Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Petperma 5: Melepas Rindu di Udara


__ADS_3

*Petualangan Permaisuri Pertama (Petperma)*


Ketegangan di Istana Jang dan ibu kota He bermula ketika prajurit penjaga Menara di selatan Ibu Kota melihat sesuatu yang menakjubkan di langit selatan.


“Apa itu?” tanyanya lirih kepada dirinya sendiri, seraya terus fokus melihat titik hitam yang ada di langit selatan.


Tidak berapa lama, titik itu semakin membesar dan warnanya terlihat indah. Pantulan cahaya matahari membuat benda terbang seperti burung besar itu berwarna emas.


“Apa?! Sejauh itu burungnya sudah sebesar itu. Ini serangan!” ucap prajurit penjaga menara terkejut dan jadi panik sendiri. Pasalnya, meski benda terbang itu masih jauh di langit selatan, tetapi wujudnya sudah terlihat besar.


Dum dum dum…!


Maka ia cepat memasang sandi di dinding menara yang berbunyi “musuh menyerang”, lalu ia menabuh genderang.


Penjaga menara lain yang membaca dan mendengar irama tabuhan itu, segera mengikuti. Pesan dengan cepat sampai ke manara pengawas yang ada di lingkungan Istana sebagai pusat penerima pesan.


Burung raksasa berbulu cokelat kekuningan yang datang dari langit selatan semakin mendekat. Wujud burung itupun semakin terlihat sangat besar.


Di pangkal leher burung ada duduk Prabu Dira Pratakarsa Diwana alias Joko Tenang. Rupanya ia telah tiba di Negeri Jang bersama Gimba, setelah menempuh perjalanan tiga hari tiga malam.


Namun, ketika Joko Tenang memerintahkan Gimba untuk turun menuju Istana, ia terkejut mendengar tabuhan genderang yang nadanya tidak bersahabat. Terlebih ia melihat pasukan panah telah bersiap membidik ke langit. Bahkan ada busur besar yang anak panahnya menggunakan tombak. Beberapa panah raksasa seperti itu juga diarahkan ke langit, seolah siap memanah Gimba jika lewat.


Akhirnya, Joko Tenang memutuskan untuk terbang tinggi dan berputar-putar di langit sisi selatan Ibu Kota.


Pasukan keamanan Istana Jang dan Ibu Kota terperangah ketika mereka melihat kemunculan burung raksasa yang terbang di langit. Karna itulah, laporan yang sampai ke Kaisar adalah “siluman terbang”. Mereka kuat menduga bahwa itu adalah makhluk siluman yang ingin menyerang Istana.


Tabuhan genderang yang menunjukkan situasi gawat berbahaya, ditambah pergerakan pasukan yang besar, menciptakan kepanikan dan ketegangan di Istana dan Ibu Kota. Bahkan orang tersakti di Istana, yakni Putri Yuo Kai, ikut tegang.


Keluarga Kerajaan seperti Permaisuri dan para selir, lebih dilanda kecemasan.


Bo Fei yang diperintahkan untuk naik ke atas menara pengawas di Istana, akhirnya bisa melihat keberadaan burung raksasa yang terbang berputar di langit sisi selatan Ibu Kota. Ia pun terkejut karena baru kali ini melihat ada burung besar seperti itu bisa terbang. Ia sedikit pun tidak tahu bahwa itu adalah Joko Tenang yang sebenarnya adalah junjungannya juga.


Bo Fei segera berkelebat turun lalu pergi kembali ke ruang baca Kaisar Long Tsaw.


“Yang Mulia Putri!” sebut Bo Fei menghormat menghadap.


“Katakan!” perintah Putri Yuo Kai.


“Di langit selatan ada seekor burung raksasa terbang berputar,” lapor Bo Fei.

__ADS_1


“Burung raksasa,” sebut ulang sang putri. Namun, cepat ekspresinya berubah dengan munculnya seulas senyum tipis.


Putri Yuo Kai teringat cerita utusan Negeri Lor We sebulan yang lalu, tentang tiga pendekar asing yang mengalahkan Pangeran Baijin dan pasukan Negeri Ci Cin. Ketiga orang itu dikisahkan bahwa mereka pergi dengan menaiki seekor burung raksasa.


“Ayahanda, perintahkan penarikan seluruh pasukan dan kembalikan ketenangan Istana dan Ibu Kota,” kata Putri Yuo Kai. Lalu tambahnya, “Suamiku Joko Tenang telah datang.”


“Apa?!” kejut Kaisar Long Tsaw lagi. “Maksudmu, burung itu adalah Joko Tenang?”


“Bukan burung itu, tetapi Joko menaiki burung besar itu,” ralat Putri Yuo Kai.


Maka Kaisar Long Tsaw pun berteriak, “Tarik semua pasukan! Kondisi perang dicabut!”


Maka prajurit pembawa pesan Kaisar cepat berkuda menuju menara pengawas di Istana.


Dari menara itulah, perintah Kaisar Long Tsaw disebar ke seluruh menara pengawas.


Dum dum dum…!


Maka para prajurit penjaga menara pengawas mempelopori tabuhan genderang yang lebih rendah dan lembut. Irama itupun kemudian di mengerti oleh para jenderal dan komandan pasukan keamanan. Bunyi pesan yang dipasang di dinding menara pengawas berbunyi “tarik mundur seluruh pasukan”.


“Munduuur!” teriak semua jenderal tertinggi yang diikuti oleh komando setiap komandan pasukan.


Tindakan yang sama juga dilakukan oleh pasukan keamanan di atas benteng Istana. Pasukan-pasukan yang mengamankan Kaisar dan Keluarga Istana segera melonggarkan keamanannya agar nuansa genting dan tegangnya hilang.


