Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Assesa 24: Asmara Segel Sakti (21+)


__ADS_3

*Asmara Segel Sakti (Assesa)*


Pertarungan asmara tingkat tinggi antara Joko Tenang dan Tirana pun dimulai.


Sebagai posisi pemangsa, Tirana langsung menyergap suaminya dengan kecepatan tinggi di sudut kamar. Tirana harus bertindak cepat dan tepat untuk memulai hidangan pembuka. Jika gagal dalam serangan pembuka, upaya Tirana dalam proses untuk merobek kesuciannya akan memakan waktu yang bertele-tele dan lebih lama.


Karena itu, ketika Tirana melesat cepat menyergap suaminya yang berdiri di sudut kamar, tangan kanan Tirana sudah bersinar merah. Tangan itu telah dilapisi ilmu yang diberikan oleh guru di Kerajaan Sanggana. Satu ilmu khusus yang bernama Penjaga Perkasa. Ilmu ini pula yang pernah digunakan oleh istri pertama Dewa Kematian saat mereka berhubungan intim untuk pertama kalinya.


Tangan kanan Tirana langsung menyambar dan memegang erat keperkasaan yang saat itu sedang dalam kondisi on fire. Sementara tangan kiri langsung merangkul leher Joko dan menekannya di saat bibir membidik anggota tubuh yang sama.


Adegan panas itu seketika membuat birahi Tirana berlari naik beramai-ramai. Namun, berbeda dengan Joko. Seketika ia terserang oleh penyakit Sifat Luluh Jantan-nya. Joko tenang melemah drastis, membuatnya tidak berdaya. Kedua tangan Joko Tenang terkulai tanpa tenaga dan kedua kakinya melemah tanpa mampu menopang berat tubuhnya.


Namun, keperkasaan Joko Tenang tetap mengencang di dalam genggaman tangan sang istri karena terpelihara oleh ilmu Penjaga Perkasa. Total semua anggota tubuh Joko Tenang lemah tidak bertenaga sedikit pun, kecuali yang satu itu.


Tirana harus memperkuat pelukan tangan kirinya guna menahan tubuh suaminya agar tidak jatuh melorot. Pasalnya, genggaman tangan kanan tidak boleh lepas hingga kira-kira seratus hitungan.


Dengan sedikit perjuangan, Tirana membawa tubuh Joko Tenang ke ranjang lalu membaringkannya tanpa sedikit pun melepas tangan kanan dari bawah perut.


“Hihihi!” tawa rendah Tirana melihat kondisi suaminya.


Dalam lemahnya, Joko Tenang tersenyum, bahagia.


“Tidak akan lama, Kakang. Sambil menunggu, aku akan beri irama pemanasan dulu,” bisik Tirana.


Tanpa melepas tangan kanannya, Tirana mulai memoles seluruh bidang wajah dan leher Joko Tenang. Pergerakan itu kemudian berpusat di bibir merah Joko. Awalnya hanya sebatas area luar, tapi kemudian lidah Tirana mulai belajar melakukan operasi ringan dengan masuk lebih dalam.


Namun sayang, untuk saat ini, Tirana seperti sedang membedah mayat hidup. Sedikit pun tidak ada respon balasan dari Joko Tenang.


Dan akhirnya….


Hitungan seratus sudah tercapai, bahkan lewat banyak karena Tirana terbuai oleh aksi pengepelannya pada wajah dan leher suaminya.


Tirana melepas genggaman tangan kanannya. Ia tatap “Joko mungil” yang tetap tegak perkasa meskipun seluruh tubuh Joko yang lain dalam kondisi lemah. Itu menunjukkan keberhasilan ilmu Penjaga Perkasa dan itu adalah alamat baik untuk menuju puncak penyegelan kesaktian Joko Tenang.


Tirana mulai membuka baju suaminya dengan gerakan yang lembut, tidak terburu-buru. Karena merasa yakin ia akan mendapatkannya, Tirana merasa tidak perlu terburu-buru. Terpampanglah tubuh perkasa dan berotot Joko Tenang setelah bajunya dilepas. Tirana melepas semua pakaian suaminya.


