
*Cincin Darah Suci*
Putri Tutsi Yuo Kai pulang bersama Pangeran Tutsi Han Tsun, Joko Tenang dan Tan Ma. Mereka pergi ke Istana Kasih, istana tempat Permaisuri Fouwai bertahta. Kaisar Tutsi Long Tsaw sedang berada di sana.
“Hormat hamba, Yang Mulia!” seru Bo Fei yang datang dari arah lain menghampiri rombongan Putri Yuo Kai. Ia langsung menjura hormat. “Maafkan hamba tidak mendampingi Yang Mulia dalam kondisi sulit.”
Wanita putih cantik berpakaian hijau bersabuk hitam yang ikut bersama Bo Fei juga ikut menjura hormat. Putri Yuo Kai dan Pangeran Han Tsun tidak mengenal wanita itu, tetapi Putri Yuo Kai menilai wajahnya mirip dengan Su Rai alias Ular Putih.
“Bangunlah!” perintah Putri Yuo Kai.
“Siapa dia?” tanya Putri Yuo Kai langsung.
“Namanya Su Mai, adik dari Su Rai, termasuk orang kepercayaan Ular Buta. Dia adalah penerjemah untuk Tuan Joko,” jawab Bo Fei.
Melebar sepasang mata Putri Yuo Kai. Ada senyum samar yang terlukis di wajahnya, seolah kunci yang lama hilang telah ketemu.
“Sejak kecil Su Mai ikut ayahnya mengembara jauh ke negeri selatan di seberang samudera yang luas,” jelas Bo Fei lagi.
“Su Mai!” panggil Putri Yuo Kai.
“Hamba, Yang Mulia Putri,” jawab Su Mai sambil bergerak sedikit merendahkan tubuh atasnya.
“Coba kau sapa Tuan Joko!” perintah Putri Yuo Kai sambil menunjuk Joko yang berdiri agak jauh di belakang.
“Tuan Joko, selamat datang di Negeri Jang!” sapa Su Mai kepada Joko menggunakan bahasa asing, seraya menghormat.
“Aaah! Hahaha!” sorak Joko Tenang tiba-tiba sambil menunjuk kepada Su Mai lalu tertawa.
Respon Joko Tenang sempat mengejutkan Putri Yuo Kai dan yang lainnya.
“Akhirnya aku bertemu manusia yang satu alam denganku,” kata Joko gembira karena ia mengerti kata-kata yang diucapkan oleh Su Mai saat menyapanya.
Perkataan Joko Tenang itu membuat Su Mai jadi tersenyum lebar. Melihat senyum Su Mai, Putri Yuo Kai jadi penasaran, perkataan apa yang barusan Joko katakan.
Melihat mimik junjungannya, Bo Fei segera berkata kepada Su Mai, “Terjemahkan!”
“Tuan Joko mengatakan, akhirnya aku bertemu manusia yang satu alam denganku,” kata Su Mai kepada Putri Yuo Kai, menerjemahkan perkataan Joko dalam bahasa Negeri Jang.
Mendengar itu, Putri Yuo Kai tersenyum kecil, sementara Pangeran Han Tsun tertawa kecil.
“Apakah dia akan menjadi penerjemahku, Yang Mulia Ratu?” tanya Joko Tenang tanpa berani mendekat kepada sang putri.
“Tuan Joko bertanya, apakah dia akan menjadi penerjemahku, Yang Mulia Ratu.” Su Mai langsung menerjemahkan tanpa diperintah lagi.
“Ratu?” sebut Putri dan Pangeran bersamaan. Putri Yuo Kai lalu berkata langsung kepada Joko, “Aku bukan ratu, aku Putri Yuo Kai!”
“Yang Mulia Putri mengatakan, dia bukan ratu, tetapi Putri Yuo Kai,” kata Su Mai kepada Joko dalam bahasa Tanah Jawi. Pelafazan dan aksennya fasih.
“Ah!” mendelik Joko Tenang. Ia baru tahu bahwa selama ini ia salah anggap dan salah sebut kepada Putri Yuo Kai.
Buru-buru Joko Tenang berlutut menghormat mengikuti adat yang dilihatnya.
