Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Kersak 25: Bertemu Penagih Nyawa


__ADS_3

*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*


  


Jika ketika bertemu dengan Pangeran Kubur di Gunung Prabu, cukup Permaisuri Sandaria yang terjun. Namun untuk memaksa penguasa Hutan Malam Abadi, tidak hanya Permaisuri Sandaria yang turun, tetapi Permaisuri Kerling Sukma yang kini berilmu Roh Langit Empat juga turun. Dengan kedua permaisuri itu saja rasanya sudah cukup.


Namun, keberadaan Senopati Batik Mida membuat rombongan itu benar-benar mengerikan. Selain lima serigala yang pakar dalam mengendus jejak, ada sebanyak tiga puluh prajurit yang mereka bawa. Dua prajurit Pengawal Bunga juga ikut, yaitu Reksa Dipa dan Surya Kasyara. Asih Marang, Adi Manukbumi dan Luring juga ikut, karena mereka punya dendam yang harus dituntaskan.


Ketika rombongan besar itu sudah memasuki Hutan Malam Abadi, sejumlah pengintai sudah terasa oleh rombongan. Salah satu pengintai segera berkelebat pergi dan berlari cepat menembus lebatnya hutan yang gelap remang-remang.


Setelah berkelebat cukup jauh ke dalam hutan, tibalah pemuda berpakaian hitam itu pada sebatang pohon besar, bisa dibilang sangat besar. Pohon itu memiliki batang lebar yang didesain menjadi sebuah rumah dengan pintu ada pada ketinggian sekepala. Ada tangga yang dibuat untuk naik ke pintu yang terbuka.


Kedatangan pemuda berwajah tampan itu menjadi perhatian sejumlah orang yang ada di lingkungan berpohon-pohon besar itu. Jika dihitung-hitung, jumlah orang-orang berpakaian pendekar itu ada belasan. Sebagian dari mereka mengenakan pakaian dengan seragam yang sama, ada yang serba merah, ada juga yang serba biru gelap dan hitam. Ada juga yang berpakaian pendekar bebas.


“Lapor, Ketua!” teriak pemuda itu sambil berlutut satu kaki di depan tangga.


Tidak berapa lama, seorang wanita berpakaian serba merah muncul di ambang pintu rumah pohon. Ia seorang wanita cantik berusia matang. Meski tinggal di hutan, tetapi ia berias dengan alis yang panjang dan bibir bergincu merah muda. Wanita cantik berusia tiga puluh delapan tahun itu memiliki hidung model jambu air. Pada leher putihnya melingkar seuntai kalung emas. Kedua telinganya yang tampak karena rambutnya di gelung, dihiasi oleh giwang bermata biru bening. Dialah wanita yang terkenal dan ditakuti namanya, yaitu Penagih Nyawa. Nama aslinya adalah Ririn Salawi.


“Ada apa, Jiga?” tanya Ririn Salawi dengan jenis suara bass seperti lelaki, karena ia memiliki hormon testosteron yang tinggi di dalam tubuhnya.


“Ada satu pasukan besar masuk ke dalam hutan ini, Ketua!” lapor pemuda bernama Jiga.


“Seberapa banyak sehingga kau sebut besar?” tanya Ririn Salawi.


“Dua orang wanita sangat cantik yang menunggang anjing sebesar kerbau. Eh tidak, lebih besar dari kerbau. Sekitar tiga puluh prajurit kerajaan,” jawab Jiga.


“Ke arah mana mereka pergi?” tanya Ririn Salawi lagi.


“Sepertinya ke arah sini, Ketua!”


“Apa?!” kejut Ririn Salawi. Lalu teriaknya kepada anak buahnya, “Bunyikan tanda berkumpul!”


Kliiiu iu iu…!

__ADS_1


Setelah perintah itu, beberapa orang pengikut Ririn Salawi meniup alat seperti bambu kecil yang menimbulkan suara melengking lalu nadanya bisa diayun-ayun.


Kliiiu iu iu…!


Ternyata setelah beberapa suara tiupan itu, di beberapa tempat lain di dalam hutan itu juga terdengar suara yang sama.


“Sepertinya mereka sedang mempersiapkan diri,” komentar Permaisuri Kerling Sukma.


“Sebenarnya mengirim aku saja sudah cukup,” kata Permaisuri Sandaria.


“Itu karena Kakang Prabu begitu sayang kepadamu, Mungil,” timpal Permaisuri Kerling Sukma.


“Lebih sayang daripada kau? Hihihi…!” tanya Permaisuri Sandaria lalu tertawa rendah tapi panjang, bermaksud menggoda madunya.


“Iya, karena kau lebih menggiurkan untuk dikunyah,” kata Permaisuri Kerling Sukma sambil melirik kepada Permaisuri Sandaria.


“Sandaria memang selalu menggemaskan! Hihihi!” ucap Permaisuri Sandaria memuji dirinya sendiri.


Dalam waktu singkat, ada lebih seratus lima puluh orang yang sudah memperlihatkan kehadirannya. Ada tiga warna pakaian yang menominasi, yaitu merah, biru gelap dan hitam.


