Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
63. Penantang Berbahaya


__ADS_3

*Arak Kahyangan*


Rombongan Kerajaan Tabir Angin tetap dipimpin oleh Ratu Getara Cinta. Meski dalam kondisi tidak sehat, Ratu Getara Cinta harus tetap menjaga wibawanya di mata Kerajaan Hutan Kabut. Ia berangkat dalam usungan tandu tertutup berwarna merah yang dipikul oleh delapan prajurit bertenaga kuat.


Turut serta Panglima Besar Jagaraya, Panglima Perang Sugeti Harum, dan sekitar seribu pasukan. Jumlah prajurit yang dibawa kali ini lebih banyak dibandingkan dua hari pertarungan sebelumnya. Pertimbangannya karena kondisi Ratu yang tidak normal dan pertarungan hari terakhir adalah masa-masa sensitif musuh melakukan muslihat.


Ada tiga pendekar yang bergabung dalam rombongan, yakni Joko Tenang, Tirana dan Ragatos.


Sementara Bidadari Seruling Kubur, Ginari dan Kembang Buangi telah bergerak lebih dulu ke Kerajaan Hutan Kabut. Sulasih bertindak sebagai pemandu. Tujuan utama mereka adalah ke Lembah Gelap untuk membebaskan kaum lelaki yang menjadi budak penambangan emas di sana. Sehubungan adanya pertarungan terakhir di Sumur Juara, biasanya jumlah prajurit di tempat lain akan berkurang karena sebagian pergi memeriahkan kursi penonton.


Sebagai tuan rumah pertarungan Sumur Juara, tentunya Ratu Aswa Tara tidak mau kehilangan wajah dan wibawa jika jumlah pendukungnya kalah banyak dari rombongan tamu. Ia pun telah merencanakan siasat untuk bisa memenangkan pertarungan final itu. Ia tahu siapa yang akan menjadi lawannya, tidak lain adalah dua orang sakti yang beberapa hari lalu dengan mudah memenangkannya melawan pendekar-pendekar sakti Ratu Getara Cinta, yakni Joko Tenang dan Tirana.


Dua dinding tribun batu yang saling berseberangan di Sumur Juara telah ramai oleh massa prajurit wanita yang nyaris berpakaian putih-putih semua dan kelompok lain berpakaian hitam-hitam.


Ratu Aswa Tara dan Ratu Getara Cinta masing-masing telah duduk di kursi kebesarannya.


Dum dum dum...!


Para pria besar di kubu Kerajaan Hutan Kabut dengan giat menabuh genderang perang, diiringi sorak seribu lebih suara prajurit wanita yang riuh seakan sudah siap berperang habis-habisan.


Troeeet...! Troet troet troet!


Di kubu tribun utara pun ada tiga pria gemuk-gemuk meniup terompet tanduk besar sebagai musik pembakar adrenalin pasukan yang sudah tidak sabar untuk menang.


Ratu Aswa Tara menatap tajam kepada Joko Tenang yang berdiri tidak jauh dari Ratu Getara Cinta.


“Getara Cinta!” seru Ratu Aswa Tara ketika suara tabuhan genderang dan tiupan terompet berhenti. “Betapa liciknya kau! Kau dengan curang mengancam dua orang jagoanku agar dengan terpaksa bertarung untukmu!”


“Jangan tanggapi, langsung saja ke pertarungan,” kata Ratu Getara Cinta pelan kepada Panglima Perang Sugeti Harum.


“Yang Mulia Ratu Aswa Tara!” seru Sugeti Harum kepada Ratu Aswa Tara. “Tidak perlu bersiasat lidah lagi. Ayo kita segera buktikan siapa yang berhak menang dan siapa yang harus menjadi bangkai!”


“Baik, akan aku beri kalian kejutan. Terutama untukmu Joko, pendekar mata keranjang!” seru Ratu Aswa Tara. Ia lalu berdiri dan memberi perintah, “Pertarungan Sumur Juara dimulai!”


Dum!


Genderang kembali ditabuh.


“Ragatos!” sebut Panglima Jagaraya.


Ragatos segera berkelebat turun dari tebing utara dan mendarat laksana makhluk besi turun di atas batu. Lantai batu yang dijejaknya tampak retak-retak. Hal itu menunjukkan betapa kuatnya tenaga yang dimiliki oleh Ragatos.


