
*Cincin Darah Suci*
Cukup dengan makanan enak, Puspa bisa dijinakkan. Tirana membiarkan Puspa menjadi Tuan Besar. Makan sendirian. Puspa tidak peduli oleh pandangan Jenderal Jailing dan putrinya, atau pandangan para prajurit yang melayani. Mereka hanya menonton Puspa yang makan tanpa ada tatakrama atau memperhatikan kebersihan.
Sumpit yang disediakan tidak diindahkan oleh wanita yang lama tinggal di hutan itu. Ia lebih memilih makan nasi dan daging menggunakan tangan yang kotor dan berkuku hitam.
Jenderal Zhao Jiliang memutuskan untuk mengambil hikmah saja dari kedatangan tamu aneh dan hebat itu. Ia yakin bahwa Tirana dan Puspa bukan dari kalangan manusia. Pikirnya, jika keduanya berteman dengan Zhao Lii, tentunya keduanya bisa menjadi pelindung yang baik. Setidaknya Zhao Lii bisa aman pulang sampai ke ibu kota We.
Puspa bisa melalui malamnya dengan tenang. Ia bisa tidur nyenyak di dalam tenda yang disediakan oleh Jenderal Jailing. Demikian pula dengan Zhao Lii yang tidak keberatan berbagi tenda dengan kedua teman barunya. Namun tidak demikian dengan Tirana, ia tidak bisa tidur. Ia memikirkan calon suaminya. Meski ia hanya berbaring diam dengan mata menerawang langit-langit tenda, tetapi hatinya gelisa.
Tirana mendapat tugas utama dari penguasa Kerajaan Sanggana untuk melindungi Joko Tenang setiap saat. Jika bisa, ia tidak boleh sekali pun jauh dari Joko atau Joko hilang dari pandangan matanya. Namun kini, Joko tidak hanya hilang dari pengawasannya, tetapi juga ia tidak tahu hidup atau matikah calon suaminya itu. Meski ia sangat berkeyakinan bahwa Joko adalah orang pilihan, tetapi ia tidak bisa memungkiri bahwa pemuda berbibir merah itu jatuh dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Hingga pagi dan sang surya terbit, Tirana tidak bisa tidur. Suara kesibukan para prajurit di pagi hari terdengar ramai.
Zhao Lii sudah bangun sebelum matahari terbit. Meski ia tidur dengan nyenyak karena lelah, tetapi semangatnya untuk segera menyambut pagi yang indah mendorongnya cepat bangun, terlebih tidurnya tidak senyaman di kamar pribadinya. Ia bergerak cepat untuk menyegarkan dan menghias diri. Di pagi itu memang ada yang sangat ditunggunya, yaitu kedatangan Pangeran Putra Mahkota Negeri Lor We.
“Berisik sekali di luar!” keluh Puspa pada satu waktu ketika ia terbangun oleh suara-suara kegiatan di dalam perkemahan militer itu. Namun, ia bisa tidur lagi dengan nyenyak.
Tirana pun membersihkan diri secukupnya dan merapikan diri yang selalu membuatnya terlihat jelita. Zhao Lii telah berjanji akan membawanya ke barat, arah jatuhnya tubuh Joko.
Di tenda utama, Jenderal Jailing sudah berpakaian perang lengkap dengan armornya. Dalam tendanya sudah ditata ulang menjadi lebih bagus.
“Yang Mulia Pangeran Putra Mahkota tiba!” teriak prajurit penjaga gerbang kamp.
Jenderal Zhao Jiliang dan Ho Mo buru-buru keluar dari tenda utama.
“Semoga Yang Mulia Putra Mahkota panjang umur diberkahi Langit!” seru serempak para prajurit yang sudah berbaris membentuk formasi barisan. Semuanya turun berlutut menghormat.
Seiring itu, serombongan prajurit berpakaian serba hitam dengan armor juga berwarna hitam berlari kecil memasuki kamp. Para prajurit yang kepalanya ditutupi helm logam berwarna hitam dan wajahnya ditutupi kain hitam tersebut, berlari di depan sebuah kereta berwarna biru putih yang ditarik oleh dua ekor kuda putih yang gagah. Seorang prajurit membawa sebatang panji berbendara merah dengan simbol kuda api. Di belakang kereta kuda bagus itu berjalan sekitar 12 prajurit berkuda.
__ADS_1
Ketika rombongan kereta masih berjalan menuju ke tenda utama, Zhao Lii berlari keluar dari tendanya dan pergi berdiri di sisi ayahnya yang menunggu di depan tenda.
Kereta kuda berhenti tepat di depan tenda utama.
“Semoga Yang Mulia Putra Mahkota panjang umur diberkahi Langit!” ucap Jenderal Zhao Jiliang, Zhao Lii dan Ho Mo bersamaan. Bersamaan pula turun berlutut menjura hormat.
Tirai kain biru pintu kereta dibuka oleh seorang perwira yang turun dari kudanya. Ia bernama Dao Lushang. Dari dalam bilik kereta keluarlah seorang pemuda gagah dan tampan berpakaian merah dari sutera yang tebal. Kaki kanannya turun menginjak paha Dao Lushan yang diletakkan berfungsi sebagai tangga.
