Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Pusesa 28: Sepakat Para Calon Istri


__ADS_3

*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*


Joko Tenang dan Jaga Manta serta para gadis harus bermalam di bukit itu. Gelap begitu cepat menyergap bukit tersebut.


Yang pertama Joko Tenang dan Jaga Manta lakukan adalah menyiapkan perapian dan kayu yang cukup, kemudian menyiapkan lahan yang lapang dan bersih di sekitar perapian. Sementara kelima gadis hanya menyaksikan kedua lelaki gagah itu bekerja, mereka dimanjakan.


Malam itu, Joko Tenang dan Jaga Manta tidak perlu pergi berburu untuk santap makan malam. Mereka cukup mencabut singkong yang tumbuh banyak di halaman belakang pondok Nyi Lampingiwa.


“Kau punya ilmu pemikat apa sehingga dengan mudahnya kau memikat gadis-gadis cantik laksana bidadari itu, Joko? Sampai-sampai adikku pun sangat mau menikah denganmu,” tanya Jaga Manta saat mereka berdua berada di kebun singkong.


“Aku tidak memiliki ilmu pemikat apa pun, Kakang. Aku hanya terpaksa karena aku punya penyakit yang untuk menyembuhkannya dengan cara memiliki istri delapan,” jawab Joko.


“Ada penyakit seperti itu? Bagaimana cara mendapatkan penyakit itu, Joko? Aku juga mau,” tanya Jaga Manta antusias. “Tapi kau jangan bilang-bilang kepada Kerling Sukma tentang ini.”


“Hahaha!” Joko tertawa rendah mendengar keinginan calon kakak iparnya itu. “Penyakitku adalah penyakit keturunan, Kakang. Aku juga tidak mengerti asal-usulnya.”


“Oh begitu,” ucap Jaga Manta hanya bisa manggut-manggut pupus harapan.


Setelah semua persiapan selesai, giliran para gadis yang bekerja membakar singkong dan menyiapkan berbagai hal pelengkapnya, termasuk membuat wedang jahe.


Sementara itu Joko Tenang berduaan di dalam pondok bersama Nyi Lampingiwa. Secara rahasia dan khusus ia penyampaikan amanah gurunya, Tiga Malaikat Kipas, kepada Nyi Lampingiwa tentang undangan di Jurang Lolongan. Nyi Lampingiwa termasuk tokoh aliran putih yang masuk dalam daftar empat puluh nama di tangan Joko Tenang.


Namun, kondisi Nyi Lampingiwa yang sekarang ini tidak lebih dari seorang nenek bungkuk buta biasa, membuatnya harus rela tidak bisa menghadiri undangan tersebut. Joko Tenang hanya bisa memakluminya.


Di sisi lain, Kerling Sukma berbincang khusus dengan kakak lain ibunya, Jaga Manta. Setelah sekitar tujuh tahun berpisah, banyak yang ingin keduanya saling tahu.


“Jadi, Kakang sekarang adalah Ketua Perguruan Tiga Tapak?” tanya Kerling Sukma memastikan hal yang sebelumnya sudah ia dengar.


“Iya. Untuk membuatku layak menjadi seorang ketua perguruan, Kakek Guru menurunkan beberapa kesaktiannya kepadaku,” kata Jaga Manta.


“Apakah ibu kita baik-baik saja?” tanya Kerling Sukma. Ia jadi rindu ibu kandungnya, yakni Gatri Yandana.

__ADS_1


“Ibu Pertama dan Ibu Kedua baik-baik saja. Ibu Pertama sudah menikah dengan seorang bangsawan, namanya Pangeran Arya Duduwani beranak dua orang perempuan. Ibu Pertama tinggal di kediaman suaminya. Kakek Guru juga tinggal di perguruan.”


“Lalu, bagaimana kabar Kakak Lirik Layangati?” tanya Kerling Sukma lagi.


“Ia masih berguru dengan Pendekar Jari-Jari Hijau. Belum pernah pulang, sama seperti kau,” kata Jaga Manta yang duduk bersila di atas pokok pohon yang rata bekas tebasan. Entah alat apa yang bisa memotong batang pohon besar serapi itu.


Di depan Jaga Manta, Kerling Sukma juga duduk di pokok yang lebih kecil dengan kedua kaki menjuntai ke bawah.


“Nanti kami calon istri Joko akan berembuk tentang pernikahan kami, tapi aku ingin menikah di perguruan dan di depan Ibu. Apalagi Joko memiliki keperluan untuk bertemu dengan Kakek Guru,” ujar Kerling Sukma.


“Kau sudah yakin ingin berbagi cinta dan suami dengan mereka?” tanya Jaga Manta lagi.


Kerling Sukma tersenyum lebar kepada kakaknya.