Dari sisi tempat duduk Ratu Aswa Tara di tribun selatan, tampak bangkit berdiri seorang pria yang menutupi tubuhnya dengan sayap kain tebal berwarna hitam. Kepalanya mengenakan tudung kain yang besar membuat wajahnya terselubung bayangan gelap. Lelaki itu lalu berkelebat turun dengan jubah yang berkibar, membuat pakaian serba biru gelapnya tersingkap. Terlihat pula ada bekal senjata bulat tipis menempel di sisi kanan dan kiri pinggangnya.


Sosok bertudung itu mendarat dua tombak di hadapan si raksasa Ragatos. Ia menarik tudungnya lepas dari kepala, memperlihatkan wajahnya. Ternyata ia seorang pemuda tampan berkumis tipis. Ia pun melepas jubah sayapnya dan membiarkannya jatuh tercampak di lantai batu arena.


Namun, terlihat jelasnya wajah dan sosok pemuda itu membuat Ratu Getara Cinta dan Jagaraya terkejut.


“Pangeran Serak Bayat!” sebut Jagaraya lalu memandang kepada Ratu Getara Cinta yang menunjukkan raut kemarahan. Jagaraya lalu beralih berteriak kepada Ratu Aswa Tara, “Aswa Tara!”


“Hahaha!” Ratu Aswa Tara justru tertawa keras melihat reaksi pihak Ratu Getara Cinta. Lalu ia bertanya, “Kenapa, Getara Cinta?”

__ADS_1


“Apa maksudmu menjadikan Pangeran Serak Bayat sebagai jagoanmu?!” seru Jagaraya.


“Tidak ada maksud apa-apa. Hal yang wajar jika seorang berkesaktian tinggi ingin bertarung di Sumur Juara,” jawab Ratu Aswa Tara.


“Siapa penantang Ragatos itu, Panglima?” tanya Tirana kepada Sugeti Harum yang berdiri di sisinya.


“Pangeran Serak Bayat dari Kerajaan Tarumasaga. Jika dia sampai mati dalam pertarungan ini, sama saja menyulut pernyataan perang,” jawab Sugeti Harum.


“Getara Cinta!” seru Ratu Aswa Tara. “Jika kau tidak berani bertarung melawan Pangeran Serak Bayat, maka aku menilai kau kalah dalam satu pertarungan!”


“Lanjutkan pertarungan!” perintah Ratu Getara Cinta kepada Jagaraya dengan suara pelan yang tidak mungkin didengar jauh.


“Tapi, menang atau kalah, kita akan mengalami kerugian, Yang Mulia,” kata Jagaraya mencoba menolak perintah junjungannya.


“Lanjutkan!” perintah Ratu Getara Cinta, kali ini suaranya lebih keras.


Jagaraya menjura hormat. Ia lalu menghadap ke arena dan berteriak, “Lanjutkan pertarungan!”


Sorak dua kubu pasukan seketika riuh memenuhi ruang sumur batu raksasa itu.


Tampak pemuda tampan yang bernama Pangeran Serak Bayat tersenyum licik. Ia memandang remeh orang besar di depannya itu.


Ragatos berlari maju kepada Pangeran Serak dengan tinju yang langsung meluruk cepat mengincar wajah. Pangeran Serak dengan gesit dan lihai mampu mengelakkan kepalanya dengan meliuk-liuk. Ketika tinju ganas Ragatos mengincar perut, dada atau lambung, Pangeran Serak sanggup menepisnya dengan kibasan telapak tangan yang kuat. Ketika Ragatos mulai main tendang, Pangeran Serak pun bergerak lebih lincah dan luas.


Untuk sesaat lamanya, para penonton disugukan pertarungan menjemukan, karena Pangeran Serak belum juga balas menyerang.


“Balas! Balas! Balas!” teriak para prajurit wanita di sisi selatan mendukung Pangeran Serak.


“Giliranku, Manusia Batu!” teriak Pangeran Serak lalu dengan gerakan cepat dan lihai ia balas menyerang Ragatos.


Bubuk! Papak! Tatak!


Tinju beruntun, tapak beruntun dan tendangan beruntun dari Pangeran Serak menghajar dada, perut, lambung hingga wajah Ragatos. Namun, serangan itu berakhir dengan keterkejutan Pangeran Serak. Seluruh serangan yang masuk menghajar tubuh besar berotot keras itu tidak sedikit pun berpengaruh pada Ragatos.


“Baik, tapi coba sekali lagi!” kata Pangeran Serak semakin merasa tertantang.


Ia lalu melakukan beberapa gerakan guna memancing tenaga dalam yang lebih tinggi. Kini sepasang tinju Pangeran Serak mengepulkan asap, seolah ia sedang menggenggam bara api.


“Hiaat!” teriak Pangeran Serak sambil merangsek maju.