Pemuda yang tidak berpakaian militer itu adalah sosok pemuda bermata sipit, tapi model alisnya yang tajam membuat tatapannya berwibawa. Rambutnya digelung di atas kepala yang dibalut dengan cincin logam berhias batu permata berwarna kuning berkilau. Tangan kanannya memegang sebuah tongkat kecil dan pendek yang terbuat dari perak murni. Ia adalah Putra Mahkota Negeri Lor We, Pangeran Young Tua.
“Berdirilah!” perintah Pangeran Young Tua berwibawa.
Maka bangkitlah Jenderal Jailing dan putrinya bersama Ho Mo.
“Bagaimana mungkin Nona Zhao turut ada di kamp militer ini?” tanya sang pangeran, heran.
Jawaban itu membuat ayahnya tertawa, demikian pula Pangeran Tua.
“Tentunya perjalanan ke mari membutuhkan keberanian yang tinggi,” kata Pangeran yang secara tidak langsung memuji Zhao Lii.
Meski tidak memuji langsung, Zhao Lii sangat berbunga-bunga.
“Silakan, Yang Mulia!” kata Jenderal Jiliang mempersilakan Pangeran Young Tua masuk lebih dulu.
“Aku tidak akan lama, Jenderal, karena aku harus segera kembali ke Ibu Kota,” kata Pangeran Young Tua sambil duduk di kursi yang biasa diduduki oleh Jenderal Jiliang.
Dao Lushang yang selalu membawa pedang, berdiri di sisi kanan kursi.
“Silakan!” kata Pangeran Young Tua.
__ADS_1
Jenderal Jiliang dan putrinya duduk di kursi yang sudah disediakan. Ho Mo berdiri di belakang kursi Jenderal Jiliang.
“Penting bagiku untuk menyampaikan langsung kepada Jenderal agar tidak ada keraguan. Hal yang ingin aku sampaikan adalah salah satu kesepakatanku dengan Pangeran Baijin. Dalam beberapa hari ke depan, akan ada 40.000 pasukan Ci Cin mendekati perbatasan timur negeri kita di Taele. Aku minta Jenderal membiarkan pasukan Negeri Ci Cin memasuki Taele!”
“Hah!” kejut Jenderal Jiliang, demikian pula Ho Mo dan Zhao Lii.
Mereka sama-sama tahu, sejauh Negeri Lor We berdiri, tidak sedikit pun ada pasukan negeri lain yang pernah diizinkan masuk, kecuali pasukan pengawal yang menyertai tamu besar dari negeri lain. Pasukan berjumlah 40.000 orang jelas bukan pasukan untuk mengawal, tetapi untuk perang. Dan itu bukan jumlah yang sedikit.
“Maaf, Yang Mulia,” ucap Jenderal Jiliang seraya menghormat dengan kedua tangannya bertemu di depan dada. “Apa maksudnya membiarkan 40.000 pasukan Ci Cin masuk ke kota Taele?”
“Mereka akan menyerang perbatasan Negeri Jang,” jawab Pangeran Young Tua.
“Ini jelas sangat berisiko dan berbahaya,” kata Jenderal Jiliang dengan nada agak meninggi. “Yang Mulia Kaisar adalah sahabat dekat Kaisar Jang, bagaimana mungkin Lor We menyediakan tanahnya dilalui oleh pasukan Ci Cin untuk penyerang perbatasan Jang?”
“Memang itu tidak akan terjadi jika Kaisar Lor We masih ayahku, tapi berbeda jika aku yang menjadi kaisar,” kata Pangeran Young Tua.
Kembali terkejut Jenderal Jiliang mendengar perkataan sang pangeran. Demikian pula Zhao Lii dan Ho Mo.
“Saat ini, Ayah sedang digulingkan, jadi aku harus segera ke Ibu Kota untuk menduduki tahta,” kata Pangeran Young Tua datar dan tenang. Seolah pengakuan dari kudetanya di depan jenderal perbatasan itu tidak ada masalah.
Jenderal Zhao Jiliang cepat bangun dari duduknya dan pergi berlutut di depan Pangeran Young Tua.
“Tolong Yang Mulia Pangeran pikirkan dengan baik-baik!” ucap sang jenderal.
Pangeran Young Tua lalu berdiri dari kursinya dan melangkah menghampiri Jenderal Jiliang yang masih berlutut.
“Sekarang akulah Kaisar Lor We. Selama aku menjadi kaisar, aku akan menjamin kemakmuran dan keselamatan Keluarga Zhao. Jangan sampai Jenderal Zhao tidak membuka pintu Benteng Taele untuk pasukan Ci Cin,” kata Pangeran Young Tua. Setelah itu ia menepuk sekali bahu kanan Jenderal Jiliang lalu melangkah menuju ke luar. Dao Lushang mengikuti di belakang.
Jenderal Zhao Jiliang masih berlutut terdiam. Dahinya berkeringat. Emosi dan rasa bingung berkecamuk di dalam dada dan kepalanya. Secara halus, Pangeran Young Tua jelas mengancam kehidupan keluarga besar Zhao di Ibu Kota. Jika sang jenderal berani membantah perintah Pangeran, maka kemungkinan besar Keluarga Zhao akan habis. (RH)
__ADS_1