Mulailah Tirana naik ke ranjang dan berdiri di atas tubuh suaminya. Joko Tenang hanya bisa memandangi dengan perasasaan dan pikiran yang kacau. Sebab Tirana mulai menanggalkan pakaian pengantinnya satu demi satu, semua disajikan di depan mata sang suami.


Singkat cerita.

__ADS_1


Adegan terpenting pun dilakukan dengan Tirana yang bekerja aktif.


Zrezz! Brusss!


“Ak!” pekik Tirana tertahan.


“Aaakhhr!” jerit Joko Tenang keras dan cukup panjang.


Jika suara jerit Tirana hanya sebatas terdengar di antara mereka berdua, suara jeritan Joko Tenang terdengar sampai ke tempat para kaum wanita yang bekerja di dapur dan tempat para tokoh tua sedang berkumpul dan berbincang-bincang. Namun, tidak terdengar sampai ke daerah depan, tempat para tamu dan murid-murid perguruan berkumpul menikmati hiburan pesta.


“Hahaha…!”


Setelah mereka yang mendengar jeritan Joko Tenang terdiam sejenak karena terkejut, mereka lalu tertawa kencang. Tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di kamar asmara, mereka semua menyeragamkan gambaran dalam ilustrasi pikiran mereka masing-masing.


Yang terjadi di kamar asmara, tepatnya di atas ranjang birahi, adalah bukan puncak pergulatan cinta, tetapi peristiwa inti dari proses penyembuhan penyakit Joko Tenang.


Tepat ketika kesucian Tirana terkoyak, maka tiba-tiba tubuh Joko Tenang tersentak seiring tubuhnya yang mengeluarkan sinar putih yang cukup menyilaukan. Ternyata proses itu memberi rasa sakit kepada Joko Tenang yang memaksanya menjerit kesakitan. Jeritan itulah yang disangka oleh orang-orang yang mendengarnya sebagai ekspresi puncak ******* asmara Joko Tenang dengan Tirana, padahal bukan.


Akhirnya, sinar putih yang keluar dari dalam tubuh Joko Tenang padam dan lenyap. Joko Tenang terdiam. Rasa sakit tadi masih terkenang dalam perasaannya.


“Fuuh!” Joko Tenang melepaskan napas lewat mulutnya sambil mengusap dahinya yang berkeringat.


Terkejutlah Joko Tenang. Ia baru menyadari bahwa rasa lemasnya telah tidak ada. Ia sudah bisa menggerak-gerakkan kedua tangannya. Joko Tenang lalu berusaha membangunkan tubuh atasnya. Ternyata Joko Tenang bisa bangun duduk, sehingga kini tubuhnya dan tubuh istrinya saling berhadapan dan menempel.


“Hahaha…! Aku sembuh, Sayang!” ucap Joko Tenang tertawa girang, lalu memeluk erat tubuh mulus dan lembut istrinya. “Aku sembuh, aku sembuh!”


Saking gembiranya, Joko Tenang menciumi wajah istrinya, sampai-sampai wanita yang sudah tidak perawan itu kelabakan.


“Ayo kita mulai lagi permainan cinta kita yang sesungguhnya,” kata Joko Tenang lembut.


“Tahan dulu, Kakang. Aku baru berdarah. Aku mau pulihkan dulu agar rasa sakitnya tidak mengganggu,” kata Tirana lembut lalu tersenyum.


“Baik,” ucap Joko setuju.


Mereka lalu memisahkan diri. Tirana kemudian melakukan pengobatan mandiri dalam kondisi tidak berubah. Sementara Joko Tenang menggunakan masa tunggunya untuk mencoba mengeluarkan tenaga dalamnya. Ternyata benar, kesaktian Joko Tenang hilang sama sekali. Tidak ada sedikit pun tenaga dalam yang tersisa.