__ADS_1
“Maafkan aku yang begitu bodoh karena telah menempatkan Tuan Putri di bibir yang salah!” ucap Joko Tenang.
“Tuan Joko mengatakan, maafkan aku yang begitu bodoh karena telah menempatkan Tuan Putri di bibir yang salah,” kata Su Mai. Ia lancar menerjemahkan perkataan Joko.
“Hahaha!” Putri Yuo Kai tiba-tiba tertawa sendiri, hal yang jarang terjadi kepadanya.
Melihat Putri Yuo Kai tertawa seperti itu membuat Pangeran Han Tsun menaikkan sepasang alisnya tanda heran, sementara Bo Fei dan Su Mai hanya tersenyum.
“Bangunlah Tuan Joko. Jika aku mendekat, aku takut kau justru akan menjauh,” kata Putri Yuo Kai.
Su Mai segera mengulang perkataan Putri Yuo Kai dalam bahasa terjemah.
“Hahaha!” tawa Joko Tenang mendengar terjemahan itu. Ia bangkit berdiri karena Putri Yuo Kai sudah mengerti tentang dirinya yang tidak bisa didekati oleh wanita.
“Katakan kepadanya, aku adalah Pangeran Han Tsun, adik Putri Yuo Kai!” seru Pangeran Han Tsun kepada Su Mai.
“Yang Mulia Pangeran mengatakan, dia adalah Pangeran Han Tsun, adik Putri Yuo Kai,” kata Su Mai kepada Joko.
“Oh, Pangeran Han... Cun,” ucap Joko terbata dan salah.
“Pangeran Han Tsun, Tuan Joko!” ralat Su Mai.
“Oh iya, Han Cun,” kata Joko lagi seraya tertawa ringan sambil menepuk lengan kanan sang pangeran yang sudah tidak dilindungi baju zirah.
“Han Tsun!” ucap Pangeran Han Tsun langsung kepada Joko untuk meralat.
“Ya, Han Cun!” ucap Joko lagi.
“Baik, Yang Mulia,” jawab Su Mai.
“Tuan Putri, apakah tidak ada penerjemah lelaki?” tanya Joko kepada Putri Yuo Kai.
Su Mai segera menerjemahkannya kepada Putri Yuo Kai.
“Aku yang keberatan jika penerjemahnya adalah seorang lelaki,” jawab Putri Yuo Kai yang langsung diterjemahkan lagi untuk Joko.
Joko Tenang akhirnya hanya manggut-manggut.
Putri Yuo Kai lalu melanjutkan perjalanannya menuju Istana Kasih. Mereka semua mengikuti.
Tidak berapa lama di Istana Kasih.
“Putri Yuo Kai dan Pangeran Han Tsun tiba...!” teriak prajurit penjaga di pintu Istana Kasih.
Kaisar Long Tsaw, Permaisuri Fouwai, Selir Ni, Selir Yim dan Kepala Kasim Yo Gou yang sedang menunggu dalam harap-harap cemas segera berdiri dengan wajah berubah gembira dan lega, meski berita awal tentang kemenangan pertarungan di parit selatan sudah mereka dapatkan sebelumnya.
Tampak di belakang mereka, di atas sebuah ranjang megah berkelambu merah muda yang terbuka lebar, terbaring sosok Putri Ling Mei. Kondisinya sudah sadarkan diri. Mereka memang berada di kamar Permaisuri Fouwai.
Putri Ling Mei adalah anak dari Selir Yim, sedangkan Selir Ni memiliki anak Pangeran Han Tsun. Jadi, Putri Yuo Kai yang merupakan anak dari Permaisuri Fouwai memiliki status yang jauh lebih kuat dari kedua adiknya.
Tidak berapa lama, masuklah Putri Yuo Kai dan Pangeran Han Tsun tanpa diiringi oleh pengawal pribadinya.
__ADS_1
Setibanya di kamar, kedua kakak dan adik itu langsung berlutut menghormat dengan menyapa ayah dan ibu-ibu mereka.
“Kai’er, kau baik-baik saja, kan?” tanya Permaisuri Fouwai sambil mendapati putrinya dan menuntunnya berdiri.
Selir Ni juga menyambut kedatangan Pangeran Han Tsun.
