Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Assesa 20: Ramalan yang Langsung Terwujud


__ADS_3

*Asmara Segel Sakti (Assesa)*


“Apa maksudmu dengan harta karun, Serba Tahu?” tanya Pendekar Seribu Tapak. Ia termasuk yang sangat penasaran dengan berbagai berita penting yang dimiliki oleh Malaikat Serba Tahu.


“Hahaha! Ini urusan antara suami dan istri, orang tua, apalagi yang tidak punya pasangan tidak boleh tahu. Hahaha!” kata Malaikat Serba Tahu sambil tertawa-tawa, membuat kesal kalangan tua-tua di tempat itu.


“Menjengkelkan!” desis Dewi Mata Hati sambil mengetuk lantai papan dengan ujung kuku jari telunjuknya.


“Aaak!” pekik Malaikat Serba Tahu saat tiba-tiba ada satu kekuatan yang melontarkan tubuhnya ke udara. Ia yang tidak siap, pun terkejut panik. Dan ketika posisinya terbalik dengan kepala di bawah dan kaki di atas, luncuran tubuhnya berhenti dan mengambang di udara. Posisi kepalanya setinggi satu tombak dari lantai. Uniknya, piring dan benda lain yang ada di dekat Malaikat Serba Tahu duduk tidak ikut terlompat ke atas. Berarti kekuatan itu memang khusus ditujukan kepadanya.


“Aku sudah begitu mengerti tentang urusan suami dan istri ketika kau masih ingusan, Kendor Buluk!” bentak Dewi Mata Hati. “Berani-beraninya kau menyinggung orang tua seperti Santa Marya!”


Serigala Perak terkejut karena dirinya yang dijadikan contoh oleh Dewi Mata Hati.


“Iya, meskipun kau lebih duluan tua, tapi kau tetap belum pernah merasakannya, Nara. Aku tahu kau masih perawan!” kata Malaikat Serba Tahu dalam posisi masih terbalik di udara.


“Beraninya kau….”


“Ampun! Ampun! Ampun, Nara yang paling cantik dan baik hati tidak pongah!” teriak Malaikat Serba Tahu cepat sambil memejamkan matanya dan mengerenyit ngeri. Ngeri jika tahu-tahu wajahnya dihantamkan ke lantai oleh kesaktian Dewi Mata Hati.


Pak!


Akhirnya Dewi Mata Hati melepaskan kekuatannya dari tubuh Malaikat Serba Tahu. Lelaki cebol ganteng itu jatuh meluncur begitu saja ke lantai. Namun, ia mampu mendarat dengan satu telapak tangannya di lantai lalu kakinya turun dengan baik.


“Aku sumpahi kau cepat punya pasangan!” dumel Malaikat Serba Tahu lirih.


“Kau memang minta di….”


“Ampun ampun ampun, Nara Cantik! Ampuuun! Enggak lagi-lagi!” teriak Malaikat Serba Tahu panik sambil cepat berjongkok di tempat dan kedua tangan memeluk bagian belakang kepalanya, ketika mendengar Dewi Mata Hati hendak berbuat sesuatu lagi terhadapnya.


“Sekali lagi aku dengan kau menyinggungku, aku gantung kau di langit!” ancam Dewi Mata Hati.


“Iya iya iya,” ucap Malaikat Serba Tahu. Ia begitu takut dengan Dewi Mata Hati, apalagi diancam akan digantung di langit. Ia tahu, Dewi Mata Hati pernah menggantung seorang jahat di angkasa hingga satu purnama lamanya. Orang itu kemudian mati di udara.


Malaikat Serba Tahu berdiri pelan-pelan. Ia melirik takut-takut kepada Dewi Mata Hati. Melihat gadis cantik bermata hitam itu diam, ia pun lega. Tampak yang lain hanya tersenyum-senyum melihat adegan di depan mereka.


“Jelaskan apa yang kau maksud harta karun milik Joko dan istri-istrinya!” perintah Dewi Mata Hati.


