Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Pusesa 32: Petir Awan Hitam


__ADS_3

*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*


Nenek Haus Darah menjerat Joko Tenang di udara dengan ilmu Belalai Darah-nya. Dua belalai membelit kedua tangan Joko, satu pada leher dan satu pada kaki kanan. Tubuh Joko Tenang tertahan di udara.


Namun, kondisi itu tidak membuat Tirana khawatir. Ia berdiri tenang berdampingan dengan Kumala Rimbayu. Ia tahu, kondisi seperti itu bukan hal yang sulit bagi seorang Joko Tenang.


Sress!


Nenek Haus Darah menghentakkan kedua lengannya dengan jari-jari menekuk kencang. Bukan angin pukulan atau sinar ilmu yang keluar, tetapi Joko Tenang merasakan ada tenaga sakti yang mengisap kuat. Bukan sembarang mengisap, tetapi terasa khusus mengisap aliran darah. Joko Tenang merasakan aliran darah dalam tubuhnya mulai terganggu.


Sebelum terjadi sesuatu yang fatal, Joko Tenang cepat bertindak. Ia menggenggam tangan kirinya kuat-kuat. Seketika Nenek Haus Darah mendelik terkejut. Tubuh Joko Tenang dilihatnya jatuh turun ke tanah, seolah lepas dari semua jeratan belalainya, padahal keempat belalainya tidak mengendurkan belitannya.


Nenek Haus Darah pun merasakan ilmu Isapan Gaib-nya tidak sedang menyedot darah apa pun seperti semula.


Sret!


Sebelum Joko Tenang yang tampak terlihat tetapi tidak tersentuh itu melakukan sesuatu untuk menyerangnya, Nenek Haus Darah cepat melesatkan belasan Jarum-Jarum Hijau-nya.


Namun, Joko Tenang maju menerabas serombongan jarum beracun itu.


Paks!


Semakin terkejut Nenek Haus Darah melihat jarum-jarumnya yang diterabas Joko Tenang, terus melesat tanpa kendala, seolah tubuh Joko adalah bayangan berwujud.


Akhirnya, tidak banyak yang dilakukan oleh Nenek Haus Darah selain menahan pukulan telapak tangan Joko Tenang yang datang.


Adu tenaga dalam pendekar muda dan tokoh tua pun terjadi keras. Setelah itu, Joko Tenang langsung melompat mundur menjauh menjaga jarak. Namun, Nenek Haus Darah bukannya menjauh untuk menjaga jarak, tetapi ia terpental karena tidak kuat menahan kuatnya tenaga pukulan Joko Tenang.


Jburr!


Apes bagi Nenek Haus Darah, ia jatuh ke air rawa seperti karung pasir yang dibuang.


Sementara itu, Malaikat Pedang Air kali ini mengalami pertarungan yang tidak sedap. Terbukti ketika ia maju menyerang dengan kecepatan tinggi ke arah Putri Sri Rahayu.


Bang!


Grayugantang yang sudah gagah dengan dua pedang airnya, mendadak terpental balik tanpa ampun. Ini kali kedua dia menabrak Dinding Tanpa Wujud milik sang putri. Tidak hanya terpental mundur, tetapi juga terjengkang mengangkang dengan hidung berdarah seperti mimisan akut.


Sesss! Bdar!


Putri Sri Rahayu telah melompat di udara sambil melepaskan sinar merah berpijar dari ilmu Amarah Siluman.


Tidak ada jalan lain bagi Grayugantang selain menyilangkan kedua pedang airnya sebagai perisai. Posisi tubuhnya yang seperti wanita pasrah sungguh tidak mengenakkan.


Ledakan keras terjadi di depan tubuh Grayugantang. Lagi-lagi ia harus terpental kencang lalu jatuh berdebam di dekat akar pohon hutan.


“Aaakh!” jerit Grayugantang kesakitan, menahan perih pada kulit badan depannya yang terbakar parah. Bagian depan pakaiannya sudah hangus. Namun, ia masih beruntung, bagian depan celananya masih bagus.


Grayugantang bangkit dengan ekspresi koalisi antara amarah dan kesakitan. Ia menancapkan kedua pedang airnya ke tanah. Saat itu juga, kedua pedang itu berubah warna menjadi hitam pekat.


Putri Sri Rahayu merasakan aura tenaga sakti yang meningkat pada diri Malaikat Pedang Air.


“Heaakrr!” teriak Grayugantang penuh drama kemarahan, hingga-hingga mulutnya terbuka selebar-lebarnya. Sementara kedua tangannya mengibas-ngibaskan kedua pedangnya di depan tubuh secara menyilang berulang-ulang.


Sets sets sets…!


Broakr!

__ADS_1


Gelombang kiblatan-kiblatan sinar hitam datang bertubi-tubi seperti tercipta dari mesin produksi kematian. Terdengar pula seperti suara dinding batu yang hancur tanpa terlihat wujudnya. Itu adalah suara Dinding Tanpa Wujud milik Putri Sri Rahayu yang hancur oleh ilmu Pedang Air Murka.


