Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Padi Ragi 25: Awal Pertempuran


__ADS_3

*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*


Gelombang ratusan prajurit Kerajaan Balilitan yang dipimpin oleh Mata Samudera, Swara Sesat, Cukik Aking dan Sogok Karang, datang seperti gelombang semut tentara yang menemukan bangkai belalang sekarat. Mereka datang siap menerkam habis bagian belakang rombongan


Si tua Mata Samudera berlari paling depan dengan pisau panjangnya yang melengkung. Swara Sesat berlari cepat meski tubuh gendutnya terlihat begitu berat. Ia tidak memegang senjata, tetapi senjatanya sudah siap guna di kedua pergelangan tangannya. Sementara Cukik Aking berlari berteriak kesetanan dengan gada kecil berduri siap menemukan korban. Sogok Karang tampil dengan golok besarnya.


Gadis cantik manis Garis Merak tidak terlihat dalam gelombang serangan.


“Seraaang…!” teriak Mata Samudera mengomandoi pasukan dari belakang.


“Seraaang…!” teriak ratusan prajurit di belakang keempat anggota Elang Biru itu. Menyerang beramai-ramai itu selalu memberi semangat, meskipun sama-sama menuju maut.


Mendengar dan melihat pasukannya sudah tiba, Ombak Goro bersama Ikan Kecil dan Kurna Sagepa yang sedang berhadapan dengan Joko Tenang, Tirana dan Turung Gali, segera bertindak menyerang.


“Serang!” teriak Ombak Goro memberi komando kepada Ikan Kecil dan Kurna Sagepa.


Serangan itu membuat para pendekar yang ada di dalam rombongan Joko Tenang tergerak bertindak. Mereka tidak perlu menunggu komando dari Joko Tenang dalam situasi diserang seperti itu.


Wus wus wus…!


Reksa Dipa yang posisi kudanya paling belakang, segera mengerahkan ilmu Sukma Bayang Wujud sebagai sambutan terhadap serangan dari belakang itu.


Tanpa berbalik ke arah datangnya serangan, dari dalam tubuh Reksa Dipa yang duduk di punggung kuda melesat lima bayangan dirinya. Kelima bayangan yang masing-masing membawa dua sinar merah itu berlesatan menyebar ke belakang.


Zess zess zess…!


Blar blar blar…!


Kelima bayangang Reksa Dipa melepaskan sepuluh sinar merah kepada rombongan pasukan yang tidak bisa menghindar. Seperti prajurit yang sedang dibombardir pesawat tempur era penjajahan, puluhan prajurit berpentalan ketika sinar merah itu menghancurkan tanah di dekat mereka. Mereka bertewasan dan terluka parah.


Sementara sosok asli Reksa Dipa berkelebat mundur dan langsung menyambut serangan Cukik Aking.


Raja Kera memilih lawan yang sepadan untuk ukuran usia. Ia berkelebat mundur dan langsung menabrakkan tubuh kecilnya ke tubuh Mata Samudera.


Mata Samudera mencoba menyambut lesatan tubuh Raja Kera dengan tusukan pisaunya. Namun, tusukan itu mampu ditepis sehingga tubuh Raja Kera tetap menabrak tubuh besar dan gagah Mata Samudera.

__ADS_1


Bdugk!


Lelaki tua berjenggot kepang itu terjengkang cukup keras di antara kaki-kaki prajurit yang berlarian menyerang maju. Buru-buru dia bangkit dan menatap marah kepada Raja Kera yang sudah mengeluarkan tasbihnya.


Surya Kasyara pun berkelebat ke belakang. Dua kepala prajurit yang datang langsung dihantam oleh tendangannya. Dan ketika kedua kakinya menginjak bumi, gaya sempoyongannya mulai terlihat. Jurus mabuk pun beraksi liar.


Bak bik buk…!


Satu per satu prajurit dihajar dengan tinju dan tendangan mabuknya. Bumbung tuaknya juga ikut cari korban.


Seeet!


Ujung-ujungnya, dua besi kecil lancip dan berekor senar melesat dari kedua pergelangan tangan Swara Sesat menyerang Surya Kasyara. Dengan sigap Surya Kasyara meliukkan tubuhnya mengelaki serangan yang datang dari samping tersebut.


Wuss!


Selanjutnya, Surya Kasyara melesatkan bumbung tuaknya, membuat tubuhnya ikut terbang terbawa bumbung tuak yang menyerang Swara Sesat. Dengan gesit Swara Sesat mengelak.


Blugk!


Namun, gagal dalam serangannya, Surya Kasyara langsung mendarat dan mendorongkan tubuhnya kepada punggung Swara Kasyara, membuat mereka jatuh bersama. Seenaknya saja Surya Kasyara bersender merebahkan punggungnya pada punggung berlemak Swara Sesat.


Gadis cantik itu hanya mengangguk. Ia tegang mendengar teriakan-teriakan dan suara jeritan yang terjadi di luar sekitar kereta kuda.