“Baik,” ucap Malaikat Serba Tahu tunduk. Ia kembali duduk sempurna di tempatnya.


Ia memandang semua hadirin yang tampak menunggu ceritanya yang memang dinilai berharga.

__ADS_1


“Jadi setahuku, di dalam tubuh Joko Tenang ada Permata Darah Suci. Di dalam tubuh Yang Mulia Ratu juga ada Permata Darah Suci yang lain. Menurut hasil penerawanganku, jika kedua permata itu bersatu…. Kalian tahu maksudku apa itu bersatu?”


Malaikat Serba Tahu bertanya kepada khalayak. Sebagian besar dari mereka mengangguk-angguk tanda mengerti.


“Jika kedua pemilik permata itu bersatu, maka akan terjadi sesuatu. Aku tidak tahu hal apa yang akan terjadi, tetapi nanti Joko dan Yang Mulia Ratu bisa merasakannya sendiri. Hanya sebatas itu, tapi itu bukan hal yang buruk, karenanya aku menyebutnya harta karun. Nanti kalian akan tahu sendiri,” kata Malaikat Serba Tahu.


“Apakah hanya itu harta karun yang kau maksud, Serba Tahu?” tanya Serigala Perak, karena berita itu tidak ada sangkut paut dengannya, apalagi terhadap cucunya.


“Aaah, aku tahu maksudmu, Santa Marya. Maksudmu, apakah tidak ada harta karun terkait dengan cucumu dan Joko? Betul, kan?” terka Malaikat Serba Tahu.


“Ya,” jawab Serigala Perak dengan wajah kecut.


“Tentu ada, tentu ada. Aku hanya menyarankan agar cucumu itu segera menikahi Joko, sebab itu pilihan terbaik,” kata Malaikat Serba Tahu.


Mendengar hal itu, terlihat Sandaria terkejut. Seketika ia terlihat tidak tenang.


“Sandaria sayang, kau dengar, kau harus segera menikah dengan Joko!” kata Serigala Perak kepada cucunya.


Sandaria tidak langsung menjawab. Wajahnya mengerenyit menunjukkan keberatannya. Namun, yang membuat kaum lelaki dan wanita gemas pada dirinya adalah dia mengeluarkan sedikit lidahnya dan menggigitnya lembut.


Melihat wajah keberatan dari Sandaria, Jaga Manta pun bersuara.


“Kami tidak akan keberatan jika Sandaria mau bergabung turut menikah dengan Joko di sini,” kata Jaga Manta.


“Tidak, aku tidak mau. Aku belum siap menjadi istri Kakang Joko,” ucap Sandaria akhirnya. Wajahnya menunjukkan kesedihan.


“Menikah sekarang adalah pilihan terbaik, Sandaria. Apakah kau mau membuang peluang?” kata Serigala Perak berusaha meyakinkan cucunya. Sebab ia tidak mau kehilangan keuntungan-keuntungan yang bisa didapat oleh cucunya jika menjadi istri Joko Tenang.


“Tapi, jika memang cucumu belum siap, lebih baik jangan kau paksa, Santa Marya. Aku khawatir justru itu akan membuat hubungan cinta dalam pernikahan itu buruk,” kata Malaikat Serba Tahu.


“Baiklah,” ucap Serigala Perak akhirnya. Ia menghembuskan napas ikhlas terpaksa.


Maka Sandaria pun bisa lebih sedikit tenang karena tidak akan dipaksa lagi untuk langsung menikah.


“Satu hal lagi yang ingin aku ungkapkan. Penerawanganku mengatakan, Joko harus mengikuti calon istrinya yang semua kulitnya beracun ganas. Siapa wanita beracun itu?”


Terkejut lagi sebagian mereka mengetahui ada calon istri Joko yang seluruh kulitnya beracun.


“Aku,” jawab Putri Sri Rahayu.


Semua mata yang normal segera memandang kepada sosok Putri Sri Rahayu. Malaikat Serba Tahu jadi memandang lebih serius kepada Putri Sri Rahayu, meski sebelumnya ia sudah melihat sekilas.