Clap!


Namun, Putri Sri Rahayu menghindar dengan melejit naik lurus ke angkasa lalu menghilang wujudnya.


Serangan brutal Malaikat Pedang Air membuat Joko Tenang dan Nenek Haus Darah terpaksa menghentikan pertarungannya untuk mengantisipasi serangan salah sasaran. Terbukti beberapa kiblatan sinar hitam ada yang menyasar kepada Joko Tenang. Ia mengerahkan ilmu Hijau Raga-nya, membuat tubuhnya tidak tersentuh.


“Gantang borok!” maki Nenek Haus Darah sambil melompat cepat menghindari serangan nyasar yang serupa.


Berbeda dengan cara Tirana. Ia cukup menggaet lengan Kumala Rimbayu agar berdiri di sisinya, sehingga masuk dalam lindungan ilmu perisai Kulit Dewi Gaib. Kiblatan sinar hitam harus sirna ketika mengenai lapisan Kulit Dewi Gaib.


“Kau tidak akan bisa lari, Wanita Bopeng!” teriak Grayugantang masih dalam episode murka.


Sets sets sets…!


Grayugantang mengarahkan sinar hitam tebasan-tebasan pedangnya ke angkasa, menyerang secara acak meraba-raba keberadaan Putri Sri Rahayu yang menghilang.


Karena tidak melihat ada hal lain yang terjadi, Grayugantang akhirnya menghentikan serangannya dengan napas tengengah-engah. Wajahnya mengerenyit susah.


“Keluar kau, Wanita Bopeng!” teriak Grayugantang, ia marah tapi tidak bisa melampiaskan kemarahannya selain menumpuk kekesalan.


Zerzz!


Tiba-tiba di angkasa, muncul begitu saja sosok Putri Sri Rahayu. Ia berdiri mengambang. Namun, kali ini kemunculannya mengejutkan semuanya.


Putri Sri Rahayu muncul dengan nuansa yang mengerikan. Seluruh kakinya telah diselimuti oleh asap tebal berwarna hitam, lebih hitam dari awan gelap di langit. Yang membuat kesan seramnya semakin kental adalah keberadaan kilatan-kilatan listrik yang muncul sesekali dan tidak teratur pada awan tersebut.


Sets sets sets…!


Ctar ctar ctar…!


Malaikat Pedang Air tidak mau terpaku. Kembali ia mengerahkan ilmu Pedang Air Murka-nya dengan mengirimkan kiblatan-kiblatan sinar hitam dari pergerakan kedua pedangnya. Namun, Grayugantang harus merasa putus asa, semua serangan itu dihadang oleh lidah-lidah petir di tengah jalan, menimbulkan suara ledakan-ledakan nyaring di udara.


Zerzzz…!


Hingga akhirnya, Putri Sri Rahayu yang mengerahkan ilmu Petir Awan Hitam-nya, mengeksekusi Grayugantang. Empat lidah petir melesat sangat cepat dari awan hitam lalu mengenai kepala dan tubuh lelaki tua itu.


“Akk!” jeritan Grayugantang hanya sejenak, lalu cepat hilang dengan tubuh berdiri kelojotan.


“Iblis perempuan dari mana itu?” ucap Nenek Haus Darah merasa ngeri menyaksikan kesaktian Putri Sri Rahayu.


Bluk!


Tubuh Grayugantang jatuh seperti batang kayu yang hangus hitam dan sudah tidak dapat dikenali selain hitam gosong belaka. Bau sangit menyengat merebak di udara.


Putri Sri Rahayu yang sudah menyelesaikan pertarungannya bergerak melayang turun. Seiring itu, asap hitam telah berubah menjadi asap merah yang bergulung-gulung. Namun, ketika menyentuh tanah, asap itu lenyap dengan sendirinya.


Wuss!


Tiba-tiba Nenek Haus Darah melepaskan angin dahsyat yang menyerang secara luas. Setelah itu, ia cepat melesat pergi berkelebat di atas rawa. Di saat para gadis melompat menghindar, Joko justru menghilang.


Clap!


“Setan pipiiis!” teriak Nenek Haus Darah kesalnya bukan main. Sebab, saat ia berkelebat di atas rawa, ia melihat sosok Joko Tenang tahu-tahu sudah berdiri di tanah seberang rawa dengan tubuh dilapisi sinar putih.


Wes! Bduk! Jburr!

__ADS_1


Joko Tenang yang berpindah tempat dengan ilmu Langkah Dewa Gaib-nya, melesat cepat di udara. Begitu cepat hingga tahu-tahu telah menabrak tubuh Nenek Haus Darah. Nenek berwajah muda itu terpental dan jatuh lagi ke dalam rawa.


“Murid Kunsa Pari banci! Banci banci banci!” teriak Nenek Haus Darah begitu marah dan kesal. Ia yang sudah berlumur lumpur sampai memukul-mukul air rawa yang menyiprat ke wajahnya sendiri.


