terluka. Ia melihat wajah Joko yang sempat menghitam kembali kepada warna aslinya.
“Apa yang kau lakukan, Joko? Kau mencuri kesempatan untuk memelukku?” tukas Putri Sri Rahayu agak marah.
“Kau jangan salah sangka, Putri,” kata Joko. “Itu tadi adalah Pusaka Serap Sakti. Itu bisa memusnahkan seluruh kesaktianmu.”
“Apa?!” kejut Putri Sri Rahayu.
“Pusaka Serap Sakti milik Setan Genggam Jiwa telah hilang dicuri seseorang. Ia bahkan kehilangan seluruh kesaktiannya karena diserang dari belakang oleh pencuri itu. Ternyata murid durhaka itu yang mencuri keris tersebut,” jelas Joko.
“Terima kasih, Joko,” ucap Putri Sri Rahayu seraya tersenyum malu, merasa bersalah karena sempat menuding pemuda itu sengaja berbuat mesum di saat genting.
“Maafkan aku juga, sampai memaksamu dengan pelukan dan ciuman,” ucap Joko seraya tersenyum manis kepada Putri Sri Rahayu. “Wanita tua itu memerlukan pertolongan.”
Joko Tenang yang sudah sehat kembali, segera bangun dan menghampiri si nenek yang terkapar kesakitan sambil memegangi paha kirinya.
“Nenek, biar aku obati lukamu,” kata Joko Tenang.
“Cuih!” Nenek itu meludah marah di sela-sela kesakitannya. “Kau gara-gara aku satu kaki kehilangan. Lebih baik aku bunuh kau dari pada menolongku!”
Mendengar perkataan si nenek, Joko Tenang dan Putri Sri Rahayu saling pandang. Mereka berdua agak tidak mengerti dengan perkataan si nenek yang kusut.
__ADS_1
“Maafkan aku jika gara-gara aku kau harus kehilangan kakimu, Nek,” ujar Joko Tenang.
“Perlu tidak! Sudah kakiku hilang! Kalian gara-gara kuntilanak setan itu akhirnya hilang. Perempuan itu mati pantas!” maki si nenek dengan kata-kata yang terbolak-balik.
“Diamlah, Nek. Biar aku obati!” paksa Joko.
Joko Tenang lalu berdiri mengukur jarak dari si nenek. Ia memejamkan mata untuk menciptakan sugesti di dalam pikirannya.
“Kuntilanak jenggotan cari burung! Kuntilanak jenggotan cari burung! Kuntilanak jenggotan cari burung!”rapal Joko Tenang.
Mendelik Putri Sri Rahayu mendengar kalimat rapalan Joko Tenang. Seketika ia kesal karena ia merasa Joko menyindirnya, bahkan menyebutnya sebagai “kuntilanak jenggotan”. Ia menatap lekat-lekat bibir Joko, ingin rasanya ia memukul bibir merah itu. Namun, semakin lama dipandang itu bibir, Putri Sri Rahayu merasakan jantungnya berdebar-debar, bukan karena was-was, tetapi karena ada rasa suka yang terselip.
Akhirnya, Putri Sri Rahayu tersenyum lebar sendiri. Meski terkesan menyindir dan mengejeknya, tetapi kalimat rapalan Joko Tenang terdengar lucu.
Dalam kondisi mata terpejam dan bibir tanpa berhenti merapal, Joko bergerak maju dan membungkuk mendekati si nenek. Tangan kanan yang bersinar hijau langsung menapak paha kiri si nenek, tepat di luka besarnya yang mengerikan.
“Aaak!” jerit tinggi si nenek, lebih tinggi.
Namun, rasa sakit yang terasa begitu dahsyat berangsur menurun kadar deritanya. Si nenek kini hanya menahan.
Pcrack!
“Kuntilanak jenggotan cari burung! Kuntilanak jenggotan cari burung! Kuntilanak jenggotan cari burung!” rapal Joko sambil menghentakkan lengan kanannya, membuat cairan darah hitam kental yang tadi ia sedot terbuang.
Selanjutnya, Joko kembali menempelkan tangan kanannya yang masih bersinar di paha si nenek. Kali ini si nenek sudah tidak kesakitan, lukanya pun mulai cukup mengering.
“Sekali hebat ilmu pemuda pengobatannya ini,” ucap si nenek dalam hati.
Hingga akhirnya, Joko melakukan tahapan terakhir dari pengobatannya, yaitu membugarkan kondisi fisik si nenek.
“Selesai, Nek!” kata Joko Tenang sambil cepat mundur dan membuka matanya.
“Joko, kenapa pengobatanmu aneh seperti itu?!” hardik Putri Sri Rahayu.
“Hah, apanya yang aneh?” tanya Joko tidak paham maksud sang putri.
“Mana ada mantera berbunyi ‘kuntilanak jenggotan cari burung’? Kau sengaja mengejekku, kan?” tukas Putri Sri Rahayu.
“Hahaha!” tertawalah Joko Tenang. “Itu hanya….”
“Kau minta aku pukul rupanya!” kata Putri Sri Rahayu sambil membuka sarung tangannya lalu merangsek maju hendak memukul Joko.
“Eh, apa yang kau lakukan, Putri. Jangan main-main dengan racunmu itu!” teriak Joko Tenang agak panik.
“Kau menyebutku kuntilanak berjenggot!” tukas Putri Sri Rahayu lalu mempercepat gerakannya.
__ADS_1
“Hah!” Joko Tenang terkejut. Ia pun cepat mengerahkan ilmu Bayang-Bayang Malaikat-nya. (RH)