
*Cincin Darah Suci*
Putri Yuo Kai menatap tajam, tetapi dalam hati ia mengagumi kesaktian Joko. Baru kali ia berhadapan dengan lelaki yang kesaktian dan ketampanannya mendebarkan hatinya.
Sementara Joko menatap berhias senyuman manis, bukan maksud meremehkan, tapi bermaksud mengurangi ketegangan.
“Mau bertarung serius seperti ini dia malah tersenyum begitu menawan. Awas saja kalau kau kena, kita lihat, apakah kau masih bisa tersenyum...” gerutu Putri Yuo Kai di dalam hati.
“Silakan, Yang Mulia Putri!” seru Joko Tenang.
Satu sudut bibit sang putri tertarik sedikit, seolah memberi senyuman maut kepada Joko.
“Yang Mulia Kaisar tibaaa!”
Tiba-tiba terdengar teriakan seorang kasim yang mengejutkan semuanya. Termasuk mengejutkan Putri Yuo Kai.
Dari balik dinding pintu masuk ke lingkungan Paviliun Hijau muncullah Kaisar Tutsi Long Tsaw dengan pakaian hitam megah. Ia tidak mengenakan mahkota seperti yang ia kenakan saat berada di ruang sidang. Rambutnya hanya digelung lalu dicekik dengan cincin perhiasan emas.
Kaisar datang bersama Permaisuri Fouwai, Kepala Pengawal Kaisar Jenderal Bo Yung dan Kepala Kasim Yo Gou. Ada pula enam Pangawal Kaisar berbaju zirah emas bersenjatakan pedang dan sebelas pelayan dari Permaisuri.
“Semoga Yang Mulia Kaisar panjang umur!” ucap seluruh manusia yang ada di area Paviliun Hijau seraya turun berlutut dan besujud. Hanya Putri Yuo Kai dan Joko Tenang yang berlutut, tidak sampai bersujud.
Kaisar Long Tsaw hanya sedikit naikkan alisnya melihat Joko Tenang tidak turun bersujud. Namun, ia coba memaklumi tindakan Joko tersebut.
“Bangkitlah kalian semua!” seru Kaisar Long Tsaw.
Semuanya bergerak bangun.
“Apa yang terjadi, Kai’er?” tanya Kaisar Long Tsaw.
“Aku ingin bertarung melawan Joko,” jawab Putri Yuo Kai.
“Kenapa?”
“Untuk membuktikan siapa yang lebih sakti.”
“Apakah hanya sekedar itu hasil yang kau harapkan, Kai’er?”
__ADS_1
“Tidak. Hasil dari pertarunganku dengan Joko akan menentukan sikap apa yang harus aku ambil terhadapnya.”
“Mengenai apa?”
“Apakah aku harus menahannya di negeri ini atau melepasnya pergi. Sebab, sebentar lagi dia akan pergi dari negeri ini.”
“Joko Tenang!” panggil Kaisar Long Tsaw.
“Hamba, Yang Mulia,” sahut Joko Tenang sambil menjura hormat secukupnya.
“Apa yang kau harapkan dari pertarunganmu dengan putriku?” tanya sang kaisar.
Joko Tenang tidak mengerti. Ia segera memandang kepada Su Mai. Gadis cantik itupun segera menerjemahkan perkataan Kaisar Long Tsaw.
“Hamba mengharapkan berita tentang calon istriku yang diketahui oleh Yang Mulia Putri,” jawab Joko Tenang apa adanya.
Perkataan Joko segera diterjemahkan oleh Su Mai.
Kaisar Long Tsaw manggut-manggut tanda mengerti.
“Kai’er, apakah kau memang tahu berita tentang calon istri Joko?” tanya Permaisuri Fouwai kepada putrinya.
“Kai’er, apakah kau serius ingin bertarung dengan Pendekar Joko?” tanya Kaisar Long Tsaw.
“Iya,” jawab Putri Yuo Kai singkat.
“Pertarungan ini jelas adalah satu peristiwa yang sangat penting karena tantangan itu datang darimu. Selama ini, kau bertarung dalam rangka untuk mendapatkan jodoh yang layak bagimu. Namun, kali ini di luar dari urusan perjodohan, tetapi kau mau bertarung, itupun bukan dengan seorang musuh. Jadi, aku menentukan pertarungan dilakukan di Lapangan Kaisar besok pagi, disaksikan oleh seluruh pejabat. Bagaimana? Apakah kau menerima tantangan ini?” ujar sang kaisar.
“Baik, aku setuju, Ayahanda Kaisar,” jawab Putri Yuo Kai mantap tanpa menimbang-nimbang lagi.
“Bagaimana denganmu, Joko?” tanya Kaisar Long Tsaw.
Su Mai lalu menjelaskan apa yang diusulkan oleh sang kaisar.
“Baik, aku bersedia,” jawab Joko, juga mantap, seolah tidak mau kalah greget dari sang putri.
“Itu artinya, berita tentang calon istrimu aku berikan setelah pertarungan besok pagi,” kata Putri Yuo Kai.
