Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
132. Duet Mengerikan Tirana-Puspa


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Su Ntai lalu menarik tangan Zhao Lii dan mendekat kepada Tirana.


Puspa lalu berbalik menghadap kepada Kaisar Young Tua. Pandangan wanita jelita itu sangar seperti binatang buas ingin melahap mangsa. Ia menatap tajam kepada sang kaisar.


“Tikus busuk!” makinya. “Biarkan Puspa pergi, atau Puspa merobek tubuhmu!”


“Apa katanya?” tanya Kaisar Young Tua dari belakang para prajuritnya. Ia minta Su Ntai menerjemahkan perkataan Puspa.


“Biarkan Puspa pergi, atau Puspa merobek tubuh Yang Mulia!” teriak Su Ntai menerjemahkan.


“Beraninya dia! Aku perintahkan, tangkap mereka semua!” teriak Kaisar Young Tua.


Wess! Bregr!


Seiring Tirana menghentakkan kedua lengannya ke bawah, tiba-tiba ada angin yang berhembus dari tubuhnya ke segala arah. Saat itu pula, barisan rapat prajurit bersenjata pedang bergerak maju serentak hendak menyerang empat orang yang mereka kepung tanpa celah.


Namun, seluruh prajurit itu, termasuk Kaisar Young Tua, Tangan Kanan Kaisar Young Tan dan Dao Lushan, hanya bisa bergerak satu hitungan. Selanjutnya, semua mematung.


“Apa yang terjadi, Paman?!” tanya Kaisar Young Tua panik, panik karena tidak bisa bergerak sedikit pun kecuali bola matanya.


“Itu kesaktian perempuan asing itu!” jawab Young Tan.


Seperti itulah kehebatan ilmu Pemutus Waktu milik Tirana, ia bisa membuat semua orang di sekitarnya mematung, kecuali orang-orang yang ia kehendaki.


“Aarggk!” teriak Puspa yang sejak tadi sudah termakan emosi.


Sweerrss!


Blarblar...!


Mengerikan. Di saat semua orang berubah seperti patung, Puspa tanpa tanggung-tanggung melepaskan ilmu Gerimis Hijau. Ilmu berbahaya yang pernah ia lepaskan di Sumur Juara (terkisah di episode 64).


Puluhan sinar hijau berpola seperti daun berlesatan dari hentakan kedua lengan Puspa. Tak ayal, puluhan tubuh prajurit khusus Kaisar Young Tua berledakan di tempat saat terkena sinar-sinar hijau. Satu pemandangan yang mengerikan.


“Aaa!” jerit Zhao Lii menyaksikan kengerian saat tubuh-tubuh manusia berhancuran.


Namun, di saat ledakan-ledakan mengerikan itu terjadi, satu sosok melompat tinggi ke udara menghindari pembantaian ilmu Gerimis Hijau Puspa.


Orang itu tidak lain adalah Young Tan. Ia ternyata bisa melepaskan diri dari ilmu Pemutus Waktu milik Tirana.


Bress!


Young Tan melompat ke udara dengan sepasang tinju berselimut sinar merah.


Zest! Bluar!

__ADS_1


Melihat siapa yang berhasil selamat, Puspa yang paling jengkel terhadap Young Tan, langsung saja melesatkan sinar merah seperti komet berekor. Lesatannya begitu cepat, membuat Young Tan di udara hanya menahan sinar itu dengan kedua tinjunya yang bersinar merah pula.


Ledakan dahsyat terjadi di depan tubuh Young Tan. Orang tua itu terpental deras menghantam dinding ruangan. Kondisi tubuhnya sudah bersimbah darah dengan pakaian yang sudah rusak parah. Kedua lengannya telah hancur tanpa bentuk lagi. Nyawa pun sudah pasti melayang.


Su Ntai yang juga adalah orang yang berkesaktian, hanya bisa terperangah dengan mulut ternganga. Sebagai seorang pengembara, ia sudah biasa menyaksikan tubuh-tubuh manusia hancur tanpa bentuk. Namun kali ini, ia menilai apa yang dilakukan oleh Puspa adalah pembantaian.


Keheningan akhirnya tercipta, kecuali suara hembusan angin yang bersumber dari tubuh Tirana.


“Yang Muliaaa!” jerit Zhao Lii histeris. Ia menangis. Orang yang ia harapkan untuk cintanya, ia saksikan dalam kondisi tidak kalah tragis. Kaisar yang belum genap setengah hari berkuasa itu, berdiri separuh tubuh, sedangkan tubuh atasnya hancur sebagian dan menggantung pada pinggang yang masih mematung.


Nasib Dao Lushan pun sama naasnya. Kepala dan bahu kanannya hancur pula.


“Cukup, Puspa!” tegas Tirana.


Sebenarnya ia tidak setuju dengan pembunuhan Puspa yang begitu banyak. Namun, jika tidak demikian, justru mereka yang akan menghadapi nasib tragis di negeri asing itu.


“Jangan tambah korban lagi. Kita harus segera ke barat,” kata Tirana lagi.