“Aku bukan wangi yang melupakan bunga. Seharusnya sejak tujuh tahun yang lalu, Kerling Sukma sudah tinggal nama yang hanya bisa disebut untuk mengenang masa lalu. Namun berkat Joko, adikmu ini kini masih berwujud bidadari bermata hijau. Aku sangat berharap, di mana Joko menetap, di situlah aku ditatap. Kakang lihat, bagaimana seorang ratu bisa meninggalkan keratuannya demi cinta, harta dan tahta tidak sungkan ia buat hina. Dan yang membuat heran, ketiga wanita itu bisa berkumpul dalam satu senyuman, tanpa terlihat ada nuansa persaingan. Dan ini sesuatu yang nyata, bukan sandiwara,” tutur Kerling Sukma.


“Apakah Dewi Mata Hati sudah tahu tentang hal ini?” tanya Jaga Manta.


Pada akhirnya, tibalah waktunya Joko Tenang dan keempat wanitanya berembuk membahas perihal rencana pernikahan mereka. Pada saat itu, giliran Jaga Manta yang bertemu khusus dengan Nyi Lampingiwa untuk urusan sebuah pusaka.


Di saat yang lainnya sedang serius berembuk, Helai Sejengkal membakar singkong.


“Aku berharap, dalam tiga hari berturut-turut kita bertiga bisa menikah,” ujar Tirana dalam forum musyawarah yang tidak jauh dari api unggun itu.


“Tetapi Sukma ingin menikah di Perguruan Tiga Tapak. Perjalanan dari kediaman Ki Ranggasewa ke Perguruan Tiga Tapak memakan lebih satu hari perjalanan berkuda,” kata Joko Tenang.


“Seandainya bisa, laksanakan saja semua pernikahan di Perguruan Tiga Tapak. Tentunya di sana akan lebih semarak, sangat berbeda jika pernikahan kita dilaksanakan di kediaman Ki Ranggasewa,” kata Getara Cinta.


“Aku tidak keberatan menikah di mana saja, asalkan aku yang pertama, hihihi!” kata Tirana lalu tertawa, membuat yang lainnya hanya tersenyum.


Mereka semua sudah dijelaskan alasannya kenapa Tirana yang harus menjadi wanita pertama yang dibobol keperawanannya oleh Joko.

__ADS_1


Joko Tenang tidak akan bisa melakukan hubungan klimaks suami-istri selagi penyakit Sifat Luluh Jantan-nya masih ada. Jika Joko Tenang lemah, mustahil ia bisa mendobrak keperawanan istrinya. Jadi, Tirana telah dibekali satu ilmu khusus untuk mengatasi kendala tersebut.


“Tadi aku berbincang dengan Kakang Jaga, ia setuju jika Perguruan Tiga Tapak dijadikan tempat pernikahan kita. Aku berharap kita semua menikah di sana. Terlebih Kakang Joko memiliki urusan penting dengan Pendekar Seribu Tapak, kakek guruku. Aku rasa tidak akan ada masalah, hanya perlu menjelaskan kepada Ibu dan Kakek Guru,” kata Kerling Sukma.


“Aku setuju,” kata Getara Cinta.


“Baik. Aku pun setuju. Hanya, kita perlu memberi tahu Ki Ranggasewa tentang perubahan rencana ini,” kata Tirana.


“Sukma dan Getara besok pergilah ke Perguruan Tiga Tapak untuk menyampaikan niatan kita,” perintah Joko Tenang.


“Berarti kita akan berpisah, Kakang?” tanya Kerling Sukma keberatan, ia kini ikut menyebut Joko Tenang dengan sebutan “Kakang”, meski usianya sedikit lebih tua dari Joko. Namun, karena Getara Cinta pun menyebut demikian, ia pun harus melakukannya sebagai adab penghormatan kepada calon suaminya.


“Tidak akan lama, terlebih sudah jelas siapa orang yang mencuri Pusaka Serap Sakti. Kalian bisa membuat persiapan, sehingga ketika kami tiba di sana, pernikahan bisa segera dilaksanakan,” kata Joko Tenang.


“Jangan khawatir, Sukma. Aku akan menjaga Kakang Joko untukmu dan Ratu Getara. Setelah menyelesaikan masalah Pusaka Serap Sakti, kami akan segera memberi kabar kepada Ki Ranggasewa lalu tidak akan menunda waktu menuju ke perguruan,” tandas Tirana.


“Aku akan turut membawa Nyi Lampingiwa,” kata Getara Cinta.


“Bagaimana jika Hujabayat kembali dan tidak menemukan gurunya?” tanya Joko.


“Cukup tinggalkan pesan tertulis. Semoga Hujabayat bisa membaca,” jawab Getara Cinta.


Mereka pun tertawa rendah.


“Lalu, siapa yang malam ini mendapat jatah tidur bersama dengan Kakang Joko?” celetuk Putri Sri Rahayu bermaksud berseloroh.


“Kau!” jawab Tirana dan Getara Cinta bersamaan.


“Hah!” kejut Putri Sri Rahayu.


“Hahaha…!” Akhirnya mereka tertawa bersama. (RH)

__ADS_1


__ADS_2