“Syukurlah, Dewa Langit masih melindungi kalian,” ucap Kaisar Long Tsaw.
“Bagaimana dengan keadaan adikku Ling Mei?” tanya Putri Yuo Kai lalu bergerak pergi menghampiri ranjang.
“Kakak,” sebut Putri Ling Mei seraya tersenyum kepada kakaknya.
“Bagaimana keadaanmu, Adik Mei?” tanya Putri Yuo Kai.
“Aku tidak apa-apa, Kak. Hanya leherku masih terasa sedikit sakit,” jawab Ling Mei.
“Penculik itu masih baik hati kepadamu,” kata Putri Yuo Kai. Lalu tambahnya, “Kau pun harus belajar beladiri, jangan hanya belajar melukis. Kejadian yang lebih buruk dari ini bisa saja kelak akan terjadi lagi.”
“Iya, Kak,” ucap Putri Ling Mei.
“Padahal sudah lama Ibu mengarahkannya untuk belajar memanah dan berkuda, tetapi selalu menolak,” keluh Selir Yim yang kembali duduk di sisi kepala putrinya.
“Ayah, baru kali ini aku melihat kehebatan Pengawal Angsa Merah milik Kakak, sungguh mengerikan!” kata Pangeran Han Tsun berapi-api kepada Kaisar.
“Kau bisa menyaksikan yang lebih mengerikan jika kau membuatku marah. Kurangi waktumu pergi bersantai dan minum-minuman di Liong Sue, tidak lama lagi kita akan berperang!” kata Putri Yuo Kai sambil berjalan ke hadapan ayahnya lagi.
“Apa?!” kejut semuanya, kecuali sang putri sendiri.
“Apakah ini perbuatan kerajaan sekutu kita?” tanya Kaisar Long Tsaw cepat.
“Aku belum tahun kerajaan mana yang menyerang kita. Ayah harus lebih memantau lagi laporan-laporan dari wilayah perbatasan. Mereka membayar mahal banyak pendekar-pendekar persilatan untuk membunuhku dan membuat kacau di Ibu Kota. Seluruh pelayan dan prajurit di dalam istana harus dicek lagi statusnya, terbukti penculik Ling Mei menyamar sebagai seorang pelayan,” ujar Putri Yuo Kai.
“Berarti, kejadian dalam dua hari ini terkait semua,” terka Kaisar Long Tsaw.
“Komandan Naga Hitam Selatan dan Naga Merah Selatan gugur bersama ratusan prajurit hanya oleh beberapa orang. Hari ini ada sembilan pendekar yang datang, mungkin saja besok akan ada seratus pendekar. Kekuatan pasukan yang kita miliki tidak cukup untuk mengatasi kesaktian para pendekar bayaran ini. Jadi, aku meminta bantuan seorang pendekar asing untuk membantu Negeri Jang menghadapi serangan ini. Harap Ayahanda Kaisar menyetujuinya.”
“Siapa?” tanya sang ayah.
“Orangnya menunggu di luar,” kata Putri Yuo Kai.
“Ayo!” kata Kaisar lalu berjalan lebih dulu keluar dari kamar mewah itu.
Kepala Kasim Yo Gou bersama Putri Yuo Kai dan Pangeran Han Tsun segera mengikuti. Ketiga istri Kaisar Long Tsaw juga mengikuti di belakang, hanya saja mereka menjaga jarak, karena apa yang akan mereka bahas adalah urusan perang dan politik kerajaan.
“Semoga Yang Mulia Kaisar panjang umur!” ucap Bo Fei, Su Mai, dan Tan Ma bersamaan sambil menjatuhkan diri dan bersujud, ketika Kaisar dan keluarga tiba di ruang depan.
Joko Tenang jadi kikuk. Dengan ragu ia turun berlutut. Tan Ma yang ada di sebelahnya dengan cepat menarik tangan Joko ke bawah agar ikut turun bersujud. Maka, Joko pun turut turun bersujud.
Putri Yuo Kai hanya tersenyum samar melihat kebingungan Joko, lain halnya dengan Pangeran Han Tsun yang tersenyum lebar.
“Bangunlah!” perintah Kaisar Long Tsaw. (RH)
__ADS_1