Sebenarnya yang terjadi adalah kesaktian Joko Tenang untuk sementara tersegel atau terkunci. Namun, tidak ada yang tahu terkunci di anggota tubuh yang mana. Yang pastinya, kesaktian itu baru akan terbuka kembali setelah Joko Tenang memiliki delapan istri yang berkesaktian tinggi, seiring muncul dan dikuasainya ilmu Delapan Dewi Bunga.


Joko Tenang mencoba melakukan gerakan beberapa jurusnya, seperti jurus Cubitan Seribu Geli dan Bayang-Bayang Malaikat. Joko Tenang masih bisa memainkan, tetapi itu semua hanya gerakan biasa saja. Jurus Cubitan Seribu Geli masih bisa dipakai, tetapi ia telah kehilang kekuatan untuk bisa mengunci titik syaraf lawan karena tidak mengandung tanaga dalam. Jurus Bayang-Bayang Malaikat juga bisa dimainkan, tetapi ia tidak bisa cepat selain secepat gerakan pendekar biasa.

__ADS_1


“Ayo, Kakang!” kata Tirana tiba-tiba memeluk Joko Tenang dari belakang.


Joko Tenang terdiam sejenak. Ia ingin menikmati rasa empuk yang dirasakan oleh punggungnya. Seiring itu, keperkasaan Joko kembali bangkit bergairah, seolah siap mencoba tenaga baru yang baru saja di-upgrade.


Joko Tenang tiba-tiba berbalik dan langsung melancarkan serangan tempo cepat kepada istrinya. Masih merasa kurang afdhol dengan posisi berdiri, ia lalu mengangkat tubuh istrinya dan dibaringkan perlahan di kasur. Setelah itu, Joko Tenang kembali menyerang Tirana dengan ritme cepat, seolah-olah ia sedang memainkan jurus Bayang-Bayang Malaikat.


Pada babak ini, peran pemangsa telah diambil alih oleh Joko Tenang.


Perpacuan ***** antara Joko Tenang dan Tirana terus berlari mendaki puncak asmara.


Hingga akhirnya, keduanya bersamaan mendesah panjang, melolong mencapai puncak *******, setelah Joko Tenang menyempurnakan bercocoktanamnya.


Joko Tenang terdiam terpaku dalam kondisi berkeringat. Kedua tangannya masih menopang tubuhnya di atas tubuh istrinya. Keringat di dahinya sampai jatuh menetes ke wajah Tirana.


Tirana yang baru saja merasakan satu rasa nikmat yang pertama kali ia rasakan selama hidupnya, jadi mengedip-ngedip ditetesi keringat. Ia juga agak heran melihat suaminya terdiam seperti patung.


“Kakang, kau kenapa?” tanya Tirana curiga.


“Rasa ini luar biasa,” jawab Joko Tenang lalu tersenyum menatap kedua mata istrinya yang bening. Ia benar-benar baru kali ini merasakan rasa yang seperti ini, rasa yang membuat ketagihan.


“Hihihi…!” Meledaklah tawa Tirana mendengar jawaban Joko Tenang.


Tiba-tiba Joko Tenang menjatuhkan tubuhnya ke atas tubuh istrinya tanpa menahannya, membuat Tirana mendelik, karena tubuh Joko tidak enteng.


“Aku Lelah,” bisik Joko Tenang.


Tirana hanya tertawa.


“Tapi aku mau lagi,” ucap Joko lagi.


“Ayo!” ucap Tirana bersemangat.


Akhirnya mereka mulai lagi. Namun, ada yang mereka belum tahu, jika seorang lelaki sudah sampai ke puncak klimaksnya dalam bercinta, perlu jeda waktu untuk mengembalikan stamina.


“Hahaha…!”


Akhirnya pengantin baru itu saling tertawa saat mengetahui hasilnya.


Mereka memutuskan untuk bermesraan dan berbincang dalam posisi Tirana bermanja ria dalam pelukan dan belaian Joko Tenang.

__ADS_1


Namun, ketika mereka melihat gairah itu telah kembali terbangun, mereka sepakat untuk membersihkan diri lebih dulu dan mengharumkan tubuh. Selanjutnya, terserah keduanya. (RH)


__ADS_2