__ADS_1
“Baik,” jawab Joko setelah Su Mai menerjemahkan.
“Baiklah. Pertarungan kalian akan dilaksanakan besok pagi di Lapangan Kaisar. Aku yang nanti menetapkan peraturannya dan hadiah apa bagi yang menang dan kalah,”kata Kaisar Long Tsaw.
“Baik, Ayahanda Kaisar,”ucap Putri Yuo Kai patuh.
Sementara itu Su Mai menerjemahkan perkataan Kaisar kepada Joko Tenang. Pemuda itu hanya manggut-manggut.
“Kai’er, ikutlah. Ibu ingin membicarakan sesuatu kepadamu!” kata Permaisuri Fouwai.
Kaisar Long Tsaw lalu berbalik dan melangkah pergi. Permaisuri dan Putri Yuo Kai melangkah bersama di sisi sang kaisar.
“Semoga Yang Mulia Kaisar panjang umur!” ucap Su Mai dan prajurit yang lain sambil turun berlutut mengiringi kepergian junjungan mereka.
Joko hanya turun berlutut tanpa bisa mengikuti apa yang lainnya sebutkan.
Putri Yuo Kai menengok sejenak kepada Joko. Ada senyum kecil di bibir Yuo Kai. Pemuda berbibir merah itu juga tersenyum manis. Tatapan yang saling bertemu sejenak memberi desiran kebahagian di dalam hati Yuo Kai.
Entah apa yang ada di dalam pikiran sang putri, tetapi setelah kejadian di halaman Paviliun Hijau itu, ada rasa bahagia di dalam hatinya. Karena itulah, ia pergi dengan senyuman kecil saat memandang Joko.
Jenderal Bo Yung dan Kasim Yo Gou berjalan mengikuti Kaisar, Permaisuri dan Putri dengan berjalan agak jauh di belakang. Di belakang juga berjalan berbaris Pengawal Kaisar, para pelayan Permaisuri Fouwai, dan pengawal Putri Yuo Kai. Mereka berjalan dengan pelan, terlebih Kaisar bersama istri dan putrinya sedang berbincang serius.
“Sebelum datang ke Paviliun Hijau, Ibu dan ayahmu sudah membicarakan tentang Joko. Kami ingin mengetahui, bagaimana sikapmu kepadanya?” kata Permaisuri Fouwai.
“Bagaimana jika Joko adalah seorang lelaki dari kalangan rakyat biasa? Kebanyakan pendekar biasanya memilih hidup bebas,” tanya Putri Yuo Kai.
“Aku tidak masalah dia berasal dari kalangan biasa. Memang itu akan menjadi perbincangan di kalangan pejabat Istana. Namun terbukti, semua lelaki bangsawan dan dari keluarga berbagai kerajaan, tidak sanggup menundukkanmu,” kata Kaisar Long Tsaw.
“Tidak lama sebelum aku disergap di hari kemarin di Liong Sue, ada seorang peramal misterius yang meramal tentang sesuatu mengenai hidupku. Dalam ramalan itu, si peramal menyebutkan angka lima puluh enam. Ketika Ibunda Permaisuri berbicara tentang jumlah lelaki yang pernah meminangku, aku jadi teringat dengan angka yang disebut oleh si peramal itu. Angka itu tepat jatuh kepada Joko Tenang sebagai lelaki kelima puluh enam,” ungkap Putri Yuo Kai.
“Apakah itu berarti Pendekar Joko adalah jodohmu?” tanya Kaisar Long Tsaw ingin menegaskan apa yang ia tangkap. Ia serius mendengar perkataan putrinya.
“Untuk sementara aku menyakini seperti itu, Ayahanda. Meskipun ada beberapa hal yang membuatnya tidak mungkin. Karena itu, aku ingin satu pembuktian dengan cara bertarung dengannya. Sebelumnya, semua lelaki yang melamarku aku tantang bertarung karena aku ingin mendapatkan pendamping yang lebih sakti dariku....”
“Apa kau yakin kau bisa mengalahkan Pendekar Joko,” tanyaPermaisuri Fouwai memotong.
“Sebelum kedatangan Ayahanda dan Ibunda, Joko dengan mudahnya menaklukkan kedua belas Pengawal Angsa Merah. Aku tidak yakin bisa menang darinya. Namun, aku menduga, Joko akan mengalah kepadaku. Terlebih besok pagi, kami bertarung di depan para pejabat. Ia pasti memilih tidak akan mempermalukanku di depan banyak orang hanya demi mendapatkan berita tentang calon istrinya,” kata Putri Yuo Kai.
__ADS_1
“Jika dia kalah atau mengalah, artinya kau tidak bisa menjadikannya sebagai calon suamimu,” kata Kaisar Long Tsaw menyimpulkan.
“Benar. Jadi aku meminta kepada Ayahanda, jika Joko kalah, maka ia harus menikah denganku. Dengan cara itu, maka Joko tidak akan mengalah, karena aku yakin dia tidak berniat menikah denganku. Ia pasti akan memenangkan dirinya dan aku bisa yakin bahwa Joko pantas untukku,” kata Putri Yuo Kai. (RH)