Dari atas langit, Joko Tenang bisa melihat pergerakan pasukan Negeri Jang di bawah sana. Melihat sudah tidak ada pasukan yang mengancam dengan panah kecil atau panah besar, Joko Tenang mengarahkan Gimba untuk terbang turun lebih rendah.


Wuss!


“Woww!” pekik ramai warga Ibu Kota dan warga Istana saat Gimba terbang menghalangi matahari.


Bayangan besar Gimba yang melintas membuat Ibu Kota dan Istana mengalami gelap sejenak.


Kaisar Long Tsaw, Permaisuri Fouwai, para selir dan anak-anaknya, para pejabat tinggi kerajaan, segera berkeluaran ke ruang terbuka untuk menyaksikan langsung burung raksasa yang beritanya cepat menyebar.


Kaisar Long Tsaw bersama para pengawalnya, Putri Yuo Kai dan para abdinya, segera bergerak menuju Istana Naga Langit, istana tempat Kaisar biasa memimpin sidang pemerintahan. Mereka tidak masuk ke istananya, tetapi berdiri di teras sambil memandang ke langit.


Taburan bunga kebahagian menghujani hati dan perasaan Putri Yuo Kai. Meski senyumnya tidak lebar, tetapi senyum tipis itu selalu mekar di bibirnya. Rindu yang ditanam selama ini seolah langsung ranum pada saat itu. Seandainya waktu bisa dipangkas, ingin rasanya ia memotong waktu sehingga bisa langsung lompat kepada pertemuannya dengan Joko Tenang. Namun, itu tetaplah hayalan. Ia harus tetap bersabar menghitung detik demi detik.


Semakin hebohlah seluruh warga Istana dan Ibu Kota melihat adanya makhluk raksasa bisa terbang di langit kota mereka. Burung itupun terlihat indah ketika memantulkan cahaya matahari.

__ADS_1


Depan Istana Naga Langit kini dipadati oleh Keluarga Kerajaan dan para pejabat.


Wuss!


Tiba-tiba Gimba melakukan manuver di udara. Ia terbang menukik tajam ke bawah seolah ingin menancapkan kepalanya ke pelataran Istana Naga Langit yang luas dan berlantai batu. Hal itu membuat para prajurit di kerajaan menjadi terkejut dan ramai.


Namun kemudian, Gimba berbelok sebelum mencapai bumi dan terbang dalam posisi terbalik. Ketika posisi terbalik itu, ia melintas di atas pelataran, tempat Kaisar dan sang putri berada bersama keluarga yang lain.


Saat itulah, sangat jelas terlihat keberadaan seorang pemuda berbibir merah, berpakaian putih berlapis rompi merah, duduk melekat di leher Gimba. Mereka bisa melihat sangat jelas keberadaan Joko Tenang, suami Putri Yuo Kai.


“Putri Yuo Kai istriku!” teriak Joko Tenang kencang sambil tersenyum lebar.


Putri Yuo Kai melihat jelas dan mendengar jelas suaminya memanggilnya.


“Suamiku, aku merindukanmu!” teriak Putri Yuo Kai dalam bahasa Tanah Jawi. Teriakannya pun mengandung tenaga dalam. Hanya ia dan Su Mai yang tahu artinya.


Joko Tenang mendengar jelas sahutan Putri Yuo Kai. Ia terkejut mendengar istri pertamanya itu berteriak dalam bahasa yang ia mengerti.


Joko Tenang dan Gimba kembali naik tinggi.


Sambil tertawa kecil, Putri Yuo Kai tiba-tiba berkelebat pergi. Ia melesat terbang naik ke atas atap Istana Naga Langit. Kepergian sang putri membuat Kaisar dan Permaisuri serta pengawalnya terkejut, tapi tidak bisa mencegah.


Sementara di langit, Gimba terus terbang dan telah berbelok menuju turun kembali ke arah Istana.


Rupanya, Putri Yuo Kai berkelebat cepat menuju menara pengawas, bangunan paling tinggi di kompleks istana itu.


Putri Yuo Kai terus berkelebat dengan membawa semangat cinta dan rindu yang menggebu-gebu. Hari itu terasa begitu istimewa dan membahagiakan, suaminya datang dengan cara yang begitu spesial. Itu begitu hebat menurutnya.


Seiring Putri Yuo Kai mencapai puncak atap menara, burung raksasa juga melesat cepat ke arah menara, seolah hendak menabraknya.


Dan akhirnya, Putri Yuo Kai melompat tinggi dari pucuk atap menara.


Wuss!


Kejap berikutnya, tubuh Putri Yuo Kai yang meluncur di udara tinggi disambar oleh ujung bentangan sayap Gimba yang besar. Tubuh Putri Yuo Kai yang tersambar langsung meluncur deras dari ujung sayap menuju ke punggung, di mana Joko Tenang sudah berdiri menunggu.


Terbang yang begitu rendah saat menyambar tubuh Putri Yuo Kai, menimbulkan angin kencang yang membuat semua orang memejamkan mata, karena anginya begitu kencang dan lintasan tubuh Gimba begitu dekat dengan kepala-kepala mereka.


Sementara itu, Joko Tenang langsung menyambut peluk tubuh istrinya di punggung Gimba. Kedua suami istri itu langsung saling peluk erat melepas belenggu rindu. Joko Tenang yang sudah menjadi suami profesional, langsung “mengunyah habis” bibir istri putih bersihnya itu.

__ADS_1


Keduanya dibawa terbang jauh oleh Gimba, kembali naik ke langit tinggi. (RH)


__ADS_2