Ragatos langsung menyambutnya dengan tendangan kaki kanan mengibas, tetapi Pangeran Serak masih lebih gesit. Tubuh Pangeran Serak merendah di bawah kibasan kaki lalu tinjunya menyasar ke tulang lutut kaki kiri Ragatos.


Krak!


Terdengar suara seperti retakan tulang.


“Akk!” pekik Ragatos kesakitan.


Bdug!


Setelah tulang lututnya diserang, Ragatos jatuh berlutut. Kaki kirinya jadi tidak kuat berdiri. Melihat perkembangan itu, tampak Ratu Aswa Tara tersenyum sumringah.

__ADS_1


Ragatos masih berusaha berdiri dengan kaki kanannya. Namun, Pangeran Serak kembali mengandalkan kegesitannya dan menyerang lutut kaki kanan Ragatos.


Krak! Bdug!


“Aak!”


Suara tulang retak kembali terdengar jelas ketika tinju bertenaga dalam tinggi menghantam lutuk kanan Ragatos. Tubuh besar itu seketika kembali jatuh berlutut. Ragatos menjerit tertahan.


Dengan lumpuhnya kedua lutut Ragatos, dengan sendirinya lelaki besar itu tidak bisa berdiri. Melihat kondisi Ragatos, Pangeran Serak Bayat telah merasa yakin akan menang dalam pertarungan tersebut. Demikian pula dengan Ratu Aswa Tara, suara tawanya terdengar senang.


“Waktunya kau habis!” teriak Pangeran Serak Bayat sambil kembali maju menyerang untuk meremukkan tengkorak kepala Ragatos dengan tinju ganasnya.


Sreert!


“Hekh!” pekik Pangeran Serat Bayat dengan laju tubuh mendadak tertahan ketika seutas rantai  melesat dan melilit kuat lehernya.


Demikian cepatnya lesatan ujung rantai membuat Pangeran Serat nyaris tidak melihat jelas dan masuk dalam jeratan. Terpaksa ia harus bertahan menahan tarikan rantai yang jika semakin kuat akan menutup saluran napasnya.


Sreert! Bluk!


Namun, satu ujung rantai kembali melesat dari lengan kiri Ragatos yang melilit kaki Pangeran Serak. Kedua kaki Pangeras Serak masuk dalam ikatan membuat tubuh terbanting jatuh. Pangeran Serak semakin kewalahan, terlebih tubuhnya mulai tertarik mendekat ke posisi Ragatos.


Swing! Set!


“Akh!” Ragatos menjerit tinggi bersama lengan kiri besarnya yang putus di atas siku.


Dalam kondisi kewalahan seperti itu, tangan kanan Pangeras Serak dapat meraih senjata cakram tipisnya di pinggang lalu dilesatkan. Senjata itu melesat melengkung dengan sangat cepat, sehingga dapat menebas rapi lengan kiri Ragatos.


“Aaakh!”


Kesakitan pada lengan kirinya yang sudah buntung dan mengucurkan darah yang deras, membuat Ragatos mengerahkan tenaga dalam tinggi lalu menghentak rantai di tangan kanannya. Itu pun ia lakukan sebelum Pangeran Serak melesatkan satu lagi senjata cakram tipisnya.


Crekr! Bluk!


Hentakan tangan kanan Ragatos membuat rantai yang masih melilit leher Pangeran Serak Bayat mencekik dengan kuat sekali. Maka sepotong kepala menggelinding terpisah dari leher sang pangeran, seiring menyemburnya darah dari urat-urat leher yang putus.


Mendelik tidak percaya Ratu Aswa Tara menyaksikan Pangeran Serak Bayat tewas mengenaskan.


“Prajurit! Bantu Ragatos!” perintah Panglima Sugeti Harum.


Maka sejumlah prajurit berpakaian hitam segera berkelebat turun ke arena untuk membantu Ragatos yang kondisinya sudah tergeletak tidak berdaya.


“Aswa Tara pasti menggunakan kematian Pangeran Serak sebagai hasutan untuk memaksa Kerajaan Tarumasaga menyerang kita,” kata Panglima Jagaraya kepada Ratu Getara Cinta.


“Sepulang dari tempat ini, segera persiapkan pertahanan maksimal hingga daerah terluar!” perintah Ratu Getara Cinta.


“Baik, Yang Mulia Ratu,” ucap Jagaraya patuh.


Dengan marah Ratu Aswa Tara berdiri dari duduknya. Ia lalu berteriak.


“Puspa!” (RH)

__ADS_1


__ADS_2