“Huh!” dengus Puspa mendengar perkataan Tirana. Lalu katanya, “Jika bukan Puspa, merekalah yang akan menjahati Puspa.”


“Dengarkan. Saat aku melepaskan ilmu Lorong Laba-Labaku, cepatlah masuk ke dalamnya!” kata Tirana.


Su Ntai lalu menerjemahkannya untuk Zhao Lii. Putri Jenderal Zhao Jiliang itu hanya mengangguk tanda mengerti.


Bress!


“Masuklah!” perintah Tirana.


Su Ntai cepat menarik tangan Zhao Lii dan melompat menginjak jaring sinar itu. Keduanya hanya bisa terkejut karena kaki mereka tenggelam masuk yang membawa tubuh keduanya hilang masuk ke dalam lantai. Dalam waktu singkat, sinar itu kemudian lenyap.


Bress!


Tirana kembali melepaskan ilmu Lorong Laba-Laba ke lantai seperti tadi. Dengan gerakan cepat, ia menarik tangan Puspa dan membawanya menginjak sinar jaring laba-laba itu.


Tirana dan Puspa pun menghilang masuk ke dalam lantai.


Seperginya Tirana dan lenyapnya kembali jaring laba-laba, angin pun sirna dan semua yang masih hidup bisa bergerak.


Ratusan prajurit yang sudah menahan keterkejutannya, hanya bisa melanjutkan rasa ngerinya, karena mereka juga menyaksikan bagaimana Kaisar Young Tua dan pasukan khususnya berledakan secara mengerikan.


Mereka pun tidak menyangka bahwa umur kekaisaran Kaisar Young Tua hanya sekejap waktu saja. Kejadian itu membuktikan kebenaran ucapan Kaisar Young Yeng tadi malam, ketika putranya menemuinya di sel penjara.


Kematian Kaisar Young Tua akan menimbulkan masalah baru.


Tirana, Puspa, Zhao Lii dan Su Ntai muncul keluar begitu saja seperti setan di sebuah gang sempit di Ibu Kota. Zhao Lii dan Su Ntai harus mendarat dengan terjatuh.


“Apa kau akan ikut kami, Nona Zhao?” tanya Tirana kepada Zhao Lii. “Sebab, pastinya kini kau menjadi buruan orang kerajaan.”

__ADS_1


Su Ntai menerjemahkan perkataan Tirana.


“Tidak, jika aku pergi, Keluarga Zhao akan dimusnahkan,” jawab Zhao Lii dengan wajah cemas. “Aku harus pulang dan meminta Ibu untuk pergi bersembunyi.”


Zhao Lii segera berlari pergi untuk keluar dari gang sepi itu.


Su Ntai menerjemahkan perkataan Zhao Lii.


Tirana dan Puspa hanya memandang kepergian gadis cantik yang telah membantu mereka itu.


“Kita harus mendapatkan tiga ekor kuda lagi,” kata Su Ntai.


“Kita langsung pergi ke Negeri Jang. Jika bisa secepat mungkin kita berkuda ke sana,” kata Tirana.


“Puspa ingin beli ular dulu untuk bekal,” kata Puspa.


“Tapi jangan buat keributan,” kata Tirana.


Puspa tidak menjawab, ia hanya melangkah pergi.


Sementara itu, di dalam penjara tempat Kaisar Young Yeng di tahan, seorang remaja lelaki berpakaian bagus berjalan cepat dengan dikawal seorang perwira dan enam prajurit berzirah putih. Remaja tampan berwajah putih bersih itu berusia sekitar 16 tahun.


Ketika tiba di depan sel tempat Kaisar Young Yeng ditahan, sipir penjara segera membuka gembok pengunci pintu.


Setelah pintu itu terbuka, rombongan itu bergerak masuk menghampiri Kaisar Young Yeng yang meringkuk di sudut sel di atas jerami kering.


“Semoga Yang Mulia Kaisar panjang umur dan sehat selalu!” ucap remaja dan perwira itu bersamaan, lalu mereka turun berlutut.


Penghormatan itu mengejutkan Kaisar Young Yeng. Ia angkat wajahnya dan memandang siapa yang datang.


“Win’er!’ sebut Kaisar Young Yeng.


Pangeran Young Win adalah adik Pangeran Young Tua. Ia datang untuk membebaskan ayahnya dari penjara.


“Kakak Putra Mahkota telah tewas bersama Paman Young Tan, Yang Mulia Ayahanda,” lapor Pangeran Young Win.


“Apa?!” kejut Kaisar Young Yeng. Ia terdiam sejenak, memandang liar tanpa fokus.


Ia kemudian tersadar.


“Bangunlah!” perintahnya kepada putranya dan perwiranya.


Pangeran Young Win dan para prajurit itu segera bangun berdiri.


“Siapa yang membunuh mereka?” tanya Kaisar Young Yeng.


“Dua pendekar wanita asing teman Nona Zhao, putri Jenderal Zhao Jiliang,” jawab Pangeran Young Win. (RH)

__ADS_1


__ADS_2