Ketika Nyai Kisut baru mengeluarkan separuh tubuhnya dari bilik, dua prajurit sudah datang menyerang kepadanya.


Bak bak!


Nyai Kisut langsung melesatkan kedua kaki tuanya ke depan menusuk dada kedua prajurit itu. Selanjutnya datang perajurit-prajurit yang lain menyerang Nyai Kisut. Ternyata gadis beraga tua itu memiliki kegesitan yang sulit diikuti mata-mata prajurit selevel itu.


“Jiaaah!” pekik Gowo Tungga dan Gembul Ayu bersamaan ketika tusukan dua tombak prajurit lain datang menyerang keduanya. Mereka sontak berlompatan turun dari kereta menghindari serangan kedua prajuri.


Buru-buru keduanya naik masuk ke dalam bilik kereta sampai-sampai berebut pintu.


“Aaaa!” jerit Senandung Senja histeris, saat melihat dua kepala masuk ke bilik kereta tetapi kedua tubuhnya tersangkut.

__ADS_1


Jeritan itu membuat Nyai Kisut melompat mundur ke dekat bilik kereta. Ia menarik belakang sabuk Gowo Tungga dan Gembul Ayu bersamaan, lalu menghempaskannya. Kedua sahabat Surya Kasyara itu tertarik ke belakang lalu jatuh terjengkang.


“Apa yang kalian lakukan, hah?! Mau mencuri kesempatan di saat repot seperti ini? Seharusnya kalian membantu melawan para penyerang ini, bukannya justru lari seperti cecurut mau pipis! Ayo lawan atau aku yang akan mencubiti bokong kalian!” oceh Nyai Kisut memarahi Gowo Tungga dan Gembulayu.


“Maaak!” pekik Gembulayu sambil memajukan bokongnya ke depan agar tidak terkena tusukan tombak prajurit.


Dengan ketakutan yang ekstra histeris dan wajah pucat berkeringat asin, kedua pemuda itu berlari berebutan berlindung ke belakang punggung Nyai Kisut yang fisiknya lebih mini.


Di saat Nyai Kisut sibuk menghadapi para prajurit yang menyerangnya, Sogok Karang justru datang ikut menyerangnya. Sementara Gowo Tungga dan Gembulayu tidak bisa berbuat apa-apa. Keduanya benar-benar ketakutan, karena baru kali ini mereka berada dalam kondisi seperti dalam perang.


Di saat Senandung Senja dalam bahaya, berkelebatlah tubuh Kusuma Dewi. Permainan pedangnya langsung menebas tiga nyawa sekaligus. Pedang samurainya berkiblat menebas ke sana dan ke sini.


“Belang!” teriak Kusuma Dewi memanggil.


Graurrr!


Seperti dipanggil untuk makan siang, serigala berwarna belang langsung melompat masuk dalam arena pertempuran. Satu prajurit langsung ia sambar lehernya. Masuknya hewan buas besar ke dalam pertempuran, seketika membuat kelompok prajurit terkejut dan ketakutan. Tidak hanya menyerang, Belang juga pandai melakukan pertahanan guna menghindari serangan membokong.


Di sisi depan, rombongan Ombak Goro, Ikan Kecil dan Kurna Sagepa dibuat terpental mundur dan terjengkang ketika baru saja mereka hendak menyerang Joko Tenang, Tirana dan Turung Gali, dada mereka lebih dulu dihantam pukulan jarak jauh bertenaga dalam tinggi.


Namun, ketiganya dengan cepat bangkit dan secara bersamaan kembali berlari maju menyerang lawan mereka masing-masing.


Manyo Pute alias Si Monyet Putih tidak mau tinggal diam menyaksikan dari atas pohon seperti monyet.


“Nguk!” pekiknya.


Ia memutuskan untuk melompat melambung tinggi ke udara, lalu turun seperti lompatan seekor king kong.


Bamm!


Ketika sepasang kaki berbulu putihnya menjejak tanah dengan keras, satu gelombang tenaga besar menyebar seperti riak air.


Maka lebih seratus prajurit berpentalan terkena gelombang itu. Sejenak sekeliling Si Monyet Putih terlihat lapang. Namun, karena para prajurit itu hanya terluka, mereka masih bisa bangkit dan menyerang kembali dengan senjatanya.


Di sisi lain, bersama empat serigala, Kerling Sukma dan Getara Cinta hanya duduk menyaksikan pertempuran ramai yang terjadi. Sementara Sandaria menelisik dengan indra pendengaran dan perasanya.

__ADS_1


Dalam waktu singkat, lebih seratus orang prajurit yang tewas. Namun, itu tidak membuat kenekatan pasukan itu mengendur.


Tidak jauh, dari pusat pertempuran, sosok Garis Merak mengawasi jalannya pertempuran dari atas sebuah pohon. (RH)


__ADS_2