__ADS_1


“Ya ya ya…” ucap Malaikat Serba Tahu manggut-manggut. “Aku tahu siapa putri beracun ini.”


Terkejut perasaan Putri Sri Rahayu mendengar perkataan itu. Namun, wajahnya berusaha tetap tenang. Ia justru tersenyum tipis.


“Tapi aku tidak akan mengungkapkan siapa dirimu sebenarnya, Bidadari Asap Racun. Aku hanya ingin memberi saran kepada Joko. Setelah menikah, carilah dia dan perjuangkanlah dia. Kau akan berpisah jauh dengannya. Bidadari Asap Racun akan menuntunmu kepada seseorang yang sangat ingin kau temui,” ujar Malaikat Serba Tahu.


Melebar lingkar mata Joko Tenang.


“Aku akan berpisah dengan Putri Sri Rahayu?” tanya Joko, khawatir bahwa ia salah tafsir terhadap perkataan Malaikat Serba Tahu.


“Ya,” jawab si kakek ganteng.


“Kapan?” tanya Tirana cepat. Ia jadi ikut tegang.


“Secepatnya akan terjadi, tapi aku tidak tahu apa penyebabnya. Dan aku sangat sarankan, jemputlah dia, Joko. Dan aku beri tahu, penyebab perpisahan itu sudah tiba di sini!” kata Malaikat Serba Tahu bernada horor.


Jreng!


Tiba-tiba terdengar musik horor mencekam di dalam pikiran mereka saat mendengar kalimat terakhir Malaikat Serba Tahu. Sebagian besar mereka berubah tegang, khususnya Joko Tenang dan Putri Sri Rahayu, termasuk calon istri Joko yang lain.


Belum lagi ada yang bertanya kembali kepada Malaikat Serba Tahu, tiba-tiba….


“Pesan daruraaat!”


Satu teriakan keras tiba-tiba terdengar dari pintu gerbang pertama, bersama suara lari kuda yang kencang. Murid pembawa pesan yang bernama Sigangga kembali datang memberi kejutan. Menjadi kejutan karena muncul di saat suasana sedang tegang.


“Pesan daruraaat! Uwaah!” teriak Sigangga sambil berlari kencang. Namun, tiba-tiba kudanya terkejut dan meringkik liar bersama keterkejutan Sigangga di atas kuda.


Kuda dan Sigangga sendiri terkejut bukan ketulungan saar melihat para serigala yang besarnya lebih besar dari kuda yang datang.


Bdluk!


Ringkikan liar si kuda membuat tubuh Sigangga terlempar jatuh.


“Hahaha!” para murid yang tidak ikut tegang jadi tertawa melihat Sigangga terlempar jatuh dari kuda.


Ketua Perguruan Tiga Tapak Jaga Manta, Gatri Yandana, Lili Angkir dan Tembas Rawa segera pergi ke teras balairung. Sementara yang lain tetap menunggu di dalam.


Mereka melihat Sigangga bangkit dengan susah payah sambil mengerenyit menahan rasa sakit. Tampak separuh wajah Sigangga bengkak dan berwarna lebam. Darah mengotori bibirnya dan wajah kirinya, karena ada luka robek pada pelipis kirinya. Luka itu bukan karena ia jatuh dari kuda, tetapi luka yang sudah ia bawa sebelumnya dari luar.


Melihat kondisi Sigangga, Tembas Rawa segera turun menyongsong. Para murid yang tertawa jadi diam mendadak saat menyadari kondisi Sigangga.

__ADS_1


“Lapooor! Ada orang-orang sakti menyerang!” teriak Sigangga.


Namun, tiba-tiba sudah ada tujuh sosok tidak dikenal telah berdiri berjejer di atas pagar pintu gerbang utama pertama. Kemunculan tujuh sosok yang tiba-tiba itu mengejutkan semua orang. (RH)


__ADS_2