Untuk orang-orang yang berseragam merah, mereka bersenjatakan cakar besi yang dipasang di telapak tangan mereka. Adapun yang berpakaian biru gelap, mereka bersenjatakan pedang. Sementara orang-orang yang berpakaian hitam tidak bersenjata. Mereka semua terdiri dari lelaki dan wanita, tetapi lelaki lebih mendominasi.


Banyak dari mereka yang menjadikan dahan pohon sebagai tempat berdiri.


Akhirnya rombongan Kerajaan Sanggana Kecil terlihat oleh mereka, sedang menuju ke tempat mereka berada.


“Bentuk formasi pengepungan!” perintah Ririn Salawi.


Para pengikut Penagih Nyawa segera bergerak. Yang di bawah bergerak menutup jalan membentuk dua barisan. Sebagai pintu masuk ke lingkungan itu, ada dua pohon besar yang tumbuh berseberangan seolah sebagai gerbang tanpa pintu.


Satu barisan ditempatkan di sisi kanan jalan sebelum gerbang pohon. Satu barisan juga ditempatkan di sisi kiri. Sisanya bertebaran di atas dahan-dahan pohon.


Penagih Nyawa berdiri langsung di depan dua barisan penutup jalan. Ia menunggu ketibaan rombongan tersebut.

__ADS_1


Hanya kekaguman yang bisa mereka simpan dan pendam saat melihat kejelitaan Permaisuri Kerling Sukma dan Sandaria. Terlebih keanggunan itu terlihat begitu hebat karena mereka menunggangi serigala besar.


Akhirnya, rombongan Kerajaan Sanggana Kecil tiba dua tombak di depan Ririn Salawi. Posisi rombongan itu sudah terkepung oleh jumlah yang lebih banyak.


Adi Manukbumi dan Luring yang belum pernah bertarung bersama kedua Permaisuri, menjadi tegang. Di antara orang-orang yang mengepung, mereka melihat keberadaan Gebang Batra, Ketua Kawanan Cakar Hutan yang telah membunuh Mumu Kedalang. Luring sudah memegang gagang golok panjangnya. Asih Marang juga sudah menyiapkan busur dan anak panahnya.


“Selamat datang di Hutan Malam Abadi, para Nisanak!” seru Ririn Salawi dengan suara khasnya yang seperti lelaki.


“Apakah kau yang bernama Penagih Nyawa?” tanya Permaisuri Sandaria seraya tersenyum.


“Benar!”


“Kami adalah tetangga barumu di Kerajaan Sanggana Kecil. Kami ingin menawarkan perdamaian. Perdamaian itu adalah perjanjian damai tidak saling mengusik, tetapi kalian harus membiarkan kami menggunakan Hutan Malam Abadi sebagai rute aman, tidak hanya bagi orang-orang kerajaan, tetapi juga bagi orang-orang dari utara atau seberang telaga. Sementara kalian tidak diizinkan memasuki wilayah Kerajaan Sanggana Kecil. Bagaimana?” ujar Sandaria, kali ini gayanya lebih tegas, sangat jauh berbeda ketika ia bernegosiasi dengan Pangeran Kubur.


“Heh!” dengus Ririn Salawi seraya tersenyum meremehkan. “Lalu apa tawaran tidak damainya?”


“Orangmu telah membunuh seorang sahabat dari prajurit Kerajaan Sanggana Kecil. Itu alasan tepat untuk menangkapi kalian. Terlebih, jika kalian dibiarkan bebas di sini, kalian menjadi ancaman bagi keamanan Kerajaan Sanggana Kecil. Jadi kami akan meringkus kalian!” tandas Permaisuri Sandaria.


“Bertahun-tahun kami menguasai Hutan Malam Abadi, tiba-tiba kalian seenaknya mau merebutnya!” teriak Ririn Selawi marah.


“Atau satu tawaran lagi. Hutan ini tetap akan menjadi wilayah kekuasaanmu, tetapi ada di bawah kekuasaan Kerajaan Sanggana Kecil. Beri pilihan kepada orang-orangmu mau atau tidak mendaftar menjadi prajurit Kerajaan Sanggana, atau pilihan pahitnya adalah dipenjara!” tambah Permaisuri Sandaria.


“Lawaaan!” teriak Gebang Batra dari atas pohon.


“Memilih damai tanpa melalui pertarungan adalah menyerah, Ketua!” teriak lelaki berjenggot, bersenjata pedang. Ia bernama Loyak Bata, pemimpin kelompok berpakaian biru gelap.


“Jumlah mereka jauh lebih sedikit dibandingkan kita, apa yang perlu ditakutkan?” sahut lelaki berpakaian serba hitam. Ia lelaki separuh baya bermata sipit. Ia bernama Babat Seta. Satu tangannya ia susupkan ke balik pakaian hitamnya, seolah sedang merogoh sebuah senjata.


“Langsung targetkan orang-orang yang berbicara itu!” kata Permaisuri Kerling Sukma agak pelan kepada Permaisuri Sandaria.


“Hihihi! Biar wanita bersuara lelaki itu bagianku,” kata Permaisuri Sandaria.


“Jangan biarkan satu pun dari mereka ada yang hidup! Seraaang!” teriak Ririn Salawi akhirnya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2