Nenek Haus Dara lalu melompat hendak pergi. Namun, ia hanya melompat tanpa lepas landas, seperti bayi baru belajar jalan tapi sudah mau melompat.


“Apa yang terjadi? Eh, ke mana kesaktianku? Kesaktianku, kesaktianku hilang! Haaa…!” teriak Nenek Haus Darah panik bukan main-main, lalu menangis dalam rendaman lumpur.


Sementara itu, Joko Tenang sudah berada di antara para gadisnya.


“Kenapa kau tidak membunuhnya, Kakang?” tanya Putri Sri Rahayu.


“Aku tidak punya dendam nyawa kepadanya. Jika dia sudah waktunya mati, maka akan mati juga seperti Mega Kencani. Tentunya Guru Putih memberikan ilmu itu untuk tindakan demikian,” jawab Joko Tenang.


Joko Tenang lalu beralih kepada Kumala Rimbayu seraya memberinya senyuman manis.


“Kita bertemu kembali, Gadis Seruling,” sapa Joko Tenang.


“Terima kasih atas bantuan kalian,” ucap Kumala Rimbayu seraya balas tersenyum.


Bagaimana kau bisa dikeroyok oleh mereka?” tanya Joko Tenang.


“Aku yang terlalu gegabah, tidak mendengarkan perkataan Paman Guru Robenta. Guruku dibawa pulang ke perguruan tadi malam dalam kondisi terluka parah dan kesaktiannya telah musnah. Tanpa banyak pertimbangan, aku langsung pergi mencari Nenek Haus Darah dan Malaikat Pedang Air untuk menuntut balas. Ternyata aku hanya pergi untuk menyerahkan nyawa,” jelas Kumala Rimbayu.


“Kakang, bukankah Kumala Rimbayu begitu cantik. Alangkah baiknya jika menawarkannya menjadi calon istri kelima,” kata Tirana kepada Joko.


Mendengar itu, mendeliklah sepasang mata indah Kumala Rimbayu, membuat sepasang mata itu semakin menggemaskan saat dipandang. Kata “istri kelima” yang membuat Kumala terkejut. Sebelumnya dia juga pernah mendesak Joko untuk menjadikannya sebagai istri. Namun, kala itu Joko Tenang belum “mata keranjang”, karena belum mendapat doktrin cinta dari Tirana.


“Maafkan aku, Kumala. Aku sungguh menyesal. Aku tidak bisa memenuhi harapanmu dan gurumu. Pertama, aku tidak suka cara sembrono gurumu dalam mencarikanmu pasangan. Kedua, karena Kerling Sukma adalah calon istriku juga,” ujar Joko Tenang lembut.


“Apa?!” kejut Kumala Rimbayu. “Kau calon suami bibi guruku?”


“Benar.”


Kumala Rimbayu terdiam sejenak. Tampak matanya berkedip-kedip seolah sedang menahan sesuatu di dalam hatinya. Ia kemudian menarik napas panjang.


“Baiklah, Joko. Terpaksa aku harus menghapus mimpi-mimpiku yang terkait denganmu. Meski aku sangat berharap awalnya, tapi memang segala keinginan tidak mungkin bisa terpenuhi semua. Aku akan menghargai keputusanmu, Joko,” ujar Kumala Rimbayu seraya tersenyum, meski di dalam hatinya terasa begitu terpukul. Namun, rasa itu harus ia tahan dan sembunyikan.


“Sayang sekali, Kumala. Kita tidak berjodoh,” ucap Tirana seraya menghempaskan napas halus.


Kumala Rimbayu hanya tersenyum.


“Kami harus pergi ke kediaman Ki Ranggasewa. Kita harus berpisah, Kumala,” kata Joko Tenang.


“Iya,” ucap Kumala seraya mengangguk.


“Oh iya. Jika kau bertemu dengan gurumu atau paman gurumu, tolong sampaikan kepada mereka, aku dan Kerling Sukma akan menikah di Perguruan Tiga Tapak beberapa hari lagi. Maksudku, supaya mereka bisa memberi tahu Dewi Mata Hati, guru mereka,” kata Joko Tenang.


“Baik,” ucap Kumala Rimbayu yang perasaannya kembali merasa kecewa saat mendengar rencana pernikahan itu.


“Bocah Setan! Aku sumpahi kau, agar merasakan juga tidak memiliki kesaktian!” teriak Nenek Haus Darah sambil susah payah berjalan menerobos rawa. Ia terus saja memaki-maki berkepanjangan.


Mereka hanya tersenyum mendengar caci maki dan sumpah serapah Nenek Haus Darah. (RH)


************


Season PUSAKA SERAP SAKTI (Pusesa) telah berakhir. Atas masukan dari Readers, maka season berikutnya berjudul ASMARA SEGEL SAKTI (ASSESA). Semoga Author bisa menyajikan banyak kejutan pahit dan manis dalam season ini.

__ADS_1


__ADS_2